LOGINKesunyian di dalam kamar terasa kian mencekam seiring bergeraknya jarum jam. Eva berbaring telentang di atas kasur, menatap kosong pada langit-langit kamar yang temaram. Ponsel di genggamannya terasa hangat, layar pintarnya sebentar-sebentar menyala memperlihatkan nama David di bilah notifikasi, namun jemari Eva ragu untuk mengetik balasan. Perasaan tidak tenang menempel kaku di dadanya. Perubahan sikap papanya yang mendadak dingin bukanlah pertanda baik.Tok! Tok! Tok!Ketukan pintu yang teratur memecah keheningan. Eva tersentak, refleks duduk tegak di tepi kasur. Sebelum ia sempat menyahut, gagang pintu memutar dan sosok Hendra melangkah masuk.Di tangan kanan pria tua itu ada sebuah amplop dokumen berwarna cokelat tebal."Papa mengganggu istirahatmu?" tanya Hendra pelan, suaranya tanpa ada riak amarah sedikit pun.Eva menelan ludah, berusaha menutupi kegugupan di tenggorokannya. Ia meletakkan ponselnya di atas kasur, sedikit ke belakang tubuhnya. "Enggak, Pa. Ada apa?"Hendra mel
Pagi itu, Eva melangkah turun dari tangga. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, membawa tas serta beberapa dokumen proyek yang sempat ia pelajari semalaman. Meski sisa cemas dari kejadian semalam masih mengintai, ia berusaha menepisnya dan bersiap berangkat. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu utama, ia menghentikan langkahnya."Mau ke mana?" tanya Hendra dingin. Pria tua itu berdiri di dekat meja makan, menyesap kopinya tanpa menoleh sedikit pun.Eva menghentikan langkah, membalikkan badan dengan hembusan napas pelan. Bener, kan... pasti ada sesuatu, bisik batinnya prihatin."Mau berangkat ke proyek, Pa. Masih banyak barang yang harus diselesaikan hari ini," jawab Eva berusaha setenang mungkin.Hendra meletakkan cangkir kopinya perlahan, lalu menatap putrinya. "Mulai hari ini, kamu tidak usah kerja lagi."Mata Eva membelalak kaget. Ia mengambil langkah mendekat, mencoba menawar dengan logika. "Lho, kenapa, Pa? Papa sendiri yang bilang kemarin kalau kekurangan orang.""Papa s
Pintu SUV hitam itu terbuka, dan Hendra melangkah keluar. Suara tepuk tangan berturut-turut menggema di pelataran parkir proyek."Luar biasa..." ujar Hendra sambil terkekeh sinis. "Ternyata benar apa yang dibilang staf saya di lapangan. CEO besar rela turun langsung inspeksi ke proyek jam begini. Saya kira ada kebocoran struktur gedung yang darurat, ternyata cuma mau menjemput anak saya."Eva yang masih berusaha menyesuaikan matanya dari silau lampu, mencoba melepaskan diri dari dekapan David. "Papa? Papa ngapain di sini?"Hendra tidak menjawab Eva, matanya tetap mengunci David dengan pandangan meledek yang penuh kebencian. "Kalian mau ke mana malam-malam begini? Mau makan malam? Kok tidak ngajak saya?”David tetap berdiri tegap, merapikan posisi Eva di belakang tubuhnya secara halus."Selamat malam, Hendra," sapa David, suaranya tenang tanpa ada riak kepanikan. "Eva sudah selesai dengan pekerjaannya. Saya cuma bermaksud mengantarnya makan.""Tidak perlu," potong Hendra cepat, suarany
Detik berikutnya, David menarik kursi tepat di hadapan Hendra tanpa meminta izin. Ia duduk santai, lalu menyandarkan Punggungnya. Sepasang matanya menatap pria tua itu. "Aku pikir juga begitu," ujar David singkat.Hendra terkekeh sinis. "Iya... hubungan kita memang tidak bisa dibiarkan hancur begitu saja, kan?"David hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia tidak berniat menanggapi atau memperpanjang kalimat Hendra. Pria itu justru memajukan tubuhnya pelan, mengulurkan tangan, lalu mengetuk berkas kontrak di atas meja dua kali dengan ujung jarinya.Sebuah gestur sederhana, namun penuh akan pesan tersirat bahwa nasib perusahaan dan hidup Hendra kini sepenuhnya ada di bawah ketukan jarinya.Hendra mengepalkan tangan di atas meja, menatap jari David dengan wajah mengeras. "Kamu sengaja tidak menyisakan ruang sedikit pun, David."David bersandar kembali. Tangannya tertaut tenang di atas pangkuan."Kamu yang memilih jalan ini, Hendra," bisik David datar.Hendra menarik napas berat, menatap D
David menoleh perlahan ke arah Rian. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya. Senyuman itu sama sekali tidak mencapai sepasang matanya yang kelam."Papa sangat mengagumi dedikasi kamu, Rian," ujar David tiba-tiba dengan suara mengayun santai. "Ternyata seorang Direktur Operasional punya waktu sebanyak itu untuk mengurusi semua proyek."Rian seketika bungkam. Raut wajah polos yang tadinya ia pasang langsung luntur. Senyum di bibirnya tergantikan oleh keterkejutan yang berusaha keras ia sembunyikan. Pria muda itu mematung, tak menyangka gerakannya sore tadi sudah berlabuh begitu cepat di telinga papanya.David melangkah maju hingga ia berdiri tepat di hadapan putranya. Pria matang itu menatap Rian, memberi tekanan tanpa perlu menaikkan nada suaranya."Jangan pernah lupa, Rian..." bisik David, menekan setiap patah kata dengan penuh peringatan. "...kamu masih berada di dalam masa pengawasan Papa."David langsung melangkah tegap melintasi ruang tamu, meninggalkan Rian yang berdiri membeku
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Eva berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Derap langkah kakinya terdengar tergesa berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh hebat. Begitu pintu kaca otomatis bergeser terbuka, Eva langsung melangkah mendekat ke tempat ayahnya berdiri, matanya menatap sang papa dengan bauran cemas dan kebingungan yang makin menumpuk. Namun, Hendra tidak menangkap apa yang Eva rasakan, pria tua itu membuang puntung rokoknya ke dalam tempat sampah, lalu berbalik jalan mendahului Eva menuju area parkir tanpa sedikit pun melirik putrinya."Pa..." panggil Eva, mempercepat langkah agar bisa berjalan beriringan dengan papanya.Hendra tetap diam. Wajahnya datar, melangkah lurus dengan pandangan terkunci ke depan seolah Eva hanya angin lalu.Sikap Hendra justru membuat rasa penasaran di dada Eva makin meledak. Ia tidak tahan lagi untuk menahan pertanyaan yang sejak tadi menyiksa pikirannya."Papa... Papa sekarang udah biasa ya ngobrol sama Rian?" tanya Eva, memasuk
Mobil sedan hitam milik Rian berhenti tepat di depan pelataran rumah besar berarsitektur Eropa. Eva menatap keluar jendela dengan campur aduk. Jadi ini rumah David? Selama lima bulan berpacaran dulu, mereka hanya menghabiskan waktu di kota perantauan, tempat Eva menempuh pendidikan kuliah dan Dav
Eva berdiri mematung di depan wastafel, menatap lurus ke arah cermin besar berbingkai emas di hadapannya. Ia memperhatikan bayangan wajahnya sendiri yang tampak begitu asing dan melelahkan. Kedua tangannya mencengkram pinggiran wastafel dengan begitu erat, mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya ya
Eva bersandar pada kursi makannya, mencoba menahan rasa bosan yang mulai menyerang sejak pertama kali tiba di restoran mewah ini. Di atas meja bundar berlapis kain marun di depannya, deretan sendok dan garpu perak sudah tertata rapi, bersanding dengan gelas-gelas anggur yang masih kosong. Hari ini
Eva merasakan seluruh dunianya runtuh dalam sekejap, membuat pandangannya sempat mengabur saat mendengar kata perjodohan keluar dari bibir papanya di depan pria yang dicintainya. "Perjodohan? Maksud Papa apa…?" sahut Eva dengan suara yang bergetar hebat, mencoba mencari kekuatan dengan berpegangan







