LOGIN
"Ahhh .... sayang..... "
"Kenapa hemm? Kau menikmatinya?" "Iya..... ah...... tapi.... apa kau tak takut jika Aleska tahu apa yang kita lakukan?" "Kenapa harus takut, dia hanya gadis yatim piatu yang polos." Tangan seseorang yang baru saja disebut itu menggantung di udara. Dadanya terasa sesak mendengar percakapan dua orang yang ada di dalamnya. Aleska Renavie Maheswari, sangat mengenal dua orang yang ada di dalam kamar apartemen miliknya. Pasokan udara di sekitarnya seakan menipis ketika melihat apa yang terjadi di kamar itu. Dua orang yang dekat dengannya tanpa busana dan sedang melakukan hal yang selama ini Aleska tolak. Dengan tangan gemetar, Aleska mengeluarkan ponsel miliknya lalu menekan tombol rekam. Meskipun sambil menahan tangis, Aleska tetap melakukan nya. Setelah di rasa dia cukup mendapat bukti, dia pergi dari sana. "Sejak kapan mereka bersama? Kenapa aku tak tahu jika mereka berdua mengkhianati ku?" gumam Aleska pelan. Sambil berlari keluar dari apartemen, air mata Aleska tak kunjung mau berhenti dan malah semakin mengalir deras mengingat semua momen kebersamaan mereka bertiga. Luke dan Asila, kekasihnya selama tiga tahun ini dan juga Asila orang yang sudah di anggap nya keluarga. Bahkan beberapa kebutuhan Asila juga Aleska yang memenuhi karena Asila selalu bilang tak mempunyai uang. "Sialan kalian berdua, aku sudah sering membantu kalian tapi kalian menjadi manusia tak tahu diri." Aleska menangis di dalam mobilnya meratapi semua yang dia alami. Sementara itu, sejak Aleska berlari keluar dari dalam apartemennya seorang laki laki juga melihatnya penasaran. "Kenapa dia menangis? Apa yang terjadi disana?" gumamnya. "Perlu ku cari tahu tuan?" tanya sng asisten. Gaharu Jagara Arkadewa langsung mengangguk yakin. Dia meminta asistennya untuk memeriksa. Sedangkan dia kembali turun ke basement untuk mencari Aleska. Saat Gaharu tiba di basement, dia melihat mobil Aleska disana. Nampak dari tempatnya berdiri, Aleska sedang meletakkan kepalanya di setir mobilnya. "Dia menangis? Kenapa? Apa dia bertengkar dengan kekasihnya itu?" gumam Gaharu. Tak lama ponsel Gaharu bergetar, ada pesan masuk dari asistennya yang dia suruh mencari tahu apa yang terjadi. Matanya membola ketika melihat isi pesan itu. Tanpa sadar Gaharu mencengkeram erat ponsel miliknya. Di dalam pesan singkat itu ada video Luke dan Asila sedang memadu kasih. Tak hanya itu yang membuat Gaharu marah. Kata kata yang terekam disana membuatnya jijik pada dua manusia itu. Tapi dia tak akan bertindak sekarang. "Selidiki semuanya, dan aku mau semua info itu ada di mejaku besok pagi." Gaharu mengirim pesan singkat pada assisten nya. Sedangkan kaki Gaharu bergerak melangkah ke mobil Aleska tanpa sadar. Tapi saat Gaharu sadar dia melewati mobil itu begitu saja. "Hampir saja, tak mungkin aku tiba tiba datang sebagai pahlawan. Harusnya aku tetap pura pura tak tahu apa yang terjadi padanya." Gaharu masih mengawasi mobil Aleska yang terparkir disana. Tapi kemudian, mobil Aleska meninggalkan basement apartemen. "Awasi mobil Aleska, jaga dia kemanapun dia pergi. Laporkan semua kegiatannya kepadaku." Gaharu menghubungi anak buahnya untuk mengikuti mobil Aleska. Dia tak mah Aleska kenapa Napa di jalan. Setelah itu Gaharu juga ikut pergi dari sana bersama sang Asisten yang baru saja kembali. "Kembali ke kantor, urusan ini nanti saja." # Selama dalam perjalanan Aleska sudah menguatkan dirinya agar tak berlarut dalam kesedihannya. Dia sudah bertekad untuk membalas kedua orang yang sudah mengkhianati nya. Beruntung selama ini, Aleska tak membuka identitas dirinya. Jadi Like dan Asila hanya tahu jika dia pemilik florist dan anak yatim piatu. Setiap kali Luke dan Asila membahas keluarganya, Aleska selalu menjelaskan secara abu abu. "Tak akan aku biarkan kalian menikmati semua hartaku. Enak sekali kalian, tak pernah bekerja malah memakai semua uangku." Setelahnya, Aleska menghubungi seseorang yang selalu dia percaya. "Blokir semua kartu yang di bawa Luke dan juga Asila. Blokir semua akses mereka ke semua tempat yang biasa mereka datangi. Jika mereka bertindak seenaknya, laporkan kepada polisi." Aleska tersenyum masam mengingat jika dia menjaga semuanya agar bisa memberikannya pada Luke ketika menikah nanti tetapi Luke malah membuat harga dirinya terhina dengan melakukan hal itu dengan Asila. "Huft, pasti mommy sama Daddy ngetawain aku setelah ini. Sebelumnya di jodohin juga tak mau." Setelah itu Aleska melajukan mobilnya menuju kediaman utama. Ketika dia sampai disana, Aleska mengerutkan keningnya bingung karena ada beberapa mobil yang terparkir rapi di halaman rumahnya. "Loh, Daddy punya acara ya? Kok aku tak tahu?" gumam Aleska. Dia masuk ke rumah dengan tatapan yang kebingungan. Terlebih ternyata di dalam rumah ada beberapa orang yang menunggunya. "Nah, ini anak nakalnya baru saja pulang." celetuk sang mommy. Aleska semakin kebingungan ketika tangannya langsung di tarin oleh sang mommy. Lalu tak sengaja tatapan matanya bertubrukan dengan mata seseorang. "Om Aru...." Gaharu yang sangat peka dengan sekelilingnya langsung melihat Aleska dengan mata elangnya. Perbedaan umur mereka yang mencolok membuat Aleska selalu memanggil Gaharu dengan sebutan Om. Dan Gaharu pun tak pernah menolaknya sama sekali. Tatapan elang itu membuat Aleska tak bisa berpikir jernih. Dia meremas gaun yang di pakainya dan juga menggigit bibirnya seolah apa yang akan dia katakan adalah keputusan yang besar untuk hidupnya. "Om Aru, mau kah menikahiku? Aku janji akan jadi istri penurut dan tak akan pernah macam macam. Aku juga janji aku tak akan menyusahkan Om Aru. Yang penting om mau menikahiku." Byur.... Kael langsung menyemburkan kopi yang baru di minumnya. Dia menatap tak percaya pada putrinya yang tiba tiba meminta Gaharu untuk menikahinya. Sementara yang lain sontak melongo. Gaharu yang sempat terkejut pun tersenyum samar. Dia tahu betul alasan Aleska mengatakan itu semua dan itu tak masalah baginya. "Kau yakin ingin aku menikahimu? Pernikahan bukan untuk permainan Aleska. Sekali kau masuk ke keluarga ku, kau tak akan bisa lepas begitu saja." Suara bariton yang dingin menusuk indera telinga Aleska. Terlebih tatapan elang itu seperti sudah mendapatkan mangsanya. Plak.... "Aru jangan menakutinya, lagi pula kita datang kesini memang untuk melamarnya. Kenapa kau kaku sekali seperti papimu." "Hah? Bagaimana maksudnya? Melamar?" Tiba tiba otak Aleska kosong, apa yang tak di ketahuinya saat ini. Lalu melihat ke arah Mommynya yang sudah tersenyum lebar. Aleska menutup wajahnya kedua tangannya karena malu. Lalu dia berlalu keluar ke taman belakang. Gaharu yang melihat itu pun tersenyum tipis. "Biar aku yang menyusulnya." Tanpa menunggu jawaban para orang tua, Gaharu sudah beranjak ke taman belakang menyusul Aleska. "Dia lebih menggemaskan ternyata." to be continuedHari-hari Gaharu dengan Aleska di lewati dengan penuh gebrakan. Terlebih karena Gaharu yang merasakan semua tentang kehamilan Aleska. Mual dan muntah setiap hari sampai Aleska hamil enam bulan. Ngidam yang aneh-aneh dan membuat Gerald serta kedua orang tua mereka kelimpungan. "Om, hari ini harus periksa kandungan untuk yang terakhir sebelum persalinan. Jangan sampai telat." Gaharu yang tengah bersiap ke kantor menghentikan gerakannya. Ia mengingat ada agenda apa hari ini. "Sepertinya tak ada yang terlalu penting di kantor. Aku bisa pulang cepat nanti." Aleska mengangguk, dia lalu menyiapkan keperluan suaminya untuk segera berangkat. Kandungan Aleska sudah menginjak sembilan bulan dan beberapa hari terakhir Aleska juga sudah merasakan kontraksi palsunya. Hanya saja ia tak memberitahu Gaharu saat itu. Aleska mengerutkan keningnya ketika merasa perutnya kembali tak nyaman. "Sshh ....." Gaharu yang sedang memakai dasinya awalnya tak mendengar Aleska yang mulai
Beberapa hari berlalu ketika Aleska di nyatakan sudah pulih dan bisa pulang. Kandungan Aleska juga di nyatakan baik-baik saja saat ini. Sementara orang tua Aleska harus menjalani terapi sampai sembuh. Aleska tak bisa mendampingi mengingat ia juga masih rentan kehamilannya. "Sayang, pagi ini mau makan apa?" "Om Aru mau apa?" Aleska paham jika Gaharu sudah bertanya seperti itu pasti Gaharu tengah menginginkan sesuatu. "Mau gulai kambing, Sayang." Aleska mengerjap, ini baru pertama Gaharu meminta makanan itu. Selama mereka menikah tak pernah ada list makanan kambing di dalam menu mereka. "Gulai kambing? Yakin?" Gaharu langsung mengangguk dengan mata yang berbinar. "Bukannya Om Aru tidak suka baunya?" Gaharu menunduk, benar apa yang di katakan Aleska tapi saat ini ia ingin sekali makan itu. "Baiklah, kita makan gulai kambing kalau begitu. Ada yang lainnya?" Gaharu yang mendengar itu matanya langsung berbinar. "Benar kah?" Aleska mengangguk, melihat
Saat pagi tiba, Aleska mendengar suara Gaharu di kamar mandi. "Om...." panggil Aleska pelan. Gaharu keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan pucat. "Om kenapa?" Gaharu lemas, sejak tadi pagi bangun ia sudah berkali-kali ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. "Sayang, bisa panggil Mama sebentar? Rasanya tak enak." Aleska menelpon Mama mertuanya, untuk datang ke ruangannya. Aleska tak tega melihat keadaan Gaharu saat ini. Norah datang dengan tergesa-gesa begitu juga dengan Gery. "Astaga, kau kenapa Aru?" Gaharu menggeleng, lalu Norah membantu Gaharu untuk berbaring sementara Gery memanggil dokter untuk memeriksa Gaharu. "Sayang, ini sejak kapan suamimu seperti ini?" Aleska mengingat sejak kapan Gaharu seperti itu. "Tadi pagi Ma, tiba-tiba mual begitu. Belum sarapan dan baru mau mandi." Norah mengangguk, sepertinya Norah tahu penyebabnya apa."Mama, itu suami Aleska kenapa?"Aleska bingung sekaligus khawatir. Ia sendiri belum sembuh jangan sampai
Gaharu baru saja masuk ke dalam kamar rawat Aleska, ia melihat istrinya terlelap karena memang hari sudah larut. Aleska yang merasa ada orang masuk ke dalam kamarnya, perlahan membuka matanya. "Om...." Gaharu yang baru saja ingin masuk ke dalam kamar mandi berhenti. "Kenapa bangun, hmm?" Akhirnya Gaharu mendekat ke arah ranjang Aleska, membantu Aleska untuk duduk dengan nyaman. "Lelah?" Bukannya menjawab pertanyaan Gaharu, tapi Aleska malah balik bertanya pada suaminya itu. "Sedikit, tapi aku lega satu persatu masalah di perusahan Daddy selesai. Besok aku akan mengadakan perlombaan besar di sana, jadi mungkin aku juga akan sedikit sibuk di sana." Aleska mengangguk mengerti, ia bersyukur jika semuanya selesai dengan baik. Namun Aleska kasihan melihat suaminya yang terlihat kelelahan seperti ini. "Kenapa lihatnya begitu?" Aleska menggeleng, ia membuka lebar kedua tangannya untuk memeluk Gaharu. Gaharu yang melihat itu tersenyum, lalu ia mendekat ke ar
Gebrakan yang dilakukan Gaharu dan Gerald membuktikan jika siapapun yang menyakiti keluarga mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Saat ini hari sudah gelap, Gaharu dan Gerald serta tim yang lain masih berada di ruangan meting yang utama. "Paman Bram, hari ini cukup sampai di sini. Semuanya sudah lelah, besok kita lanjutkan lagi. Dan untuk pertemuan besok, aku mau setiap divisi dan juga pihak HRD hadir di meting besok. Umumkan kepada semuanya akan ada penggantian jabatan di semua tempat dan divisi. Tak akan ada diskriminasi lagi di perusahaan, dan juga berlaku untuk semua cabang!" Bram serta yang lain mengangguk, lalu Gaharu mengambil ponselnya mengetikkan sesuatu. Ting.... Ponsel Bram berbunyi, ia lalu melihatnya. Matanya membola dan menatap Gaharu cepat. "Tuan, apa ini? Kenapa mengirimi ku banyak sekali yang?" Gaharu tersenyum, ia lalu bangkit dari duduknya saat ini. "Paman, tolong bagi dengan tim Paman yang sudah bekerja keras hari ini. Traktir merek
Kegaduhan yang di buat oleh Wijaya dan Cipto membuat semua orang tercengang. Terlebih tak lama setelah Gaharu naik ke atas, beberapa petugas polisi juga tiba di sana. Mereka langsung di arahkan untuk menemui Gaharu di ruangan meting. Yang lebih Gongnya lagi ketika tak lama Cipto dan Wijaya di seret paksa keluar dari perusahaan Kael dengan wajah tertunduk. ( Pengumuman : Karena ada nya kejadian yang merugikan perusahaan, hari ini akan di adakan pemeriksaan ulang dan juga audit besar-besaran setiap divisi. Pastikan data dan juga pekerjaan bersih tanpa adanya data nepotisme dan juga penggelapan dana serta pelanggaran yang lain. Jika di temukan pelanggaran sekecil apapun semua akan di bereskan di pengadilan!) Semua karyawan mendapatkan email pemberitahuan tentang audit itu. Mereka kelabakan dan segera memeriksa pekerjaan mereka masing-masing. Gaharu benar-benar di buat sibuk saat ini. "Tuan Gaharu, ada beberapa divisi yang juga terlibat dengan Cipto dan Wijaya. Mereka sudah
Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat
Gaharu yang mendengar teriakan Aleska menepuk keningnya. Dia lupa jika dia belum mengenakan pakaiannya setelah mandi. ( "Maaf sayang, aku baru selesai mandi. Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." ) Pipi Aleska menjadi panas karena panggilan Gaharu kepadanya. Dia belum terbiasa dengan itu, ras
Asila yang mendengar penuturan petugas keamanan itu membelalakan matanya. Bagaimana bisa Aleska mengatakan jika dia tak kenal dengan Asila. Mereka bersahabat cukup lama. "Itu tak mungkin, dia sahabat ku. Jadi, biarkan aku masuk." Asila memaksa ingin menerobos masuk ke dalam tapi petugas keama
Langkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur. Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu me







