LOGINAsila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang.
"Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua karyawan salon itu sudah tahu jika Asila di blacklist dari semua langganan Aleska. Asila masih berusaha menghubungi Aleska tapi tetap tak mendapat jawaban. Akhirnya karena beberapa orang terus mendesaknya dia mengeluarkan kartu miliknya sendiri lalu membayar semua tagihan dengan uangnya. Setelah itu dia pergi dengan kesal. Bagaimana bisa Aleska melakukan itu kepadanya . Sampai di dalam mobil dia segera menghubungi Luke mengadukan semua yang Aleska lakukan. Tapi lagi lagi Luke pun tak bisa di hubungi. Semua asumsi negatif menyeruak masuk ke dalam pikiran Asila. "Sialan, apa mungkin mereka sedang bersama?" geram Asila. Asila memukul setir mobilnya berkali kali karena kesal. Lalu ketika dia membuka ponselnya matanya membola ketika melihat Aleska mengunggah story tangan seorang laki laki. "Apa apaan ini? Aleska sejak tadi tak mengangkat telfon ku tapi dia bisa mengunggah story?" pekik Asila. "Dan Luke? Dia pasti bersama dengan Aleska. Story ini, tangan ini pasti milik Luke. Sialan kau Luke, sialan kau Aleska!" Asila berteriak marah tanpa peduli dengan orang orang sekitar yang menatap aneh pada nya. Meskipun dia berada di dalam mobil tapi tetap saja suaranya terdengar sampai keluar. # Aleska yang sejak tadi hanya menatap ponselnya ingin sekali tertawa. Dia saat ini sedang berada di kediaman orang tuanya. Sementara Aleska menerima lamaran Gaharu, dia wajib kembali ke rumah dan itu semua karena permintaan Gaharu. Aleska awalnya menolak tapi setelah di pikir kembali, jika dia tetap di apartemen bisa saja Asila atau Luke akan mencarinya di apartemen. Selama ini mereka hanya tahu tempat tinggal Aleska adalah apartemen bukan hunian mewah yang bahkan tak akan bisa di bayangkan oleh Luke juga Asila. Tok Tok Pintu kamar Aleska di ketuk dari luar, belum sempat dia membuka pintu tiba tiba pintu terbuka dan seseorang menubruk tubuhnya sampai terjungkal ke belakang. "Yak......apa yang kau lakukan?" teriak Aleska. Kedua orang tua Aleska sampai berlari ke arah kamar Aleska dan melongo ketika melihat dua orang yang berada di atas ranjang. "Astaga .... kalian berdua ini kenapa?" Rasya tak habis pikir melihat putrinya juga keponakan nya dengan posisi yang sekarang. Aleska yang sadar siapa yang baru saja menerjangnya pun menghembuskan napas panjang. "Kangen sekali dengan Aleska. Aku buru buru pulang karena dengar kau mau menikah dengan Om Aru. Ah, senang sekali akhirnya kalian bisa menikah." Keira bangun dari atas tubuh Aleska setelah dia mencium seluruh wajah Aleska. "Aleska, Keira nanti turun ke bawah kalau sudah siap makan malam." Kael sendiri sudah pergi dari depan kamar Aleskan setelah tahu apa yang terjadi. Dia hampir lupa jika dua perempuan muda itu akan selalu membuat kehebohan jika sudah bersama. Aleska bangun dari posisinya, dia menatap aneh karena tiba tiba Keira pulang. "Kau tahu dari mana jika aku akan menikah dengan Om Aru?" "Aunty Rasya yang memberitahu ibu semalam, jadi aku langsung ambil penerbangan pertama untuk datang kesini. Ah, aku senang sekali kau menikah dengan nya. Hidupmu pasti akan terjamin dari pada kau bersama Luke. Laki laki sialan itu!" Keira yang tersadar jika dia salah bicara langsung menutup mulutnya dan melirik Aleska dengan raut wajah yang tak nyaman. "Maaf...." "Kenapa kau minta maaf? Faktanya memang Luke sialan. Dia berani mengkhianati ku dengan Asila." Mata Keira membola ketika mendengar semua itu. "Kau sudah tahu?" Aleska mengangguk lalu dia menceritakan semuanya pada Keira awal mula dia bisa mengetahui semua itu. Dan berujung harus menikahi Gaharu. Awalnya Keira prihatin dan marah tapi mendengar kalimat terakhir tentang Aleska yang meminta Gaharu menikahi nya membuat Keira tertawa terbahak. Aleska langsung cemberut. Dia saat ini benar benar sangat malu jika mengingat kebodohannya kemarin. "Aku malu sekali, bahkan orang tua Om Gaharu sampai melongo dan menahan tawa mereka. Yang ada dalam pikiran ku saat itu aku harus bisa membalas Luke dengan mencari laki laki yang jauh di atas Luke, yang setara dengan ku dalam segala hal. Tapi aku tak tahu jika dia tiba tiba datang kesini untuk melamar ku." Keira mencubit gemas pipi Aleska, karena Aleska masih suka sekali ceroboh tanpa berpikir panjang. Lalu Aleska ingat jika Keira sudah tahu hal itu. "Dari mana kau tahu kalah Luke bersama Asila?" Keira mengingat kapan dia bertemu Luke dan Asila. "Ah, kau ingat ketika ada acara perusahaan ayah di hotel milik Kakek, disana aku melihat Luke. Tapi dia tak mengenalku jadi aku bisa mencari tahu dan mengambil fotonya sebagai bukti. Hanya saja saat aku ingin memberitahu mu, kau selalu bercerita jika Luke dan Asila adalah orang baik. Aku sempat minta pendapat ayah dan ibu, lalu mereka menyuruh ku untuk tetap diam. Ayah pernah bilang jika orang yang sedang jatuh cinta itu tak akan percaya pada orang lain dan akan selalu denial dengan perasaannya, kecuali dia melihat sendiri memakai mata kepala dia sendiri." Mata Aleska berkaca kaca mendengar semua itu, lalu dia memeluk Keira erat. Sedangkan Keira menepuk pelan lengan Aleska yang tengah memeluknya. "Tak apa, yang penting kau sudah sadar. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Belum sempat Aleska menjawab ponselnya kembali berdering dan itu dari Asila. "Angkat, aku ingin tahu apa yang dia inginkan darimu." ( Oh God, Aleska, kau kemana saja? Aku menelfonmu dari tadi. Kenapa kau tak mau mengangkat telfonku? Kau tak biasanya begini? ) Aleska sampai menjauhkan ponselnya dari dekat telinga karena teriakan keras dari Asila. "Ada perlu apa?" Asila sempat terdiam mendengar reaksi Aleska saat ini. ( Ada apa? Apa maksud mu? Kau membuatku harus membayar biaya salon yang sangat banyak Aleska. Kau membuatku malu di depan banyak orang karena aku hampir saja tak bisa membayarnya ) Keira menahan tawanya karena dia sudah tahu apa yang terjadi. Salon itu adalah milik Ibu Keira, otomatis berita itu juga sampai di telinganya. "Kau yang melakukan perawatan, kenapa aku yang harus membayarnya? Asila, mulai detik ini aku tak akan mengeluarkan uang ku untuk mu. Semua fasilitas yang kau pakai akan aku ambil." ( Apa maksud mu? Kau tahu bukan jika aku tak mampu mempunyai semuanya? Jika kau mengambilnya aku bagaimana? Kau tega padaku? Kita berteman sudah lama ) Keira memutar bola matanya malas mendengar itu. "Maafkan aku Asila, tapi aku ingin membeli mobil baru karena mobil yang lama sudah tak layak pakai. Jadi mulai hari ini tolong kembalikan semuanya ya? Aku juga akan menjual apartemen yang kau tempati. Aku butuh modal untuk membuka cabang yang baru." to be continuedClara yang marah karena dia juga di maki oleh orang tuanya, menyuruh seseorang untuk mengawasi Aleska. "Aku harus mendapatkan Gaharu kembali, dia tak boleh bahagia sementara aku harus menanggung semuanya sendiri. Paling tidak, dia juga harus memberiku beberapa uang sama seperti dulu." Clara menyeringai jahat ketika banyak rencana yang muncul di kepalanya. Dia harus bisa mendapatkan Gaharu agar kehidupannya kembali seperti dulu. Bersenang senang tanpa harus memikirkan uangnya habis. "Gaharu tunggu aku kembali, kau tak bisa lepas dari ku begitu saja!" # Aleska yang sudah bangun, ijin pada Gaharu untuk pergi ke toko miliknya. Dia lupa jika dia mendapatkan pesanan beberapa kue dalam jumlah banyak saat ini. Awalnya Gaharu tak ijinkan tapi jangan lupakan jurus andalan Aleska jika dia sedang merayu dan merajuk Gaharu. Dan saat ini, Aleska lah yang menang. Dia sedang dalam perjalanan ke toko miliknya. Namun ketika dia sampai di depan toko, matanya membola saat melihat beberap
Di dalam ruangan Gaharu, dua orang yang baru saja menyelesaikan ritualnya sedang mengatur napasnya yang tersengal. "Om.... lelah ... aku tak kuat lagi ...." bisik Aleska lirih. Tubuhnya terasa remuk saat Gaharu sudah mendapatkan pelepasan terakhirnya. Dia tak kuat jika Gaharu memintanya sekali lagi. Gaharu yang mendengar itu tersenyum, dia lalu mengangkat tubuh Aleska dan di bawanya masuk ke dalam ruangan pribadinya. "Mandi lagi ya.... aku bantu. Aku janji tak akan sentuh yang lain ..." Aleska tak menanggapi, dia hanya diam karena dia sudah tak punya tenaga sama sekali. Gaharu juga mengerti, dia tak akan melakukan hal lain selain membersihkan tubuh istrinya. Mengganti pakaiannya dengan yang baru. Setelahnya dia membawa Aleska ke ranjang pribadinya. "Istirahat sayang, kalau butuh sesuatu aku di ruangan depan. Di sini saja, nanti aku pesan makanan untuk mu tapi kalau mau yang lain, kau bisa pesan online." Aleska mengangguk lalu gantian Gaharu yang membersihkan dirinya d
Clara yang di usir oleh Gerald meradang, dia mengamuk karena terus di seret oleh orang orang Gaharu. Bruk.... Clara di lempar keluar perusahaan Gaharu oleh petugas keamanan. Tak lama Gerald tiba di sana dengan menatap Clara tajam. "Gerald sialan kau, berengsek kau!!" "Ck, telingaku sakit mendengar mu terus berteriak. Apa kau tak lelah membuat keributan di sini!" "Ayolah Clara, apa kau tak malu terus mengganggu Gaharu? Semua orang di sini juga tahu kalau yang meninggalkan Gaharu dulu, lalu kenapa sekarang kau malah membuat onar di sini?" Clara meradang, dia merasa jika Gerald terus menghina dan merendahkan nya. "Diam kau Gerald, kau hanya asisten Gaharu. Jadi jangan banyak bicara. Aku bisa menuntutmu!" Clara sampai menunjuk nunjuk Gerald di depan semua orang tapi bukan Gerald namanya jika dia tak bisa membalas perkataan Clara. "Oh, aku memang asisten Gaharu. Tapi aku asisten paling elit karena aku juga smua yang Gaharu miliki. Dan satu lagi, aku penasaran kenap
Aleska masih tak bergerak dari tempatnya karena Gaharu terus maju ke depan. Namun, dia memejamkan matanya ketika Gaharu semakin lebih dekat dengan nya. "Eh ......" Mata Aleska langsung terbuka lebar ketika merasakan jika Gaharu hanya memeluknya saja. "Sayang .. maafkan aku soal kejadian tadi. Aku tak tahu kalau dia ternyata ada di kota ini. Semenjak berpisah, aku tak lagi berhubungan dengan nya atau siapapun yang dekat dengan nya." Aleska masih mencerna semuanya, terlebih saat ini Gaharu tengah memeluknya erat. Menaruh kepalanya di dada Aleska. Semua ruam di tubuh Gaharu juga sudah menghilang. Wajah Gaharu yang pucat juga mulai berseri. Perlahan tangan Aleska bergerak mengusap rambut Gaharu yang menenangkannya saat ini. "Om, kenapa minta maaf? Om tak salah, tapi mantan istri Om yang salah. Kenapa kembali mengganggu ketika Om sudah tenang dan kembali mendapatkan kebahagiaan. Apa dia ingin kembali?" Gaharu mengurai pelukannya dengan Aleska. "Sayang, kalaupun dia mengajak
Pikiran Aleska masih kosong mendengar perkataan Gerald tentang Gaharu. Jika dia alergi dengan perempuan tapi mereka sering bersentuhan dan Gaharu baik baik saja. Gerald yang mendadak ingat tentang Aleska mengusap wajahnya kasar. "Al, nanti aku jelaskan, yang penting urus dulu suami mu ini. " Aleska mengangguk, dia melihat tubuh Gaharu penuh ruam merah. Tak selang lama seorang dokter pribadi Gaharu tiba. Dia langsung menyuntikan sebuah cairan ke dalam tubuh Gaharu. Perlahan, napas Gaharu mulai stabil dan normal. Tapi dia terlihat masih memejamkan matanya sejak tadi. Dokter itu memberikan obat pada Gerald agar Gaharu meminumnya nanti. Setelah nya, dokter itu pamit untuk undur diri. Gerald duduk tak jauh dari Gaharu yang masih dalam pengaruh obat yang membuatnya tidur sebentar. Aleska menatap Gaharu penuh tanda tanya. Selama ini dia tak tahu jika Gaharu menderita penyakit seperti itu. "Om Gerald, sebenarnya ada apa? Om Aru tak pernah bercerita apa apa kepadaku." Geral
Aleska yang melihat Gaharu mulai meninggikan suaranya langsung kembali berdiri. Dia mengusap lengan Gaharu agar Gaharu tak terus menerus marah atau terpancing emosi oleh mantan istrinya. "Om, tenanglah... masih pagi. Tak perlu marah marah, Om bisa bicara dengan dia baik baik." Gaharu melihat wajah tenang Aleska saat mengatakan itu semua, tapi Gaharu tahu jika mata Aleska tak bisa bohong jika wanitanya itu tengah menahan kesal melihat Clara. Gaharu lalu menggenggam tangan Aleska di depan Clara dan semua karyawannya. Bagi karyawan Gaharu, mereka sangat tahu secinta apa Gaharu pada Aleska begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan Clara yang merasa tak senang dengan apa yang dia lihat saat ini. "Gaharu, kenapa kau tak mengatakan padaku dan juga ijin kalau kau mau menikah lagi? Padahal aku masih ingin rujuk dengan mu." Clara mengatakan itu dengan wajah yang memelas. Tak hanya itu saja, dia ingin menyentuh Gaharu. Namun, Gaharu reflek mundur ke belakang. Gerald yang sejak t
Gaharu yang mendengar teriakan Aleska menepuk keningnya. Dia lupa jika dia belum mengenakan pakaiannya setelah mandi. ( "Maaf sayang, aku baru selesai mandi. Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." ) Pipi Aleska menjadi panas karena panggilan Gaharu kepadanya. Dia belum terbiasa dengan itu, ras
Asila yang mendengar penuturan petugas keamanan itu membelalakan matanya. Bagaimana bisa Aleska mengatakan jika dia tak kenal dengan Asila. Mereka bersahabat cukup lama. "Itu tak mungkin, dia sahabat ku. Jadi, biarkan aku masuk." Asila memaksa ingin menerobos masuk ke dalam tapi petugas keama
Langkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur. Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu me
"Ahhh .... sayang..... " "Kenapa hemm? Kau menikmatinya?" "Iya..... ah...... tapi.... apa kau tak takut jika Aleska tahu apa yang kita lakukan?" "Kenapa harus takut, dia hanya gadis yatim piatu yang polos." Tangan seseorang yang baru saja disebut itu menggantung di udara. Dadanya terasa







