LOGINLangkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur.
Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu mendongak dan melihat Gaharu tengah menatapnya dalam. "Kenapa tak hati hati? Kau masih saja ceroboh." Gaharu membantu Aleska berdiri dengan benar. Aleska sendiri langsung menunduk karena ingat tentang apa yang dia katakan saat berada di dalam rumahnya. Gaharu tersenyum tipis, semua tingkah Aleska membuatnya gemas. Dia meraih dagu Aleska, sehingga wajah Aleska menghadap ke arahnya. Kedua pasang mata itu saling bertubrukan. Aleska tiba tiba merasa gugup saat ini. "O-om, lepaskan aku, nanti ada yang lihat." cicit Aleska. Tapi Gaharu menarik pinggang Aleskan semakin dekat dengan nya. "Om, kenapa malah semakin erat pelukannya?" "Kau keberatan? Lalu dimana keberanian mu tadi ketika menawarkan diri untuk menikah dengan ku?" Gaharu sengaja menggoda Aleska karena wajah Aleska yang malu dan gugup membuatnya gemas. "Itu, aku tak tahu kalau om ternyata sudah mau melamarku." Gaharu mengusap bibir merah ceri di depannya itu. Dia menahan diri untuk tak langsung melahap bibir Aleska yang terlihat menggodanya. "Ralat, bukan mau, tapi hanya sudah. Dan orang tua mu menerima lamaran ku." Mata Aleska membola, dia reflek mendorong dada bidang Gaharu. Duk... Gaharu meringis ketika punggungnya menabrak dinding penyangga di belakangnya. "Eh, om.... om tak apa apa?" Aleska panik dan ingin melihat Gaharu tapi tangan Aleska malah ditarik oleh Gaharu dan lagi lagi Aleska masuk ke dalam pelukannya. "Kita menikah seminggu lagi." "A-apa seminggu lagi? Kenapa cepat sekali?" Gaharu mengurai pelukan itu, dia menatap tajam kepada Aleska yang membuat Aleska meneguk ludahnya kasar. "Kau masih berhubungan dengan laki laki itu?" Aleska tertegun mendengar itu, dia yang semula lupa menjadi ingat kembali dengan kejadian Luke juga Asila. Melihat perubahan raut wajah Aleska membuat Gaharu bingung. "Ck, aku bahkan sudah tak sudi mengingat namanya." Lalu detik berikutnya Aleska menceritakan semuanya pada Gaharu meskipun Gaharu sudah mengetahui semuanya. Tapi mendengar sendiri cerita Aleska membuatnya lebih bahagia. Karena ternyata Aleska mau jujur kepadanya. Selama ini tak pernah ada sesuatu dengan mereka berdua. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka berdua juga sering bertemu. Hanya saja, Aleska sering menjaga jarak karena dia masih bersama dengan Luke. "Kau bisa mengandalkan ku untuk membalas mereka. Bukannya mereka berdua bekerja di perusahaan ku, dan itu juga karena kebodohanmu karena merekomendasikan mereka sampai merengek kepadaku." Bibir Aleska semakin cemberut mengingat itu semua. "Harusnya aku tak membantu mereka." Puk... Gaharu mengusap puncak kepala Aleska sebagai pertanda Aleska tak perlu sedih lagi karena sudah membantu mereka. "Tak usah menyesali keputusanmu, kebetulan sebulan lagi ada penilaian kinerja semua karyawan. Kau bisa melihat kinerja mereka selama ini seperti apa. Lagi pula mereka sudah masuk ke dalam list blacklist ku." Aleska langsung menoleh ke arah Gaharu dengan wajah berbinar. Gaharu meneguk ludahnya kasar ketika wajah Aleska terlalu dekat denganya. Cup..... Aleska mencium Gaharu tiba tiba yang membuat Gaharu membelalakan matanya. Aleska sendiri terkejut karena mendapatkan keberanian seperti itu. Saat Aleska ingin menarik wajahnya tangan Gaharu menahan tengkuk Aleska. Bergantian sekarang Gaharu yang mencium bibir Aleska. Bahkan tak hanya mencium biasa, tapi Gaharu sedikit melumat nya. Alarm tanda bahaya di kepala Aleska berbunyi, dia lalu menggigit bibir Gaharu. "Kenapa di gigit?" protes Gaharu. Aleska gelagapan karena Gaharu terlihat menakutkan. "Om tak tahu tempat, kalau ada orang lain bagaimana?" Gaharu melihat ke arah Aleska dan menyeringai. "Jadi, kalau tidak ada yang melihat aku bisa mencium mu lebih dari yang tadi?" Mata Aleska kembali melotot, bagi Aleska saat ini Gaharu benar benar berbahaya dan sangat mesum. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal lalu kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Gaharu yang tertawa melihat tingkah Aleska. Keempat orang paruh baya yang ada di ruang dengan serempak menoleh ketika mendengar derap langkah masuk ke dalam ruangan itu. Mommy Aleska menatap aneh pada Aleska yang masuk dengan wajah cemberut. "Aleska, kau kenapa?" Langkah Aleska langsung berhenti, dia baru sadar jika semua orang tengah menatap ke arahnya. Dia meneguk ludahnya kasar ketika dia membuat semua orang menatap aneh ke arahnya. Greb..... Gaharu tiba tiba memeluk pinggang Aleska dari belakang yang membuat Aleska berjingkat karena kaget. "Tidak ada, Aleska sudah setuju kalau kami akan menikah seminggu lagi." Mata Aleska membelalak ketika mendengar perkataan Gaharu. Aleska mencubit pinggang Gaharu yang membuat Gaharu meringis tapi dia tetap menampilkan senyum lebarnya kepada semua orang. Geri dan Norah menyipitkan matanya ke arah Gaharu curiga. "Aru, jangan memaksa calon menantu mami. Kalau kau memaksa lebih baik kau tak usah menikah. Biar status dudamu terus kau sandang sampai tua." omel Norah. Gaharu melepaskan pelukannya pada Aleska laku meraih tangan Aleska dan membawanya duduk kembali di tengah para orang tua. "Tadi kalian semua sudah mendengar jika Aleska sendiri juga meminta ku menikahinya. Hal baik kenapa harus di tunda? Benar bukan?" Rasya menatap putrinya yang masih kebingungan tapi dia tak akan bertanya apapun pada Aleska. Yang terpenting lamaran itu berjalan dengan lancar. Gaharu mengeluarkan sebuah kotak cincin dan memasangkan cincin itu di jari Aleska. "Wah, Aru, bisa pas sekali cincinnya? Sepertinya kau sudah mengincar putriku dari lama?" goda Kael. Gaharu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia menjadi salah tingkah karena godaan Kael barusan. "Baiklah, karena sudah di putuskan, kalian berdua akan menikah satu bulan lagi. Jika seminggu itu terlalu cepat. Nanti di kira, Aleska sudah kau cicipi terlebih dahulu." Uhuk.... Aleska tersedak ludahnya, sementara Gaharu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Beruntung tak ada yang sadar atau mereka hanya berpura pura. Lalu Rasya mengajak semua orang untuk makan malam bersama. Namun, Gaharu mendadak harus pergi terlebih dahulu karena dia harus berangkat ke Jepang malam itu juga. "Maaf aku lupa, besok sore aku ada rapat penting di Jepang dan malam ini aku harus berangkat. Semua keputusan pernikahan aku serahkan pada Aleska. Setelah aku kembali, aku akan ikut mengurus pernikahan kami." Setelah berpamitan pada para orang tau, Gaharu berdiri di depan Aleska. Dia tak segan memeluk Aleska yang hanya diam mematung di tempatnya. "Tunggu aku pulang, aku akan menghubungi mu nanti ketika tiba disana." Aleska yang awalnya ragu membalas pelukan Gaharu akhirnya membalas pelukan itu meskipun tak seerat Gaharu. Itu saja sudah membuat Gaharu senang. "Hati hati dalam perjalanan mu, Om." to be continuedClara yang marah karena dia juga di maki oleh orang tuanya, menyuruh seseorang untuk mengawasi Aleska. "Aku harus mendapatkan Gaharu kembali, dia tak boleh bahagia sementara aku harus menanggung semuanya sendiri. Paling tidak, dia juga harus memberiku beberapa uang sama seperti dulu." Clara menyeringai jahat ketika banyak rencana yang muncul di kepalanya. Dia harus bisa mendapatkan Gaharu agar kehidupannya kembali seperti dulu. Bersenang senang tanpa harus memikirkan uangnya habis. "Gaharu tunggu aku kembali, kau tak bisa lepas dari ku begitu saja!" # Aleska yang sudah bangun, ijin pada Gaharu untuk pergi ke toko miliknya. Dia lupa jika dia mendapatkan pesanan beberapa kue dalam jumlah banyak saat ini. Awalnya Gaharu tak ijinkan tapi jangan lupakan jurus andalan Aleska jika dia sedang merayu dan merajuk Gaharu. Dan saat ini, Aleska lah yang menang. Dia sedang dalam perjalanan ke toko miliknya. Namun ketika dia sampai di depan toko, matanya membola saat melihat beberap
Di dalam ruangan Gaharu, dua orang yang baru saja menyelesaikan ritualnya sedang mengatur napasnya yang tersengal. "Om.... lelah ... aku tak kuat lagi ...." bisik Aleska lirih. Tubuhnya terasa remuk saat Gaharu sudah mendapatkan pelepasan terakhirnya. Dia tak kuat jika Gaharu memintanya sekali lagi. Gaharu yang mendengar itu tersenyum, dia lalu mengangkat tubuh Aleska dan di bawanya masuk ke dalam ruangan pribadinya. "Mandi lagi ya.... aku bantu. Aku janji tak akan sentuh yang lain ..." Aleska tak menanggapi, dia hanya diam karena dia sudah tak punya tenaga sama sekali. Gaharu juga mengerti, dia tak akan melakukan hal lain selain membersihkan tubuh istrinya. Mengganti pakaiannya dengan yang baru. Setelahnya dia membawa Aleska ke ranjang pribadinya. "Istirahat sayang, kalau butuh sesuatu aku di ruangan depan. Di sini saja, nanti aku pesan makanan untuk mu tapi kalau mau yang lain, kau bisa pesan online." Aleska mengangguk lalu gantian Gaharu yang membersihkan dirinya d
Clara yang di usir oleh Gerald meradang, dia mengamuk karena terus di seret oleh orang orang Gaharu. Bruk.... Clara di lempar keluar perusahaan Gaharu oleh petugas keamanan. Tak lama Gerald tiba di sana dengan menatap Clara tajam. "Gerald sialan kau, berengsek kau!!" "Ck, telingaku sakit mendengar mu terus berteriak. Apa kau tak lelah membuat keributan di sini!" "Ayolah Clara, apa kau tak malu terus mengganggu Gaharu? Semua orang di sini juga tahu kalau yang meninggalkan Gaharu dulu, lalu kenapa sekarang kau malah membuat onar di sini?" Clara meradang, dia merasa jika Gerald terus menghina dan merendahkan nya. "Diam kau Gerald, kau hanya asisten Gaharu. Jadi jangan banyak bicara. Aku bisa menuntutmu!" Clara sampai menunjuk nunjuk Gerald di depan semua orang tapi bukan Gerald namanya jika dia tak bisa membalas perkataan Clara. "Oh, aku memang asisten Gaharu. Tapi aku asisten paling elit karena aku juga smua yang Gaharu miliki. Dan satu lagi, aku penasaran kenap
Aleska masih tak bergerak dari tempatnya karena Gaharu terus maju ke depan. Namun, dia memejamkan matanya ketika Gaharu semakin lebih dekat dengan nya. "Eh ......" Mata Aleska langsung terbuka lebar ketika merasakan jika Gaharu hanya memeluknya saja. "Sayang .. maafkan aku soal kejadian tadi. Aku tak tahu kalau dia ternyata ada di kota ini. Semenjak berpisah, aku tak lagi berhubungan dengan nya atau siapapun yang dekat dengan nya." Aleska masih mencerna semuanya, terlebih saat ini Gaharu tengah memeluknya erat. Menaruh kepalanya di dada Aleska. Semua ruam di tubuh Gaharu juga sudah menghilang. Wajah Gaharu yang pucat juga mulai berseri. Perlahan tangan Aleska bergerak mengusap rambut Gaharu yang menenangkannya saat ini. "Om, kenapa minta maaf? Om tak salah, tapi mantan istri Om yang salah. Kenapa kembali mengganggu ketika Om sudah tenang dan kembali mendapatkan kebahagiaan. Apa dia ingin kembali?" Gaharu mengurai pelukannya dengan Aleska. "Sayang, kalaupun dia mengajak
Pikiran Aleska masih kosong mendengar perkataan Gerald tentang Gaharu. Jika dia alergi dengan perempuan tapi mereka sering bersentuhan dan Gaharu baik baik saja. Gerald yang mendadak ingat tentang Aleska mengusap wajahnya kasar. "Al, nanti aku jelaskan, yang penting urus dulu suami mu ini. " Aleska mengangguk, dia melihat tubuh Gaharu penuh ruam merah. Tak selang lama seorang dokter pribadi Gaharu tiba. Dia langsung menyuntikan sebuah cairan ke dalam tubuh Gaharu. Perlahan, napas Gaharu mulai stabil dan normal. Tapi dia terlihat masih memejamkan matanya sejak tadi. Dokter itu memberikan obat pada Gerald agar Gaharu meminumnya nanti. Setelah nya, dokter itu pamit untuk undur diri. Gerald duduk tak jauh dari Gaharu yang masih dalam pengaruh obat yang membuatnya tidur sebentar. Aleska menatap Gaharu penuh tanda tanya. Selama ini dia tak tahu jika Gaharu menderita penyakit seperti itu. "Om Gerald, sebenarnya ada apa? Om Aru tak pernah bercerita apa apa kepadaku." Geral
Aleska yang melihat Gaharu mulai meninggikan suaranya langsung kembali berdiri. Dia mengusap lengan Gaharu agar Gaharu tak terus menerus marah atau terpancing emosi oleh mantan istrinya. "Om, tenanglah... masih pagi. Tak perlu marah marah, Om bisa bicara dengan dia baik baik." Gaharu melihat wajah tenang Aleska saat mengatakan itu semua, tapi Gaharu tahu jika mata Aleska tak bisa bohong jika wanitanya itu tengah menahan kesal melihat Clara. Gaharu lalu menggenggam tangan Aleska di depan Clara dan semua karyawannya. Bagi karyawan Gaharu, mereka sangat tahu secinta apa Gaharu pada Aleska begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan Clara yang merasa tak senang dengan apa yang dia lihat saat ini. "Gaharu, kenapa kau tak mengatakan padaku dan juga ijin kalau kau mau menikah lagi? Padahal aku masih ingin rujuk dengan mu." Clara mengatakan itu dengan wajah yang memelas. Tak hanya itu saja, dia ingin menyentuh Gaharu. Namun, Gaharu reflek mundur ke belakang. Gerald yang sejak t
Asila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang. "Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua k
Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat
"Ahhh .... sayang..... " "Kenapa hemm? Kau menikmatinya?" "Iya..... ah...... tapi.... apa kau tak takut jika Aleska tahu apa yang kita lakukan?" "Kenapa harus takut, dia hanya gadis yatim piatu yang polos." Tangan seseorang yang baru saja disebut itu menggantung di udara. Dadanya terasa
Asila mengamuk ketika mendengar semua jawaban dari Aleska. Dia lalu menghubungi Luke kembali tapi sampai malam tiba Luke pun masih tak bisa di hubungi. Sedangkan di sisi lain, Luke sudah mengerang frustasi karena pekerjaan nya terlalu banyak dan masih saja salah. "Kenapa tak selesai juga, aku







