LOGINAsila mengamuk ketika mendengar semua jawaban dari Aleska. Dia lalu menghubungi Luke kembali tapi sampai malam tiba Luke pun masih tak bisa di hubungi.
Sedangkan di sisi lain, Luke sudah mengerang frustasi karena pekerjaan nya terlalu banyak dan masih saja salah. "Kenapa tak selesai juga, aku sudah berusaha memperbaiki nya. Tapi tetap saja banyak salahnya." Luke mengacak rambutnya kesal. Semakin kesal ketika Asila terus menerus menghubunginya. Luke mengambil napas panjang sebelum dia mengangkat telfon Asila. "Ada apa? Aku masih di kantor," jawab Luke. ( Luke, kau kemana saja? Aku menghubungi mu sejak tadi. Kenapa tak mengangkat telfon ku dari tadi? Kau tahu Aleska membuat ulah. Dia memutus langganannya di salon tempat ku biasa perawatan. Dia ingin mengambil mobilnya yang aku pakai, juga ingin menjual apartemen yang aku tempati ) Mata Luke membola, semakin berdenyut lah kepalanya mendengar itu. "Aku akan bertanya padanya nanti, aku belum menghubungi Aleska. Kau tenang dulu, jangan membuatku semakin pusing. Pekerjaanku masih banyak dan harus selesai hari ini!" Klik.... Luke mematikan sambungan telfon itu. Dia tak bisa berpikir jernih. Jika Aleska bisa melakukan itu pada Asila bisa jadi Aleska juga akan melakukan itu padanya. Dia mulai gusar, terlebih mobil dan apartemen yang dia pakai juga milik Aleska. " Argh sial!" Luke ingin pergi dari sana, tapi Kepala Divisi sudah menghubungi nya kembali. Meminta laporannya kembali di serahkan. Luke terkena mental setelah Kepala Divisi memakinya habis habisan. Di saat biasanya dia membawa pulang pekerjaan nya dan meminta Aleska membantunya tapi kali ini Kepala Divisi tak mengijinkan pekerjaan itu dibawa pulang. # Gaharu yang mendapat laporan jika Luke terus menerus ada di ruangan nya menyeringai. Dia memang sengaja membuat laki laki itu tak bisa beranjak sedikit pun dari sana. Selama ini, Gaharu sangat tahu jika Aleska lah yang mengerjakan semua pekerjaan Luke. "Kau akan tahu bagaimana rasanya mencari uang tanpa bantuan orang lain. Nikmati saja semua yang kau tabur!" Gerald yang ada di dekatnya bergidik ngeri. Dia tahu bagaimana Gaharu jika sudah bertindak terlebih ketika Gaharu tahu sendiri bagaimana Luke mengkhianati perempuan yang sekarang akan menjadi istrinya. "Gerald, percepat pekerjaan kita yang ada disini. Aku ingin kembali besok, aku tak mau meninggalkan Aleska lama lama disana. Dan satu lagi, pastikan wanita sialan yang berkhianat itu juga mendapatkan peringatan agar tak bermain main dengan Aleska!" Gerald mengangguk patuh, dia menyusun ulang semua jadwal pekerjaan Gaharu untuk dua hari ke depan menjadi satu hari. Begitu juga menyuruh seseorang memberi teguran pada Asila. # Keesokan harinya ... Aleska yang saat ini tengah bersama Keira menikmati waktu dengan berbelanja beberapa kebutuhan mereka. Sampai mereka bertemu Asila tak sengaja. "Aleska!!" Aleska melirik Keira yang juga sedang melirik ke arahnya. Sebenarnya mereka malas berurusan dengan Asila untuk saat ini. Tapi ternyata pertemuan itu juga tak bisa dihindarinya. Asila lalu melirik beberapa paper bag yang dibawa oleh Aleska dan juga Keira. Dia terlihat marah tapi dia menahan diri di depan Aleska. Melihat Aleska bisa belanja sebanyak itu dia sangat iri. "Kok tak bilang padaku kalau kau juga mau belanja? Aku bisa temani. Kenapa harus ajak orang lain?" Suara Asila di rubah seperti seorang yang manja yang sedang merajuk. Rasanya Aleska dan Keira sangat mual. Jika Aleska yang dulu akan kelimpungan membujuk Asila tapi kali ini berbeda. "Aku hanya di ajak, dan ya kenalkan ini Keira. Sepupuku, kebetulan yang belanja ini semua adalah dia." Mata Keira membola ketika mendengar itu, tapi Aleska sudah mengikutinya terlebih dahulu untuk mengikuti drama yang sedang dia mainkan. "Wah, senang berkenalan dengan mu. Kau banyak sekali berbelanja? Dan semua itu adalah merk yang aku sukai, aku juga sering belanja merk merk itu. Aku tahu banyak tentang merk itu juga promonya. Kenapa tak mengajakku juga? Berbeda dengan Aleska yang tak pernah belanja itu. Dia pasti tak tahu banyak." ucap Asila tanpa ada jedanya. Sadar tak mendapatkan respon dari Keira dan Aleska, Asila tersenyum. "Bukan maksudku merendahkan mu Aleska, tapi selama ini aku kan yang selalu memberi mu ide dan masukan?" Aleska mengangguk malas, lalu dia memberi kode pada Keira untuk mengajak Keira pergi dari sana. "Owh, aku baru tahu jika Aleska tak tahu merk merk ini." "Padahal satu kamar nya penuh dengan merk yang lebih mahal dari pada ini." batin Keira. Asila ingin meraih lengan Keira agar terlihat akrab tapi Keira langsung menghindar dan mundur. "Maaf, tapi aku tak suka di sentuh orang asing. Aleska ayo pulang. Kita masih harus beli beberapa perhiasan." Aleska mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapan Asila. "Eh, tunggu....." Asila lalu mengejar Aleska dan Keir. Terlebih ketika mendengar Keira akan berbelanja perhiasan tentu saja otaknya langsung bekerja dengan cepat. Dia harus mendapatkan perhiasan gratis yang mahal dari Keira. Itu yang ada dalam pikirannya. Saat dia menemukan Keira dan Aleska masuk ke dalam toko berlian, Asila ingin masuk tapi Asila langsung ditahan oleh petugas keamanan yang ada disana. "Nona, bisakah nona menunjukkan kartu member di toko kami?" Asila mengerutkan keningnya bingung karena baru tahu jika masuk toko itu harus memakai kartu member. "Aku tak punya, tapi teman ku sudah ada di dalam. Aku mengikutinya, jadi minggir! Jangan menghalangi jalanku!" Asila mendadak menjadi kesal mendengar itu, terlebih dia melihat Aleska dan Keira mencoba beberapa berlian di dalam juga perhiasan yang lainnya. "Maaf tapi kau tak bisa masuk jika tak punya kartu member." "Lihat, dua orang itu adalah sahabat dekatku. Tanya mereka, aku ketinggalan tadi di toilet dan mereka bilang mereka menunggu ku disini." kekeuh Asila. Dua petugas itu saling pandang, lalu menganggukkan kepalanya. "Baik, kami akan bertanya terlebih dahulu kepada mereka. Jika memang kau temannya, kami akan ijinkan mu masuk." Salah satu petugas itu masuk ke dalam dan menghampiri Aleska juga Keira. Terlihat mereka bertiga sedang berbicara lalu juga sempat melihat ke arah Asila. Tentu saja Asila langsung mengangkat dagu nya tinggi karena yakin jika dia akan di ijinkan masuk ke dalam. "Minggir, mereka teman ku bukan? Jadi ingat baik baik siapa aku!" Asila ingin menerobos masuk. Tapi petugas keamanan yang baru saja kembali itu mendorong pundak Asila untuk kembali keluar. "Mereka berdua tak mengenal anda, dan jangan membuat rusuh disini, jadi silahkan pergi. Dan dua orang itu tak mungkin berbohong karena member VVIP disini!" to be continuedClara yang marah karena dia juga di maki oleh orang tuanya, menyuruh seseorang untuk mengawasi Aleska. "Aku harus mendapatkan Gaharu kembali, dia tak boleh bahagia sementara aku harus menanggung semuanya sendiri. Paling tidak, dia juga harus memberiku beberapa uang sama seperti dulu." Clara menyeringai jahat ketika banyak rencana yang muncul di kepalanya. Dia harus bisa mendapatkan Gaharu agar kehidupannya kembali seperti dulu. Bersenang senang tanpa harus memikirkan uangnya habis. "Gaharu tunggu aku kembali, kau tak bisa lepas dari ku begitu saja!" # Aleska yang sudah bangun, ijin pada Gaharu untuk pergi ke toko miliknya. Dia lupa jika dia mendapatkan pesanan beberapa kue dalam jumlah banyak saat ini. Awalnya Gaharu tak ijinkan tapi jangan lupakan jurus andalan Aleska jika dia sedang merayu dan merajuk Gaharu. Dan saat ini, Aleska lah yang menang. Dia sedang dalam perjalanan ke toko miliknya. Namun ketika dia sampai di depan toko, matanya membola saat melihat beberap
Di dalam ruangan Gaharu, dua orang yang baru saja menyelesaikan ritualnya sedang mengatur napasnya yang tersengal. "Om.... lelah ... aku tak kuat lagi ...." bisik Aleska lirih. Tubuhnya terasa remuk saat Gaharu sudah mendapatkan pelepasan terakhirnya. Dia tak kuat jika Gaharu memintanya sekali lagi. Gaharu yang mendengar itu tersenyum, dia lalu mengangkat tubuh Aleska dan di bawanya masuk ke dalam ruangan pribadinya. "Mandi lagi ya.... aku bantu. Aku janji tak akan sentuh yang lain ..." Aleska tak menanggapi, dia hanya diam karena dia sudah tak punya tenaga sama sekali. Gaharu juga mengerti, dia tak akan melakukan hal lain selain membersihkan tubuh istrinya. Mengganti pakaiannya dengan yang baru. Setelahnya dia membawa Aleska ke ranjang pribadinya. "Istirahat sayang, kalau butuh sesuatu aku di ruangan depan. Di sini saja, nanti aku pesan makanan untuk mu tapi kalau mau yang lain, kau bisa pesan online." Aleska mengangguk lalu gantian Gaharu yang membersihkan dirinya d
Clara yang di usir oleh Gerald meradang, dia mengamuk karena terus di seret oleh orang orang Gaharu. Bruk.... Clara di lempar keluar perusahaan Gaharu oleh petugas keamanan. Tak lama Gerald tiba di sana dengan menatap Clara tajam. "Gerald sialan kau, berengsek kau!!" "Ck, telingaku sakit mendengar mu terus berteriak. Apa kau tak lelah membuat keributan di sini!" "Ayolah Clara, apa kau tak malu terus mengganggu Gaharu? Semua orang di sini juga tahu kalau yang meninggalkan Gaharu dulu, lalu kenapa sekarang kau malah membuat onar di sini?" Clara meradang, dia merasa jika Gerald terus menghina dan merendahkan nya. "Diam kau Gerald, kau hanya asisten Gaharu. Jadi jangan banyak bicara. Aku bisa menuntutmu!" Clara sampai menunjuk nunjuk Gerald di depan semua orang tapi bukan Gerald namanya jika dia tak bisa membalas perkataan Clara. "Oh, aku memang asisten Gaharu. Tapi aku asisten paling elit karena aku juga smua yang Gaharu miliki. Dan satu lagi, aku penasaran kenap
Aleska masih tak bergerak dari tempatnya karena Gaharu terus maju ke depan. Namun, dia memejamkan matanya ketika Gaharu semakin lebih dekat dengan nya. "Eh ......" Mata Aleska langsung terbuka lebar ketika merasakan jika Gaharu hanya memeluknya saja. "Sayang .. maafkan aku soal kejadian tadi. Aku tak tahu kalau dia ternyata ada di kota ini. Semenjak berpisah, aku tak lagi berhubungan dengan nya atau siapapun yang dekat dengan nya." Aleska masih mencerna semuanya, terlebih saat ini Gaharu tengah memeluknya erat. Menaruh kepalanya di dada Aleska. Semua ruam di tubuh Gaharu juga sudah menghilang. Wajah Gaharu yang pucat juga mulai berseri. Perlahan tangan Aleska bergerak mengusap rambut Gaharu yang menenangkannya saat ini. "Om, kenapa minta maaf? Om tak salah, tapi mantan istri Om yang salah. Kenapa kembali mengganggu ketika Om sudah tenang dan kembali mendapatkan kebahagiaan. Apa dia ingin kembali?" Gaharu mengurai pelukannya dengan Aleska. "Sayang, kalaupun dia mengajak
Pikiran Aleska masih kosong mendengar perkataan Gerald tentang Gaharu. Jika dia alergi dengan perempuan tapi mereka sering bersentuhan dan Gaharu baik baik saja. Gerald yang mendadak ingat tentang Aleska mengusap wajahnya kasar. "Al, nanti aku jelaskan, yang penting urus dulu suami mu ini. " Aleska mengangguk, dia melihat tubuh Gaharu penuh ruam merah. Tak selang lama seorang dokter pribadi Gaharu tiba. Dia langsung menyuntikan sebuah cairan ke dalam tubuh Gaharu. Perlahan, napas Gaharu mulai stabil dan normal. Tapi dia terlihat masih memejamkan matanya sejak tadi. Dokter itu memberikan obat pada Gerald agar Gaharu meminumnya nanti. Setelah nya, dokter itu pamit untuk undur diri. Gerald duduk tak jauh dari Gaharu yang masih dalam pengaruh obat yang membuatnya tidur sebentar. Aleska menatap Gaharu penuh tanda tanya. Selama ini dia tak tahu jika Gaharu menderita penyakit seperti itu. "Om Gerald, sebenarnya ada apa? Om Aru tak pernah bercerita apa apa kepadaku." Geral
Aleska yang melihat Gaharu mulai meninggikan suaranya langsung kembali berdiri. Dia mengusap lengan Gaharu agar Gaharu tak terus menerus marah atau terpancing emosi oleh mantan istrinya. "Om, tenanglah... masih pagi. Tak perlu marah marah, Om bisa bicara dengan dia baik baik." Gaharu melihat wajah tenang Aleska saat mengatakan itu semua, tapi Gaharu tahu jika mata Aleska tak bisa bohong jika wanitanya itu tengah menahan kesal melihat Clara. Gaharu lalu menggenggam tangan Aleska di depan Clara dan semua karyawannya. Bagi karyawan Gaharu, mereka sangat tahu secinta apa Gaharu pada Aleska begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan Clara yang merasa tak senang dengan apa yang dia lihat saat ini. "Gaharu, kenapa kau tak mengatakan padaku dan juga ijin kalau kau mau menikah lagi? Padahal aku masih ingin rujuk dengan mu." Clara mengatakan itu dengan wajah yang memelas. Tak hanya itu saja, dia ingin menyentuh Gaharu. Namun, Gaharu reflek mundur ke belakang. Gerald yang sejak t
Gaharu yang mendengar teriakan Aleska menepuk keningnya. Dia lupa jika dia belum mengenakan pakaiannya setelah mandi. ( "Maaf sayang, aku baru selesai mandi. Tunggu sebentar, aku pakai baju dulu." ) Pipi Aleska menjadi panas karena panggilan Gaharu kepadanya. Dia belum terbiasa dengan itu, ras
Asila yang mendengar penuturan petugas keamanan itu membelalakan matanya. Bagaimana bisa Aleska mengatakan jika dia tak kenal dengan Asila. Mereka bersahabat cukup lama. "Itu tak mungkin, dia sahabat ku. Jadi, biarkan aku masuk." Asila memaksa ingin menerobos masuk ke dalam tapi petugas keama
Asila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang. "Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua k
Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat







