分享

Bab 5

作者: Sangkarachan
last update publish date: 2026-06-01 15:22:39

Asila mengamuk ketika mendengar semua jawaban dari Aleska. Dia lalu menghubungi Luke kembali tapi sampai malam tiba Luke pun masih tak bisa di hubungi.

Sedangkan di sisi lain, Luke sudah mengerang frustasi karena pekerjaan nya terlalu banyak dan masih saja salah.

"Kenapa tak selesai juga, aku sudah berusaha memperbaiki nya. Tapi tetap saja banyak salahnya."

Luke mengacak rambutnya kesal. Semakin kesal ketika Asila terus menerus menghubunginya.

Luke mengambil napas panjang sebelum dia mengangkat telfon Asila.

"Ada apa? Aku masih di kantor," jawab Luke.

( Luke, kau kemana saja? Aku menghubungi mu sejak tadi. Kenapa tak mengangkat telfon ku dari tadi? Kau tahu Aleska membuat ulah. Dia memutus langganannya di salon tempat ku biasa perawatan. Dia ingin mengambil mobilnya yang aku pakai, juga ingin menjual apartemen yang aku tempati )

Mata Luke membola, semakin berdenyut lah kepalanya mendengar itu.

"Aku akan bertanya padanya nanti, aku belum menghubungi Aleska. Kau tenang dulu, jangan membuatku semakin pusing. Pekerjaanku masih banyak dan harus selesai hari ini!"

Klik....

Luke mematikan sambungan telfon itu. Dia tak bisa berpikir jernih. Jika Aleska bisa melakukan itu pada Asila bisa jadi Aleska juga akan melakukan itu padanya. Dia mulai gusar, terlebih mobil dan apartemen yang dia pakai juga milik Aleska.

" Argh sial!"

Luke ingin pergi dari sana, tapi Kepala Divisi sudah menghubungi nya kembali. Meminta laporannya kembali di serahkan. Luke terkena mental setelah Kepala Divisi memakinya habis habisan.

Di saat biasanya dia membawa pulang pekerjaan nya dan meminta Aleska membantunya tapi kali ini Kepala Divisi tak mengijinkan pekerjaan itu dibawa pulang.

#

Gaharu yang mendapat laporan jika Luke terus menerus ada di ruangan nya menyeringai. Dia memang sengaja membuat laki laki itu tak bisa beranjak sedikit pun dari sana. Selama ini, Gaharu sangat tahu jika Aleska lah yang mengerjakan semua pekerjaan Luke.

"Kau akan tahu bagaimana rasanya mencari uang tanpa bantuan orang lain. Nikmati saja semua yang kau tabur!"

Gerald yang ada di dekatnya bergidik ngeri. Dia tahu bagaimana Gaharu jika sudah bertindak terlebih ketika Gaharu tahu sendiri bagaimana Luke mengkhianati perempuan yang sekarang akan menjadi istrinya.

"Gerald, percepat percepat pekerjaan kita yang ada disini. Aku ingin kembali besok, aku tak mau meninggalkan Aleska lama lama disana. Dan satu lagi, pastikan wanita sialan yang berkhianat itu juga mendapatkan peringatan agar tak bermain main dengan Aleska!"

Gerald mengangguk patuh, dia menyusun ulang semua jadwal pekerjaan Gaharu untuk dua hari ke depan menjadi satu hari. Begitu juga menyuruh seseorang memberi teguran pada Asila.

#

Keesokan harinya ...

Aleska yang saat ini tengah bersama Keira menikmati waktu dengan berbelanja beberapa kebutuhan mereka.

Sampai Mereka bertemu Asila tak sengaja.

"Aleska!!"

Aleska melirik Keira yang juga sedang melirik ke arahnya. Sebenarnya mereka malas berurusan dengan Asila untuk saat ini. Tapi ternyata pertemuan itu juga tak bisa dihindarinya.

Asila lalu melirik beberapa paper bag yang dibawa oleh Aleska dan juga Keira. Dia terlihat marah tapi dia menahan diri di depan Aleska. Melihat Aleska bisa belanja sebanyak itu dia sangat iri.

"Kok tak bilang padaku kalau kau juga mau belanja? Aku bisa temani. Kenapa harus ajak orang lain?"

Suara Asila di rubah seperti seorang yang manja yang sedang merajuk. Rasanya Aleska dan Keira sangat mual. Jika Aleska yang dulu akan kelimpungan membujuk Asila tapi kali ini berbeda.

"Aku hanya di ajak, dan ya kenalkan ini Keira. Sepupuku, kebetulan yang belanja ini semua adalah dia."

Mata Keira membola ketika mendengar itu, tapi Aleska sudah mengikutinya terlebih dahulu untuk mengikuti drama yang sedang dia mainkan.

"Wah, senang berkenalan dengan mu. Kau banyak sekali berbelanja? Dan semua itu adalah merk yang aku sukai, aku juga sering belanja merk merk itu. Aku tahu banyak tentang merk itu juga promonya. Kenapa tak mengajakku juga? Berbeda dengan Aleska yang tak pernah belanja itu. Dia pasti tak tahu banyak." ucap Asila tanpa ada jedanya.

Sadar tak mendapatkan respon dari Keira dan Aleska, Asila tersenyum.

"Bukan maksudku merendahkan mu Aleska, tapi selama ini aku kan yang selalu memberi mu ide dan masukan?"

Aleska mengangguk malas, lalu dia memberi kode pada Keira untuk mengajak Keira pergi dari sana.

"Owh, aku baru tahu jika Aleska tak tahu merk merk ini."

"Padahal satu kamar nya penuh dengan merk yang lebih mahal dari pada ini." batin Keira.

Asila ingin meraih lengan Keira agar terlihat akrab tapi Keira langsung menghindar dan mundur.

"Maaf, tapi aku tak suka di sentuh orang asing. Aleska ayo pulang. Kita masih harus beli beberapa perhiasan."

Aleska mengangguk dan pergi begitu saja dari hadapan Asila.

"Eh, tunggu....."

Asila lalu mengejar Aleska dan Keir. Terlebih ketika mendengar Keira akan berbelanja perhiasan tentu saja otaknya langsung bekerja dengan cepat.

Dia harus mendapatkan perhiasan gratis yang mahal dari Keira. Itu yang ada dalam pikirannya.

Saat dia menemukan Keira dan Aleska masuk ke dalam toko berlian, Asila ingin masuk tapi Asila langsung ditahan oleh petugas keamanan yang ada disana.

"Nona, bisakah nona menunjukkan kartu member di toko kami?"

Asila mengerutkan keningnya bingung karena baru tahu jika masuk toko itu harus memakai kartu member.

"Aku tak punya, tapi teman ku sudah ada di dalam. Aku mengikutinya, jadi minggir! Jangan menghalangi jalanku!"

Asila mendadak menjadi kesal mendengar itu, terlebih dia melihat Aleska dan Keira mencoba beberapa berlian di dalam juga perhiasan yang lainnya.

"Maaf tapi kau tak bisa masuk jika tak punya kartu member."

"Lihat, dua orang itu adalah sahabat dekatku. Tanya mereka, aku ketinggalan tadi di toilet dan mereka bilang mereka menunggu ku disini." kekeuh Asila.

Dua petugas itu saling pandang, lalu menganggukkan kepalanya.

"Baik, kami akan bertanya terlebih dahulu kepada mereka. Jika memang kau temannya, kami akan ijinkan mu masuk."

Salah satu petugas itu masuk ke dalam dan menghampiri Aleska juga Keira. Terlihat mereka bertiga sedang berbicara lalu juga sempat melihat ke arah Asila.

Tentu saja Asila langsung mengangkat dagu nya tinggi karena yakin jika dia akan di ijinkan masuk ke dalam.

"Minggir, mereka teman ku bukan? Jadi ingat baik baik siapa aku!"

Asila ingin menerobos masuk. Tapi petugas keamanan yang baru saja kembali itu mendorong pundak Asila untuk kembali keluar.

"Mereka berdua tak mengenal anda, dan jangan membuat rusuh disini, jadi silahkan pergi. Dan dua orang itu tak mungkin berbohong karena member VVIP disini!"

to be continued

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Om Duda, Nikah Yuk!    Bab 5

    Asila mengamuk ketika mendengar semua jawaban dari Aleska. Dia lalu menghubungi Luke kembali tapi sampai malam tiba Luke pun masih tak bisa di hubungi. Sedangkan di sisi lain, Luke sudah mengerang frustasi karena pekerjaan nya terlalu banyak dan masih saja salah. "Kenapa tak selesai juga, aku sudah berusaha memperbaiki nya. Tapi tetap saja banyak salahnya." Luke mengacak rambutnya kesal. Semakin kesal ketika Asila terus menerus menghubunginya. Luke mengambil napas panjang sebelum dia mengangkat telfon Asila. "Ada apa? Aku masih di kantor," jawab Luke. ( Luke, kau kemana saja? Aku menghubungi mu sejak tadi. Kenapa tak mengangkat telfon ku dari tadi? Kau tahu Aleska membuat ulah. Dia memutus langganannya di salon tempat ku biasa perawatan. Dia ingin mengambil mobilnya yang aku pakai, juga ingin menjual apartemen yang aku tempati ) Mata Luke membola, semakin berdenyut lah kepalanya mendengar itu. "Aku akan bertanya padanya nanti, aku belum menghubungi Aleska. Kau t

  • Om Duda, Nikah Yuk!    Bab 4

    Asila berusaha menelfon Aleska tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Di salon itu, dia sudah menjadi bahan tontonan banyak orang. "Bagaimana nona? Bisakah segera dibayarkan? Antriannya sudah panjang." Kasir itu kembali bertanya pada Asila dengan wajah yang ramah. Tanpa Asila tahu jika semua karyawan salon itu sudah tahu jika Asila di blacklist dari semua langganan Aleska. Asila masih berusaha menghubungi Aleska tapi tetap tak mendapat jawaban. Akhirnya karena beberapa orang terus mendesaknya dia mengeluarkan kartu miliknya sendiri lalu membayar semua tagihan dengan uangnya. Setelah itu dia pergi dengan kesal. Bagaimana bisa Aleska melakukan itu kepadanya . Sampai di dalam mobil dia segera menghubungi Luke mengadukan semua yang Aleska lakukan. Tapi lagi lagi Luke pun tak bisa di hubungi. Semua asumsi negatif menyeruak masuk ke dalam pikiran Asila. "Sialan, apa mungkin mereka sedang bersama?" geram Asila. Asila memukul setir mobilnya berkali kali karena kesal. Lalu

  • Om Duda, Nikah Yuk!    Bab 3

    Aleska hari ini pergi ke toko kue miliknya. Dia sejak semalam tak bisa tidur karena memikirkan pernikahannya yang mendadak dengan Gaharu. Huft..... Semua karyawannya menatap aneh pada Aleska. "Nona seperti orang putus cinta, kenapa lemas sekali hari ini?" Aleska mengerjapkan matanya saat salah satu karyawannya menyapanya. "Memang putus cinta." Aleska langsung teringat dengan Asila dan Luke. "Oh, aku baru ingat. Jika nanti ada Asila kesini meminta kue, minta dia bayar. Jangan di beri gratis terus, aku sudah rugi banyak karena dia!" Aleska memasang wajah cemberutnya ketika mengatakan itu. "Akhirnya nona bisa sadar." celetuk salah satu karyawan nya. "Hah? Bagaimana maksudnya? Apa selama ini aku tak sadar?" Mereka menggaruk kepala mereka bingung bagaimana menjelaskannya. "Nona bukan sadar yang itu, maksud kami tadi karena akhirnya nona mau membuat Asila Asila itu membayar. Selama ini setiap kali dia datang dan meminta kue yang mahal mahal, semua tagihan m

  • Om Duda, Nikah Yuk!    Bab 2

    Langkah Gaharu membawanya ke taman belakang dimana Aleska baru saja kabur. Duk.... "Aw ...." Sret .... Gaharu menarik pinggang Aleska agar Aleska tak sampai terjatuh karena baru saja menabrak dada bidangnya. Mata Aleska mengerjap ketika mendapati dia dalam pelukan Gaharu. Dia lalu mendongak dan melihat Gaharu tengah menatapnya dalam. "Kenapa tak hati hati? Kau masih saja ceroboh." Gaharu membantu Aleska berdiri dengan benar. Aleska sendiri langsung menunduk karena ingat tentang apa yang dia katakan saat berada di dalam rumahnya. Gaharu tersenyum tipis, semua tingkah Aleska membuatnya gemas. Dia meraih dagu Aleska, sehingga wajah Aleska menghadap ke arahnya. Kedua pasang mata itu saling bertubrukan. Aleska tiba tiba merasa gugup saat ini. "O-om, lepaskan aku, nanti ada yang lihat." cicit Aleska. Tapi Gaharu menarik pinggang Aleskan semakin dekat dengan nya. "Om, kenapa malah semakin erat pelukannya?" "Kau keberatan? Lalu dimana keberanian mu tadi ke

  • Om Duda, Nikah Yuk!    Bab 1

    "Ahhh .... sayang..... " "Kenapa hemm? Kau menikmatinya?" "Iya..... ah...... tapi.... apa kau tak takut jika Aleska tahu apa yang kita lakukan?" "Kenapa harus takut, dia hanya gadis yatim piatu yang polos." Tangan seseorang yang baru saja disebut itu menggantung di udara. Dadanya terasa sesak mendengar percakapan dua orang yang ada di dalamnya. Aleska Renavie Maheswari, sangat mengenal dua orang yang ada di dalam kamar apartemen miliknya. Pasokan udara di sekitarnya seakan menipis ketika melihat apa yang terjadi di kamar itu. Dua orang yang dekat dengannya tanpa busana dan sedang melakukan hal yang selama ini Aleska tolak. Dengan tangan gemetar, Aleska mengeluarkan ponsel miliknya lalu menekan tombol rekam. Meskipun sambil menahan tangis, Aleska tetap melakukan nya. Setelah di rasa dia cukup mendapat bukti, dia pergi dari sana. "Sejak kapan mereka bersama? Kenapa aku tak tahu jika mereka berdua mengkhianati ku?" gumam Aleska pelan. Sambil berlari keluar d

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status