Share

Halalin Dong

Penulis: Anny Djumadi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-04 20:42:20

Sementara itu di ruang direktur...

Leon sama sekali tidak fokus bekerja. Laptop di depannya masih terbuka. Namun sejak tadi tatapannya kosong.

Entah sudah berapa kali... tangannya naik menyentuh pipi kirinya. Pipi yang beberapa menit lalu, dicium Alena. Dan setiap kali mengingatnya... sudut bibirnya kembali terangkat.

Cup.

Bahkan suara kecil itu masih terngiang di telinganya.

"Ini cap materai, gak bakal ingkar janji."

Tanpa sadar, tangannya kembali mengusap pipinya. Lalu tersenyum sendiri.

Bena
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Kusuma Astuti Tutik
gas om ganteng wkwwkwkwk
goodnovel comment avatar
naiggolan harina
wah panggilan nya si imut
goodnovel comment avatar
Lily Monika
lanjut lagi kak, seruuu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Dalam Gendongan Om

    Keramaian pasar tahunan semakin ramai menjelang petang.mLampion-lampion mulai menyala satu per satu, menghiasi setiap sudut jalan yang dipenuhi deretan pedagang.Alena berjalan di samping Leon dengan senyum yang sejak tadi tak pernah benar-benar menghilang. Matanya sibuk memperhatikan setiap lapak yang mereka lewati."Om...""Hm?""Lihat."Alena menunjuk sebuah kios yang menjual gantungan kunci berbentuk boneka rajut."Lucu sekali."Leon mengikuti arah telunjuk Alena."Kalau suka, beli saja."Alena langsung menggeleng."Enggak.""Kenapa?""Aku cuma lihat-lihat."Leon mengangkat sebelah alis."Barusan bilang lucu.""Iya.""Terus?""Belum tentu harus dibeli."Leon tersenyum tipis."Kamu ini..."Alena tertawa kecil."Om, nanti uangku habis.""Tidak ada yang menyuruhmu memakai uangmu."Alena menoleh."Maksud Om?"Tanpa banyak bicara, Leon mengambil salah satu gantungan kunci berbentuk beruang kecil yang sejak tadi diperhatikan Alena."Yang ini."Penjual langsung tersenyum."Pilihan pacarn

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Benar-benar Berubah

    Leon masih memegang beberapa map di tangannya ketika ia dan Alena memasuki ruang kerja. Alena buru-buru menerima kembali map-map itu."Maaf, Pak. Saya merepotkan Bapak."Leon meletakkan map tersebut di atas meja kerjanya."Lain kali jangan membawa berkas sebanyak itu sendirian."Alena tersenyum canggung."Saya sudah terbiasa, Pak."Leon menggeleng pelan."Terbiasa bukan berarti harus memaksakan diri."Alena terdiam. Leon melanjutkan sambil menatapnya dengan tenang."Kalau memang terlalu banyak, minta bantuan Sisca atau staf yang lain.""Tapi saya masih sanggup.""Sanggup bukan berarti harus dikerjakan sendiri."Nada suara Leon tetap datar seperti biasanya. Namun entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa begitu hangat di telinga Alena. Belum pernah ada yang menegurnya karena hal seperti itu.Sejak kecil, ia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri agar tidak merepotkan orang lain.Melihat Alena hanya diam, Leon kembali berkata,"Aku tidak ingin kamu kelelahan hanya karena pekerjaan."

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Leon yang Berbeda

    Siang itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi Mahardika Group. Cyntia mematikan mesin mobilnya, lalu mengambil sebuah map biru dari kursi sebelah. Map itu berisi dokumen kerja sama antara Wijaya Group dan Mahardika Group yang harus segera diserahkan kepada Leon. Ayahnya mendadak mendapat jadwal rapat dengan investor dari luar kota, Cyntia langsung mengajukan diri untuk melakukan tugas itu. Akhirnya ayahnya mempercayakan tugas itu padanya. "Ayah percaya kamu bisa mengurusnya," ucap ayahnya sebelum berangkat pagi tadi. Begitu memasuki lobi, beberapa karyawan yang cukup mengenalnya langsung menyapa dengan sopan. "Selamat siang, Bu Cyntia." "Selamat siang." Cyntia membalas dengan senyum ramah. Sikapnya tetap anggun seperti biasanya. Resepsionis segera berdiri. "Selamat siang, Bu Cyntia. Apakah sudah membuat janji dengan Pak Leon?" "Aku mengantarkan dokumen kerja sama dari Wijaya Group." "Baik, Bu. Namun saat ini Pak Leon masih berada di ruang rapat." Cyntia meng

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Belum Menyerah

    Mira berdiri dari sofa."Aku pulang dulu."Leon ikut berdiri."Biar aku antar sampai bawah, Bu.""Enggak usah."Mira menggeleng pelan sambil tersenyum."Kamu masih banyak pekerjaan."Leon tetap mengantar ibunya hingga ke depan pintu ruangannya."Kalau sudah sampai rumah, kabari aku.""Iya."Mira menepuk pelan lengan putranya."Kamu juga jangan terlalu sibuk."Leon hanya mengangguk sambil memperhatikan ibunya berjalan menuju lift. Begitu pintu lift tertutup, Leon baru kembali masuk ke ruangannya.---Sementara itu...Mira tidak langsung menuju parkiran. Entah mengapa, langkahnya justru berhenti di koridor yang menghadap ke area kerja para karyawan.Tatapannya perlahan menyapu ruangan. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya ia menemukan sosok yang dicarinya.Alena.Gadis itu sedang duduk di mejanya. Sesekali tertawa bersama Sisca sambil kembali menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada sikap dibuat-buat. Tidak pula berusaha menarik perhatian siapa pun.Senyumnya terlihat begitu tulus. Mira me

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Aku Memilih Alena

    Alena baru saja duduk di kursinya. Belum sempat menyalakan komputer... Sisca sudah menyeret kursinya hingga nyaris menempel."Nah...""Akhirnya calon menantu balik juga."Alena langsung menoleh."Hah?"Sisca menyeringai lebar."Gimana?""Wawancara calon mertua lancar?"Alena hampir saja menjatuhkan map yang baru diletakkannya di atas meja."Kamu ngomong apa, sih?""Lho, jangan pura-pura.""Tadi yang datang itu, kan, ibunya bos kita.""Terus beliau ngajak kamu masuk ke ruang Pak Leon.""Kalau bukan calon mertua, terus siapa?"Alena menepuk dahinya pelan."Ya ampun, Sisca.""Kamu kebanyakan nonton drama."Sisca mengangkat kedua bahunya."Terus?""Ditanya apa saja?"Alena terdiam beberapa detik."Ya... ditanya soal kerja."Sisca langsung mendecak."Cuma itu?""Iya.""Bohong.""Beneran."Sisca menyipitkan matanya."Kalau cuma ditanya soal kerja...""...kenapa pipimu merah begitu?"Refleks, Alena menyentuh kedua pipinya."Merah, ya?""Banget.""Malah dari tadi enggak hilang."Alena hanya b

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Sebelum Semua Ini Dimulai

    Leon terdiam. Tatapan Mira masih mengarah ke arah Leon, menunggu jawaban putranya."Nah, kan?" ujar Mira sambil menghela napas. "Kamu sendiri masih bingung menjawab pertanyaan Ibu."Leon menggeleng pelan."Aku enggak bingung, Bu.""Lalu?""Pertanyaan Ibu terlalu mendadak.""Aku cuma sedang berpikir bagaimana menjelaskannya supaya Ibu mengerti."Mira menyandarkan tubuhnya ke sofa."Kalau begitu Ibu ganti pertanyaannya."Leon mengangguk."Ibu bingung.""Alena baru bekerja di Mahardika Group beberapa bulan.""Ibu juga baru tahu kamu menyukainya belum lama ini.""Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu kalian sudah saling jatuh cinta?"Leon hanya tersenyum tipis. Namun sebelum sempat menjawab, Mira kembali melanjutkan."Justru itulah yang membuat Ibu semakin tidak mengerti.""Dulu...""Kamu hidup bertahun-tahun bersama Cyntia.""Kalian menikah.""Tinggal serumah.""Tapi entah kenapa...""Ibu tidak pernah melihat tatapan seperti yang barusan kamu tunjukkan saat membicarakan Alena."Le

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Mulai Paham

    Sore itu...Di rumah keluarga Mahardika. Cynthia baru saja selesai menceritakan pertemuannya dengan Leon. Ruang keluarga mendadak sunyi. Mira yang sejak tadi mendengarkan perlahan meletakkan cangkir tehnya."Aku sudah mencoba, Bu.""Mencoba apa?""Menemui Leon.""Lalu?"Cynthia tersenyum pahit."D

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bawa Dia ke Ruang Saya

    Sejak pagi, Alena sudah merasa tubuhnya tidak nyaman. Kepalanya terasa berat, sementara matanya sesekali berkunang setiap kali terlalu lama menatap layar komputer. Namun wanita itu tetap berusaha bekerja seperti biasa sambil sesekali meminum kopi dingin yang bahkan sudah tidak terasa efeknya.“Aduh

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Bayangan yang Mulai Mengganggu

    Hari ketiga Alena bekerja di Mahardika Group seharusnya berjalan seperti biasa. Ia sudah mulai hafal ritme divisi sales, mengenal beberapa rekan kerja, dan menyesuaikan diri dengan suasana kantor yang cepat dan kompetitif. Namun pagi itu, suasana berubah sejak sebuah pesan dari atasannya masuk ke p

  • Om Ganteng, Nikah Yuk!   Anak Baru yang Menjadi Perhatian

    Pintu ruang wawancara tertutup pelan di belakang Alena, namun detak jantungnya masih belum benar-benar stabil. Beberapa menit sebelumnya, ia baru saja bertemu kembali dengan Leon di dalam lift. Pria itu tetap sama, tampan, dingin, dan memancarkan aura yang membuat orang otomatis menjaga jarak. Dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status