Share

Bab 23

Penulis: Sils
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-06 01:44:18

Suara riuh menyambut pagi Rania. Ia buru-buru keluar rumah, berpapasan dengan si Bibik yang juga tergesa-gesa menuju luar.

"Ada apa, Bik? Kok rame banget?" tanyanya penasaran.

Di luar, pemandangan yang tak biasa tersaji di depan matanya. Para warga komplek, yang biasanya jarang terlihat, kini berkerumun di depan salah satu rumah. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, rumah yang berjarak dua unit dari rumahnya dikepung oleh polisi dan tim BNN.

Rania melangkah lebih dekat, mendengar bisik-bisik warga di sekelilingnya.

"Katanya ada bandar narkoba, Mbak," seorang ibu-ibu berbisik pelan.

Rania terbelalak. "Lho? Bandar narkoba?! Sejak kapan? Kok nggak ada yang tahu?"

Matanya menyapu pemandangan di depannya. Beberapa petugas keamanan komplek tampak ikut berjaga, sementara wartawan mulai berdatangan, menyiarkan kejadian itu. Kehebohan pagi itu benar-benar di luar dugaan.

Rania masih berdiri di tempatnya, mencoba mencerna situasi. Beberapa petugas tampak membawa barang bukti dalam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Tiraya
modus nya Pak Reserse...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 42

    Beberapa minggu setelah lamaran, hari-hari Rania dan Arsen berubah jadi sangat padat. Rania masih harus kuliah di semester lima, tugas kelompok datang bertubi-tubi, sementara di luar kampus ia harus ikut meeting vendor, cek gedung, fitting kebaya pengantin, sampai urusan foto prewedding yang jadwalnya selalu bentrok. Belum lagi Arsen, sebagai Kasat Intelkrim, sering dipanggil mendadak ke kantor bahkan di akhir pekan. Rapat mendadak, tugas luar kota, dan tumpukan laporan yang tak pernah habis.Yang paling melelahkan bagi Rania adalah urusan administrasi pernikahan seorang anggota Polri. Surat izin atasan, surat keterangan belum pernah menikah dari kelurahan, surat numpang nikah, sampai pengurusan buku nikah di KUA yang harus bolak-balik karena berkasnya selalu ada yang kurang. Setiap kali Rania pulang dari kantor polisi atau dari KUA, wajahnya selalu lelah sekali.Suatu malam, hampir tengah malam, Rania masih duduk di depan meja riasnya. Di depannya terbentang setumpuk map berisi fot

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 41

    Rania berjalan mondar-mandir di dalam kamar, langkahnya pendek-pendek dan gelisah. Sejak dini hari ia hampir tidak bisa tidur, karena pagi ini adalah hari yang akan mengubah hidupnya. Hari lamaran. Hari ketika Arsen dan keluarganya datang untuk meminta dirinya secara resmi kepada Mama dan Papa.Kebaya merah maroon yang ia kenakan, dengan payet halus yang berkilau setiap kali ia bergerak, membuatnya terlihat sangat anggun. Namun rasa gugup tetap tak hilang. Tangannya terus meremas ujung selendang, dadanya naik turun tidak stabil.Di sudut kamar, Mbak Risya yang sejak tadi duduk di kursi rias hanya menggeleng melihat tingkah adiknya. “Udah, Ran. Jangan mondar-mandir gitu terus. Dari tadi kamu kayak setrikaan. Sebentar lagi Arsen nyampe. Muka kamu kelihatan banget paniknya.”Rania berhenti tepat di depan kakaknya, mendengus pelan. “Ish, Mbak Risya ngomongnya enak. Mbak kan udah pernah dilamar. Tau rasanya gimana. Aku beneran nggak bisa diem ini. Deg-degan banget, takut mereka kenapa-kena

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 40

    Arsen akhirnya ikut berbaring di sisi Rania, menyesuaikan posisi agar tubuh gadis itu tetap nyaman dalam dekapannya. Tangannya masih menjadi penyangga kepala Rania, meski mulai terasa kesemutan. Ia bisa saja menariknya, tapi ia tidak ingin mengganggu tidur gadis itu. Membiarkannya seperti ini terasa jauh lebih penting.Ia menatap wajah Rania yang begitu damai, mengamati setiap detail seperti sedang menyimpan semuanya dalam ingatan. Sesekali ia mengusap pelan pipi atau alis gadis itu, sentuhan yang lebih menyerupai belaian sayang daripada sekadar gerakan spontan.Arsen mendekat sedikit, napasnya hampir menyentuh kening Rania. “Mimpi apa kamu sekarang?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan penuh rasa ingin tahu.Arsen tersenyum kecil, lalu menundukkan kepala untuk memberi satu kecupan lembut lagi di kening kekasihnya, seolah berharap bisa menyelinap masuk ke dalam mimpi Rania dan menemaninya di sana. Ia hampir ikut terlelap ketika gerakan kecil di lengannya membuatnya membuka mata.Rani

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 39

    “Eh, Rania ya? Tante sama Om sudah nungguin dari tadi.” Suara hangat Anita segera menyambut ketika Rania melangkah masuk. Senyum ramah itu membuat napas Rania sedikit lebih lega, meski ia masih terlihat canggung saat menyalami tangan wanita paruh baya tersebut.“Maaf Tante, semoga tidak terlalu lama nunggu,” ucap Rania sopan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.“Nggak, kok. Ayo masuk dulu,” jawab Anita sambil menepuk ringan punggung tangan Rania sebagai isyarat penerimaan.Di sisi lain, Iskandar—Ayah Arsen—menatap dengan sorot mata yang ramah namun tetap memancarkan wibawa khas seorang yang terbiasa memimpin. Tubuh tegap dan gesturnya yang disiplin membuat Rania makin berhati-hati menjaga sikap.“Selamat datang ya, Rania. Di rumah kami,” ucap Iskandar sambil mengangguk kecil.“Terima kasih, Om,” balas Rania, suaranya halus tapi terlihat jelas bahwa ia mencoba tidak salah langkah.Arsen berdiri sedikit di belakangnya, memperhatikan dengan senyum bangga dan memastikan Rania tid

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 38

    “Orangtua saya mau ketemu kamu dulu, Rania.” Arsen berbicara sambil melepaskan jam tangan dan meletakkannya di meja. Ia baru pulang kerja, masih mengenakan kemeja yang sedikit kusut. Rania duduk di sofa ruang depan, memakai setelan rumahan yang sederhana, dan ia menegakkan tubuhnya begitu mendengar kabar itu.“Boleh. Mau ketemu kapan?” tanya Rania, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdetak lebih cepat.“Besok. Sebelum lamaran resmi.” Arsen duduk di sampingnya, menghela napas panjang lalu tertawa kecil. “Salah saya juga sih belum ajak kamu main ke rumah. Harusnya dari dulu. Tapi nggak telat banget kan kalau sekarang baru bilang?”Rania ikut tersenyum, meski gugupnya belum hilang. “Nggak telat kok. Aku malah seneng diajak ketemu keluarga Mas. Deg-degan sih, tapi seneng.”Arsen menatap wajahnya, memperhatikan ekspresi Rania yang tampak campur aduk antara bahagia dan cemas. “Kamu nggak usah takut. Mama orangnya lembut. Ayah saya juga santai banget. Mereka pasti suka sama kamu.”

  • Menjadi Istri Dadakan Si Om Tampan   Bab 37

    “Jadi kamu mau nikah, Bang?” ulang Armand, memastikan ucapan Arsen barusan. Nada suaranya terdengar antara kaget dan penasaran. Informasi itu datang begitu tiba-tiba, bahkan bagi seorang adik yang biasanya tahu segala urusan kakaknya.“Iya. Kamu setuju?” tanya Arsen pelan, menatap adiknya sambil menghembuskan asap rokok perlahan.Armand bersandar sebentar, lalu mencondongkan tubuh ke depan untuk mengambil sepotong apel dari piring. Ia menggigitnya pelan sebelum bicara lagi. “Setuju aja sih. Cuman tetap aja, perbedaan umur kalian jauh banget, Bang. Serius, aku kaget.”Arsen meletakkan rokoknya di asbak kaca. Balkon lantai dua itu diterangi lampu kuning redup, angin malam berhembus pelan tanpa terlalu dingin. Suasana rumah besar itu terasa tenang, seperti memberi ruang bagi dua saudara itu untuk bicara lebih terbuka.“Aku udah yakin sama dia,” ucap Arsen lagi. “Meskipun umurnya jauh, dan iya, dia mungkin lebih cocok jadi pacar anakku, tapi itu nggak jadi masalah. Banyak sekarang yang be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status