Home / Fantasi / Omega Kesayangan Tuan Alpha / BAB 1: Harga Sebuah Hutang

Share

Omega Kesayangan Tuan Alpha
Omega Kesayangan Tuan Alpha
Author: J.A

BAB 1: Harga Sebuah Hutang

Author: J.A
last update publish date: 2026-02-14 18:08:37

"Dia harus segera berangkat ke Kawanan Northridge. Beta Xavier akan tiba sebentar lagi. Kita tak bisa membuatnya menunggu."

Bisikan tajam Lycril terdengar samar dari luar dapur.

Freya membeku. Tangannya masih terendam air sabun yang dingin. Pergi? Kawanan Northridge? Beta Xavier?

Jantungnya berdebar kencang. Seharusnya ia tak mendengar percakapan seperti ini, tapi ia tak kuasa berhenti mendengarkan. Perlahan, ia meletakkan piring yang sedang dicucinya, mengelap tangan yang basah ke celemeknya, lalu berjingkat mendekati pintu.

"Semoga saja mereka menepati janji mereka," geram Richard. Suara ayahnya penuh keserakahan. "Kesepakatan ini akan melunasi semua utang kita dan akhirnya mengisi kantongku dengan uang."

Napas Freya tersendat. Janji? Utang? Uang? Perutnya terasa mual.

Ia mendekat lagi, menempelkan telinga ke celah pintu kayu yang sedikit terbuka. Lycril mendesah pelan. "Kau yakin dia akan menerima tawaran ini? Gadis itu bahkan tak memiliki serigala."

"Justru itu," Richard menyeringai. "Dia bosan dengan omega-omega biasa. Yang langka akan menarik perhatiannya. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang dia hanya beban?"

Beban. Kata itu menusuk lebih dalam dari pisau.

"Menguping pembicaraan dua orang dewasa?"

Geraman rendah di belakangnya membuatnya terkejut. Freya berbalik dan mendapati Enzo, putra Lycril, menatapnya dengan penuh kebencian. Bau alkohol samar tercium dari napasnya.

"Ada apa, Kakak?" suara Amanda menyela dengan nada mengejek saat ia bergabung. Bibirnya menyungging sinis. "Apa omega tanpa serigala ini berulah lagi?"

"A-aku tidak menguping." Freya tergagap, mundur selangkah. "Aku hanya lewat—"

"Levat?" Enzo mencengkeram lengannya, kukunya mencakar kulit. "Dapur ada di ujung, dasar bodoh."

"Amanda, tolong—"

"Apa yang terjadi di sini?" Suara Lycril menusuk seperti cambuk. Ia baru keluar dari ruang tamu, matanya langsung menyipit begitu melihat Freya terjepit.

"Kakak menangkapnya sedang menguping," lapor Amanda cepat.

Darah Freya seolah mengalir menjauh dari wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu persis apa yang akan terjadi setelah tuduhan itu. Hukuman. Selalu hukuman.

"Aku tidak bermaksud—"

Plak!!!

Tamparan Lycril memotong kalimatnya. Rasa sakit meledak di pipi kirinya, kepalanya terpelanting. Sebelum ia sempat menahan diri, tamparan kedua mendarat di pipi kanan...

Plak!!!

"Dasar anak tak tahu aturan!" Lycril meludah tepat di samping wajahnya. "Berani-beraninya kau menguping kami? Dan kau pikir aku akan percaya kebohonganmu daripada anak-anakku sendiri?"

Air mata Freya tumpah deras, panas dan asin di bibirnya yang pecah. "Maafkan aku, Lycril. Tolong, aku tidak bermaksud..."

Tawa Enzo dan Amanda menyambut permohonannya. Tawa kejam yang membuat luka di dadanya semakin dalam.

"Richard yang akan menentukan hukumannya." Lycril berbalik dengan tatapan yang tajam. "Kalian jaga dia!"

---

Freya meringkuk di lantai, menyiapkan diri menghadapi badai. Lututnya berdarah, bercampur dengan pecahan piring. Rasa sakit itu nyata, tapi tak seberapa dibanding ketakutan yang mencengkeram dadanya. Enzo dan Amanda duduk di kursi dekat pintu, sesekali berbisik dan tertawa, sesekali meliriknya dengan tatapan puas.

"Menurutmu, berapa cambuk yang akan diberikan Ayah?" bisik Amanda.

"Sepuluh? Dua puluh?" Enzo mengangkat bahu. "Atau mungkin dia akan menjualnya lebih cepat. Lebih baik dapat uang daripada repot-repot menghukumnya!"

"Kau benar. Lagipula, tak ada yang mau membeli omega dengan tubuh penuh luka."

Mereka tertawa lagi.

Freya memejamkan mata. Ia ingin menutup telinga, tapi tangannya terlalu gemetar untuk diangkat. Ia hanya bisa membiarkan air mata mengalir, berharap bumi menelannya hidup-hidup. Pikirannya melayang pada ibunya—wanita yang hanya ia kenal dari potret usang yang ia sembunyikan di bawah kasur. Ibunya tersenyum dalam potret itu, tangannya di atas perut yang membesar.

Freya... Nama yang berarti kebahagiaan.

Ironis.

Karena sejak ibunya meninggal saat melahirkannya, tak ada kebahagiaan dalam hidupnya. Ayahnya tak pernah memaafkannya karena ia bisa bertahan hidup. Baginya, Freya bukan anak perempuan, melainkan kutukan. Pembunuh satu-satunya istri yang berarti. Dan Lycril—selingkuhan Richard—dengan mudah mengambil alih tempat ibunya, membawa serta Enzo dan Amanda.

Langkah kaki berat terdengar. Richard masuk. Cambuk panjang tergantung santai di tangannya, ujungnya menjuntai hampir menyentuh lantai. Tampak Lycril berdiri di belakangnya dengan senyum puas.

Richard berhenti di depannya. Ia hanya berdiri, memandang Freya dari atas dengan tatapan dingin yang tak berbeda dengan saat ia memandang setumpuk sampah.

"Kau tahu," Richard memulai, suaranya lambat dan tenang, "aku sudah sangat lelah dengan ulahmu. Berapa kali kau kuperingatkan untuk tetap di tempatmu? Berapa kali kukatakan bahwa kau tak punya hak atas apa pun di rumah ini?"

"A-aku minta maaf, Ayah—"

"Jangan panggil aku ayah!" Potongannya tajam.

Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun. Freya membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya isak tangis yang tertahan.

Richard menghela napas panjang. Ia mengangkat cambuknya, dan Freya menutup mata, bersiap—tapi pukulan itu tak kunjung datang.

"Namun," Richard melanjutkan, "kali ini kita lewatkan. Aku punya rencana lain untukmu. Rencana yang lebih menguntungkan daripada sekadar menghukummu di sini."

Freya membuka mata. Rencana? Ia melihat Lycril di belakang Richard mengerutkan dahi, sama terkejutnya.

Richard berjongkok, kini wajahnya sejajar dengan Freya. Jarak sedekat itu membuat Freya bisa melihat kehitaman di matanya—bukan hitam normal, tapi hitam pekat seperti lubang tanpa dasar.

"Beta Xavier datang untuk satu hal," bisik Richard. "Dia suka barang langka. Dan kau, gadis tanpa serigala yang hidup di tengah kawanan serigala, kau adalah barang langka itu."

Perut Freya berputar. Barang. Lagi-lagi barang.

"Apa maksudmu?" bisiknya, meski ia sudah tahu jawabannya.

Richard tersenyum. Senyum yang tak pernah ia berikan pada Freya sebelumnya—bukan senyum sebagai ayah, tapi senyum pedagang yang baru saja mendapat untung besar.

"Kau akan pergi bersamanya malam ini juga."

Dunia seolah berhenti. Freya menggeleng cepat.

Seolah membaca pikirannya, Richard menambahkan, "Kau tak punya pilihan. Seharusnya kau bersyukur, bisa sedikit berguna untuk keluarga ini," pria itu berdiri, melipat cambuknya. "Lycril, beri dia pakaian yang layak. Setidaknya buat dia terlihat sedikit berharga."

Lycril mengangguk, meski wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. "Baiklah."

---

Setelah Richard pergi, Lycril segera menarik Freya berdiri. "Kau dengar dia. Cepat ganti baju. Beta Xavier bisa datang kapan saja."

Freya limbung, saat Lycril dengan kasar menyeretnya ke sudut dapur, melemparkan segumpal kain ke pangkuannya. Gaun sederhana berwarna abu-abu, sedikit lebih bersih dari kain compang-camping yang biasa ia kenakan.

"Ganti, cepat!"

Dengan tangan gemetar, Freya melepas celemeknya yang robek. Gaun itu longgar di tubuhnya yang kurus, tapi setidaknya menutupi bekas luka di lengannya. Ia merapikan rambutnya dengan jari sebisanya, meski tetap kusut.

Lycril menyapunya sekilas. "Cukup. Sekarang kau tunggu di sini. Jangan bergerak dari dapur. Aku akan memanggilmu saat Beta Xavier tiba."

"Tapi—"

"Tapi apa?" Lycril melotot. "Kau mau mempermalukan kami di depannya? Duduk diam dan bersyukur kau masih diizinkan hidup."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Freya sendirian di dapur yang sunyi.

Freya duduk di bangku kayu dekat tungku, lututnya ditarik ke dada, dagu bertumpu di lutut. Matanya kosong menatap api yang meredup di perapian. Pikirannya kacau.

Beta Xavier. Northridge. Kesepakatan...?

Siapa Beta Xavier? Alpha macam apa ia? Apakah ia kejam seperti Richard? Atau lebih buruk? Akankah ia memperlakukan Freya seperti budak, seperti barang, seperti sampah?

Freya menggigit bibirnya yang pecah hingga terasa logam darah. Jangan bermimpi. Dunia tak pernah baik padanya. Mengapa sekarang harus berbeda?

Dan Freya melihatnya, pria itu..

Beta Xavier!

Duduk di kursi tamu, kaki disilangkan dengan santai, satu tangan memegang gelas anggur. Cahaya lampu minyak jatuh di wajahnya, mengukir bayangan di tulang pipinya yang tajam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbahaya.

Richard berdiri di sampingnya, tersenyum lebar.

Beta Xavier langsung menoleh. Matanya langsung terpaku pada Freya, lalu tanpa di duga pria itu tersenyum.

Detik itu juga dunia berhenti berputar. Dan Freya tahu jika hidupnya sebentar lagi akan berubah.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jonea
Wihh anjay baru nih Thor...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 97 (BAB AKHIR)

    Fajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 96.

    Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 95

    Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 94.

    Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 93

    Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 92

    Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status