Beranda / Fantasi / Omega Kesayangan Tuan Alpha / BAB 3: Pelunasan Utang

Share

BAB 3: Pelunasan Utang

Penulis: J.A
last update Tanggal publikasi: 2026-02-14 18:29:25

​Nyala lilin di aula besar itu bergetar pelan, memanjangkan bayangan di dinding batu yang dingin dan lembap. Richard menuangkan anggur ke dalam cawan Beta Xavier dengan tangan yang sedikit gemetar, hingga beberapa tetes cairan merah itu tumpah ke meja kayu.

​"Kau tahu, Beta," buka Richard dengan senyum menjilat yang terlihat sangat dipaksakan. "Keluarga kami selalu menaruh hormat yang besar pada kejayaan Kawanan Northridge selama bertahun-tahun."

​Xavier hanya diam, matanya menatap tajam pada cairan merah di dalam cawannya tanpa minat untuk meminumnya. Aura kekuasaannya memenuhi ruangan, membuat udara terasa berat seolah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang.

​"Saat nasib buruk menimpa kami, Alphamu begitu murah hati mengulurkan bantuan," lanjut Richard, suaranya terdengar putus asa di balik nada ramahnya.

​Xavier akhirnya menyesap anggurnya, lalu menatap Richard dengan pandangan yang seolah bisa menembus jantung pria itu. "Bantuan...?" ulangnya dengan nada menyindir yang sangat dingin.

​"Maksudmu pinjaman emas yang sudah menumpuk setinggi atap rumahmu dan belum kau bayar sepeser pun?" tambah Xavier.

​Tawa Richard terdengar rapuh dan pecah di tengah keheningan aula. "Tentu, tentu. Sebuah pinjaman besar yang menyelamatkan kami saat panen gagal dan jalur perdagangan ditutup."

​Lycril mendekat dengan langkah anggun yang dibuat-buat, jemarinya yang berhiaskan cincin perak menyentuh lengan Richard. "Dan kini kami siap menepati janji itu, Beta. Kami adalah keluarga yang tidak pernah ingkar pada utang kami sendiri."

​"Aku senang mendengarnya," sahut Xavier datar. "Karena tanah, uang, dan seluruh ternakmu sudah tidak cukup lagi untuk melunasi bunga utang yang kau miliki."

​Richard segera mengangguk-angguk cepat, peluh dingin mulai muncul di keningnya. "Ya, ya. Seperti yang disepakati sebelumnya dalam kontrak. Kau akan mendapatkan apa yang diinginkan Raja Logan."

​Di sudut gelap ruangan, Freya merapatkan tubuhnya ke dinding hingga punggungnya terasa nyeri. Apa yang sebenarnya dijanjikan? Kenapa namaku tidak disebutkan sama sekali sejak tadi? batinnya penuh kecemasan.

​Lycril tiba-tiba terkekeh, suaranya ringan namun penuh dengan racun ejekan yang membuat bulu kuduk Freya berdiri. "Bayangkan saja, Raja Logan yang agung lebih memilih memercayai ramalan gila dari tabib tua itu."

​"Katanya seorang Omega tanpa serigala bisa melahirkan keturunan terkuat untuk garis darahnya," tambah Lycril sambil menutup mulutnya. "Sungguh konyol dan menggelikan, bukan?"

​Richard ikut menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir, seolah-olah hal itu adalah lelucon paling lucu tahun ini. "Makhluk lemah dan cacat seperti Freya melahirkan serigala penguasa? Benar-benar sebuah lelucon."

​"Tapi jika Raja ingin menyia-nyiakan waktunya pada gadis tak berguna ini, siapa kami untuk protes?" sahut Richard lagi. "Setidaknya, akhirnya dia memiliki satu kegunaan bagi keluarga ini."

​Dada Freya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya hingga ia sulit bernapas. Melahirkan keturunan? Menjadi alat pelunas utang? Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, menciptakan rasa mual yang luar biasa.

​Ia menatap Amanda yang menyeringai puas di dekat pintu, serta Enzo yang duduk santai sambil menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan. Bagi mereka, Freya bukanlah manusia, melainkan sekadar koin emas yang siap ditukarkan demi kenyamanan mereka.

​Xavier meletakkan cawannya dengan dentingan keras yang bergema kuat, seketika membungkam seluruh ruangan. "Raja Logan sama sekali tidak mentolerir cemoohan terhadap keputusannya," ujarnya dengan suara rendah yang sangat mengancam.

​"Apakah kau percaya pada ramalan itu atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku," lanjut Xavier sambil berdiri tegak dengan wibawa. "Yang penting adalah utangmu dianggap lunas penuh malam ini juga."

​Richard segera menunduk rendah, wajahnya memucat ketakutan karena telah lancang menertawakan sang Raja. "Tentu, Beta. Mohon maafkan kelancangan kami. Kami sangat patuh."

​Bibir Lycril melengkung menjadi senyum kemenangan yang kejam saat melihat ketakutan suaminya. "Haruskah kami mempersembahkan 'barang dagangan' ini sekarang, Beta?"

​Pandangan Xavier berpindah, menembus kegelapan pekat tempat Freya berdiri mematung dengan tubuh gemetar. "Bawa dia ke depan," perintahnya tanpa emosi sedikit pun.

​Tangan Lycril yang kasar mencengkeram pergelangan tangan Freya, menyeretnya dengan paksa menuju tengah lingkaran cahaya lilin yang terang. Freya tersandung karena gaunnya yang kepanjangan, lututnya lemas hingga ia nyaris tersungkur di depan kaki Xavier yang mengenakan sepatu boot militer.

​"Inilah dia," ucap Lycril dengan nada manis yang terasa seperti sembilu yang menusuk kulit. "Anak yang selalu merepotkan, ceroboh, dan tidak punya kegunaan apa pun di rumah ini."

​Freya mendongak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia menatap ayahnya dengan sisa harapan terakhir. "Ayah... apa maksud semua ini? Kenapa kalian melakukan ini padaku?" bisiknya lirih dengan suara serak.

​Richard bahkan tidak menatap matanya, ia justru sibuk merapikan tuniknya seolah-olah Freya tidak ada di sana. "Diamlah, Freya. Bersyukurlah karena setidaknya kau bisa menyelamatkan kehormatan keluarga ini dari kemiskinan total."

​Pandangan Xavier menyapu tubuh Freya perlahan, mulai dari rambutnya yang kusam hingga ujung kakinya. Ia memperhatikan setiap bekas luka samar dan memar yang belum hilang di kulit pucat gadis malang itu.

​"Dia tampak jauh lebih kurus dan lemah dari yang dilaporkan mata-mataku," kritik Xavier sambil menyentuh dagu Freya dengan kasar.

​Lycril tertawa gugup, mencoba menutupi kegelisahannya karena membiarkan Freya kelaparan selama ini. "Ah, itu karena dia memang anak yang sulit makan. Dia sering sekali jatuh karena kecerobohannya sendiri."

​Xavier menatap Lycril dengan pandangan jijik yang sangat jelas, membuat wanita itu langsung terdiam seribu bahasa. Namun, sang Beta tetap tidak membantah, ia hanya melepaskan dagu Freya seolah-olah tangannya baru saja menyentuh sesuatu yang kotor.

​"Perjanjian telah lunas," ucap Xavier tegas sambil memberikan isyarat pada para pengawalnya yang berjaga di luar. "Kita berangkat sekarang juga."

​Bahu Richard tampak melemas, seolah beban utang yang selama ini menghimpitnya baru saja diangkat secara ajaib. Sementara itu, Enzo dan Amanda saling berpandangan dengan senyum puas yang sangat menghina ke arah adik tiri mereka.

​"Ayo, Freya. Masuklah ke kereta itu," dorong Lycril dengan paksa menuju pintu keluar aula yang terbuka lebar. "Jangan membuat tuan barumu menunggu lebih lama lagi atau kau akan tahu akibatnya."

​Di luar, udara malam yang dingin menusuk kulit Freya yang tipis dengan aroma pinus dan tanah basah yang tajam. Sebuah kereta kuda hitam mengilap dengan lambang kepala serigala Northridge sudah menunggu di depan gerbang.

​Setiap langkah yang diambil Freya menuju kereta itu terasa seperti langkah menuju tiang gantungan yang sudah disiapkan. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap rumah besar yang selama ini menjadi penjara bagi jiwanya untuk terakhir kali.

​Amanda melambaikan jarinya dengan sinis dari ambang pintu, sementara Enzo tertawa mengejek dengan suara keras. "Semoga kau bisa bertahan hidup lebih lama dari wanita-wanita malang sebelumnya, Omega!" teriak Enzo yang suaranya terbawa angin malam.

​Xavier membuka pintu kereta dan memberi isyarat yang tidak bisa dibantah agar Freya segera naik. "Masuklah. Kita harus sampai di istana sebelum fajar menyingsing."

​Dengan kaki yang bergetar hebat, Freya menaiki tangga kereta dan tenggelam di atas jok kulit yang terasa sedingin es.

​Dari luar, suara Richard terdengar penuh kegembiraan yang sangat memuakkan di telinga Freya. "Utang kami lunas! Semoga Alpha besar puas dengan persembahan kami malam ini!"

​Kereta mulai melaju perlahan, roda-rodanya berderit keras di atas jalan tanah yang tidak rata. Xavier duduk tepat di hadapan Freya, kehadirannya yang dominan membuat ruang sempit di dalam kereta itu terasa semakin menyesakkan paru-parunya.

​"A-apa yang akan benar-benar terjadi padaku di sana?" tanya Freya dengan suara yang nyaris tidak terdengar karena isak tangisnya.

​Xavier tetap menatapnya dengan mata yang dingin dan tak tergoyahkan, seolah-olah Freya hanyalah benda mati. "Kau akan segera mengerti begitu kakimu menginjakkan kaki di aula istana Northridge," jawabnya singkat.

​"Tapi aku tidak punya serigala... aku hanya Omega cacat yang tidak berguna," isak Freya, air matanya kini mengalir deras membasahi gaun barunya.

​Xavier bersandar kembali ke kursinya, membiarkan keheningan yang mencekik menyelimuti mereka di tengah deru kereta yang semakin cepat. Freya menarik tubuhnya ke sudut terjauh kereta, memeluk dirinya sendiri sambil terus gemetar tanpa henti.

​Ia telah meninggalkan neraka yang satu, hanya untuk menuju neraka lain yang jauh lebih besar dan haus akan darahnya. Di sana, di pusat kekuasaan Northridge, sang penguasa kejam yang dikutuk sudah menunggunya dengan rasa lapar yang tak terbayangkan oleh siapa pun.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 97 (BAB AKHIR)

    Fajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 96.

    Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 95

    Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 94.

    Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 93

    Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 92

    Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 32.

    Pagi sudah tiba dan Freya sudah bangun, ketika—Pintu kamar berderit terbuka. Asisten rumah tangga yang bertugas untuk Freya melangkah masuk, membawa sapu dan pengki. Ia bergerak dengan cekatan, bersenandung lirih sambil bekerja. Matanya mengitari ruangan dalam sapuan biasa, memerik

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 19. Sebuah Fitnah!

    Freya Pov.----​Dua hari...​Sudah dua hari penuh sejak mereka menyeretku ke tempat ini—dua hari yang dilewati dalam keheningan, kegelapan, dan hawa dingin yang menusuk. Dinding penjara bawah tanah ini terus merembas, udaranya pekat oleh bau apek dan keputusasaan, dan satu-satunya suara yang terde

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 18. Sebuah Alasan.

    ​Satu pekan telah berlalu sejak serangan itu—insiden yang nyaris merenggut nyawaku. Rasa sakit telah lama sirna, dan luka-luka itu mengatup secara misterius, sembuh tepat sebelum jemari sang tabib menyentuhku. Hal itu membuat semua orang terpana, terutama sang tabib, yang kemudian mengumumkan bahwa

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 9. Gaun Malam

    ​Tuntutan dewan tempo hari masih terngiang di benak Freya, berdentum layaknya vonis mati. *Kapan sang Alpha akan memberi kami penerus?* Pertanyaan itu dilontarkan tanpa belas kasih, seolah ia tak lebih dari sekadar bejana. Sebuah rahim yang hanya menunggu untuk diisi. ​Kehinaan membakar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status