LOGINEnam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-andai, mungkin saja pak lamanya menjemputnya kembali. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar, tanpa kepastian.
Kamar mungilnya, dengan dinding bercat putih pudar dan jendela kayu yang sedikit berderit saat dibuka, perlahan-lahan berubah menjadi satu-satunya benteng pertahanan jiwanya. Berjam-jam ia habiskan hanya dengan duduk memeluk lutut di ambang jendela, membiarkan pandangannya menerawang jauh ke area pak yang terbentang luas di bawah sana. Alpha Logan sendiri nyaris tak pernah menyapanya. Bicara pun seperlunya, dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas namun tak pernah bernada kasar, tak pernah mengandung racun kebencian seperti yang selalu ia bayangkan. Sebaliknya, pria itu justru memberinya waktu—meski Freya tak yakin apakah itu bentuk belas kasihan atau hanya karena memang tak tertarik padanya. Atas desakan halus dari Samantha, Logan mengizinkan Freya untuk sekadar bernapas lega, mempelajari ritme kehidupan aneh di Northridge yang penuh dengan hierarki dan aturan. Logan sendiri adalah sosok yang penuh kontradiksi. Tegas, tanpa ekspresi, aura kekuasaannya begitu pekat hingga langsung memenuhi setiap ruang yang dimasukinya. Ia selalu duduk di meja panjang bersama orang-orang kepercayaannya—Beta Xavier, Gamma Theodore, dan tentu saja Samantha. Awalnya Freya heran melihat Samantha begitu sering duduk di meja sang Alpha. Hingga suatu malam, saat obrolan para lelaki mulai serius dan sunyi kembali merayap, Samantha berbisik di telinganya membagi rahasia. Ternyata, Samantha adalah tunangan Theodore. Pengakuan itu sontak melunakkan kegelisahan Freya. Di lain waktu, saat mereka berdua tengah menikmati makanan ringan di dini hari yang sunyi, Samantha bercerita lebih banyak. Ia pun pernah mengalami nasib serupa—dibawa paksa ke Northridge sebagai tawanan saat masih berusia enam belas tahun, penuh ketakutan dan ketidakpastian tentang masa depan. Freya mendengarkan dengan senyum kecil yang getir. Dadanya terasa sesak, bukan karena iri, tapi karena perbandingan yang begitu mencolok. Samantha yang sama-sama datang sebagai tawanan, berhasil menemukan cinta dan tempat untuk pulang. Sedangkan ia, hanya menuai kesepian yang dingin. Hingga pada suatu malam saat makan malam berlangsung, ketegangan tiba-tiba menyelinap masuk dan duduk manis di antara mereka. Suasana hangat mengalir di meja panjang. Xavier dan Theodore asyik bercanda, tawa mereka berbaur dengan suara sendok dan garpu. Samantha menyimak sambil tersenyum lembut pada tunangannya. Freya, seperti biasa, duduk dengan tenang di ujung kursi, hanya memainkan nasi di piringnya tanpa benar-benar memakannya. Ia berusaha tak mencolok, menyatu dengan latar belakang. Namun, tiba-tiba, suara hentakan hak sepatu yang tajam dan cepat memecah kehangatan itu. Tok..tok..tok.. Suaranya bergema di lorong sunyi, mendekat. Freya mendongak. Sosok itu melenggang keluar dari lorong yang mengarah ke kamar pribadi Alpha. Gadis itu berjalan dengan percaya diri yang hampir arogan, pinggulnya bergoyang seirama langkah. Matanya yang gelap menyapu seluruh meja, lalu diam sejenak pada Freya—satu detik terlalu lama, cukup untuk membuat bulu kuduk Freya meremang. Lalu, dengan gerakan meremehkan, alisnya terangkat sedikit sebelum mengalihkan pandangan ke yang lain. "Jangan harap Alpha akan menemanimu dalam waktu dekat ini...." suara gadis itu bergumam pelan nada bicaranya jelas dan penuh oleh cemoohan. "Dia sedang... sibuk." Cara ia mengucapkannya, jeda yang disengaja, bibirnya yang mengerut sombong—semua itu jelas dirancang untuk memprovokasi. Udara di sekitar meja seketika berubah dingin. Freya membeku. Garpu di tangannya berhenti di tengah jalan, setengah jalan menuju mulutnya. Ia melirik Samantha, berbisik lirih, "Siapa dia?" Ekspresi Samantha berubah. Ada sekelebat kesal di matanya, bercampur pasrah. "Itu Eve. Adik angkat Alpha Logan. Logan menyelamatkannya bertahun-tahun lalu saat penyerbuan, dan membawanya tinggal di sini. Sejak itu, dia ada di pak ini." "Adiknya?" tanya Freya pelan, alisnya berkerut. "Tapi... orang-orang suka bergosip. Aku pernah dengar beberapa wanita berbisik kalau dia dan Alpha..." Kalimatnya menggantung. Rasa panas merayap naik ke lehernya. Mata Samantha membulat, lalu tiba-tiba ia terkekeh pelan, menutup mulut dengan tangan. "Oh, Freya. Jangan percaya dengan gosip murahan itu. Logan itu memang di kelilingi wanita cantik, jadi dia tidak akan pernah serendah itu. Eve itu keluarganya." Freya sangat ingin percaya. Ia benar-benar ingin. Tapi cara Eve melenggang keluar dari kamar Logan dengan kepuasan diri yang terpampang nyata di wajahnya, itu menanamkan benih-benih keraguan di benak Freya yang tak bisa ia singkirkan. Ia menggenggam erat garpunya. Tatapan Eve kini beralih sepenuhnya pada Freya. Tajam, penuh ejekan. Ia terkekeh sinis, memiringkan kepala. "Jadi ini dia omega berharga yang katanya harus kita semua hormati? Kasihan sekali." Dada Freya sesak. Kata-kata itu menusuk tepat di celah-celah kerapuhannya. Tapi ia hanya menundukkan pandangan lebih dalam ke piringnya. Ia sudah belajar sejak awal, di dunia kejam ini, diam adalah perisai terbaik. Membalas hanya akan menyulut api yang lebih besar. Tak lama kemudian, pintu di ujung lorong terbuka kembali. Dan Logan masuk. Kehadirannya langsung membungkam ruangan. Tanpa berkata sepatah pun, auranya memenuhi setiap sudut, menuntut kepatuhan mutlak. Tubuhnya tinggi, bidang bahunya lebar, sorot matanya tajam mengamati. Eve berubah seketika. Seperti pesulap yang mengganti topeng, seringainya yang dingin luluh berganti senyum merekah. Ia bangkit dengan anggun dari kursinya, melangkah ke sisi Logan dengan gerakan begitu percaya diri seolah di situlah tempatnya sejak awal. "Alpha," suaranya mendesah manis. Ia meraih mangkuk sajian, siap menaruh makanan ke piring Logan sebelum orang lain sempat bergerak. Dari sudut mata, Freya menangkap seluruh adegan itu. Seulas geli muncul sekilas di hatinya. Antusiasme Eve yang berlebihan hampir terlihat lucu, meski tak seorang pun berani tertawa. Freya tetap menunduk, pura-pura fokus pada makanannya yang sudah dingin. Selama berminggu-minggu setelah peristiwa itu, Logan mulai memanggil Freya untuk hadir dalam beberapa pertemuan internal. Awalnya, Freya bingung. Untuk apa keberadaan omega tak berarti sepertinya dalam diskusi tentang jadwal patroli atau keamanan perbatasan? Tapi Logan menjelaskan dengan singkat, dengan nada yang tak memberi ruang untuk bertanya: ia perlu memahami bagaimana pak ini bekerja jika ingin bertahan hidup. Anehnya, pria itu tak pernah lagi menyinggung alasan sebenarnya mengapa ia ada di Northridge. Samantha berbisik, mungkin Logan sedang mengulur waktu. Membiarkannya terbiasa dulu, karena menjadi "pembiak" bagi Alpha sejatinya sama dengan menjadi calon Luna-nya... Bukan sekadar mesin reproduksi. Dan yang lebih aneh lagi, tak sekali pun Logan memintanya berbagi ranjang atau bahkan membahas soal keturunan. Kembali ke meja makan malam itu. Freya duduk dengan gelisah, pikirannya melayang jauh. Tawa di sekelilingnya hanya jadi dengung samar. Bunyi piring dan sendok beradu terdengar seperti suara gaduh yang tak berarti. Hatinya terombang-ambing dalam badai resah. Lalu, suara berat itu memotong lamunannya. "Freya." Ia tersentak. Garpu di tangannya hampir jatuh, nyaris menimbulkan bunyi nyaring di atas piring. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul tulang rusuk. Mungkin ia salah dengar. Mungkin Logan memanggil orang lain. Ia tetap menunduk, jari-jarinya mencengkeram gagang garpu lebih erat. "Freya." Suara Logan terdengar lagi, lebih tegas kali ini. Sebuah perintah yang tak bisa diabaikan. Suasana di meja berubah. Semua mata kini tertuju padanya. Rasanya seperti jutaan jarum menusuk kulitnya. Perlahan, dengan berat hati, ia mengangkat wajah. Mata gelap Logan menangkap pandangannya. Tatapan pria itu mantap, tak terbaca, seolah sedang mencoba menyelami ke lubuk jiwa Freya yang paling dalam. Sebenarnya apa yang akan Logan katakan?Suara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang. "Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan. Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi. "Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang. Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti.
Enam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-andai, mungkin saja pak lamanya menjemputnya kembali. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar, tanpa kepastian. Kamar mungilnya, dengan dinding bercat putih pudar dan jendela kayu yang sedikit berderit saat dibuka, perlahan-lahan berubah menjadi satu-satunya benteng pertahanan jiwanya. Berjam-jam ia habiskan hanya dengan duduk memeluk lutut di ambang jendela, membiarkan pandangannya menerawang jauh ke area pak yang terbentang luas di bawah sana. Alpha Logan sendiri nyaris tak pernah menyapanya. Bicara pun seperlunya, dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas namun tak pernah bernada kasar, tak pernah mengandung racun kebencian seperti yang selalu ia bayangkan. Sebaliknya, pria itu justru
Selama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba mengubur pikirannya dalam kegelapan, kenyataan itu tetap melekat padanya seperti rantai yang membelit kuat. Dia sudah memohon. Dia sudah menangis. Dia sudah meratap. Namun Alpha Logan tetap melangkah pergi tanpa peduli. Pada pagi ketiga, beban itu menjadi tak tertahankan. Duduk dalam keheningan terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Dia tidak bisa terus terkurung di kamar ini seperti seekor anak domba yang hanya menunggu waktu untuk disembelih. Dia harus mencoba sesuatu—apa pun itu. Samantha menyadari perubahan sikap gadis itu. Perawat muda tersebut mulai merasa iba dan terikat dengan Freya selama beberapa hari terakhir, melihat bagaimana Freya perlahan layu dan menghilang ke
Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap menelannya hidup-hidup.Beta Xavier mengawalnya melewati gerbang besi tanpa banyak bicara. Begitu tiba di dalam, Xavier langsung menyerahkannya kepada para pelayan tanpa menoleh lagi.Wanita-wanita itu bekerja sangat efisien namun terasa berjarak. Mereka memandikan Freya, menggosok tubuhnya hingga bersih, lalu memakaikannya linen sederhana sebelum mengantarnya ke sebuah kamar di sayap barat.Untuk pertama kalinya, Freya mendapatkan tempat tidur layak, namun kehangatan itu justru terasa menekan hatinya. Ia sadar, dirinya tetaplah barang jaminan yang dimiliki oleh seseorang.Salah satu wanita, seorang perawat bernama Samantha, tinggal lebih lama di kamarnya. Berbeda dengan yang lain, Saman
Nyala lilin di aula besar itu bergetar pelan, memanjangkan bayangan di dinding batu yang dingin dan lembap. Richard menuangkan anggur ke dalam cawan Beta Xavier dengan tangan yang sedikit gemetar, hingga beberapa tetes cairan merah itu tumpah ke meja kayu."Kau tahu, Beta," buka Richard dengan senyum menjilat yang terlihat sangat dipaksakan. "Keluarga kami selalu menaruh hormat yang besar pada kejayaan Kawanan Northridge selama bertahun-tahun."Xavier hanya diam, matanya menatap tajam pada cairan merah di dalam cawannya tanpa minat untuk meminumnya. Aura kekuasaannya memenuhi ruangan, membuat udara terasa berat seolah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang."Saat nasib buruk menimpa kami, Alphamu begitu murah hati mengulurkan bantuan," lanjut Richard, suaranya terdengar putus asa di balik nada ramahnya.Xavier akhirnya menyesap anggurnya, lalu menatap Richard dengan pandangan yang seolah bisa menembus jantung pria itu. "Bantuan...?" ulangnya dengan nada menyindir yang sangat d
Gaun itu terasa sempit dan tidak nyaman melekat pada tubuh kurus Freya saat ia bekerja di dapur, mengaduk panci besar berisi sup. Aroma rempah memenuhi udara, tapi yang ia rasakan hanya kelelahan biasa. Meski berpakaian sedikit lebih baik, posisinya tetap sama: pelayan di rumah ini. Pintu dapur berderit. Amanda melangkah masuk dengan angkuh, bibir merah berkilau. Matanya menyipit menatap Freya dengan jijik. "Kamu. Ikut." Ia mencengkeram pergelangan Freya tanpa menunggu jawaban. Sendok terlepas dari genggaman Freya, jatuh berisik ke panci. Jantungnya berdebar. Dengan gugup ia mengusap tangan basah ke rok, lalu mengikuti Amanda tanpa protes. Melawan hanya berarti memar. Begitu keluar dapur, Freya melihat suasana berbeda. Enzo berdiri tegap dengan tunik rapi, rambut tersisir ke belakang. Gaun Amanda berkilau lembut. Richard dan Lycril juga mengenakan pakaian terbaik, postur tegak dengan senyum terlatih. Langkah Freya ragu. Mengapa mereka semua berdandan? Lalu ia melihatnya. Seorang







