ANMELDENSuara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang.
"Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan. Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi. "Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang. Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti." Napas Freya tersendat di tenggorokan, membuat perutnya mual. Pertemuan? Bersama dia? Pikirannya berputar kencang, mencoba menerka peran apa yang bisa ia mainkan dalam urusan penting seperti itu. Namun sebelum sempat mengumpulkan akal, suara Logan kembali menohok, kali ini lebih tajam, sarat peringatan. "Jangan salah artikan ini sebagai kebaikan hatiku," ucapnya dingin. "Satu-satunya alasan aku memberimu kelonggaran selama ini karena Samantha memohon atas namamu. Tapi masa-masa mudahmu sudah berakhir, omega. Mulai sekarang, bersiaplah." Ketegasan dalam nada itu menghantamnya bagaikan pukulan telak. Ia tak perlu penjelasan lebih—ia sangat paham apa maksudnya. Masa tenggang telah usai. Hal yang tak terhindarkan tak bisa lagi ditunda. Di seberang meja, Eve terlihat gelisah meski cepat-cepat merapikan raut wajahnya, menyembunyikan kecemburuan atau kegelisahan yang sempat terlintas. Jemarinya mengencang di sekeliling gelas anggur. Meski tersenyum kecil pada Logan, ada ketajaman aneh di matanya saat melirik ke arah Freya. Samantha yang merasakan ketegangan semakin memadat, diam-diam meraih tangan Freya di bawah meja dan menggenggamnya erat. "Makanlah," bisiknya lembut. "Jangan hiraukan." Tapi Freya sudah tak bisa lagi merasakan makanan. Perutnya mual oleh cemas, seleranya lenyap seketika. Ia paksa dirinya mengunyah dan menelan, namun setiap suapan terasa seperti batu kasar yang tersangkut di kerongkongan. Saat hidangan usai, Samantha pamit pada Alpha dengan anggukan sopan sembari menarik Freya pergi. Freya mengikuti dengan langkah berat, kepala terus menunduk. Begitu pintu kamarnya tertutup di belakang mereka, Samantha segera berbalik. "Freya, ada apa? Wajahmu pucat sekali." Freya menggeleng, menekan telapak tangan ke dadanya. "Tidak apa-apa." Samantha mengerutkan dahi. "Kalau soal Eve, abaikan saja. Kau tahu sifatnya. Dia senang melihat orang lain tak nyaman." Freya tersenyum tipis, letih. "Bukan Eve." "Lalu?" desak Samantha, matanya mengamati wajah Freya dengan cemas. Freya ragu. Kata-kata menggejolak di dalam batin namun tak kunjung bisa tersusun rapi. Akhirnya, ia berbisik, "Aku hanya... berharap bisa punya apa yang kau miliki. Pasangan sejati. Seseorang yang memilihku, bukan karena hutang, bukan karena kewajiban, tapi karena dia menginginkanku. Karena dia... mencintaiku." Suaranya pecah di kata terakhir. Ia cepat membalikkan badan, memeluk dirinya sendiri. Ekspresi Samantha luluh. Ia mendekat, meletakkan tangan lembut di bahu Freya. "Tapi Alpha... dia tak memperlakukanmu dengan buruk. Dia tak memaksamu apa pun, bahkan tak menganggapmu seperti—seperti mesin reproduksi. Dia menghormatimu lebih dari kebanyakan Alpha lain. Apa kau tak sadar? Bisa jadi kau akan menjadi Luna suatu hari nanti." Freya tersentak, menggeleng keras. "Bukan itu yang kuinginkan, Samantha. Bukan dengan cara begini. Jika aku jadi Luna, seharusnya karena aku dipilih, karena aku dicintai. Bukan karena dijual seperti ternak, pelunasan hutang ayahku. Kau paham? Tempat ini memberiku makan, memberiku atap, tapi itu bukan kebebasan. Ini tetap penjara." Kejujuran mentah dalam ucapannya membuat Samantha terpaku cukup lama. Akhirnya, ia menghela napas, bahunya merosot. "Aku mengerti," ucapnya lirih. "Sungguh, aku paham. Tapi tetap saja, kau harus tenang, Freya. Jangan biarkan keputusasaan melahapmu hidup-hidup. Kau lebih kuat dari yang kau kira." Freya tak menjawab. Ia berjalan ke jendela dan duduk di bangku panjang di bawahnya. Udara malam yang sejuk menerpa, membawa aroma pinus dan asap kayu bakar dari kejauhan. Matanya menerawang ke cakrawala yang diterangi rembulan, di mana area pak berkelap-kelip oleh cahaya obor. "Aku penasaran," gumamnya hampir tak terdengar, "seperti apa ya dunia manusia itu?" Kepala Samantha menoleh cepat, matanya membelalak. "Apa?" Freya menoleh sedikit, senyum tipis mengembang di bibir meski matanya tetap sendu. "Bertahun-tahun aku membayangkannya. Bagaimana rasanya hidup tanpa serigala, tanpa ikatan yang membelenggu hidup mereka. Bagaimana rasanya bangun tanpa aturan pak, hidup seperti mereka, punya pilihan." "Freya!" desis Samantha, bergegas menutup jendela. Ia berbalik, menurunkan suaranya dengan panik. "Jangan pernah ucapkan hal seperti itu lagi. Kau dengar? Itu terlarang, benar-benar terlarang. Kau tahu apa yang bisa terjadi kalau ada yang mendengarmu?" Freya mengangkat dagu dengan keras kepala. "Aku tahu itu terlarang. Aku pernah membacanya dulu, saat masih di Silverfang. Aku ke perpustakaan kuno dan menemukan gulungan, kisah tentang dunia manusia—bagaimana mereka berkembang, bagaimana dunia mereka berbeda dari kita. Mereka bilang kita tak boleh memasuki dunia mereka, tapi aku sering memimpikannya. Bagaimana jika ada kehidupan lain di luar sana selain siklus tanpa akhir ini—melahirkan dan mengabdi pada pak? Bagaimana jika..." Suaranya menghilang, tenggorokannya tersekat oleh kerinduan yang entah sejak kapan bersemayam di sanubari. Samantha menatapnya, untuk sesaat kehilangan kata-kata. Lalu ia menggeleng tegas. "Tidak. Hentikan. Aku tak mau dengar lagi. Kau tak paham bahayanya pikiran seperti itu. Serigala yang bermimpi pergi, yang mencoba menyeberang ke dunia manusia—tak ada yang kembali. Itu gila. Jangan pernah singgung lagi." Freya diam, tapi secercah pemberontakan masih berpendar di matanya. Ia kembali menatap jendela, menyandarkan dagu di lutut, memandang keluar ke dalam gelap malam seolah mencari sesuatu yang jauh di balik tembok Northridge. Samantha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, gelisah. Ia bisa merasakan pembicaraan ini memasuki wilayah berbahaya, wilayah yang tak siap ia jelajahi. Maka ia membiarkannya berakhir di sini, pergi meninggalkan Freya dengan hening, meski hatinya memberat oleh kekhawatiran. Dan Freya, sendirian dengan lamunannya, membiarkan dirinya berandai—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—apakah takdirnya benar-benar terikat pada dunia serigala, ataukah ada takdir lain yang menanti...??Suara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang. "Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan. Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi. "Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang. Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti.
Enam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-andai, mungkin saja pak lamanya menjemputnya kembali. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar, tanpa kepastian. Kamar mungilnya, dengan dinding bercat putih pudar dan jendela kayu yang sedikit berderit saat dibuka, perlahan-lahan berubah menjadi satu-satunya benteng pertahanan jiwanya. Berjam-jam ia habiskan hanya dengan duduk memeluk lutut di ambang jendela, membiarkan pandangannya menerawang jauh ke area pak yang terbentang luas di bawah sana. Alpha Logan sendiri nyaris tak pernah menyapanya. Bicara pun seperlunya, dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas namun tak pernah bernada kasar, tak pernah mengandung racun kebencian seperti yang selalu ia bayangkan. Sebaliknya, pria itu justru
Selama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba mengubur pikirannya dalam kegelapan, kenyataan itu tetap melekat padanya seperti rantai yang membelit kuat. Dia sudah memohon. Dia sudah menangis. Dia sudah meratap. Namun Alpha Logan tetap melangkah pergi tanpa peduli. Pada pagi ketiga, beban itu menjadi tak tertahankan. Duduk dalam keheningan terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Dia tidak bisa terus terkurung di kamar ini seperti seekor anak domba yang hanya menunggu waktu untuk disembelih. Dia harus mencoba sesuatu—apa pun itu. Samantha menyadari perubahan sikap gadis itu. Perawat muda tersebut mulai merasa iba dan terikat dengan Freya selama beberapa hari terakhir, melihat bagaimana Freya perlahan layu dan menghilang ke
Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap menelannya hidup-hidup.Beta Xavier mengawalnya melewati gerbang besi tanpa banyak bicara. Begitu tiba di dalam, Xavier langsung menyerahkannya kepada para pelayan tanpa menoleh lagi.Wanita-wanita itu bekerja sangat efisien namun terasa berjarak. Mereka memandikan Freya, menggosok tubuhnya hingga bersih, lalu memakaikannya linen sederhana sebelum mengantarnya ke sebuah kamar di sayap barat.Untuk pertama kalinya, Freya mendapatkan tempat tidur layak, namun kehangatan itu justru terasa menekan hatinya. Ia sadar, dirinya tetaplah barang jaminan yang dimiliki oleh seseorang.Salah satu wanita, seorang perawat bernama Samantha, tinggal lebih lama di kamarnya. Berbeda dengan yang lain, Saman
Nyala lilin di aula besar itu bergetar pelan, memanjangkan bayangan di dinding batu yang dingin dan lembap. Richard menuangkan anggur ke dalam cawan Beta Xavier dengan tangan yang sedikit gemetar, hingga beberapa tetes cairan merah itu tumpah ke meja kayu."Kau tahu, Beta," buka Richard dengan senyum menjilat yang terlihat sangat dipaksakan. "Keluarga kami selalu menaruh hormat yang besar pada kejayaan Kawanan Northridge selama bertahun-tahun."Xavier hanya diam, matanya menatap tajam pada cairan merah di dalam cawannya tanpa minat untuk meminumnya. Aura kekuasaannya memenuhi ruangan, membuat udara terasa berat seolah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang."Saat nasib buruk menimpa kami, Alphamu begitu murah hati mengulurkan bantuan," lanjut Richard, suaranya terdengar putus asa di balik nada ramahnya.Xavier akhirnya menyesap anggurnya, lalu menatap Richard dengan pandangan yang seolah bisa menembus jantung pria itu. "Bantuan...?" ulangnya dengan nada menyindir yang sangat d
Gaun itu terasa sempit dan tidak nyaman melekat pada tubuh kurus Freya saat ia bekerja di dapur, mengaduk panci besar berisi sup. Aroma rempah memenuhi udara, tapi yang ia rasakan hanya kelelahan biasa. Meski berpakaian sedikit lebih baik, posisinya tetap sama: pelayan di rumah ini. Pintu dapur berderit. Amanda melangkah masuk dengan angkuh, bibir merah berkilau. Matanya menyipit menatap Freya dengan jijik. "Kamu. Ikut." Ia mencengkeram pergelangan Freya tanpa menunggu jawaban. Sendok terlepas dari genggaman Freya, jatuh berisik ke panci. Jantungnya berdebar. Dengan gugup ia mengusap tangan basah ke rok, lalu mengikuti Amanda tanpa protes. Melawan hanya berarti memar. Begitu keluar dapur, Freya melihat suasana berbeda. Enzo berdiri tegap dengan tunik rapi, rambut tersisir ke belakang. Gaun Amanda berkilau lembut. Richard dan Lycril juga mengenakan pakaian terbaik, postur tegak dengan senyum terlatih. Langkah Freya ragu. Mengapa mereka semua berdandan? Lalu ia melihatnya. Seorang







