FAZER LOGINSelama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali.
Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba mengubur pikirannya dalam kegelapan, kenyataan itu tetap melekat padanya seperti rantai yang membelit kuat. Dia sudah memohon. Dia sudah menangis. Dia sudah meratap. Namun Alpha Logan tetap melangkah pergi tanpa peduli. Pada pagi ketiga, beban itu menjadi tak tertahankan. Duduk dalam keheningan terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Dia tidak bisa terus terkurung di kamar ini seperti seekor anak domba yang hanya menunggu waktu untuk disembelih. Dia harus mencoba sesuatu—apa pun itu. Samantha menyadari perubahan sikap gadis itu. Perawat muda tersebut mulai merasa iba dan terikat dengan Freya selama beberapa hari terakhir, melihat bagaimana Freya perlahan layu dan menghilang ke dalam bayang-bayang dirinya sendiri. Samantha telah membawakannya makanan dan mencoba menghiburnya, tetapi Freya tidak bisa makan ataupun beristirahat. Kini, saat Freya tiba-tiba duduk tegak dengan kilatan tekad yang tajam di matanya yang sembap, Samantha tahu ada masalah besar yang akan terjadi. “Freya, apa yang mau kau—?” “Aku tidak bisa diam saja di sini,” potong Freya cepat. Suaranya terdengar tajam karena tekad, meskipun tangannya masih gemetar hebat. “Aku harus bicara padanya. Aku harus memohon padanya sekali lagi. Mungkin dia akan mendengarkan—mungkin dia akan membiarkanku bekerja untuknya saja. Aku akan jadi pelayan, aku akan mengepel lantai, apa pun—asal bukan ini.” Wajah Samantha berubah pucat pasi. “Jangan! Freya, kau tidak mengerti. Dia tidak suka ditanyai, apalagi ditentang. Jika kau menemuinya sekarang, kau hanya akan memancing kemarahannya.” “Aku tidak peduli,” tukas Freya, mengejutkan dirinya sendiri dengan nada bicaranya yang keras. Lalu suaranya melembut, penuh keputusasaan. “Aku tidak bisa hanya duduk di sini dan menerima nasib begitu saja. Aku lebih baik mati saat mencoba daripada tidak melakukan apa-apa.” Sebelum Samantha sempat menahannya, Freya sudah mendorong pintu dan berlari keluar kamar. Lorong-lorong di rumah kawanan Northridge begitu luas dan membingungkan, tetapi keputusasaan memberinya kekuatan untuk berlari. Dia terus memacu langkahnya. Roknya tersangkut di pergelangan kaki, rambutnya terurai berantakan dari jepit yang sebelumnya dipasang rapi oleh para pelayan. Jantungnya berdegup kencang di dada, napasnya memburu dengan sengal pendek dan cepat. Para penjaga menoleh saat dia melintas, beberapa berteriak mengejarnya, tetapi Freya tidak berhenti. Dia tidak tahu ke mana tujuannya; dia hanya tahu bahwa dia harus menemukan pria itu. Akhirnya, dia melihatnya. Alpha Logan berdiri di ujung aula besar, sedang berbicara dengan Xavier dan dua orang pengawal. Kehadirannya mendominasi ruangan itu dengan sangat mudah—tinggi, tegap, seolah terpahat dengan sempurna. Lutut Freya terasa lemas, tetapi dia memaksa dirinya untuk terus maju. Para penjaga segera bergerak untuk menghalangi jalannya. “Tetap di tempatmu, omega—” “Tidak!” teriaknya sambil meronta. Sebelum ada yang sempat mencegahnya, Freya berlari lurus ke arah Logan dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan pria itu. Air mata mengalir deras di pipinya. “Alpha, tolong!” isaknya. “Aku mohon padamu, jangan paksa aku melakukan ini. Aku tidak bisa menjadi pembiakmu. Aku tidak menginginkan hidup seperti ini! Tolong—biarkan aku bekerja untukmu saja. Aku akan bersih-bersih, aku akan melayani, aku akan bekerja seumur hidupku. Aku akan membayar setiap keping koin yang ayahku utangkan padamu. Hanya saja, jangan paksa aku…” Suaranya pecah, hancur di bawah beban kata itu. “…jangan paksa aku melahirkan anak dengan cara seperti ini.” Seluruh aula mendadak sunyi senyap. Logan menatapnya dari ketinggian. Matanya menyipit tajam, rahangnya mengeras. Ekspresinya tetap sulit dibaca, tetapi auranya melonjak seperti bayangan hitam yang mengancam akan meremukkan Freya ke lantai. Para pengawal bergerak untuk meringkusnya. Tangan-tangan kasar mencengkeram lengannya, tetapi Freya menjerit dan meronta, lalu kembali melemparkan dirinya ke kaki Logan. “Tolong!” ratapnya dengan dahi menekan lantai batu yang dingin. “Tolong, Alpha. Aku akan melakukan apa saja—asal bukan ini!” Suara tenang Xavier membelah keheningan. “Freya!!" Kepala Freya tersentak mendongak. Matanya merah dan liar. “Itu tidak mungkin,” kata sang Beta dengan nada datar. “Bahkan jika kau bekerja seumur hidupmu, setiap jam setiap hari, kau tidak akan pernah bisa melunasi apa yang ayahmu ambil. Hutangnya sangat besar. Dan dia mengambil lebih banyak lagi saat menjualmu ke sini. Tidak ada jalan keluar dari takdir hidupmu, selain patuh!" Kata-kata itu menghantamnya seperti tusukan pisau. Dada Freya terasa sesak hingga dia nyaris tidak bisa bernapas. Dia menatap Xavier sambil menggeleng keras. “Tidak. Tidak, itu tidak benar. Aku akan mencari jalan. Pasti ada jalan—” Namun tatapan Xavier tetap teguh, tanpa kompromi. “Tidak ada.” Sesuatu di dalam diri Freya hancur seketika. Air matanya tumpah semakin deras, suaranya naik menjadi jeritan yang menyayat hati. Dia berbalik ke arah Logan, keputusasaan murni terpancar dari wajahnya. “Kalau begitu bunuh saja aku! Jika aku tidak bisa membayar, jika aku tidak bisa melarikan diri, maka bunuh aku, Alpha! Karena aku tidak bisa hidup seperti ini!” Tarikan napas kaget terdengar di seluruh aula. Para pengawal menegang, saling bertukar pandang dengan gelisah. Belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu kepada sang Alpha. Mata Logan berkilat dingin seperti es. Dia melangkah maju, menjulang di atas tubuh Freya yang kecil. “Cukup.” Namun Freya tidak bisa berhenti. Rasa panik telah melumpuhkan akal sehatnya. Matanya melirik ke samping—sebuah gerbang terbuka menuju halaman luar. Sebuah pintu keluar. Sebuah kesempatan. Tanpa berpikir panjang, dia bangkit dan berlari sekuat tenaga. Harapan itu hanya bertahan beberapa detik. Dua penjaga mencegatnya di ambang pintu, mencengkeram lengannya dengan pegangan sekuat besi. Dia meronta, menendang, mencakar, dan menjerit hingga suaranya serak. Namun kekuatan mereka tak tergoyahkan. Mereka menyeretnya kembali dan melemparkannya ke lantai di hadapan sang Alpha seperti boneka kain yang rusak. Dia mendarat keras. Rasa sakit menjalar di pinggangnya, telapak tangannya lecet tergesek lantai batu. Namun isak tangisnya menenggelamkan segalanya. Lalu suara itu terdengar—dingin, mutlak terdengar jelas, “Coba lakukan itu sekali lagi,” kata Logan, setiap kata diucapkan dengan penekanan mengerikan, “... dan aku sendiri yang akan memenggal kepalamu.” Dunia seolah berhenti berputar. Freya membeku. Air matanya mengering di pipi. Udara terasa semakin berat dan menyesakkan. Tatapan Logan menembusnya, setajam pisau di tenggorokannya. Perutnya melilit hebat, rasa mual naik tanpa bisa dicegah. Dia menekan tangannya ke lantai, tubuhnya gemetar tak terkendali. Bagaimana mungkin dia bisa bersatu dengan pria ini? Bagaimana mungkin dia membiarkan monster ini menyentuhnya, mengklaimnya, dan menghancurkannya? Dia terjebak dalam sangkar tak kasat mata. Samantha bergegas masuk dengan wajah sepucat kematian. Dia berlutut di samping Freya dan merangkul tubuh gadis itu yang gemetar. “Tidak apa-apa,” bisiknya, meski suaranya sendiri bergetar. “Aku bersamamu.” Namun tidak ada satu pun yang terasa baik-baik saja. Dengan penglihatan kabur, Freya melihat sekeliling. Para pengawal berbaris di sepanjang dinding, berdiri kaku dan waspada. Rumah kawanan ini adalah benteng—dijaga di setiap sudut. Tidak ada jalan keluar. Suaranya pecah saat dia memaksakan satu pertanyaan keluar, bibirnya gemetar membentuk kata-kata yang paling dia takuti jawabannya. “Jika aku menolak…” bisiknya serak. “Jika aku menolak menjadi pembiakmu, Alpha… apa yang akan terjadi padaku?” Aula kembali membeku. Logan yang sudah berbalik untuk pergi berhenti melangkah. Perlahan, dengan presisi yang membuat setiap detak jantung terasa seperti keabadian, dia berbalik. Langkah kakinya bergema di lantai batu saat dia mendekat. Setiap langkah terukur, seperti predator yang yakin pada mangsanya. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah Freya—lebih dingin dari baja, lebih gelap dari malam paling pekat. Dia berhenti tepat di depannya. Bayangannya menelan Freya sepenuhnya. Dengan suara bergetar oleh ancaman bahaya, dia berkata, “Pilihannya hanya dua. Kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan di sini…” Logan membungkuk sedikit. Kata-katanya jatuh seperti vonis mati yang dibisikkan tepat di depan wajah Freya. “…atau kau akan segera tahu apa yang terjadi pada mereka yang berani menentangku.”Suara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang. "Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan. Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi. "Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang. Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti.
Enam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-andai, mungkin saja pak lamanya menjemputnya kembali. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar, tanpa kepastian. Kamar mungilnya, dengan dinding bercat putih pudar dan jendela kayu yang sedikit berderit saat dibuka, perlahan-lahan berubah menjadi satu-satunya benteng pertahanan jiwanya. Berjam-jam ia habiskan hanya dengan duduk memeluk lutut di ambang jendela, membiarkan pandangannya menerawang jauh ke area pak yang terbentang luas di bawah sana. Alpha Logan sendiri nyaris tak pernah menyapanya. Bicara pun seperlunya, dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas namun tak pernah bernada kasar, tak pernah mengandung racun kebencian seperti yang selalu ia bayangkan. Sebaliknya, pria itu justru
Selama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba mengubur pikirannya dalam kegelapan, kenyataan itu tetap melekat padanya seperti rantai yang membelit kuat. Dia sudah memohon. Dia sudah menangis. Dia sudah meratap. Namun Alpha Logan tetap melangkah pergi tanpa peduli. Pada pagi ketiga, beban itu menjadi tak tertahankan. Duduk dalam keheningan terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Dia tidak bisa terus terkurung di kamar ini seperti seekor anak domba yang hanya menunggu waktu untuk disembelih. Dia harus mencoba sesuatu—apa pun itu. Samantha menyadari perubahan sikap gadis itu. Perawat muda tersebut mulai merasa iba dan terikat dengan Freya selama beberapa hari terakhir, melihat bagaimana Freya perlahan layu dan menghilang ke
Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap menelannya hidup-hidup.Beta Xavier mengawalnya melewati gerbang besi tanpa banyak bicara. Begitu tiba di dalam, Xavier langsung menyerahkannya kepada para pelayan tanpa menoleh lagi.Wanita-wanita itu bekerja sangat efisien namun terasa berjarak. Mereka memandikan Freya, menggosok tubuhnya hingga bersih, lalu memakaikannya linen sederhana sebelum mengantarnya ke sebuah kamar di sayap barat.Untuk pertama kalinya, Freya mendapatkan tempat tidur layak, namun kehangatan itu justru terasa menekan hatinya. Ia sadar, dirinya tetaplah barang jaminan yang dimiliki oleh seseorang.Salah satu wanita, seorang perawat bernama Samantha, tinggal lebih lama di kamarnya. Berbeda dengan yang lain, Saman
Nyala lilin di aula besar itu bergetar pelan, memanjangkan bayangan di dinding batu yang dingin dan lembap. Richard menuangkan anggur ke dalam cawan Beta Xavier dengan tangan yang sedikit gemetar, hingga beberapa tetes cairan merah itu tumpah ke meja kayu."Kau tahu, Beta," buka Richard dengan senyum menjilat yang terlihat sangat dipaksakan. "Keluarga kami selalu menaruh hormat yang besar pada kejayaan Kawanan Northridge selama bertahun-tahun."Xavier hanya diam, matanya menatap tajam pada cairan merah di dalam cawannya tanpa minat untuk meminumnya. Aura kekuasaannya memenuhi ruangan, membuat udara terasa berat seolah oksigen di sana perlahan-lahan menghilang."Saat nasib buruk menimpa kami, Alphamu begitu murah hati mengulurkan bantuan," lanjut Richard, suaranya terdengar putus asa di balik nada ramahnya.Xavier akhirnya menyesap anggurnya, lalu menatap Richard dengan pandangan yang seolah bisa menembus jantung pria itu. "Bantuan...?" ulangnya dengan nada menyindir yang sangat d
Gaun itu terasa sempit dan tidak nyaman melekat pada tubuh kurus Freya saat ia bekerja di dapur, mengaduk panci besar berisi sup. Aroma rempah memenuhi udara, tapi yang ia rasakan hanya kelelahan biasa. Meski berpakaian sedikit lebih baik, posisinya tetap sama: pelayan di rumah ini. Pintu dapur berderit. Amanda melangkah masuk dengan angkuh, bibir merah berkilau. Matanya menyipit menatap Freya dengan jijik. "Kamu. Ikut." Ia mencengkeram pergelangan Freya tanpa menunggu jawaban. Sendok terlepas dari genggaman Freya, jatuh berisik ke panci. Jantungnya berdebar. Dengan gugup ia mengusap tangan basah ke rok, lalu mengikuti Amanda tanpa protes. Melawan hanya berarti memar. Begitu keluar dapur, Freya melihat suasana berbeda. Enzo berdiri tegap dengan tunik rapi, rambut tersisir ke belakang. Gaun Amanda berkilau lembut. Richard dan Lycril juga mengenakan pakaian terbaik, postur tegak dengan senyum terlatih. Langkah Freya ragu. Mengapa mereka semua berdandan? Lalu ia melihatnya. Seorang







