แชร์

BAB 4: Sang Pembiak

ผู้เขียน: J.A
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-14 22:16:32

​Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap menelannya hidup-hidup.

​Beta Xavier mengawalnya melewati gerbang besi tanpa banyak bicara. Begitu tiba di dalam, Xavier langsung menyerahkannya kepada para pelayan tanpa menoleh lagi.

​Wanita-wanita itu bekerja sangat efisien namun terasa berjarak. Mereka memandikan Freya, menggosok tubuhnya hingga bersih, lalu memakaikannya linen sederhana sebelum mengantarnya ke sebuah kamar di sayap barat.

​Untuk pertama kalinya, Freya mendapatkan tempat tidur layak, namun kehangatan itu justru terasa menekan hatinya. Ia sadar, dirinya tetaplah barang jaminan yang dimiliki oleh seseorang.

​Salah satu wanita, seorang perawat bernama Samantha, tinggal lebih lama di kamarnya. Berbeda dengan yang lain, Samantha menunjukkan keramahan yang tulus. Ia memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Freya dengan lembut.

​"Kau sehat," kata Samantha pelan. "Hanya sedikit kurang makan. Tenanglah, semua bisa diperbaiki dengan makanan bergizi."

​Kabar itu seharusnya melegakan, namun Freya hanya bisa meremas kain di pangkuannya dengan erat. Ia tahu kesehatan ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kepentingan sang pemilik mansion.

​Dua minggu berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Freya menghabiskan harinya di dalam kamar, mendengarkan bisikan-bisikan pelayan di lorong yang menyebutnya dengan berbagai gelar.

​"Gadis pinjaman," "si hibrida," hingga sebuah sebutan yang membuat darahnya membeku: "sang pembiak."

​Freya mencoba menutup telinga, namun benih ketakutan itu sudah terlanjur berakar. Dan meski waktu terus berjalan, ia belum juga melihat sosok sang Alpha yang misterius itu.

​Pada hari keempat belas, Beta Xavier kembali muncul di ambang pintunya. "Siapkan dirimu," katanya singkat. "Alpha akan menemuimu malam ini."

​Dada Freya terasa sesak seketika. "K-kenapa sekarang?" tanyanya dengan lidah kelu.

​Xavier hanya menyeringai tipis. "Karena dia telah memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat."

​Ketika malam tiba, hawa dingin yang menusuk mulai merayap di dalam kamar. Matahari terbenam memancarkan garis merah darah di atas lantai kayu saat pintu akhirnya terbuka.

​Xavier masuk lebih dulu, diikuti Samantha yang tampak pucat. Dan kemudian, dia muncul.

​Alpha Logan.

​Pria itu jauh lebih tinggi dari bayangan Freya, dengan bahu lebar dan gerakan presisi layaknya predator. Rambutnya sehitam sayap gagak, dengan garis rahang tajam dan mata yang sangat dingin.

​Logan tidak menyapa. Ia menatap Freya dengan cara seorang pria menatap sebuah senjata atau hewan ternak yang berharga.

​Setiap rumor mengerikan tentang Alpha yang membantai kaum Rogue dengan tangan kosong ini berteriak kencang di kepala Freya. Dan sekarang, dialah pria yang memiliki Freya sepenuhnya.

​Tiga orang penyembuh masuk ke ruangan, membungkuk rendah di hadapan Logan sebelum mendekati Freya. "Dialah orangnya," salah satu dari mereka bergumam, "Si hibrida."

​Freya mengerjap bingung. "A-aku tidak mengerti..."

​Seorang tabib wanita tua meraih tangan Freya dengan cengkeraman yang sangat kuat. "Kau bukan sekadar omega, Nak. Kau adalah wadah bagi kekuatan besar yang akan melayani kerajaan ini."

​"Tidak... Anda salah paham. Aku tidak punya serigala. Aku bukan siapa-siapa," bantah Freya panik.

​Tabib itu tertawa kecil, menatap garis tangan Freya seolah sedang membaca kitab suci. "Dia benar-benar orangnya. Tapi potensinya terkubur sangat dalam."

​Jantung Freya berpacu kencang, namun tidak ada yang menjawab kebingungannya. Logan masih menatapnya dengan pandangan penuh perhitungan.

​"Apakah dia sudah siap untuk mengandung?" Suara rendah dan tajam Logan akhirnya memecah keheningan.

​Kata-kata itu menghantam Freya seperti pukulan fisik yang telak. Samantha tampak menegang di sampingnya.

​"Alpha... dia masih sangat muda. Baru berusia dua puluh tahun. Mungkin kita bisa memberikan waktu—"

​"Apa aku mengajukan sebuah pertanyaan terbuka, Samantha?" potong Logan dingin.

​Suara Samantha bergetar hebat saat ia terpaksa menjawab, "I-iya, Alpha. Dia... dia sudah siap."

​Aliran darah seolah tersedot keluar dari wajah Freya, membuatnya pucat pasi. Logan memberikan satu tatapan terakhir yang tak berperasaan sebelum berbalik menuju pintu.

​"T-tunggu!" teriak Freya, memecah keheningan ruangan.

​Kepala Xavier menoleh dengan tatapan peringatan, namun Freya sudah tidak peduli. "Apa maksud Anda dengan mengandung? Aku diberi tahu akan bekerja di sini!"

​Logan berhenti tepat di ambang pintu dan perlahan berbalik. Matanya mengunci mata Freya, jauh lebih dingin daripada angin musim dingin yang paling menusuk.

​"Aku tidak menerima pertanyaan," katanya datar. "Namun, aku akan membiarkan Xavier menjelaskan agar kau paham posisimu."

​Xavier melangkah maju dengan ekspresi yang sangat tenang. "Ayahmu memiliki utang yang sangat besar kepada kami. Karena tidak bisa membayar, dia menawarkan dirimu sebagai pelunasan."

​Dada Freya terasa semakin menyempit hingga ia sulit bernapas. "Tidak mungkin..."

​"Tidak hanya itu. Dia mengambil kepingan koin tambahan dan menjual masa depanmu kepada Alpha," lanjut Xavier kejam. "Kau tidak akan bekerja sebagai buruh kasar, Freya. Kau adalah pembiak bagi sang Alpha. Kau akan mengandung ahli warisnya."

​"Tidak!" bisikan Freya pecah menjadi isakan. "Ayah tidak mungkin melakukan itu!"

​Namun jauh di dalam hatinya, Freya tahu kebenarannya. Ia selalu dianggap beban, dan kini ia telah resmi diperdagangkan sebagai alat penghasil keturunan.

​Lututnya lemas, namun ia memaksa diri untuk tetap tegak sambil mencengkeram dadanya sendiri. "Seorang pembiak? Aku bukan hewan! Aku—aku hanyalah seorang gadis!"

​Permohonannya pecah menjadi tangisan yang hancur. "Ini tidak adil! Tolong... biarkan aku pergi dari sini!"

​Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis Freya yang memilukan. Logan menatapnya tanpa emosi, seolah air mata Freya sama sekali tidak memiliki arti.

​"Kau berada di Northridge sekarang," kata Logan dengan kejam. "Dan di kerajaanku, aku tidak mentoleransi ketidakpatuhan. Kau akan melakukan apa yang diwajibkan darimu."

​Tanpa sepatah kata lain, Logan melangkah pergi dan pintu tertutup dengan dentuman keras.

​Freya langsung jatuh terduduk di lantai, tubuhnya berguncang hebat karena rasa putus asa yang luar biasa. Samantha berlutut di sampingnya, membisikkan penghiburan yang tidak sanggup menembus pendengarannya.

​Tidak ada kata-kata yang bisa mengubah kenyataan pahit ini. Ia bukan tamu, bukan pelayan, bahkan bukan lagi seorang manusia merdeka.

​Dia adalah properti. Milik orang lain. Dan tubuhnya bukan lagi miliknya, melainkan milik sang Alpha yang haus akan pewaris.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 97 (BAB AKHIR)

    Fajar belum pecah saat rombongan pengantar Jake, Daniel, dan Nicole tiba di perbatasan Northridge. Kabut tebal menyelimuti pepohonan, membuat batas antara dunia manusia dan dunia serigala terasa seperti mimpi yang samar.Jake berjalan paling depan, tangannya masih sedikit gemetar meski belenggu telah dilepaskan. Nicole berjalan di sampingnya, menopang Daniel yang semakin lemah. Wajah Daniel pucat seperti kertas, napasnya pendek-pendek, tapi matanya masih terbuka. Masih sadar."Kita hampir sampai," bisik Nicole, suaranya penuh harap.Tapi di tengah jalan setapak yang sempit, bayangan hitam melesat dari balik pepohonan.Jane.Dia berdiri di hadapan mereka, gaun merah marunnya berkibar tertiup angin dini hari. Rambutnya yang hitam panjang tergerai, wajahnya dingin seperti patung marmer."Jane?" Nicole mundur selangkah, melindungi Daniel di belakangnya. "Apa yang kau lakukan di sini?"Jane tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. "Mengantarkan kalian pergi, tentu saja. Tapi

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 96.

    Ruangan itu terasa semakin sempit setelah Freya mengucapkan kata-katanya. "Aku akan melakukannya." Kalimat pendek yang menggantung di udara seperti belati yang siap jatuh kapan saja.Penatua Agung mengangguk pelan, matanya yang tua namun tajam mengamati Freya dengan saksama. "Keputusan yang bijaksana, gadis. Kau menyelamatkan nyawa mereka dengan ucapannya sendiri."Namun di dalam sel, suara Jake terdengar. Pelan, patah, tapi penuh dengan tekad yang mengerikan."Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Freya."Semua mata tertuju padanya. Jake berdiri dengan tangan masih terborgol, tubuhnya gemetar karena dingin dan kelelahan, tapi matanya menyala dengan api yang tidak pernah Freya lihat sebelumnya."Aku akan merebutmu kembali," lanjutnya, suaranya mengeras. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster juga."Logan menggeram pelan, langkahnya hendak maju, tapi Freya menahan tangannya. "Tunggu."Dia mendekati jeruji sel, menatap Jake dari balik besi dingin. Wajah pria itu—wajah yang

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 95

    Suara langkah kaki menggema di lorong penjara bawah tanah, semakin keras, semakin dekat. Obor-obor di dinding berkedip-kedip seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Freya merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia hampir bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.Logan bergerak cepat. Dalam sekejap, dia sudah berdiri di depan Freya, tubuh besarnya melindunginya dari pintu masuk. Matanya menyipit, menatap ke arah kegelapan di ujung lorong."Mereka datang lebih cepat," gumamnya, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.Jane yang berdiri di samping menyilangkan tangannya dengan tenang, tapi matanya memancarkan kegelisahan yang tidak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. "Aku sudah bilang, Logan. Dewan tidak akan menunggu. Mereka haus akan jawaban."Freya menoleh ke arah sel. Daniel masih duduk lemas di sudut, matanya setengah terpejam. Wajahnya pucat, dan Freya bisa melihat dadanya naik turun dengan susah payah. Nicole duduk di sampingnya, tangannya menggenggam ta

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 94.

    Pintu besi itu terbuka dengan suara berat yang menggelegar di lorong sempit penjara bawah tanah. Udara dingin dan lembap langsung menyambut mereka, bau tanah basah dan logam berkarat menyengat hidung Freya. Obor-obor yang tergantung di dinding menyala redup, menerangi sel-sel batu yang gelap dan suram.Namun Freya tidak sempat memperhatikan semua itu.Matanya langsung tertumbuk pada sosok yang berdiri di luar sel Daniel dan Nicole. Bukan seorang penjaga. Bukan anggota dewan.Jake.Pacarnya. Manusia yang seharusnya masih berada di dunia manusia, jauh dari kekacauan Northridge.Darah Freya membeku. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai batu yang dingin. Untuk sesaat, dunia di sekelilingnya berhenti berputar. Yang dia dengar hanyalah debaran jantungnya sendiri yang berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti akan meledak kapan saja.Jake berdiri di sana dengan tangan terborgol di belakang punggungnya. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan pecah-pecah, tapi matanya—matanya yang cokela

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 93

    Bayangan di ujung koridor itu bergerak perlahan mendekat, langkah kakinya berirama tenang di atas lantai batu yang dingin. Lampu obor yang berkedip-kedip menerangi sosok tinggi berambut hitam panjang yang tergerai indah di bahunya. Gaun merah marun yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin malam yang menyusup dari celah-celah dinding.Jane.Freya merasakan genggaman Logan di tangannya mengeras. Bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang tiba-tiba menyergap. Alpha itu berhenti melangkah, tubuhnya menegak sempurna, dan untuk sesaat, Freya bisa merasakan gelombang ketidaknyamanan yang terpancar dari pria di sampingnya."Jane," sapa Logan dingin. "Apa yang kau lakukan di sini pada jam begini?"Jane tersenyum. Senyum yang indah, sempurna, namun dingin seperti bulan purnama di tengah musim salju. Matanya yang hitam pekat beralih dari Logan ke Freya, lalu ke tangan mereka yang saling menggenggam. Tidak ada kejutan di wajahnya, seolah dia sudah menduga pemandangan ini sejak lama."

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   BAB 92

    Pintu kamar Logan terbuka di hadapan Freya dengan suara berat yang bergema pelan di keheningan malam. Dia berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar namun matanya bulat, penuh tekad yang lahir dari keputusasaan. Di dalam ruangan, Logan baru saja melepas jaketnya, kemejanya setengah terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang. Dia menoleh saat pintu terbuka, alisnya naik sedikit saat melihat siapa yang datang."Freya?" Suaranya setengah bertanya, setengah waspada. "Kau seharusnya beristirahat."Freya melangkah masuk tanpa menunggu izin. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya. Dia berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menghentikan getaran yang tak kunjung reda."Aku tidak butuh istirahat," katanya. Suaranya tipis namun terdengar jelas di antara mereka berdua. "Aku butuh kau mendengarku."Logan menatapnya lama. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh itu sekarang terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 32.

    Pagi sudah tiba dan Freya sudah bangun, ketika—Pintu kamar berderit terbuka. Asisten rumah tangga yang bertugas untuk Freya melangkah masuk, membawa sapu dan pengki. Ia bergerak dengan cekatan, bersenandung lirih sambil bekerja. Matanya mengitari ruangan dalam sapuan biasa, memerik

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 10. Penghianatan & Cinta

    ​Freya berbaring di atas ranjang, tubuhnya masih lembap oleh peluh dan sisa-sisa peristiwa yang baru saja terjadi. Pikirannya melayang ke seribu arah, mencoba menyusun kepingan apa yang sebenarnya baru saja ia lalui. ​Di sampingnya, Logan terlelap dengan dada yang naik-turun secara tera

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 9. Gaun Malam

    ​Tuntutan dewan tempo hari masih terngiang di benak Freya, berdentum layaknya vonis mati. *Kapan sang Alpha akan memberi kami penerus?* Pertanyaan itu dilontarkan tanpa belas kasih, seolah ia tak lebih dari sekadar bejana. Sebuah rahim yang hanya menunggu untuk diisi. ​Kehinaan membakar

  • Omega Kesayangan Tuan Alpha   Bab 19. Sebuah Fitnah!

    Freya Pov.----​Dua hari...​Sudah dua hari penuh sejak mereka menyeretku ke tempat ini—dua hari yang dilewati dalam keheningan, kegelapan, dan hawa dingin yang menusuk. Dinding penjara bawah tanah ini terus merembas, udaranya pekat oleh bau apek dan keputusasaan, dan satu-satunya suara yang terde

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status