Share

One Two Three and Action
One Two Three and Action
Author: Adelia17

Adegan Mesra

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-07-03 15:53:06

Di sebuah lorong hotel bintang lima yang ada di Jakarta Pusat. Lebih tepatnya di lantai dua puluh.

Seorang pemuda dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku berpadu celana jin hitam berjalan seraya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Sesekali dia melirik dari balik kacamata hitamnya ke arah orang-orang yang memandang kagum ke arahnya.

“Hei! Apa kamu yang bernama Zayn?” Seorang perempuan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan laki-laki itu.

“Ya,” sahut Zayn dengan pandangan lurus ke arah name tag yang melingkar di leher perempuan itu.

“Oh! Astaga! Kamu benar-benar pahatan yang sangat sempurna! Aku rasa wajahmu yang mulus itu tidak memerlukan riasan lagi. Silakan masuk ke kamar nomor dua dari yang paling ujung dan lepaskan kemejamu!” ujar seorang perempuan yang praktis berjinjit sambil mencondongkan wajah ke arah telinga Zayn, “sesuai jadwal, hari ini kita hanya akan melakukan adegan dewasa.”

Dengan raut wajah dingin, Zayn kembali melangkah mengikuti instruksi. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar nomor dua, dia sempat mendengar suara dari sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Itu kamar yang paling ujung.

“Ooohhh … mmm …,” desah seorang wanita.

“Tidak perlu malu! Buka kedua kakimu lebih lebar! Lagi pula milikmu sudah basah. Aku hanya perlu memberikan sentuhan akhir.” Suara bariton terdengar samar.

“Ini pertama kalinya bagiku. Tolong lakukan perlahan! Ohhh … aaahh ….”

Zayn merasa geli mendengar suara penuh gairah itu sehingga dia memilih untuk buru-buru masuk ke dalam kamar dan langsung melakukan instruksi seseorang yang di name tag-nya bertuliskan nama Vika.

Tidak membutuhkan waktu lama.

“Kamu?!” pekik Emiko dengan mata membola. Anak dari pasangan Felix Royce dan Kirani Benz itu sangat terkejut ketika melihat Zayn, seorang pria yang sangat menyebalkan tiba-tiba muncul.

Ya, laki-laki itu menyebalkan, setidaknya menurut pendapat Emiko. Sebaliknya, kenangan yang dimiliki Zayn tentang gadis itu juga tidak terlalu baik.

“Adegan apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini?” tanya Zayn dengan tatapan tajam ke arah Emiko.

“Berbaringlah di sisinya dan kalian harus bermesraan!” jawab Roy.

“Bermesraan bagaimana maksudnya?” tanya Emiko gugup.

Tidak ada seorang pun yang memberi jawab.

Aroma kayu yang memberikan kesan sosok berkarakter dan misterius menguar seiring pergerakan Zayn masuk ke dalam selimut membuat Emiko semakin berdebar-debar. Ditambah, penampilan laki-laki itu dengan celana panjang jin berwarna hitam tanpa baju atasan, menunjukkan perut bak roti sobek, sungguh membuat gadis itu ingin pura-pura pingsan rasanya.

“Ah, hampir saja aku lupa! Ingat! Kalian harus melakukannya seolah-olah ini semua nyata. Pemeran utama pria! Bila perlu, kamu diizinkan untuk meremas dada dan mengusap puncak bukit kembarnya sampai dia mendesah kuat-kuat,” perintah Roy seraya menunjuk ke arah Emiko dengan dagunya.

“Baik! Aku mengerti,” sahut Zayn masih menatap Emiko lekat. Seolah-olah lelaki itu siap menerkamnya.

“Jangan berani-berani menyentuhku!” Emiko mengancam ketakutan.

“Pemeran utama wanita!” bentak Roy membuat seisi kamar tiba-tiba hening, “mendesahlah sekuatnya sampai kami menginginkanmu!”

Emiko hanya mengerucutkan bibir dan menahan debaran di dadanya. Gadis itu tidak menyangka peran yang harus dilakukannya itu sangat sulit. Oh, tidak hanya sulit! Itu bahkan mustahil untuk dilakukan.

Sampai samua orang menginginkannya? Emiko membatin. Dia hanya ingin pulang sekarang.

Seandainya saja, gadis itu bisa dengan tegas menolak permintaan seorang klien untuk menggantikan perannya. Seandainya saja, dia tidak merasa selalu bisa melakukan apa saja. Pasti kerumitan di dalam batinnya sekarang tidak perlu terjadi.

“Kalian semua! Bersiap!” teriak Roy melangkah menuju ke posisinya sembari memberi kesempatan pada semua orang untuk menyelesaikan persiapan mereka.

“Setelah bertahun-tahun lamanya, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Hm, dengan penampilan yang sedikit aneh,” ujar Zayn memelankan suaranya di ujung kalimat.

“Aneh?” Emiko mengulangi seraya tertawa sumbang membenarkan. Penampilan mereka saat ini memang kurang pantas untuk sebuah reuni.

“Apa kamu tahu? Aku bahkan bertanya-tanya, kelebihan apa yang membuat mereka menerimamu sebagai artis?” Zayn bertanya.

“Ya, silakan hina aku sepuasmu! Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah menjadi artis,” lirih Emiko masih belum bisa menguasai dirinya.

Zayn hanya menyeringai puas melihat bulir keringat yang membasahi kening gadis itu.

“Berapa upah yang kamu hasilkan dengan membiarkan tubuhmu disentuh oleh banyak pria?” tanya Zayn.

“Apa kamu petugas pajak?” ketus Emiko menyindir.

“Tidak perlu marah! Aku tidak benar-benar ingin tahu,” jawab Zayn sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

“Ha! Kamu tidak berubah. Selalu saja menyebalkan,” sungut Emiko.

“Semua orang! Apa kalian sudah siap? Aku sudah menunggu terlalu lama!” seru Roy angkuh.

Sang sutradara berwajah menyeramkan itu tidak berhenti memainkan pematik api di tangannya hingga tanpa sengaja Zayn melihat sesuatu yang tajam terpasang di dalamnya.

Benda apa itu? Batin Zayn bertanya-tanya.

“Apa kalian sudah siap?” tanya Kaila, asisten sutradara, seraya membenarkan letak selimut.

“Ya, kami sudah siap,” jawab Zayn kembali beralih menatap Emiko.

Kaila memberi tanda pada juru kamera agar mereka semua mempercepat persiapannya. Dia lantas segera duduk di sebelah Roy untuk melihat adegan dari jarak tertentu.

Walaupun netranya menatap lurus ke arah Emiko yang berusaha menghindari pandangannya, tetapi sudut matanya dapat menangkap kemesraan Roy dengan Kaila. Bahkan sutradara galak itu diam-diam menyusupkan tangannya ke dalam kaos sang asisten yang kebesaran.

Setelah tangannya puas memainkan ujung bukit kembar milik Kaila, Roy tiba-tiba berteriak, “Kita mulai sekarang!”

Mendengar aba-aba itu, Zayn secara otomatis menarik tubuh Emiko agar mendekat ke arahnya.

“Apa kamu tidak memakai bra?” tanya Zayn membuat Emiko terbelalak.

“Aku mengenakan strapless bra,” jawab Emiko nyaris berbisik.

“Ah, sayang sekali ….”

“Apa maksudmu sayang sekali? Bersikaplah sopan, Zayn!” geram Emiko membuat Zayn menyeringai penuh kemenangan.

Sungguh laki-laki itu ingin merendahkan Emiko yang menurutnya selalu ingin mencari perhatian.

“Pemeran utama pria dan wanita! Apa kalian mendengarku?!” teriak Roy.

“Ya, mulai saja!” jawab Zayn tenang.

“One, two, three, and … action!” seru Roy.

Zayn bergerak perlahan sambil menaikkan tubuhnya hingga terlihat memunggungi kamera. Dia lantas memajukan wajahnya seolah-olah hendak mencium, membuat gadis itu dengan cepat mendorong tubuh lelaki di sampingnya.

“Cut!” pekik Roy marah, “apa yang kalian lakukan?!”

“Zayn! Sudah kukatakan, jangan menyentuhku!” bisik Emiko penuh penekanan. Dia benar-benar tidak bisa melakukan adegan mesra bersama seorang laki-laki asing.

“Apa ada cara bermesraan tanpa bersentuhan?” tanya Zayn memasang raut wajah polos.

“Tidak begitu caranya!” jawab Emiko masih berbisik.

“Pemeran utama laki-laki! Apa kamu bisa melakukan yang aku perintahkan?” bentak Roy tidak sabar, “buat wanita disampingmu mendesah!”

“Ya, aku sedang mengusahakannya,” jawab Zayn seraya memandang gadis di hadapannya dengan seringai penuh kemenangan.

Perbincangan di antara kedua lelaki itu membuat Emiko merasa sesak dan tidak berdaya.

“Ok! Kita ulang! One, two, three, and … action!” seru Roy.

“Lingkarkan tanganmu di leherku!” perintah Zayn pelan.

Emiko merutuki dirinya yang patuh begitu saja dengan perintah lelaki itu.

Kali ini Zayn berusaha melakukannya secara alami, seolah-olah gadis itu seseorang yang sangat diinginkannya. Pun dia kembali menyentuh lembut tubuh Emiko.

“Oohhh … mmm …!” desah Emiko. Tak lupa gadis itu juga memasang raut wajah yang mendukung aktingnya.

Dari jarak sedekat itu, Zayn dapat melihat betapa mulus wajah putih Emiko dan ekspresinya sungguh menggemaskan. Hingga tanpa sadar laki-laki itu menautkan bibirnya dengan bibir gadis yang sedang mendesah di bawahnya.

Kegugupan Emiko mencair, perlahan dia mengikuti ritme permainan Zayn yang membuatnya mabuk bukan main. Sungguh, Emiko merasa pria bertubuh kekar itu tidak baik untuk kondisi jantungnya.

Selimut gairah menutupi Emiko dan Zayn. Sementara di kamar tepat disamping mereka rupanya telah terjadi sesuatu. Seseorang terkapar tak bernyawa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Adelia17
Author note: Selamat datang di novel “One Two Three and Action!” Selamat membaca!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Zayn Bertanggung Jawab

    Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan

  • One Two Three and Action   Hampir Saja

    “Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu

  • One Two Three and Action   Bahaya Mengancam

    “Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h

  • One Two Three and Action   Tidak Sengaja Bicara

    Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera

  • One Two Three and Action   Tom dan Jerry

    Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar

  • One Two Three and Action   Pengakuan Tidak Terduga

    Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status