LOGIN
Di sebuah lorong hotel bintang lima yang ada di Jakarta Pusat. Lebih tepatnya di lantai dua puluh.
Seorang pemuda dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku berpadu celana jin hitam berjalan seraya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana. Sesekali dia melirik dari balik kacamata hitamnya ke arah orang-orang yang memandang kagum ke arahnya. “Hei! Apa kamu yang bernama Zayn?” Seorang perempuan tiba-tiba sudah berdiri di hadapan laki-laki itu. “Ya,” sahut Zayn dengan pandangan lurus ke arah name tag yang melingkar di leher perempuan itu. “Oh! Astaga! Kamu benar-benar pahatan yang sangat sempurna! Aku rasa wajahmu yang mulus itu tidak memerlukan riasan lagi. Silakan masuk ke kamar nomor dua dari yang paling ujung dan lepaskan kemejamu!” ujar seorang perempuan yang praktis berjinjit sambil mencondongkan wajah ke arah telinga Zayn, “sesuai jadwal, hari ini kita hanya akan melakukan adegan dewasa.” Dengan raut wajah dingin, Zayn kembali melangkah mengikuti instruksi. Namun, sebelum masuk ke dalam kamar nomor dua, dia sempat mendengar suara dari sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Itu kamar yang paling ujung. “Ooohhh … mmm …,” desah seorang wanita. “Tidak perlu malu! Buka kedua kakimu lebih lebar! Lagi pula milikmu sudah basah. Aku hanya perlu memberikan sentuhan akhir.” Suara bariton terdengar samar. “Ini pertama kalinya bagiku. Tolong lakukan perlahan! Ohhh … aaahh ….” Zayn merasa geli mendengar suara penuh gairah itu sehingga dia memilih untuk buru-buru masuk ke dalam kamar dan langsung melakukan instruksi seseorang yang di name tag-nya bertuliskan nama Vika. Tidak membutuhkan waktu lama. “Kamu?!” pekik Emiko dengan mata membola. Anak dari pasangan Felix Royce dan Kirani Benz itu sangat terkejut ketika melihat Zayn, seorang pria yang sangat menyebalkan tiba-tiba muncul. Ya, laki-laki itu menyebalkan, setidaknya menurut pendapat Emiko. Sebaliknya, kenangan yang dimiliki Zayn tentang gadis itu juga tidak terlalu baik. “Adegan apa yang harus aku lakukan dengan gadis ini?” tanya Zayn dengan tatapan tajam ke arah Emiko. “Berbaringlah di sisinya dan kalian harus bermesraan!” jawab Roy. “Bermesraan bagaimana maksudnya?” tanya Emiko gugup. Tidak ada seorang pun yang memberi jawab. Aroma kayu yang memberikan kesan sosok berkarakter dan misterius menguar seiring pergerakan Zayn masuk ke dalam selimut membuat Emiko semakin berdebar-debar. Ditambah, penampilan laki-laki itu dengan celana panjang jin berwarna hitam tanpa baju atasan, menunjukkan perut bak roti sobek, sungguh membuat gadis itu ingin pura-pura pingsan rasanya. “Ah, hampir saja aku lupa! Ingat! Kalian harus melakukannya seolah-olah ini semua nyata. Pemeran utama pria! Bila perlu, kamu diizinkan untuk meremas dada dan mengusap puncak bukit kembarnya sampai dia mendesah kuat-kuat,” perintah Roy seraya menunjuk ke arah Emiko dengan dagunya. “Baik! Aku mengerti,” sahut Zayn masih menatap Emiko lekat. Seolah-olah lelaki itu siap menerkamnya. “Jangan berani-berani menyentuhku!” Emiko mengancam ketakutan. “Pemeran utama wanita!” bentak Roy membuat seisi kamar tiba-tiba hening, “mendesahlah sekuatnya sampai kami menginginkanmu!” Emiko hanya mengerucutkan bibir dan menahan debaran di dadanya. Gadis itu tidak menyangka peran yang harus dilakukannya itu sangat sulit. Oh, tidak hanya sulit! Itu bahkan mustahil untuk dilakukan. Sampai samua orang menginginkannya? Emiko membatin. Dia hanya ingin pulang sekarang. Seandainya saja, gadis itu bisa dengan tegas menolak permintaan seorang klien untuk menggantikan perannya. Seandainya saja, dia tidak merasa selalu bisa melakukan apa saja. Pasti kerumitan di dalam batinnya sekarang tidak perlu terjadi. “Kalian semua! Bersiap!” teriak Roy melangkah menuju ke posisinya sembari memberi kesempatan pada semua orang untuk menyelesaikan persiapan mereka. “Setelah bertahun-tahun lamanya, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi. Hm, dengan penampilan yang sedikit aneh,” ujar Zayn memelankan suaranya di ujung kalimat. “Aneh?” Emiko mengulangi seraya tertawa sumbang membenarkan. Penampilan mereka saat ini memang kurang pantas untuk sebuah reuni. “Apa kamu tahu? Aku bahkan bertanya-tanya, kelebihan apa yang membuat mereka menerimamu sebagai artis?” Zayn bertanya. “Ya, silakan hina aku sepuasmu! Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah menjadi artis,” lirih Emiko masih belum bisa menguasai dirinya. Zayn hanya menyeringai puas melihat bulir keringat yang membasahi kening gadis itu. “Berapa upah yang kamu hasilkan dengan membiarkan tubuhmu disentuh oleh banyak pria?” tanya Zayn. “Apa kamu petugas pajak?” ketus Emiko menyindir. “Tidak perlu marah! Aku tidak benar-benar ingin tahu,” jawab Zayn sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya. “Ha! Kamu tidak berubah. Selalu saja menyebalkan,” sungut Emiko. “Semua orang! Apa kalian sudah siap? Aku sudah menunggu terlalu lama!” seru Roy angkuh. Sang sutradara berwajah menyeramkan itu tidak berhenti memainkan pematik api di tangannya hingga tanpa sengaja Zayn melihat sesuatu yang tajam terpasang di dalamnya. Benda apa itu? Batin Zayn bertanya-tanya. “Apa kalian sudah siap?” tanya Kaila, asisten sutradara, seraya membenarkan letak selimut. “Ya, kami sudah siap,” jawab Zayn kembali beralih menatap Emiko. Kaila memberi tanda pada juru kamera agar mereka semua mempercepat persiapannya. Dia lantas segera duduk di sebelah Roy untuk melihat adegan dari jarak tertentu. Walaupun netranya menatap lurus ke arah Emiko yang berusaha menghindari pandangannya, tetapi sudut matanya dapat menangkap kemesraan Roy dengan Kaila. Bahkan sutradara galak itu diam-diam menyusupkan tangannya ke dalam kaos sang asisten yang kebesaran. Setelah tangannya puas memainkan ujung bukit kembar milik Kaila, Roy tiba-tiba berteriak, “Kita mulai sekarang!” Mendengar aba-aba itu, Zayn secara otomatis menarik tubuh Emiko agar mendekat ke arahnya. “Apa kamu tidak memakai bra?” tanya Zayn membuat Emiko terbelalak. “Aku mengenakan strapless bra,” jawab Emiko nyaris berbisik. “Ah, sayang sekali ….” “Apa maksudmu sayang sekali? Bersikaplah sopan, Zayn!” geram Emiko membuat Zayn menyeringai penuh kemenangan. Sungguh laki-laki itu ingin merendahkan Emiko yang menurutnya selalu ingin mencari perhatian. “Pemeran utama pria dan wanita! Apa kalian mendengarku?!” teriak Roy. “Ya, mulai saja!” jawab Zayn tenang. “One, two, three, and … action!” seru Roy. Zayn bergerak perlahan sambil menaikkan tubuhnya hingga terlihat memunggungi kamera. Dia lantas memajukan wajahnya seolah-olah hendak mencium, membuat gadis itu dengan cepat mendorong tubuh lelaki di sampingnya. “Cut!” pekik Roy marah, “apa yang kalian lakukan?!” “Zayn! Sudah kukatakan, jangan menyentuhku!” bisik Emiko penuh penekanan. Dia benar-benar tidak bisa melakukan adegan mesra bersama seorang laki-laki asing. “Apa ada cara bermesraan tanpa bersentuhan?” tanya Zayn memasang raut wajah polos. “Tidak begitu caranya!” jawab Emiko masih berbisik. “Pemeran utama laki-laki! Apa kamu bisa melakukan yang aku perintahkan?” bentak Roy tidak sabar, “buat wanita disampingmu mendesah!” “Ya, aku sedang mengusahakannya,” jawab Zayn seraya memandang gadis di hadapannya dengan seringai penuh kemenangan. Perbincangan di antara kedua lelaki itu membuat Emiko merasa sesak dan tidak berdaya. “Ok! Kita ulang! One, two, three, and … action!” seru Roy. “Lingkarkan tanganmu di leherku!” perintah Zayn pelan. Emiko merutuki dirinya yang patuh begitu saja dengan perintah lelaki itu. Kali ini Zayn berusaha melakukannya secara alami, seolah-olah gadis itu seseorang yang sangat diinginkannya. Pun dia kembali menyentuh lembut tubuh Emiko. “Oohhh … mmm …!” desah Emiko. Tak lupa gadis itu juga memasang raut wajah yang mendukung aktingnya. Dari jarak sedekat itu, Zayn dapat melihat betapa mulus wajah putih Emiko dan ekspresinya sungguh menggemaskan. Hingga tanpa sadar laki-laki itu menautkan bibirnya dengan bibir gadis yang sedang mendesah di bawahnya. Kegugupan Emiko mencair, perlahan dia mengikuti ritme permainan Zayn yang membuatnya mabuk bukan main. Sungguh, Emiko merasa pria bertubuh kekar itu tidak baik untuk kondisi jantungnya. Selimut gairah menutupi Emiko dan Zayn. Sementara di kamar tepat disamping mereka rupanya telah terjadi sesuatu. Seseorang terkapar tak bernyawa.“Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih
“Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.
“Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan
Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter
“Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara
Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk







