Inicio / Romansa / One Two Three and Action / Menginginkan Tubuh Emiko

Compartir

Menginginkan Tubuh Emiko

Autor: Adelia17
last update Fecha de publicación: 2026-07-03 15:54:05

“Apa yang kamu lakukan?!” geram Emiko penuh penekanan. Tentu dia menahan suaranya agar keluar sepelan mungkin.

“Bermesraan denganmu,” jawab Zayn dengan wajah tak bersalah.

“Singkirkan tanganmu!” tekan Emiko dengan wajah merah padam.

Tanpa merasa berdosa, Zayn kembali meremas sesuatu yang dia sentuh di bawah sana.

Empuk dan kenyal! Rasanya sangat enak untuk dipegang.

“Laki-laki mesum! Apa kamu mendengarku?!” tegur Emiko lagi.

“Ya, aku tidak tuli. Eh! Apa kamu bilang? Aku bukan laki-laki mesum! Kamu saja yang ….” Seketika Zayn terbelalak dan menunduk untuk memastikan tangannya tidak salah sentuh.

“Aku apa?” ketus Emiko.

Zayn buru-buru menyingkir dan memperbaiki posisinya agar tidak terlalu lama berada di atas gadis itu.

“Maaf. Aku kira selimut,” ucap Zayn.

Sungguh memalukan! Bagaimana bisa tangannya tiba-tiba menyentuh salah satu bukit kembar Emiko? Zayn merutuki kebodohannya di dalam hati.

“Kalian berdua! Apa kalian belum membaca naskah? Kalian itu artis! Seharusnya kalian mengerti perkataanku!” bentak Roy histeris seraya meremas rambutnya karena terlalu frustasi menghadapi dua manusia yang sedang sibuk berbisik itu.

Ternyata kehidupan dunia artis tidak mudah. Mereka harus cepat tanggap memainkan peran. Pasalnya, baik Zayn maupun Emiko sebenarnya bukan artis. Pun mereka tidak berniat untuk menjadi artis.

Hari itu, Zayn terpaksa menggantikan peran Randi, seorang teman yang memiliki pekerjaan sebagai seorang artis. Kebetulan Randi sedang ada syuting di luar negeri dan hari di mana seharusnya dia pulang ternyata hujan lebat sehingga jadwal penerbangan terpaksa ditunda.

Zayn menyetujui permintaan Randi untuk menjadi pemeran pengganti karena berniat ingin menyelidiki sebuah kasus hilangnya para artis cantik selama beberapa bulan terakhir.

Tunggu dulu! Zayn bukan detektif. Dia juga menolak disebut sebagai mafia walaupun cara timnya memberantas kejahatan cukup kejam. Laki-laki itu menyebut tiga orang anggotanya yang memiliki nama samaran yang diawali huruf T dengan nama Tthree.

Sementara Emiko yang memiliki bisnis sebagai konsultan jodoh, terpaksa memenuhi permintaan Zanna, seorang klien yang berprofesi sebagai artis.

Ya, terpaksa! Gadis itu sebenarnya ingin menolak permintaan Zanna yang tidak masuk akal. Namun, keinginan hati dan perkataannya bertolak belakang. Bisa-bisanya dia menyetujui permohonan itu demi reputasinya.

Bisa dibayangkan! Dengan alasan sedang patah hati dan tidak memiliki suasana hati yang baik untuk syuting, Zanna rela menyerahkan adegan penting yang harus dilakukannya sendiri pada seorang gadis yang tidak memiliki pengalaman akting.

Emiko merasa semua hanya seperti mimpi buruk ketika menyadari dirinya sedang berada di lokasi syuting. Penderitaannya semakin bertambah ketika dia mengetahui pemeran utama pria adalah Zayn, seorang teman yang pernah duduk di satu kelas yang sama ketika mereka berada di bangku Sekolah Menengah Atas.

“Apa kami perlu mengulanginya?” tanya Zayn berusaha untuk merespons dengan sabar.

Emiko memandang ke arah Roy dengan berdebar-debar, berharap usul Zayn ditolak.

“Tidak perlu! Kalian boleh pulang dan tentu saja tanpa menerima upah!” jawab Roy kesal.

Ingin rasanya Emiko bersorak kegirangan ketika mendengar perkataan Roy. Siapa yang butuh upah? Gadis itu hanya ingin cepat pulang.

Pun Zayn tidak pernah memikirkan masalah upah. Sedari tadi laki-laki itu fokus memperhatikan satu per satu orang di sekitarnya. Mengawasi gerak gerik mereka. Semua peralatan yang digunakan tak luput dari pandangannya.

Tanpa perlawanan, Zayn dan Emiko bangkit dari tempat tidur untuk mengenakan pakaian mereka.

Sikap Zayn dan Emiko membuat Roy melongo. Mereka seharusnya sama seperti artis yang lain. Memohon kepadanya agar diberi kesempatan untuk memperbaiki akting demi mendapatkan upah. Namun, mereka berdua justru pergi begitu saja seakan-akan sudah melakukan pekerjaan dengan baik.

“Hei! Apa kalian mendengarku? Kalian tidak akan mendapatkan upah!” teriak Roy mengulangi.

“Ya, maafkan akting kami yang buruk!” seru Emiko buru-buru mengambil tas dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian.

Sementara Zayn dengan santai mengenakan kemejanya di area wardrope di samping kamar mandi sehingga tidak ada yang tahu laki-laki itu masih berada di sana.

“Kamar sebelah sudah bersih,” ujar seseorang membuat Zayn diam dan mempertajam pendengaran.

“Pastikan tidak berbekas!” Itu suara Roy.

“Ya, sama seperti sebelumnya, kami sudah membuatnya aman,” sahut seseorang.

Tidak ada tanggapan.

Zayn mengancing kemejanya dalam diam hingga kembali mendengarkan sebuah perbincangan.

“Apa kamu mengenal pemeran utama wanita yang baru saja gagal dalam berakting?” tanya Roy.

Zayn praktis melirik ke arah kamar mandi. Apa mereka sedang membicarakan Emiko?

“Dia hanya pemeran pengganti,” jawab seorang wanita. Kalau Zayn tidak salah ingat, seharusnya itu suara Kaila.

“Aku ingin tidur dengannya,” ujar Roy.

“Lupakan! Kali ini aku yang akan melayanimu,” tegas perempuan itu.

“Kamu hanya perlu menyuruhnya menunggu sebentar sampai kamar ini kosong. Aku akan melakukannya dengan cepat. Setelah itu, kita bisa lanjut sampai pagi,” perintah Roy tidak ingin dibantah.

“Roy! Dia hanya pemeran pengganti!” pekik perempuan itu kesal.

Dari posisinya, Zayn dapat melihat Roy berlalu begitu saja meninggalkan kamar. Sedangkan dia segera mempertimbangkan niatnya untuk membantu Emiko atau tidak.

Beberapa saat sebelum Emiko keluar dari kamar mandi, Zayn memakai penyuara telinga dan berjalan keluar di antara para petugas kamera untuk menyamarkan kehadirannya. Laki-laki itu lantas berdiri di samping pintu kamar sambil memperhatikan orang-orang yang masih sibuk membereskan perlengkapan syuting.

“Tunggu!” Terdengar suara Kaila memanggil ketika Emiko membuka pintu kamar.

Tanpa berpikir panjang, Zayn langsung meraih tangan Emiko dan menariknya.

“Hei! Aku masih mau bicara dengannya!” seru Emiko. Dia merasa tidak sopan meninggalkan Kaila begitu saja.

Zayn terus menarik Emiko hingga mereka berhasil masuk ke dalam lift.

“Apa yang kamu lakukan?!” teriak Eniko kesal. Dia mendorong tubuh Zayn agar menjauh.

“Menyelamatkan kamu,” jawab Zayn pelan.

“Ha! Benar-benar tidak berubah! Selalu saja berusaha menjadi pahlawan. Dasar tukang pamer!” sungut Emiko.

“Setidaknya aku tidak suka mencari perhatian seperti kamu. Ah! Apa kamu justru ingin tidur dengan sutradara itu?” sindir Zayn.

“Jangan asal bicara, Zayn!” bentak Emiko tidak tahan, “aku jijik melihat wajah sutradara itu!”

“Itu sebabnya, aku berusaha menolongmu dan kamu menuduhku sebagai tukang pamer!” cecar Zayn.

Emiko memandang Zayn dengan tatapan tidak mengerti.

Ketika pintu lift terbuka, Zayn keluar begitu saja, mengabaikan Emiko yang menolak untuk mengucapkan terima kasih. Sedangkan gadis itu berjalan menuju pintu utama dengan hati kesal hendak mencari taxi.

Tidak disangka, mereka berdua berpapasan dengan Roy yang seketika diam melihat Emiko bukannya menunggu di kamar seperti yang diperintahkannya. Raut wajah terkejut itu tertangkap jelas oleh Zayn.

“Pemeran utama wanita! Kamu mau ke mana?” teriak Roy.

“Aku?” tanya Emiko seraya menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Ya, kamu! Urusan kita belum selesai!” jawab Roy berjalan mendekat ke arah gadis itu.

Entah hanya firasat Emiko saja atau memang benar, wajah Roy mendadak terlihat sangat menakutkan hingga membuat gadis itu praktis bergerak mundur.

“Urusan apa? Bukankah kamu sudah menyuruhku pulang?” tanya Emiko.

Roy mendekati Emiko sambil berbisik, “Aku harus mengajarkan adegan ranjang agar kamu bisa memerankannya dengan baik di kemudian hari.”

“Oh! Aku sebenarnya sudah ada janji dengannya,” ujar Emiko menoleh ke arah Zayn yang ternyata masih membeli kue yang dijual di lobby hotel.

“Berapa dia membayar tubuhmu? Aku bisa membayar lebih. Ikut saja denganku!” ajak Roy langsung menarik lengan Emiko.

“Zayn!” teriak Emiko memohon pertolongan.

Zayn yang terlanjur kesal hanya melirik sekilas ke arah Emiko.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
daffa
Untung Zain masih ada di lobi.....buruan kabur mikooooo
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • One Two Three and Action   Menghibur Eleni

    “Bali? Kamu serius akan mengajakku ke Bali? Whoa! Mimpi apa aku semalam?” tanya Eleni gembira.“Benarkah? Mengapa kamu tidak mengatakannya padaku?” Emiko ikut bertanya.Tanpa banyak bicara, Zayn hanya menunjukkan layar ponsel yang menampilkan e-tiket perjalanan ke Bali dengan business class.“Ck! Boros sekali! Bali itu dekat. Mengapa harus kelas bisnis?” ujar Eleni menyembunyikan rasa senangnya.“Agar aku bisa duduk berduaan dengan Emiko,” jawab Zayn menarik dagu istrinya paksa dan mencium bibirnya.“Astaga! Apa aku akan menjadi obat nyamuk! Pastikan aku mendapat kamar hotel dengan dinding yang tebal agar tidak mendengar suara-suara kalian saat bermesraan!” ujar Eleni sambil mengipasi wajahnya yang merona.Zayn dan Emiko hanya tertawa geli untuk menanggapi.“Kapan kita berangkat? Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu,” tanya Emiko.“Besok pagi. Hm, kita mungkin harus membawa pekerjaan ke sana. Liburan kali ini khusus untuk menghibur Eleni,” jawab Zayn.“Wah! Mengharukan! Terima kasih

  • One Two Three and Action   Dasar Suami dan Istri!

    “Zayn, kamu tadi juga melihatnya, bukan? Apa Riko tadi kesandung sesuatu? Apa yang membuatnya terpental? Aku hanya mendengar suara teriakan peringatan yang membuatku menoleh, lalu melihat seseorang berputar sampai tergeletak di lantai dan tidak bisa bangun lagi. Kejadiannya secepat cahaya. Sungguh membingungkan,” ujar Eleni menyambung perkataannya.Gadis itu masih mengunyah seraya menampilkan raut wajah kebingungan.“Entahlah. Aku hanya fokus pada Brian yang tiba-tiba mengeluarkan benda tajam. Untungnya tidak mengenaimu,” jawab Zayn masih melirik ke arah istrinya yang tetap diam.“Bagaimana keadaannya sekarang? Apa tadi kamu memanggil ambulans untuk menolong Riko?” tanya Eleni membuat Emiko bernapas lega karena pembicaraan telah teralihkan.Mata elang Zayn melihat respons Emiko, tetapi pertanyaan Eleni membuatnya refleks menjawab, “Apa kamu masih mengkhawatirkan laki-laki itu?”“Tidak tidak! Hm, aku hanya … takut kita akan disalahkan,” jawab Eleni lirih.“Aku sudah mengurus semuanya.

  • One Two Three and Action   Sabuk Hitam

    “Perempuan gila! Apa kamu siluman? Tiba-tiba datang tak diundang. Jangan kamu kira aku akan takut! Pergi sana! Jangan ikut campur masalah kami!” Dengan susah payah dan dalam keadaan terbaring di atas aspal, Riko berteriak memaki Emiko.Tubuhnya terasa seperti sudah tidak pada tempatnya lagi. Sakit bukan gambaran yang tepat karena laki-laki itu merasa sedang berada di ambang kematian dan hidup.“Huft!” Emiko meniup poninya dan memutar bola matanya malas. “Dasar licik! Bisanya main sembunyi-sembunyi untuk menyerang dari belakang. Bangunlah kalau masih mampu!”“Argh! Siapa kamu! Aku akan menuntutmu atas serangan yang kamu lakukan.” Riko masih saja marah walaupun badannya sulit digerakkan.“Tuntut saja! Siapa takut?” jawab Emiko.Di sisi lain, Zayn sudah berhasil membuat Brian melepaskan benda tajam yang dibawanya. Laki-laki itu mendadak lemas saat melihat Riko tidak berdaya. Pun dia lupa tujuannya ingin menyakiti Eleni.“Riko! Bangun, woi! Bercandamu tidak lucu!” Brian berjalan perlahan

  • One Two Three and Action   Tujuan Brian

    Raut wajah terkejut yang sangat kentara itu membuat kemarahan Eleni kembali memuncak.“Eleni? Mengapa kamu ada di sini?” Brian buru-buru mendekati gadis yang dikiranya masih berstatus sebagai kekasih itu.Eleni buru-buru mundur dan mengangkat kedua tangannya. “Stop! Cukup jelaskan dari posisimu itu, mengapa kamu menjalin hubungan denganku? Berapa upah yang kamu dapatkan dari laki-laki itu untuk membalas dendam?”“Sayang! Ayolah! Jangan menuduhku begitu!” ujar Brian membuat gadis itu seketika bergidik.“Jangan berani memanggilku dengan sebutan sayang! Itu menjijikkan!” jawab Eleni dengan tatapan tajam.“Baiklah!” Brian masih saja berusaha melangkah perlahan untuk mendekati gadis itu.“Aku bilang berhenti! Jangan mendekatiku!” teriak Eleni histeris.“Eleni, tenangkan dirimu! Mari kita bicara di unit apartment milik Riko! Bisa kamu lihat, di sini ada banyak orang,” jawab Brian seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Akan tetapi, laki-laki itu segera menghentikan perkataannya, karena ter

  • One Two Three and Action   Ketika Zayn Turun Tangan

    “Zayn?!”Emiko dan Eleni kompak melebarkan netranya karena sangat terkejut dengan kehadiran laki-laki itu.“Jangan bergerak dan jangan turun dari mobil! Aku akan duduk di bangku penumpang bagian belakang,” ujar Zayn dengan tatapan tajam ke arah Eleni yang seakan telah lupa caranya berkedip.Pun Emiko sampai belum menutup mulutnya yang sedikit terbuka sambil mengikuti arah pergerakan Zayn.Hanya dalam hitungan detik, Zayn sudah duduk di bangku penumpang bagian belakang dan segera bergeser ke tengah.“Zayn ….”“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Zayn dengan tatapan ke arah Eleni, karena gadis itu yang tadi sudah mengirimkan pesan untuk meminta izin.“Aku … itu ….” Tatapan Zayn yang mengintimidasi membuat Eleni tidak bisa berkata-kata.“Zayn, kami sedang mengintai ….”“Riko. Apa kamu mengabaikan peringatan Oma Rosa?” Zayn masih saja menatap Eleni dengan raut wajah marah.“Bukan begitu ….”“Zayn, tolong dengarkan penjelasan kami dulu!” ujar Emiko berusaha menengahi pembicaraan antara

  • One Two Three and Action   Kalian Ketahuan!

    Emiko sudah terbiasa melihat seseorang yang tadinya terlihat tenang, berubah menjadi penuh emosi. Jadi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh kilat kemarahan Eleni saat menceritakan secara detail tentang kekasihnya itu.“Makanan ini terlalu lezat untuk dinikmati dengan hati yang kesal. Makanlah terlebih dahulu! Setelah perut kenyang, pikiran akan bekerja dengan baik.” Emiko berkata.Perlu waktu sebentar bagi Eleni untuk menenangkan diri, sebelum gadis itu melanjutkan makan.“Apa kamu pernah menangani kasus rumit seperti yang aku alami?” tanya Eleni.“Banyak yang lebih rumit. Meskipun begitu, aku tidak bisa mengatakan bahwa masalah yang kamu alami ini sepele atau tidak, sebab setiap orang memiliki batas kerumitan masing-masing,” jawab Emiko.Eleni hanya mengangguk-angguk sambil berusaha mengeluarkan tulang ikan yang tidak sengaja ikut masuk ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong, apa yang kamu katakan pada suamiku untuk meminta izin?” tanya Emiko.“Aku hanya mengatakan akan menculikmu untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status