Home / Romansa / One Two Three and Action / Malam yang Panjang

Share

Malam yang Panjang

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-09-03 21:58:32

Malam hari di lokasi syuting. Lebih tepatnya di bagian loading dock.

Zayn duduk di bangku pengemudi mobil SUV berwarna hitam yang dia sewa hanya untuk malam ini seraya memandang ke arah layar laptop dengan raut wajah serius. Dia sedang meretas semua CCTV milik hotel agar tidak ada rekaman yang menampilkan tindakan kedua temannya yang membawa jenazah seorang wanita keluar dari hotel.

Sementara Dhefin dan Tama baru saja menutup pintu bagasi mobil setelah meletakkan mayat seorang wanita yang dibungkus dengan selimut putih dan segera masuk melalui pintu penumpang bagian tengah.

Tubuh yang sudah tidak bernyawa itu dicuri dari salah satu kamar hotel ketika orang-orang sedang beristirahat. Tentu saja, Dhefin dan Tama tidak mungkin membawanya saat langit masih cerah.

“Zayn, kami sudah selesai,” ujar Dhefin.

“Apa kamu sudah membawa tas kecil milik wanita itu?” tanya Tama.

Dhefin mengangkat tangan kanan untuk menunjukkan tas berwarna merah muda dengan tali rantai emas.

“Ok!” sahut Tama.

Zayn menoleh sekilas ke arah Dhefin. Dia lantas meletakkan laptop dalam keadaan setengah terbuka ke bangku penumpang di sebelahnya dan melajukan kendaraan.

“Bagaimana kalian bisa menemukan mayat wanita itu?” tanya Zayn usai melewati pos penjagaan.

“Aku bertugas untuk membersihkan kamar dan sengaja masuk ke dalam kamar yang lain untuk melihat-lihat. Tidak disangka, ada seorang wanita yang kukira sedang tidur di balik selimut. Ketika aku hendak pergi, terbersit keinginan untuk memastikan keadaannya. Ternyata benar, dia sudah tidak bernyawa,” jawab Dhefin.

“Kami secara bergantian mengawasi kamar itu agar tidak ada orang yang membawanya pergi, sesuai perintahmu,” sambung Tama.

“Herannya, tidak ada seorang pun yang masuk ke dalam kamar kosong itu,” tambah Dhefin.

“Kamu salah! Roy sempat masuk ke dalam kamar itu selama kurang lebih tiga menit dan keluar dengan santainya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa,” papar Tama.

“Benarkah? Aku tidak melihatnya,” sahut Dhefin.

Tama hanya mengangguk membenarkan perkataannya.

“Ada dua kemungkinan. Roy tidak menyadari bahwa gadis itu sudah tidak bernyawa atau dia hanya memastikan jenazah masih ada di dalam kamar itu. Ah, benar! Apa kalian sudah memeriksa identitasnya?” tanya Zayn.

“Kami sedang memeriksanya,” jawab Dhefin seraya mengeluarkan kartu identitas dari dompet milik wanita itu, “namanya Esther.”

Dengan tanggap, Tama segera meraih ponsel yang ada di dalam tas kecil itu dan melakukan pencarian nomor telepon keluarganya. Sungguh sangat beruntung, wanita itu tidak mengunci ponselnya. Pun dia menyimpan nama orang tuanya dengan panggilan papa dan mama sehingga siapa pun bisa menghubungi jika terjadi sesuatu.

Hanya dalam tiga kali nada dering, seorang wanita paruh baya menjawabnya. Tama pun berbicara secara singkat. Intinya, dia meminta pihak keluarga bertemu di laboratorium.

Hening. Tidak ada pembicaraan apa pun sesudah Tama memutuskan sambungan telepon.

Perjalanan masih membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit lagi. Cukup waktu bagi kedua sahabat Zayn untuk istirahat sejenak. Maklum saja, seharian ini mereka sangat sibuk dan bahkan tidak bisa menikmati makan siang dengan baik.

***

Sesudah memarkirkan kendaraan dengan posisi bagian belakang mobil berhadapan langsung dengan pintu utama laboratorium, Zayn segera membangunkan Dhefin dan Tama.

“Kita sudah sampai,” ujar Zayn.

“Siap!” sahut Tama dan Dhefin hampir bersamaan.

Mereka berdua segera turun dari mobil untuk mengambil jenazah dan membawa ke ruangan yang sudah diberitahukan oleh Aira sebelumnya.

Para anggota Tthree sudah terbiasa bergerak dengan cepat meskipun dalam keadaan tubuh seakan belum menginjak bumi.

Zayn mengunci pintu mobil dan menyusul kedua temannya.

Cukup lama mereka semua menunggu sampai kedua orang tua wanita itu datang.

“Perkenalkan, nama saya Zayn. Mohon maaf kalau rekan saya harus menghubungi Bapak dan Ibu saat tengah malam begini,” ucap laki-laki tampan yang terlihat kurang tidur itu.

Kedua orang tua Esther hanya mengulurkan tangan bergantian tanpa berniat memberikan jawaban. Raut wajah mereka cukup menggambarkan kebingungan serta ketakutan seolah-olah firasat buruk sudah mendahului perbincangan.

Zayn menghela napas pelan. Dia paling benci situasi seperti itu. Namun, tidak ada jalan lain selain harus menceritakan kenyataan pahit dan meminta izin untuk melakukan autopsi.

Lagi-lagi mereka beruntung karena kedua orang tua perempuan itu memercayai semua penjelasan Zayn walaupun membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sampai akhirnya setuju untuk mengikuti prosedur autopsi.

“Saya titip Esther,” ujar wanita paruh baya itu masih terisak.

“Siap,” sahut Zayn.

“Mulai sekarang, kami menyerahkan semua prosesnya pada kalian. Maaf, Om dan Tante sebaiknya menunggu hasilnya di rumah,” sambung papa Esther.

“Saya pasti akan melakukan yang terbaik dan memberi kabar,” jawab Zayn.

Sesudah mengantarkan kedua orang tua Esther sampai di pintu utama, Zayn kembali bergabung bersama kedua sahabatnya dan duduk di depan salah satu ruang laboratorium. Di sana mereka bisa melihat Aira mulai memeriksa perempuan yang sudah meninggal itu bersama dua orang asistennya. Semua aktivitas mereka di dalam ruangan itu direkam sebagai bukti.

“Aku penasaran, sudah berapa banyak gadis yang terbunuh di lokasi syuting itu? Lambat laun area itu akan menjadi horor,” celetuk Tama seraya bergidik.

“Semoga dia menjadi yang terakhir dan pergi dengan damai,” sahut Zayn menatap lurus ke arah perempuan yang sedang diperiksa.

“Aku menemukan goresan yang menyebabkan luka di pipi. Selain itu, tidak ada lebam dan luka di seluruh tubuhnya.” Suara Aira terdengar melalui alat penyuara telinga yang dikenakan oleh tim Tthree.

“Aku ingat! Roy memiliki alat pematik api dengan sesuatu yang tajam di dalamnya.” Tama berkata.

“Aku tahu itu,” sahut Zayn.

“Tadi aku sempat melihatnya dan ada setitik darah di ujung bagian benda yang tajam itu. Jangan-jangan ….”

“Wanita ini baru saja bercinta.” Suara Aira menambahkan penemuannya.

Zayn buru-buru mengaktifkan mikrofon miliknya untuk bertanya, “Apa kamu bisa mengambil contoh benih yang sudah ditanamkan di dalam tubuh wanita itu?”

Seketika Aira berhenti dan menoleh ke arah Zayn.

“Kalimatmu terlalu halus, kawan!” Tama tersenyum melihat raut wajah polos gadis kesayangannya yang masih mencerna perkataan Zayn.

“Ah! Aku mengerti. Ya, tentu saja! Ada satu informasi lagi! Wanita ini baru pertama kali melakukannya.” Aira memberi jawab seraya melanjutkan tugasnya.

“Apa wanita itu melakukannya dengan terpaksa?” tanya Zayn.

“Tidak,” jawab Aira singkat.

Zayn mematikan mikrofon miliknya agar Aira bisa fokus bekerja.

Menit demi menit berlalu. Tiba-tiba Aira menghentikan pekerjaannya dan menghela napas dalam-dalam. Sikapnya membuat para anggota Tthree praktis menegakkan tubuh.

“Aku tidak menemukan sesuatu yang aneh dengan wanita ini,” ujar Aira membuat bahu ketiga laki-laki itu terkulai lemas.

Zayn menyalakan mikrofon miliknya dan berkata, “Tidak mungkin dia meninggal begitu saja, bukan?”

“Organ-organ tubuhnya sehat,” sambung Aira.

“Apa kamu sudah memeriksa makanan atau minuman yang terakhir dia konsumsi?” tanya Zayn.

“Oh! Maafkan aku yang kurang fokus! Hari ini aku bekerja sejak pagi dan belum sempat makan malam. Kamu benar! Wanita ini minum jus strawberry. Tunggu dulu! Aku akan memeriksanya lebih lanjut,” jawab Aira bersemangat.

Tanpa aba-aba Tama langsung bangkit dan mengayunkan langkah dengan cepat. Dia berniat hendak membeli makanan untuk gadis kesayangannya itu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Tama kembali dengan satu bungkus plastik berukuran besar berisi nasi bungkus. Dia lantas membagikannya pada Zayn dan Dhefin. Tidak lupa, laki-laki tampan itu menyisakan untuk Aira dan asistennya.

“Apa ada kabar terbaru?” tanya Tama.

“Kemungkinan Esther meninggal karena reaksi alergi terhadap strawberry,” jawab Dhefin.

“Kalian sebaiknya istirahat sambil menunggu hasil pemeriksaan. Aku akan memberikan laporan sebelum waktu makan siang.” Suara Aira menyela pembicaraan para anggota Tthree.

Zayn melirik ke arah jam tangan mahalnya. Kini hari telah berganti. Memang sudah waktunya mereka semua istirahat.

“Baik! Mari kita makan dulu sebelum beristirahat!” jawab Zayn.

Aira hanya mengangguk dan segera membereskan peralatannya sebelum bergabung untuk menikmati makan malam.

Sementara itu, di dalam sebuah kamar hotel yang tadinya menjadi tempat peristirahatan terakhir wanita yang sudah dibawa oleh Dhefin dan Tama.

“Cari wanita itu sampai ketemu!” perintah Roy pada dua orang kepercayaannya dengan nada suara pelan yang penuh penekanan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Zayn Bertanggung Jawab

    Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan

  • One Two Three and Action   Hampir Saja

    “Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu

  • One Two Three and Action   Bahaya Mengancam

    “Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h

  • One Two Three and Action   Tidak Sengaja Bicara

    Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera

  • One Two Three and Action   Tom dan Jerry

    Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar

  • One Two Three and Action   Pengakuan Tidak Terduga

    Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status