Share

Zat yang Aneh

Author: Adelia17
last update publish date: 2026-09-03 21:59:09

Keesokan hari ketika matahari sudah menampakkan diri dengan gagah di atas sana.

Zayn menyerahkan kunci mobil yang disewanya pada seseorang di depan lobby hotel dan menerima kartu identitas miliknya. Dia lantas kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur.

Semalam sesudah menikmati makan malam bersama, Zayn dan kedua orang sahabatnya memutuskan untuk menginap di sebuah hotel bintang empat yang tidak jauh dari laboratorium. Mereka ingin segera beristirahat mengingat masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Hingga tiga puluh menit menjelang makan siang. Suara ponsel Zayn yang tidak berhenti berbunyi akhirnya membangunkan pemiliknya.

“Ya,” sahut Zayn dengan nada suara serak khas orang baru bangun tidur.

“Kita bertemu di laboratorium sesudah makan siang. Sekarang aku masih bersiap di apartment,” ujar Aira.

“Baik,” jawab Zayn.

Tanpa pamit, Aira memutuskan sambungan telepon. Gadis itu mengerti, Zayn pasti belum sepenuhnya sadar mengingat mereka baru selesai makan malam saja sudah lewat jam dua dini hari.

Setelah mengerjap beberapa kali hingga sadar sepenuhnya, Zayn memeriksa semua pesan yang masuk dan membalas yang kiranya penting. Tidak lupa, dia juga memerintahkan seseorang untuk mengirimkan mobil.

Zayn beranjak dari tempat tidur. Diliriknya Dhefin dan Tama yang masih terlelap. Salah satu di antara mereka ada yang tidur di atas sofa dengan kaki menggantung dan yang satu lagi tidur di kasur tambahan.

“Bangun! Berbaringlah di atas tempat tidur dan luruskan kakimu!” ujar Zayn pada Dhefin yang tidur di sofa.

“Hm, aku terlalu lelah untuk beranjak,” jawab Dhefin tanpa membuka matanya.

“Hari ini kalian berdua harus ke lokasi syuting. Aku khawatir kakimu tidak akan kuat melakukan pekerjaan berat,” sahut Zayn sambil melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

Mendengar suara pintu kamar mandi ditutup, Dhefin segera pindah ke tempat tidur dan meluruskan tubuhnya. Itu sangat nyaman.

Untuk urusan pekerjaan, Zayn memang tidak pernah main-main dan ada kalanya terkesan arogan. Namun, dia tidak pernah lupa untuk memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan baik, seperti memperhatikan waktu makan dan istirahat.

Sekitar lima belas menit kemudian, Zayn keluar dari kamar mandi dan membangunkan Tama.

“Bagaimana ini? Mataku sulit dibuka.” Tama membenarkan posisi tidurnya dalam keadaan terpejam.

“Sesudah makan siang, kalian berdua sebaiknya naik taxi yang berbeda dan kembali ke lokasi syuting. Aku akan menemui Aira,” ujar Zayn.

“Aku juga ingin bertemu Aira,” sahut Tama melantur.

Tidak menanggapi Tama, Zayn melihat-lihat menu makanan dan segera menghubungi pihak hotel untuk memesan. Dia sudah hafal kesukaan kedua sahabatnya.

Tidak membutuhkan waktu lama, Dhefin dan Tama selesai bergantian mandi. Kebetulan makan siang sudah datang. Mereka pun langsung menikmatinya.

“Aku yakin beratus-ratus persen kalau Roy yang sudah meniduri wanita itu,” ujar Tama seraya memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut. Dia memang sedang kelaparan.

“Kita bisa saja yakin kalau Roy yang tidur dengan wanita itu, tetapi belum tentu laki-laki itu juga yang membunuhnya,” sambung Zayn.

“Tidak mungkin wanita itu tidak tahu kalau dia tidak boleh menyentuh strawberry, bukan? Dia pasti sudah dipaksa,” sahut Tama.

“Jadi, apa rencana selanjutnya? Apa kita akan memaksa Roy untuk memeriksakan diri?” tanya Dhefin.

“Kita tidak punya bukti yang cukup kuat untuk memaksanya karena Esther kebetulan memiliki riwayat alergi. Lagi pula gadis itu tidak dipaksa untuk melakukan hubungan. Untuk saat ini, kalian hanya perlu mencari tahu tentang Roy,” jawab Zayn.

“Baik,” sahut Tama.

***

Sesuai rencana, setelah menghabiskan makan siang, Dhefin dan Tama menggunakan taxi online yang berbeda untuk pergi ke lokasi syuting, sedangkan Zayn menggunakan kendaraan pribadi menuju ke laboratorium.

Tepat waktu. Aira kebetulan baru tiba di ruangan. Mereka bisa langsung melaksanakan pertemuan sekarang.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Zayn tidak sabar.

“Tadi pagi ketika kalian pergi, aku menyempatkan diri untuk memeriksa wanita itu sekali lagi dan aku menemukan sesuatu yang menyebabkan wanita itu meninggal.” Aira berkata sambil tersenyum bangga.

“Apa maksudmu?” tanya Zayn.

“Coba lihat catatan ini!” jawab Aira.

Zayn membaca catatan yang diberikan gadis itu sambil mengernyit.

“Ada zat yang menyebabkan amandel membengkak hingga membuatnya kesulitan bernapas. Apa wanita itu sedang sakit tenggorokan?” tanya Zayn bingung.

“Aku menduga ada zat berbahaya yang dimasukkan ke dalam es batu yang digunakan untuk membuat jus,” jawab Aira.

“Zat itu yang membuat amandel seseorang tiba-tiba membengkak hingga mengalami sesak napas dan meninggal,” sambung Zayn.

“Tepat sekali! Hebatnya, zat itu tidak menimbulkan efek yang kentara. Aku bahkan tidak menduga amandel yang diserang.” Aira berkata.

“Terima kasih! Aku akan mencari bukti mengenai zat tersebut dan membawanya padamu,” ucap Zayn.

“Siap! Aku tunggu!” sahut Aira.

Zayn kemudian pamit dan bergegas menghubungi Andi, salah satu rekannya. Dia bukan tim inti, melainkan seseorang yang biasa membantu pekerjaan para anggota Tthree dan bergerak secara rahasia.

“Andi, aku memerlukan bantuanmu untuk melakukan pemeriksaan secara diam-diam di dapur hotel.” Zayn segera menceritakan secara singkat kejadian secara keseluruhan dan segala yang dia butuhkan.

“Berikan detail lokasinya!” sahut Andi.

“Siap!” jawab Zayn.

Sembari menunggu pergerakan lampu lalu lintas yang masih menunjukkan warna merah, Zayn mengirimkan alamat hotel tempat syuting melalui pesan w******p.

***

Sementara itu di lokasi syuting.

“Mengapa kalian semua memasang raut wajah tegang?” tanya Tama setengah berbisik.

“Hei, kamu orang baru!” Tiba-tiba Roy membentak dari arah belakang.

“Aduh! Kaget!” pekik Tama sambil mengusap dada. Kali ini dia benar-benar terkejut karena sejak kakinya menginjak lokasi syuting, suasana sangat sunyi walaupun semua kru tetap sibuk berjalan ke sana kemari.

“Apa kamu melihat seorang wanita yang kemarin datang untuk menjadi pemeran tambahan?” tanya Roy.

“Aku melihat ada beberapa wanita. Apa Anda bisa menyebutkan ciri-cirinya?” Tama balik bertanya.

“Bicara yang santai! Kamu tidak pantas bicara terlalu formal denganku,” bentak Roy.

“Anda … hm, maksudku, kamu jangan suka marah-marah! Nanti cepat tua,” jawab Tama menggoda.

“Terakhir aku melihatnya sedang bersiap di kamar itu. Jangan diam saja! Segera cari dia!” Roy menunjuk sebuah kamar kosong.

Tama menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal. Sikapnya membuat Roy semakin marah.

“Argh! Bagaimana orang bodoh seperti kamu bisa diterima bekerja di sini?” geram Roy seraya beranjak pergi dengan raut wajah frustasi.

Diam-diam Tama melirik ke arah Dhefin yang berdiri tak jauh dari posisinya. Itu kamar yang ditempati oleh Esther. Mayatnya bahkan sudah berada di laboratorium sekarang.

Roy mencari Esther. Apa dia mengira wanita itu masih hidup? Baik Tama maupun Dhefin sama-sama berbicara melalui mata mereka.

“Tunggu!” teriak Tama sebelum Roy menghilang dari pandangan.

“Apa?” tanya Roy ketus.

“Apa aku boleh memeriksa seluruh kamar? Barangkali ada petunjuk.” Tama menggunakan kesempatan itu untuk bertanya.

“Ya!” sahut Roy sambil melanjutkan langkah.

Tama tersenyum sangat tipis. Setidaknya dia memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam kamar Roy.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • One Two Three and Action   Zayn Bertanggung Jawab

    Zayn memutuskan untuk menuruti perkataan Emiko karena bagaimanapun gadis itu sudah dewasa dan tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, laki-laki tampan yang berpenampilan cukup berantakan akibat melawan Roy sebelumnya itu hanya diam.“Zayn,” panggil Emiko setelah beberapa saat suasana hening menyelimuti keduanya.“Hm,” gumam Zayn untuk menanggapi.“Terima kasih sudah menolongku,” ucap Emiko lirih.Lagi-lagi Zayn hanya berdeham seakan enggan bicara lebih banyak.“Tadinya aku berpikir waktuku di bumi ini sudah berakhir dan seseorang yang masuk dari pintu itu adalah malaikat pencabut nyawa. Tidak aku sangka, ternyata itu kamu,” sambung Emiko seraya tertawa sumbang.Zayn menatap Emiko dari arah kaca spion sambil berdecak, “Kamu bicara seolah-olah kecewa karena aku bukan malaikat pencabut nyawa.”“Bukan begitu. Ah! Sudahlah! Apa yang bisa kuharapkan darimu?” jawab Emiko masih dengan suara pelan.“Apa kamu berharap aku akan bercanda di situasi seperti ini?” tanya Zayn.“Jangan

  • One Two Three and Action   Hampir Saja

    “Ada apa?” tanya Dhefin setelah Zayn mengajukan beberapa pertanyaan yang lain dan memutuskan sambungan telepon.“Roy menyamar menjadi seorang klien dan Emiko sedang menemuinya sekarang,” jawab Zayn.“Kalau begitu, kita harus menyusulnya. Apa lagi yang kamu pikirkan?” tanya Tama seraya buru-buru mematikan mesin mobil.“Tidak bisa! Di dalam ada orang lain yang masih berkonsultasi. Pak Danu memberi kita kuasa untuk menangkap Roy, dengan syarat tidak boleh ada kekacauan,” jawab Zayn bingung.“Kita lakukan saja dengan tenang … seperti biasa,” sela Dhefin dengan gerakan tangan yang menunjuk ke arah leher.Benar! Seperti yang pernah disinggung sebelumnya, para anggota Tthree memang cukup kejam ketika membereskan masalah. Tentu saja, itu kalau diperlukan. Namun, mereka tidak ingin disebut sebagai kelompok mafia.Zayn, Dhefin, dan Tama pada dasarnya orang-orang yang baik. Hati mereka hanya mudah tergugah ketika melihat sesuatu yang tidak benar.Untuk kasus Roy, semua bisa saja terjadi tergantu

  • One Two Three and Action   Bahaya Mengancam

    “Aku bisa menghadirkan seseorang yang akan mengatakan bahwa Roy sudah tidur dengan banyak gadis,” ujar Zayn dengan tenang. Dia masih berusaha untuk menyulut agar wanita itu bisa bicara lebih banyak.“Tidak! Aku sudah memastikan kalau Roy hanya pernah tidur denganku,” jawab Zanna masih dengan penuh emosi.“Apa kamu yakin?” tanya Zayn. Dia meletakkan sebuah alat berukuran kecil di atas meja dan melihat ke arah wanita itu sebelum berniat menyalakannya.Jelas Zanna tahu benda itu dan dia memandang ke arah Zayn dengan tatapan bertanya-tanya.“Pengalamanku mengatakan, seseorang yang sangat menyukai para gadis akan dengan mudah mencampakkan mereka yang sudah berhasil dimilikinya. Aku rasa Roy juga sama. Dia pasti mengabaikan para wanita yang sudah pernah tidur dengannya,” sambung Zayn sengaja menyakiti hati Zanna.“Tidak! Roy tidak mengabaikanku!” pekik Zanna.Tidak ingin berlama-lama, Zayn menekan tombol pada alat rekaman yang dia letakkan di atas meja.Bagai kilas balik yang membuka luka h

  • One Two Three and Action   Tidak Sengaja Bicara

    Suara klakson mobil yang saling bersahutan membuat Emiko kebingungan sendiri. Pasalnya, tiga orang laki-laki yang bersamanya tadi sedang mengejar Roy dan meninggalkan mobil di tengah jalan begitu saja.Tak ingin dimaki-maki para pengemudi lebih lama lagi, Emiko bergegas melompat ke kursi bagian supir dan menepikan kendaraan. Sesudah merasa aman, dia kembali duduk di bangku penumpang bagian belakang. Tidak lupa, gadis itu mengunci mobil tanpa mematikan mesinnya.Kaburnya Roy jelas membuat Emiko khawatir. Di tengah kesendiriannya, gadis itu memikirkan semua perkataan para anggota Tthree. Dia masih belum bisa merangkai situasi yang sedang terjadi sampai kasus pembunuhan yang sempat didengarnya tadi. Akan tetapi, menurut pemikirannya, sutradara jahat itu tidak mungkin hanya sekadar ingin menculik dan membunuh.“Apa Roy membunuh semua gadis yang sudah tidur dengannya? Jangan-jangan aku menjadi target pembunuhan selanjutnya,” ujar Emiko pada dirinya sendiri. Gadis itu lantas menggeleng kera

  • One Two Three and Action   Tom dan Jerry

    Pengakuan tidak terduga yang dilakukan oleh Zanna jelas mempermudah pekerjaan para anggota Tthree.Beruntung Tama berhasil meletakkan beberapa alat penyadap di kamar yang biasa ditempati oleh Roy sebelum orang-orang yang menculik Emiko tiba di hotel. Jadi, semua pembicaraan dapat direkam dengan baik oleh Zayn, sang ahli IT yang kadang-kadang kemampuannya melebihi nalar.Awalnya, Zayn tidak berencana untuk membawa tim dari kepolisian. Akan tetapi, demi melindungi Emiko, para anggota Tthree sepakat untuk bekerja sama dengan pihak berwajib. Tidak disangka, mereka justru mendapatkan tangkapan yang lebih besar.Setelah membuat kehebohan di lokasi syuting, kini kendaraan yang ditumpangi oleh Zayn dan kedua sahabatnya sedang dalam perjalanan mengikuti mobil polisi. Tidak lupa, Emiko yang masih dalam keadaan tertidur juga ada bersama mereka. Rencananya, tim Tthree akan mengantarkan gadis itu pulang ke rumah.“Perasaan, baru saja aku menikmati peranku menjadi orang tolol di area syuting. Sekar

  • One Two Three and Action   Pengakuan Tidak Terduga

    Sore hari di area pusat kota.Emiko yang kebetulan dijemput oleh supir, mendadak merasa gelisah sampai dia berulang kali mengedarkan pandangan ke sekitar. Hingga beberapa saat kemudian gadis itu menyadari kalau seseorang sedang mengikutinya dengan menggunakan motor.“Pak Adi, kita sedang diikuti,” ujar Emiko seraya menoleh ke belakang mobil. Raut wajah gadis itu sangat panik, apalagi ketika pemilik motor sempat berhenti di sisi samping kiri dan memperhatikan dirinya.Ya! Walaupun pemilik motor menggunakan kacamata hitam, tetapi Emiko dapat merasakan sorot tajam matanya.“Jalanan sedang macet. Semua kendaraan berdesakan berharap bisa saling mendahului. Maafkan kelancangan saya, Non. Namun, rasanya tidak mungkin ada yang berniat mengikuti kita. Mungkin kebetulan saja perjalanan mereka searah,” jawab Pak Adi.“Apa Pak Adi melihat seseorang mengenakan kostum serba hitam di sebelah … kiri?” tanya Emiko seraya menoleh. Namun, yang dibicarakan sudah tidak ada.“Tidak, Non. Bapak fokus meliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status