Masuk“Ekhem. Maaf kalau Gavin menyela. Apa ada hal penting yang ingin Papa dan Om Har bicarakan?” tanya Gavin to the point dengan berani.
“Papa yang mengundang Om Hardian dan Gitsa datang kesini. Jadi, tidak ada salahnya kalau kamu dan Gitsa dekat dulu, ngobrol tentang bisnis atau apapun. Karena kalau hanya bekerja pasti akan monoton saja kan?” terang Yudistoro.
![]()
Kembali ke IndonesiaHari pertama kembali ke apartemen di Jakarta. Raline masih merahasiakan kepulangannya dari Laura. Ia berniat memberikan kejutan untuk Ibunya. Setelah bertemu dengan Nara dan menyempatkan makan siang bersama, Raline bersiap untuk menjenguk Laura dan Maria. Bahkan telepon dari Gasari, ia abaikan demi bertemu keluarganya. “Tin, kamu mau ikut kerumah orang tuaku?” tanya Raline. “Aku bisa antarkan kamu, tapi sore ini aku ada meeting untuk project film baru. Gak papa, Ral?” Jawab Justin. “Oh, yaudah aku nanti biar naik taksi aja gak papa kok. Kamu pergi aja duluan.”Raline berusaha untuk tidak merepotkan Justin lagi. Sudah dari kemarin lelaki itu membantu kepindahannya dari Australia sampai ke Indonesia. Bahkan untuk istirahat pun, Justin tidak mau sampai semua urusan dirinya selesai. “Kamu nginep disana? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Mau?” “Kayaknya gak deh, aku takut bakal banyak pertanyaan dari Mama soal kepulanganku dan soal Gavin.” “Berkabar aja nanti k
“Aku harus mengakhiri segalanya.” “Kamu yakin mampu Ral?” “Aku tidak bisa hidup dalam bayang bayang status istri Gavin lagi. Kalau dia bisa diam selama ini, maka aku yang akan memperjelas segalanya.” Justin hanya mampu mendengarkan semua keputusan Raline. Memeluk dan mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang teman. Meredam perasaannya dan sadar diri akan kehadirannya yang belum bisa menggantikan posisi Gavin dalam hati Raline. “Bantu aku, Tin. Dampingi aku melewati semua ini.” “Kamu seyakin itu?” Tanya Justin meyakinkan. Raline mengangguk dengan mata sembab. “Aku ingin memulai kehidupanku tanpa membawa status yang selama ini membebani hidupku.” ***Keesokan harinya …. Hari dimana event Elen's Charity berlangsung pukul 7 malam. YG hotel dipenuhi dengan kehadiran para tamu undangan dari brand berbagai negara. Event dimana suporter utamanya adalah GR Entertainment, salah satu bisnis milik Gavin Maheswari. Justin yang tengah sibuk memperagakan brand Elen's Man di red carpet. P
Bar Eau de vie“Aku akan membayar gelas ini. Ini sebagai gantinya.” Gavin mengeluarkan sepuluh lembar uang dollar dengan nilai tertinggi dari saku celana dan bergegas pergi membawa gelas yang dibelinya. Gelas bekas yang terdapat jejak lipstik Raline. Ditengah ramainya malam di pinggiran kota, Raline berjalan dengan langkah berat. Memegangi kepalanya sambil mencoba menyelaraskan langkahnya. Berusaha tetap melangkah tegap dengan mengenakan heels setinggi 7 cm. Heels berwarna merah maroon, warna kesukaannya. Tak! Tak! Tak! Langkah demi langkah Raline menelusuri jalan sambil berusaha tetap aman. Irama heels bertemu dengan trotoar jalan yang aman bagi pejalan kaki. Walau pandangannya sudah mulai kabur, Raline berusaha untuk segera pulang ke hotel tempatnya menginap sebelum event besok dimulai. Brak!!! Raline menabrak jejeran bak sampah.“Model macam apa yang berjalan bisa jatuh sampai menabrak tumpukan sampah?” Raline jatuh di lengan Gavin. Tubuhnya sekarang bertopang dengan tenaga le
Dari sudut depan pintu kedatangan, muncullah sosok lelaki yang selama ini menjadi benteng pertahanan Raline akan masa lalunya. Gavin Maheswari akhirnya tiba di Australia. Justin yang tahu semua akan masa lalu Raline dan Gavin, maka dirinya memahami situasi sekarang yang akan dihadapinya di depan mata. “Sini, aku bantu kamu charge energi baik.” Justin menyelipkan jarinya dengan jemari Raline. Menggandeng tangan wanita di sampingnya penuh percaya diri. “Kamu ambil semua energiku juga aku bakal serahkan semuanya.” “Kalau aku menghisap semua darahmu sampai jiwa jiwamu aku rampas. Apa kamu masih mau serahin semuanya, Tin?” goda Raline melawan tingkah random lelaki dewasa yang kini berada tepat di sampingnya. “Ambil semuanya Ral, ambil. Aku mah pasrah!” jawab Justin yakin. Raline hanya menjawab dengan senyum kelu. “Halah, gombalan mas mas indo nya mulai deh keluar semua.” Beruntung bagi Justin bisa mengalihkan perhatian Raline. Padahal sedari tadi, pandangan Justin tidak lepas dari k
Hanya bisa terdiam dan mematung. Menerima segala perasaan yang disampaikan Justin lewat kecupan hangat dan singkat. Raline tidak lagi menolak tapi tidak juga membiarkannya lebih dalam. “Aku sudah sedewasa ini, tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih jauh. Aku begitu menyukaimu, Ral.” Entah kenapa Raline tidak menolak bahkan mencoba menjauh pun tak terpikir olehnya. Perbedaan usia hampir 10 tahun membuatnya hanya berpikir sebatas senior dan junior. Justin adalah seorang model senior dan juga aktor profesional bagi Raline. “Aku minta maaf melakukan hal ini diwaktu yang tidak begitu bagus. Mungkin momen ini terlalu kaku, tapi kalau tidak sekarang mungkin ada akan kehilangan waktu lebih banyak lagi. Aku benar benar menyukaimu sebagai wanita.” “Maaf, Just.” Raline hanya bisa meminta maaf tanpa bisa memahami apa yang terjadi saat ini. “Aku tidak tahu harus berkata apa sekarang.” “Ral, aku tidak memintamu membalas perasaanku saat ini. Aku berharap setiap luka yang selama in
H-5 Event Charity Elen’s Memasuki golden hours yang begitu cantik di langit Australia. Raline sudah siap dengan pemotretan untuk event Charity. Mengenakan gaun berbahan satin berwarna champagne dengan rambut tergerai alami, membuat penampilan Raline classy namun tetap anggun. Langit begitu mendukung penampilan Raline sore itu. Axel, salah satu fotografer dari Glam Studio turut hadir untuk mendokumentasikan foto untuk agency yang masih setia menemani Raline dalam karirnya. Sudah 4 tahun terakhir Axel jadi fotografer agency yang menemani Raline setiap pemotretan di Indonesia. Atas permintaan Gasari, fotografer ajaib dengan lensanya itu pergi ke Australia untuk Raline. Suara jepretan kamera dan lampu sorot tengah mengarah ke Raline. Mengikuti setiap gerakan alami yang terkorosi dengan baik, membuat fotografer utama kagum dengan bakat foto model yang dikerjakan Raline. That's a great woman! Fotografer berasal dari Inggris itu amat mengagumi profesionalitas dari seorang model asal Ind
Gavin memiringkan senyumnya dengan tatapan tajam mengarah ke wajah Raline. Saat Gavin melangkahkan kakinya, sontak membuat Raline memundurkan posisinya menjauh. "K-kamu mau apa? Jangan macam-macam.
Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline. “Hahaha!" Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline.
"Aku akan menjaga Raline segenap jiwa, bayi mungilku tumbuh dengan sangat cantik setiap harinya. Aku akan melakukan apa saja, untuk menjauhkan Raline dari Mami Lisa …. " ***
“Buka seragam mu, sekarang!” titah Gavin. Menatap sayup wajah Aletta yang tengah sibuk mencumbu lehernya penuh gairah di sudut perpustakaan. “Ok, babe.” Aletta menuruti permintaan lelaki itu dan membuka perlahan kanci







