Home / Romansa / PAID LOVE / SAHABAT KECIL

Share

SAHABAT KECIL

Author: TISYAMAN
last update publish date: 2021-04-08 14:01:47

Belum sempat Raline berterima kasih, Devin sudah berada di depan bersiap untuk turun dari bus. Tidak lama bus kembali melaju, Raline merasakan ada yang mengganjal di atas tempat duduknya. 

Raline mengambil sesuatu yang mengganjal dengan tangannya. Sebuah buku tulis, dengan sampul polos. Raline membuka halaman awal, dan mendapati nama Devin, tertera di halaman awal. "Astaga, rupanya Devin ketinggalan buku disini," decak Raline khawatir. 

Karena Devin sudah turun terlebih dahulu dari bus, Raline memutuskan akan menyimpan buku tersebut sampai besok. Dan akan mengembalikannya besok disekolah. 

Perlahan Raline mencermati tulisan yang berjajar dengan rapi di buku milik Devin. "Tulisannya saja rapi. Enak dibaca. Sudah tampan dan pintar lagi," puji Raline membaca halaman awal buku pelajaran milik Devin. 

Wajah Raline yang sejak awal kusut menjadi sumringah saat melihat sosok Devin. Raline memutuskan untuk menyimpan buku milik Devin ke dalam tasnya dengan hati-hati. Gadis itu pun tidak sabar besok, ingin bertemu dengan Devin untuk mengembalikan buku dan berterima kasih sudah memberikannya tempat duduk di dalam bus. 

"Anak yang baik hati. Berprestasi. Benar-benar idaman sekali," gumam Raline dengan wajah tertunduk. "Dia kaya raya, tapi tidak sombong sama sekali. Mau naik bus yang penuh asap. Padahal dia sendiri, bisa pakai mobil mewahnya. Tidak seperti si Gavin, sombong sok tampan. Mesum lagi? Aish …" sambung Raline menggerutu geli, sambil menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Raline membandingkan Devin dan Gavin yang bagaikan langit dan bumi. 

Memikirkan keistimewaan seorang Devin membuat Raline terbuai. Tidak lama bus kembali berhenti, di halte terakhir dan Raline bergegas turun dari bus. Raline kembali melanjutkan perjalan menuju rumah dengan berjalan kaki. 

15 menit berjalan kaki, Raline memasuki kampung seksi. Komplek perumahan tempat Raline tinggal bersama dengan Laura dan puluhan psk lain, yang menjadi budak uang Mami Lisa. 

Lagi-lagi Raline berjalan dengan wajah tertunduk. Dengan langkah cepat, Raline memasuki kampung seksi. 

"Hey, jelek!" 

Raline berhenti saat ada yang memanggilnya dengan sebutan jelek. Wajahnya sedikit terangkat, dan menoleh ke arah samping kanan. Lebih tepatnya di depan rumah Mami Lisa ada seseorang yang berteriak memanggilnya. 

"Baru pulang, kamu?" tanya Tian. Lelaki yang memanggil Raline dengan sebutan jelek. 

"Ya," jawab Raline singkat. 

"Ketus amat? Lagi PMS, ya?" goda Tian.

"Kalau aku PMS, mau belikan pembalutnya?" Balas Raline lagi.

"Boleh. Satu truk juga aku belikan, kalau kamu mau." Tian mencibir sambil menahan tawanya.

"Ish! Bawel." Raline menggerutu. "Udah ya? aku mau pulang." 

"Nanti balas chat aku ya, jelek!" Teriak Tian bersemangat. Senyumnya lebar dan ia sangat senang bertemu dengan gadis yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama. 

Raline tidak menggubris Tian sama sekali, dan kembali melanjutkan langkahnya kembali pulang. Sedangkan Tian terus berdiri di depan gerbang rumah mewahnya, memandangi Raline. Cinta pertama Tian sejak mereka masih kecil. Ya, lelaki itu bukan menganggap gadis itu sebagai sahabat lagi. Melainkan sebagai lawan jenis yang sangat menarik. 

Tian adalah anak satu-satunya, dari Mami Lisa. Hal itulah yang membuat Raline menghindari Tian. Karena permintaan dari Mami Lisa dan Mama nya sendiri,membuat Raline harus menjauhi sahabatnya sendiri. Sedangkan Tian harus memendam cintanya kepada Raline. Mereka memutuskan untuk saling menjauh demi kebaikan mereka dan keluarga. Tentunya demi keamanan gadis itu. 

Hubungan Tian dan Raline adalah sahabat sejak mereka kecil. Tinggal di kampung seksi dan bermain disana membuat mereka semakin dekat. Sampai akhirnya Tian memilih pindah dan tinggal di apartemen karena tidak setuju dengan pekerjaan yang digeluti oleh Ibunya yang bertolak belakang dengan hati nuraninya. Ibunya menjual banyak gadis dengan harga mahal kepada lelaki hidung belang kaya raya.  

“Tian, kenapa kamu berdiri disana?” panggil Mami Lisa setengah berteriak. 

“Ah, aku lagi cari cemilan aja kok Ma,” jawab Tian langsung berlari menghampiri Mami Lisa. Dia gugup sekarang.

Mami Lisa menatap anak lelakinya dengan tatapan menyelidik. “Apaan sih, Ma? Lihat Tian gitu amat?” Tian berkelit dari tatapan Mami Lisa. 

“Kamu tidak menunggu si jelek itu ‘kan?” tanya Mami Lisa. 

Tian menggelengkan kepalanya cepat. “Udah ah, Tian lapar.” Mengalihkan pembicaraan, itulah yang Tian lakukan. Anak Mami Lisa itu pun masuk ke dalam rumah, dan menjauh dari sang Ibu agar tidak di cecar tentang Raline. 

“Anak ini, bisa-bisanya dia berbohong dengan Ibunya sendiri?” gerutu Mami Lisa menatap Tian dari kejauhan.  

Laura mengecam keras Raline dekat dengan Tian. Belum lagi Laura sangat takut jika, wajah Raline diketahui oleh Tian dan Mami Lisa. Bisa-bisa Laura kehilangan Raline jika itu terjadi. Sia-sia perjuangan Laura dan Maria selama belasan tahun menjaga rahasia besar itu. 

Bahaya besar bagi keduanya jika wajah asli Raline terbongkar kepada germo kelas kakap berdarah dingin seperti Mami Lisa. Nyawa Laura, Maria akan ikut terancam. Jangan sampai itu terjadi. 

***

Sesampainya di rumah, Raline disambut oleh Laura. “Anak Mama, kok baru pulang jam segini?” Sapa Laura memeluk Raline di depan pintu. 

Raline melepaskan pelukan Laura. Kemudian menatap wajah Laura yang tampak berbeda. “Wajah Mama pucat lagi. Apa Mama sakit lagi?” tanya Raline menyelidik. 

Laura menuntun Raline masuk ke dalam rumah, sambil membawakan tas punggung anak gadisnya. 

“Mama baik-baik aja kok, Nak. Lagian Mama kalau tidak pakai riasan kan memang pucat?” Laura berkelit. 

“Bohong. Memangnya Raline anak kecil apa, dibohongin terus? Sini,” Raline berbalik badan, dan memegangi kening Laura. “Tuh ‘kan demam? Apa Mama masih sering kram perutnya?” tanya Raline khawatir. 

“Memangnya ini demam, ya?” Laura memegangi keningnya. 

Raline melihat dengan jelas wajah Laura yang tampak pucat. Anak gadis itu bisa melihat jelas jika Mama nya tengah menahan sakit. Sudah beberapa kali, Laura sempat pingsan karena kesakitan dibagian perut. 

Namun Laura tidak ingin membuat Raline khawatir kepadanya. Apalagi tinggal satu bulan, Raline akan menjalani ujian nasional disekolah. Laura memang mengidap maag cukup parah. Perutnya sering bermasalah. Belum lagi alkohol yang harus diminum oleh Laura saat tengah melayani tamu, membuat lambung di perut Laura semakin sering menyiksanya. 

“Mama baik-baik aja kok, sayang ….” Laura memegangi wajah Raline penuh kasih sayang. 

“Maafin aku kalau membuat Mama dan Tante Maria kerepotan mengurusi Raline. Sampai Mama harus mengabaikan kesehatan Mama begini demi Raline. Tapi bisa gak, kali ini aja Mama menuruti Raline? Kita pergi ke dokter sekali aja, ya?” Raline perlahan membujuk Laura agar mau periksa ke dokter soal kondisi kesehatannya. “Raline akan temani Mama ke dokter. Setelah periksa, baru aku bisa tenang menghadapi ujian sekolah nanti. Mama mau kan, dengerin kata-kata Raline?” 

Seketika Laura memandangi kedua mata anaknya yang berkaca-kaca. Melihat Raline memohon, membuat Laura tidak bisa menolak keinginan anak gadisnya yang cantik itu. Hatinya luluh seketika. 

“Iya, nanti besok pas Mama libur kita pergi ke dokter. Tapi Raline janji, harus belajar yang rajin setelah itu.”  

Raline mengangguk yakin. Sebuah pelukan mendarat di tubuh Laura. Anak gadisnya menyergap Laura dengan erat. Dibalas oleh Laura yang membalas pelukan Raline. 

“Mama sayang Raline,” ucap Laura sambil berkaca-kaca. 

“Apalagi Raline.”  Balas Raline. 

“Udah, makan dulu sana. Mama mau siap-siap.” Laura melepaskan pelukannya. 

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAID LOVE   Gairah yang menumpuk

    Kembali ke IndonesiaHari pertama kembali ke apartemen di Jakarta. Raline masih merahasiakan kepulangannya dari Laura. Ia berniat memberikan kejutan untuk Ibunya. Setelah bertemu dengan Nara dan menyempatkan makan siang bersama, Raline bersiap untuk menjenguk Laura dan Maria. Bahkan telepon dari Gasari, ia abaikan demi bertemu keluarganya. “Tin, kamu mau ikut kerumah orang tuaku?” tanya Raline. “Aku bisa antarkan kamu, tapi sore ini aku ada meeting untuk project film baru. Gak papa, Ral?” Jawab Justin. “Oh, yaudah aku nanti biar naik taksi aja gak papa kok. Kamu pergi aja duluan.”Raline berusaha untuk tidak merepotkan Justin lagi. Sudah dari kemarin lelaki itu membantu kepindahannya dari Australia sampai ke Indonesia. Bahkan untuk istirahat pun, Justin tidak mau sampai semua urusan dirinya selesai. “Kamu nginep disana? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Mau?” “Kayaknya gak deh, aku takut bakal banyak pertanyaan dari Mama soal kepulanganku dan soal Gavin.” “Berkabar aja nanti k

  • PAID LOVE   SURAT PERCERAIAN

    “Aku harus mengakhiri segalanya.” “Kamu yakin mampu Ral?” “Aku tidak bisa hidup dalam bayang bayang status istri Gavin lagi. Kalau dia bisa diam selama ini, maka aku yang akan memperjelas segalanya.” Justin hanya mampu mendengarkan semua keputusan Raline. Memeluk dan mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang teman. Meredam perasaannya dan sadar diri akan kehadirannya yang belum bisa menggantikan posisi Gavin dalam hati Raline. “Bantu aku, Tin. Dampingi aku melewati semua ini.” “Kamu seyakin itu?” Tanya Justin meyakinkan. Raline mengangguk dengan mata sembab. “Aku ingin memulai kehidupanku tanpa membawa status yang selama ini membebani hidupku.” ***Keesokan harinya …. Hari dimana event Elen's Charity berlangsung pukul 7 malam. YG hotel dipenuhi dengan kehadiran para tamu undangan dari brand berbagai negara. Event dimana suporter utamanya adalah GR Entertainment, salah satu bisnis milik Gavin Maheswari. Justin yang tengah sibuk memperagakan brand Elen's Man di red carpet. P

  • PAID LOVE   LUKA ITU KEMBALI

    Bar Eau de vie“Aku akan membayar gelas ini. Ini sebagai gantinya.” Gavin mengeluarkan sepuluh lembar uang dollar dengan nilai tertinggi dari saku celana dan bergegas pergi membawa gelas yang dibelinya. Gelas bekas yang terdapat jejak lipstik Raline. Ditengah ramainya malam di pinggiran kota, Raline berjalan dengan langkah berat. Memegangi kepalanya sambil mencoba menyelaraskan langkahnya. Berusaha tetap melangkah tegap dengan mengenakan heels setinggi 7 cm. Heels berwarna merah maroon, warna kesukaannya. Tak! Tak! Tak! Langkah demi langkah Raline menelusuri jalan sambil berusaha tetap aman. Irama heels bertemu dengan trotoar jalan yang aman bagi pejalan kaki. Walau pandangannya sudah mulai kabur, Raline berusaha untuk segera pulang ke hotel tempatnya menginap sebelum event besok dimulai. Brak!!! Raline menabrak jejeran bak sampah.“Model macam apa yang berjalan bisa jatuh sampai menabrak tumpukan sampah?” Raline jatuh di lengan Gavin. Tubuhnya sekarang bertopang dengan tenaga le

  • PAID LOVE   BERTARUH ATAU MENYERAH

    Dari sudut depan pintu kedatangan, muncullah sosok lelaki yang selama ini menjadi benteng pertahanan Raline akan masa lalunya. Gavin Maheswari akhirnya tiba di Australia. Justin yang tahu semua akan masa lalu Raline dan Gavin, maka dirinya memahami situasi sekarang yang akan dihadapinya di depan mata. “Sini, aku bantu kamu charge energi baik.” Justin menyelipkan jarinya dengan jemari Raline. Menggandeng tangan wanita di sampingnya penuh percaya diri. “Kamu ambil semua energiku juga aku bakal serahkan semuanya.” “Kalau aku menghisap semua darahmu sampai jiwa jiwamu aku rampas. Apa kamu masih mau serahin semuanya, Tin?” goda Raline melawan tingkah random lelaki dewasa yang kini berada tepat di sampingnya. “Ambil semuanya Ral, ambil. Aku mah pasrah!” jawab Justin yakin. Raline hanya menjawab dengan senyum kelu. “Halah, gombalan mas mas indo nya mulai deh keluar semua.” Beruntung bagi Justin bisa mengalihkan perhatian Raline. Padahal sedari tadi, pandangan Justin tidak lepas dari k

  • PAID LOVE   Just, Mature

    Hanya bisa terdiam dan mematung. Menerima segala perasaan yang disampaikan Justin lewat kecupan hangat dan singkat. Raline tidak lagi menolak tapi tidak juga membiarkannya lebih dalam. “Aku sudah sedewasa ini, tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih jauh. Aku begitu menyukaimu, Ral.” Entah kenapa Raline tidak menolak bahkan mencoba menjauh pun tak terpikir olehnya. Perbedaan usia hampir 10 tahun membuatnya hanya berpikir sebatas senior dan junior. Justin adalah seorang model senior dan juga aktor profesional bagi Raline. “Aku minta maaf melakukan hal ini diwaktu yang tidak begitu bagus. Mungkin momen ini terlalu kaku, tapi kalau tidak sekarang mungkin ada akan kehilangan waktu lebih banyak lagi. Aku benar benar menyukaimu sebagai wanita.” “Maaf, Just.” Raline hanya bisa meminta maaf tanpa bisa memahami apa yang terjadi saat ini. “Aku tidak tahu harus berkata apa sekarang.” “Ral, aku tidak memintamu membalas perasaanku saat ini. Aku berharap setiap luka yang selama in

  • PAID LOVE   Sekarang atau tidak sama sekali

    H-5 Event Charity Elen’s Memasuki golden hours yang begitu cantik di langit Australia. Raline sudah siap dengan pemotretan untuk event Charity. Mengenakan gaun berbahan satin berwarna champagne dengan rambut tergerai alami, membuat penampilan Raline classy namun tetap anggun. Langit begitu mendukung penampilan Raline sore itu. Axel, salah satu fotografer dari Glam Studio turut hadir untuk mendokumentasikan foto untuk agency yang masih setia menemani Raline dalam karirnya. Sudah 4 tahun terakhir Axel jadi fotografer agency yang menemani Raline setiap pemotretan di Indonesia. Atas permintaan Gasari, fotografer ajaib dengan lensanya itu pergi ke Australia untuk Raline. Suara jepretan kamera dan lampu sorot tengah mengarah ke Raline. Mengikuti setiap gerakan alami yang terkorosi dengan baik, membuat fotografer utama kagum dengan bakat foto model yang dikerjakan Raline. That's a great woman! Fotografer berasal dari Inggris itu amat mengagumi profesionalitas dari seorang model asal Ind

  • PAID LOVE   TAKUT KEHILANGAN

    Sekarang Raline berada di kamarnya lagi bersama Gavin. Dengan sabar lelaki itu menunggu istrinya sadar. Memandangi wajah polos itu sekarang dalam keadaan pulas sekali. Sesekali Gavin mengusap wajahnya kasar. Emosinya mereda melihat istrinya baik-baik saja sekarang.

  • PAID LOVE   PLAYBOY KELAS KAKAP

    Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline. “Hahaha!" Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline.

  • PAID LOVE   CLUB HOUSE MONALISA

    "Aku akan menjaga Raline segenap jiwa, bayi mungilku tumbuh dengan sangat cantik setiap harinya. Aku akan melakukan apa saja, untuk menjauhkan Raline dari Mami Lisa …. " ***

  • PAID LOVE   SI MESUM GAVIN

    “Buka seragam mu, sekarang!” titah Gavin. Menatap sayup wajah Aletta yang tengah sibuk mencumbu lehernya penuh gairah di sudut perpustakaan. “Ok, babe.” Aletta menuruti permintaan lelaki itu dan membuka perlahan kanci

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status