LOGIN"Kamu tunggu disini," pinta Gavin pada Jamal.
"Baik, Tuan." Jamal berdiri di depan pintu gudang dan menurut saja atas perintah Gavin.
Dengan langkah berat, Gavin masuk ke dalam gudang yang temaram. Hanya ada lampu yang menyala tepat di bawah Edd tengah disekap mulutnya. Ada dua pengawal yang berjaga di samping kiri dan kanan.
“Kita mau kemana? Kan aku cuma bilang 30 menit, gak lebih!” Tanya Raline saat menyadari arah mereka pergi. “Aku lapar, mau makan.” Gavin menyahut seadanya. “What!?!” Raline terheran dengan tingkah lelaki di sebelahnya itu. Laju kemudi mobil begitu santai, bahkan tergolong pelan bagi Raline. “Vin, kita sudah sepakat untuk tidak saling bertemu lagi!” Crrriiiitt! Gavin membanting stir mobilnya mendadak. Menghentikan laju mobil seketika. Sontak Raline menutup rapat kedua matanya. Memegangi kencang lengan Gavin reflek. “GAVIN GILA!!!” “Kata siapa kita tidak akan bertemu lagi? Bagaimana bisa aku tidak bertemu denganmu? Bahkan dengan keadaan seperti ini, aku tidak tenang membiarkanmu sendirian.” Deg! Jantung Raline seperti dihantam batu keras. Desir darahnya mengalir perlahan. Entah kata-kata bagian mana yang membuatnya seketika mematung. Menatap teguh Gavin yang terlihat sendu menatap wajahnya. Ia merasakan tangan itu memegangi pipinya yang memerah padam. “Sehari gak bikin orang khaw
“Buat Raline agar bisa bekerja denganku. Jadikan dia asisten pribadiku.” “Rupanya anda belum puas menyakiti orang yang begitu menghargai anda sebagai lelaki. Dia sudah cukup banyak berjuang untuk hidupnya. Setidaknya tinggalkan dia tanpa menyakiti perasaannya,” ungkap Gasari mencoba untuk tetap tenang. “Disisiku dia akan lebih aman. Lakukan saja perintahku.” “Hm! Tidak selamanya kehidupan ini bisa sesuai dengan keinginan dan ego sendiri Tuan Gavin. Permisi,” pamitnya meninggalkan ruangan. Huft! Gasari menahan segala emosinya. Sesaat meninggalkan gedung tinggi milik Gavin, Gasari bergegas pergi kembali ke rumahnya. Rumah dimana Jelita, tinggal setelah diusir oleh suaminya, Hardian. Dimana Gasari lah yang memegang rahasia keluarga Hardian tentang Raline yang merupakan anak kandung dari Jelita. ***“Buat anak itu kesulitan menghadapi semua bantuan dari Jelita. Jangan biarkan anak itu menerima semua bantuan apapun dari Jelita. Laporkan apa saja yang dia lakukan, tanpa terkecuali deng
“Katakan padaku, itu anak siapa!” Teriak Hardian kepada istrinya. “Bisa bisanya setelah puluhan tahun kamu bilang itu anak kita? MUSTAHIL!” Sanggah Hardian tidak menerima perkataan istrinya sendiri. “Maafkan aku, tapi dia memang anak kita. Aku memang salah, tapi kenyataannya memang begitu sayang. Raline adalah anak kandung kita,” ujar Jelita dengan isak tangis. “TIDAK MUNGKIN!” Tolak Hardian mentah-mentah. “Apa dia anak lelaki miskin itu? Lelaki yang kamu cintai dulu?” Tanyanya memastikan. “Tidak, Raline memang anak kandung kita. Bukan anak orang lain! Kamu harus percaya sayang.” Brugh! Hardian mendorong Jelita agar menjauh darinya. Dunianya serasa runtuh, setelah pernikahan mereka hampir 33 tahun. Seorang lelaki berusia 57 tahun itu sulit menerima kenyataan yang terjadi. “PERGI! PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA JELITA!!!” ***** “Kenapa kalian amat sangat tidak profesional seperti ini? Bukankah aku tinggal tanda tangani kontrak kerja ini saja? Kenapa tiba-tiba kalian malah ca
Membencinya ternyata hanya membuatku semakin membuat hatiku semakin tergila gila olehnya. Aroma tubuh bahkan setiap titik tanda di tubuh serta bekas luka fisiknya pun aku mengetahui posisinya. Bahkan saat mencintainya pun membuat perasaan ini membuatku takut akan membuat hatinya kembali terluka. -Gavin Jika mimpi itu benar terjadi sekarang, maka aku anggap ini adalah hadiah bunga tidurku paling membahagiakan. Dianggap gila dan bodoh pun aku nikmati keduanya tanpa mencela kegilaanku ini. Aku menyukai setiap sentuhan dan menikmati hal tergila setelah luka paling sakit di dunia ini. Apa aku sanggup berjalan jika ini benar benar menjadi hal tergila terakhir bagi hidupku yang masih saja memikirkannya? -Raline “Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi berjanjilah dengan apa yang akan aku lakukan setelahnya, kamu tidak boleh menghindarinya apalagi menolak keberadaanku.” Gavin menyerahkan surat perceraian yang sudah diberikan tanda tangannya. “Apa lagi yang perlu harapkan dariku yang ingin
Hari dimana harusnya aku bahagia menjadi seorang wanita satu satunya milik Gavin, adalah waktu bersamaan dimana aku merasa dilecehkan oleh suamiku sendiri. Menjaga semua tubuh ini hanya untuk lelaki yang aku cintai, tapi malah dimakan habis oleh lelaki yang menyentuhku tanpa perasaan sama sekali. Dan, aku tidak akan pernah melupakan luka di hari itu. “Tidurlah bersamaku malam ini.” Wajah pasrah dan penuh harapan malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Gavin untuk memperbaiki segalanya. “Aku akan memperbaiki segalanya, terutama sikap kasarku terakhir kali kita bersentuhan.” Aliran darah Raline seakan mengalir tanpa hambatan. Panas sekujur tubuh saat mendengar semua ucapan yang terdengar gampang sekali diucapkan oleh lelaki yang menoreh luka di hidupnya. “Gav, berhenti melakukan hal yang tidak bisa lagi untuk kita perbaiki. Aku sudah terlalu lama berdiam dan menunggu semua kejelasan status, bahkan hidupku selama ini tidak jelas arahnya akan kemana? Aku kesulitan Gav, kamu harusnya
Wangi bunga bermekaran, lembut dan nyaman sekali untuk dihirup. Aroma tubuh yang masih sama dengan orang yang itu itu saja. Kulitnya yang sebelumnya putih bening, sekarang berubah lebih tan. Tampak glossy dan begitu menggoda. “Ah, sial! Berdirinya terlalu cepat!” Gavin membatin. “Aku lapar, boleh aku minta kamu memasak sesuatu untuk ku?” Pinta Gavin. “Tapi di depan tadi ada chef yang menyambut kita. Kenapa harus aku yang masak sih?” Gerutu Raline. “Aku maunya masakan dari tangan kamu, nanti aku bantu kamu memasak.” “Sakit bukannya istirahat, malah banyak minta request,” ocehnya tanpa sebab. “Aku bikin sup aja ya?” Gavin mengangguk manja. “Aku bantu ya?” “NGGAK PERLU YA, GAVIN MAHESWARI!” Dengan cekatan Raline mencoba mencari dapur yang cukup jauh dari kamar tempat Gavin beristirahat. “Ini rumah apa lapangan gold, sih? Terlalu luas untuk kami berdua.” Argh! “Raline stop! Jangan mikir hal hal gila disaat seperti ini. Aku sudah menyiapkan perceraian, jadi please otak! Berhenti b
Perawat membuka pintu yang bertuliskan nama Dr. Daniel Aksara. Laura mengangguk segan dan menebar senyum kepada perawat yang sudah membukakan pintu untuknya. Sikap urakan Laura masih kental, saat b
Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline. “Hahaha!" Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline.
"Aku akan menjaga Raline segenap jiwa, bayi mungilku tumbuh dengan sangat cantik setiap harinya. Aku akan melakukan apa saja, untuk menjauhkan Raline dari Mami Lisa …. " ***
“Buka seragam mu, sekarang!” titah Gavin. Menatap sayup wajah Aletta yang tengah sibuk mencumbu lehernya penuh gairah di sudut perpustakaan. “Ok, babe.” Aletta menuruti permintaan lelaki itu dan membuka perlahan kanci







