Home / Romansa / PAID LOVE / PLAYBOY KELAS KAKAP

Share

PLAYBOY KELAS KAKAP

Author: TISYAMAN
last update publish date: 2021-04-08 13:55:55

Ups! Decak Aletta sengaja menubruk tubuh Raline.

“Hahaha!"

Gelak tawa siswa-siswi lain riuh menertawakan si cupu nan malang Raline. Bukannya membantu malah yang lain ikut-ikutan melempari Raline dengan kertas sembari merutuki gadis itu. 

Aletta membungkukkan tubuhnya dan berbisik ke telinga Raline. “Awas aja, kalau kamu menyebarkan kejadian kemarin. Aku nggak segan-segan berjanji akan membuatmu kehilangan beasiswa disini. Bahkan bisa saja di semua sekolah. Ingat, dimanapun!” gertak Aletta yakin.

“A-aku tidak akan memberitahukan kejadian kemarin. Tidak ada untungnya juga untukku,” jawab Raline terbata-bata.

“Good girl. Tidak salah kamu dikenal dengan sebutan cupu!" Aletta menatap jijik ke arah Raline.

Dengan congkaknya Aletta kembali berdiri tegap. Tanpa rasa iba atau peduli sama sekali.  Lalu, Aletta melipat kedua tangannya di depan dada menatap sinis ke arah Raline.

“Orang miskin kayak kamu, tidak pantas berada disini!" hina Aletta. 

Tidak puas membuat Raline jatuh tersungkur, lantas Aletta dengan sengaja lagi melangkahkan kakinya dan menginjak punggung tangan gadis malang itu.

“Awwsh!"

Raline hanya bisa meringis menahan sakit. Tidak ada yang menolongnya. Tidak juga gadis itu melawan. Hanya bisa menahan rasa sakit dan menyadari posisinya saat ini yang hanya seorang siswi mengandalkan beasiswa saja.

Melihat Raline kesakitan, membuat Aletta cukup puas bermain-main. Membalas si cupu polos itu dengan kuasanya di sekolah. Kemudian Aletta berlalu begitu saja tanpa ingin sekedar meminta maaf atau peduli dengan rasa sakit yang Raline alami. 

“Keterlaluan banget. Apa salah aku coba sama dia?” rutuknya sambil merintih menahan sakit di tangannya. 

Langkah Raline tingkah sedikit lagi. Bisa lulus dengan membawa prestasi. Kemudian bisa mendapatkan lagi beasiswa ke jenjang selanjutnya, adalah harapan besar seorang Raline.

Bisa membanggakan Ibunya. Terutama bisa kuliah sambil bekerja dan menghasilkan uang agar bisa membawa keluarga kecilnya keluar dari kampung para pekerja seks komesial.

Gadis itu kembali berdiri. Membersihkan seragam dan tangannya yang kotor. Tanpa ia sadari, Gavin memperhatikan dirinya saat dikerjai oleh Aletta habis-habisan. 

“Dasar gadis bego! Kemarin aja berani melawan. Sekarang malah diam saja diperlakukan seperti itu." 

Gavin tidak habis pikir jika Raline hanya diam saja. Tidak berani melawan perbuatan Aletta. Sedangkan dengan dirinya, gadis itu malah melawan atas dasar harga diri. 

“Hey, Babe!” sapa Aletta manja.

Gavin menghampiri Aletta.

“Hai juga sayang!" Gavin membalas sapaan Aletta. Tetapi matanya terus tertuju lurus menatap Raline yang sibuk membersihkan seragamnya.

Tanpa rasa malu sama sekali, Aletta melingkarkan kedua tangannya di leher Gavin. Di balas oleh Gavin yang memegang pinggang anak konglomerat itu mesra.

Keduanya seakan tidak peduli jika mereka berada di ruang lingkup sekolah dan memakai seragam pelajar. Bukan pemandangan tabu lagi jika, di SMA ELITE yang berkuasa akan bebas melakukan apapun.

Tidak ada yang berani melapor atau melawan sosok Gavin dan Aletta sekalipun keduanya pernah di tegur keras. Namun apa daya, kedua orang tua Aletta dan Gavin memiliki kuasa di SMA ELITE. Yang satu donatur terbesar. Satunya lagi adalah pemilik saham terbesar di yayasan sekolah.

Melawan Gavin apalagi? Bisa-bisa hidup kalian tidak akan damai selama dia masih hidup.

“Aku masih pusing. Urusan kita belum selesai kemarin,” rengek Gavin ada maunya.

Pandangan tajam Gavin kembali fokus dengan Aletta saat Raline sudah pergi dari koridor sekolah.

“Ok, Babe. Pulang sekolah ya!” jawab Aletta kegirangan.

Gavin tersenyum sangat manis saat ada maunya. Ia bisa bersikap seperti seekor kucing yang menggemaskan jika ingin sesuatu. Dan akan berubah jadi serigala saat marah. Lalu Gavin juga bisa berubah jadi singa yang buas saat keinginanya tidak terpenuhi. Melahap dan mencabik siapapun tanpa ampun.

Dari pinggang, tangan Gavin beralih naik ke pundak Aletta. Mengajak pergi masuk ke kelas.

"Dasar pasangan mesum!" umpat Raline dari balik tembok. Rupannya ia belum pergi jauh.

Raline berusaha untuk menahan emosinya dan bertahan sekuat mungkin. Tidak ingin lagi berurusan dengan Aletta dan Gavin adalah pilihan terbaik baginya.

Lantas, Raline memutuskan pergi untuk membersihkan seragam dan mengobati luka di tangannya yang memar.

***

Tett!! Tett!! 

Pukul tiga sore. Bunyi bel memekik nyaring. Tanda habisnya jam pelajaran di sekolah membuat seluruh murid berhamburan keluar kelas. Raline yang berada di kelas dua belas bahasa satu masih sibuk merapikan peralatan belajarnya ke dalam tas hitam lusuh miliknya.

Di kelas hanya tersisa Raline dan beberapa murid lain, termasuk Aletta yang satu kelas dengannya. Sungguh nahas nasib si cupu yang harus menahan emosi menjadi bulan-bulanan seorang Aletta. 

Bruk!

Lagi-lagi sengaja Aletta menjatuhkan buku yang ada di tangan Raline. 

Ups! "Sorry ya cupu. Aku sengaja kok,” ledeknya puas.

Raline mencoba menahan emosinya dengan mengepalkan kedua tangan di bawah meja belajarnya.

Huft! Raline menghela nafas kasar. Dadanya  seakan sesak dan membuang nafas amarahnya.

Tidak ingin terpancing, kemudian Raline melanjutkan untuk merapikan buku ke dalam tas. Diraihnya buku yang jatuh karena ulah Aleta.

“Hahaha!"

Aletta tertawa puas sudah mengerjai si cupu Raline hari ini.

Gadis polos itu tidak habis pikir begitu kesalnya seorang Aletta kepadanya.

“Ah, sudahlah jangan terlalu memikirkan hal itu Raline. Kamu harus bisa fokus dan tetap tenang. Sabar, sebentar lagi ujian akan dimulai,” ujarnya menyemangati diri sambil mengelus dadanya yang terasa sesak. 

Setelah selesai merapikan buku-buku di dalam tas. Raline ingin menyempatkan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dengan cepat gadis polos itu melangkahkan kaki keluar kelas menuju kamar mandi yang berjarak cukup jauh dari kelasnya.

Sesampainya di kamar mandi, tiba-tiba ada suara aneh yang mendarat di pendengaran Raline. Ada perasaan tidak nyaman saat Raline memasuki kamar mandi nan mewah sekolah SMA ELITE tersebut.

Suara-suara samar menyentuh indera pendengarannya. Lenguhan dan desahan seorang wanita dari salah satu bilik yang tertutup.

Awalnya Raline ragu melanjutkan masuk dan memeriksa sumber suara yang membuatnya penasaran serta khawatir bersamaan. Siapa yang tidak tidak travelling saat mendengar suara desahan yang menggelitik. 

Raline bergidik takut. Ia khawatir jika ada seseorang yang tengah sakit mungkin. Atau sedang memerlukan bantuannya, bisa saja. Ya kan? pikirnya dalam hati

Ada rasa penasaran dan rasa takut yang berkecamuk. Bahkan ada pikiran kotor yang kembali muncul setelah kejadian kemarin saat memergoki Aletta dan Gavin tengah berbuat mesum.

Huh ….

Hhhh …

Suara desahan yang semakin terdengar jelas membuat Raline ragu. Rasa khawatir Raline semakin memuncak saat memberanikan diri mendekati bilik yang mengeluarkan suara desahan. Ia mulai menerka-nerka jika wanita yang di dalam itu adalah Aletta dan Gavin lagi. 

Apa mereka berbuat mesum lagi? pekiknya ngilu membayangkan.

Lalu, Raline memutuskan untuk berbalik kembali. Namun nahas, kakinya menendang dustbin berbahan stainles yang menggelinding ke lantai keramik mewah.

Tidak sengaja Raline menendang dustbin sampai mengeluarkan suara yang nyaring dan menggema. Membuat pasangan yang tengah berbuat mesum di bilik toilet itu terkejut.

Ugh! Sial, rutuk Raline atas kecerobohannya sendiri yang malah menendang dustbin.

Brak!

Sontak saja pintu toilet terbuka. Keluarlah sepasang muda mudi. Seorang gadis yang juga menggunakan seragam SMA ELITE sama seperti Raline.

Namun kali ini perempuan yang keluar bukanlah Aletta seperi dugaan Raline melainkan gadis lain lagi yang menjadi pasanngan mesum playboy kelas kakap bernama Gavin Maheswari. 

Gadis yang keluar dari bilik sambil berlari dan menutup wajahnya karena malu saat kepergok itu bergegas pergi meninggalkan kamar mandi. Sayangnya Raline memergoki gadis itu dalam keadaan berantakan. Kancing baju yang terbuka di bagian dada. Bahkan rambutnya terlihat acak-acakan. 

Sontak Raline kaget dengan apa yang ia lihat. Berusaha berpikir untuk positif pun sangat sulit.

Lalu, tidak lama Gavin pun keluar dengan santai. Seolah tidak terjadi hal apapun di dalam bilik kamar mandi. Berlalu tanpa merasa berdosa sama sekali.

Raline yang melihat Gavin keluar lantas kembali kaget akan apa yang barusan dilihatnya. Gadis polos itu, tidak menyangka jika Gavin bersama gadis lain lagi berbuat mesum.

Suara yang jelas Raline dengar adalah desahan dan lenguhan seorang gadis. Ia saja keluar dengan keadaan berantakan. Sadar kelakuan Gavin yang sungguh keterlaluan membuatnya tidak tahan ingin memaki. 

“Dasar playboy mesum!” serunya penuh penekanan.

Gavin sebenarnya mengacuhkan keberadaan Raline. Namun mendengar seruan si culun itu malah menghentikan langkahnya saat ingin keluar dari kamar mandi. 

Sesaat Gavin terdiam tanpa ingin membalas kalimat yang keluar dari mulut si cupu Raline. Nahas mood Gavin lagi tidak baik. Ia membalikkan badannya sambil mengeluarkan evil smile yang mengerikan. 

Mata Gavin celingak celinguk mengawasi keadaan sekitar. Tanpa pikir panjang, Gavin mengunci kamar mandi dan mengurung dirinya sendiri bersama Raline berduaan saja. 

Sontak saja Raline terkejut saat Gavin mengunci kamar mandi. Hanya ada mereka berdua. Dan sekolah sudah dalam keadaan sepi. Raline memberanikan diri, mengepalkan kedua tangannya dan ingin menerobos tubuh Gavin meski gemetaran. 

“Buka pintunya, Vin!" tandasnya keras.

Wajah Gavin yang tengil malah membuat kaki Raline lemas dan tangannya gemetaran. 

“Kamu menyuruhku?" lawan Gavin. "Atau meminta sesuatu dariku? Oh, aku tau. Kamu mau juga aku puaskan, hm?" goda Gavin

"Kamu pikir segampang itu mempermainkan banyak wanita, hm? Aku jijik melihatmu, Vin!" hardiknya melawan rasa takut.

Raline jelas penganut segala kebaikan. Meski ia berada di lingkungan para wanita binal, namun gadis polos itu sangat menjaga harkat martabatnya. Ia belajar banyak dari lingkungan yang memaksanya harus pandai menghadapi segala pelecehan kepada kaum wanita. 

Baginya wanita itu untuk di jaga dan dihormati. Bukannya malah untuk dimanfaatkan dan diperbudak oleh lelaki. Seketika ia teringat akan Ibunya dan Tante Maria yang sudah terperangkap di dunia kelam.

Gavin memiringkan senyum dengan tatapan tajam. Melangkah mendekati gadis polos itu. Sontak saja Raline memundurkan langkahnya menjauh.

"K-kamu mau apa huh?! Jangan macam-macam. Dasar otak mesum!" Cicitnya memberanikan diri melawan Gavin. Meski sulit rasanya untuk memberontak.

Tubuhnya yang jauh lebih kecil dari ukuran Gavin yang semampai. Rasanya tubuh gadis itu menciut saat berdiri di hadapan Gavin. 

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAID LOVE   21+ MIMPI GILA YANG JADI NYATA

    Hari dimana harusnya aku bahagia menjadi seorang wanita satu satunya milik Gavin, adalah waktu bersamaan dimana aku merasa dilecehkan oleh suamiku sendiri. Menjaga semua tubuh ini hanya untuk lelaki yang aku cintai, tapi malah dimakan habis oleh lelaki yang menyentuhku tanpa perasaan sama sekali. Dan, aku tidak akan pernah melupakan luka di hari itu. “Tidurlah bersamaku malam ini.” Wajah pasrah dan penuh harapan malam ini adalah kesempatan terakhir bagi Gavin untuk memperbaiki segalanya. “Aku akan memperbaiki segalanya, terutama sikap kasarku terakhir kali kita bersentuhan.” Aliran darah Raline seakan mengalir tanpa hambatan. Panas sekujur tubuh saat mendengar semua ucapan yang terdengar gampang sekali diucapkan oleh lelaki yang menoreh luka di hidupnya. “Gav, berhenti melakukan hal yang tidak bisa lagi untuk kita perbaiki. Aku sudah terlalu lama berdiam dan menunggu semua kejelasan status, bahkan hidupku selama ini tidak jelas arahnya akan kemana? Aku kesulitan Gav, kamu harusnya

  • PAID LOVE   21+ PERASAAN YANG BELUM SELESAI

    Wangi bunga bermekaran, lembut dan nyaman sekali untuk dihirup. Aroma tubuh yang masih sama dengan orang yang itu itu saja. Kulitnya yang sebelumnya putih bening, sekarang berubah lebih tan. Tampak glossy dan begitu menggoda. “Ah, sial! Berdirinya terlalu cepat!” Gavin membatin. “Aku lapar, boleh aku minta kamu memasak sesuatu untuk ku?” Pinta Gavin. “Tapi di depan tadi ada chef yang menyambut kita. Kenapa harus aku yang masak sih?” Gerutu Raline. “Aku maunya masakan dari tangan kamu, nanti aku bantu kamu memasak.” “Sakit bukannya istirahat, malah banyak minta request,” ocehnya tanpa sebab. “Aku bikin sup aja ya?” Gavin mengangguk manja. “Aku bantu ya?” “NGGAK PERLU YA, GAVIN MAHESWARI!” Dengan cekatan Raline mencoba mencari dapur yang cukup jauh dari kamar tempat Gavin beristirahat. “Ini rumah apa lapangan gold, sih? Terlalu luas untuk kami berdua.” Argh! “Raline stop! Jangan mikir hal hal gila disaat seperti ini. Aku sudah menyiapkan perceraian, jadi please otak! Berhenti b

  • PAID LOVE   PASUTRI YANG TERPISAH

    Sret!! Raline berhasil menarik masker dan topi pria misterius di depan matanya. Dan berhasil menyadari pria psikopat itu adalah seseorang yang dikenalnya sudah lama. “Tian!?!” “Hahaha!!! Kau masih mengenalku dengan baik ternyata,” ujarnya dengan senyum seringai licik. “Kau dan Si Gavin brengsek itu sudah merusak hidupku dan Ibuku!!!” Tubuh Tian mengeluarkan aroma alkohol yang begitu menyengat. Matanya penuh dengan kebencian. Semakin Raline kesakitan, membuat Tian semakin gila. Ia menciumI paksa bibir Raline. Brak! Tian berhasil membuka pintu apartemennya. Dan memaksa tubuh Raline masuk hingga jatuh ke lantai. “HENTIKAN TIAN!! PLEASE….” Raline berteriak sebisanya. Mencoba mendorong tubuh besar Tian semampunya. “GAVIN, HELP ME!!!” BLAM!!! Sebuah tendangan dari kaki jenjang membuat Tian jatuh kesamping. Tubuh besar Tian sudah menghimpit Raline yang terkapar di lantai. “MENJAUH DARI ISTRIKU BRENGSEK!!!” BUGH! Pukulan keras menghantam wajah Tian. Tubuhnya yang berusaha bangkit k

  • PAID LOVE   PRIA MISTERIUS

    Zhassshh! Gavin keluar dari kolam renang yang hanya mengenakan celana pendek. Dengan badan yang basah, ia keluar untuk duduk di kursi panjang di tepi kolam. Kepalanya terasa berat, namun pikirannya ranum setelah bekerja seharian penuh. Fiuh! Nafasnya terasa berat saat merebahkan tubuh basahnya di atas kursi. Rasanya ada yang membebani perutnya. “Raal-Raline?” Cup! Rasanya hangat dan lembut. Kecupan manis Raline membuat jantungnya berderu sangat cepat. Badannya yang masih basah seketika membuatnya kedinginan di malam yang hangat. “Kau bisa basah, sayang!” Ucap Gavin khawatir. “Aku sudah basah terlebih dahulu kok,” jawab Raline lembut.Degh! Wajah Gavin merona mendengar jawaban manis dari Raline. Rasanya aku seperti seekor ikan yang tengah kena pancingan berbahaya dari istri sendiri. Tanpa pikir panjang, Gavin meletakkan tangannya di ceruk Raline. Menariknya untuk mendekatkan wajah wanita itu mendekat dengannya. Nafas Raline membuat tubuhnya semakin terasa panas dan penuh gairah. T

  • PAID LOVE   Gairah yang menumpuk

    Kembali ke IndonesiaHari pertama kembali ke apartemen di Jakarta. Raline masih merahasiakan kepulangannya dari Laura. Ia berniat memberikan kejutan untuk Ibunya. Setelah bertemu dengan Nara dan menyempatkan makan siang bersama, Raline bersiap untuk menjenguk Laura dan Maria. Bahkan telepon dari Gasari, ia abaikan demi bertemu keluarganya. “Tin, kamu mau ikut kerumah orang tuaku?” tanya Raline. “Aku bisa antarkan kamu, tapi sore ini aku ada meeting untuk project film baru. Gak papa, Ral?” Jawab Justin. “Oh, yaudah aku nanti biar naik taksi aja gak papa kok. Kamu pergi aja duluan.”Raline berusaha untuk tidak merepotkan Justin lagi. Sudah dari kemarin lelaki itu membantu kepindahannya dari Australia sampai ke Indonesia. Bahkan untuk istirahat pun, Justin tidak mau sampai semua urusan dirinya selesai. “Kamu nginep disana? Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Mau?” “Kayaknya gak deh, aku takut bakal banyak pertanyaan dari Mama soal kepulanganku dan soal Gavin.” “Berkabar aja nanti k

  • PAID LOVE   SURAT PERCERAIAN

    “Aku harus mengakhiri segalanya.” “Kamu yakin mampu Ral?” “Aku tidak bisa hidup dalam bayang bayang status istri Gavin lagi. Kalau dia bisa diam selama ini, maka aku yang akan memperjelas segalanya.” Justin hanya mampu mendengarkan semua keputusan Raline. Memeluk dan mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang teman. Meredam perasaannya dan sadar diri akan kehadirannya yang belum bisa menggantikan posisi Gavin dalam hati Raline. “Bantu aku, Tin. Dampingi aku melewati semua ini.” “Kamu seyakin itu?” Tanya Justin meyakinkan. Raline mengangguk dengan mata sembab. “Aku ingin memulai kehidupanku tanpa membawa status yang selama ini membebani hidupku.” ***Keesokan harinya …. Hari dimana event Elen's Charity berlangsung pukul 7 malam. YG hotel dipenuhi dengan kehadiran para tamu undangan dari brand berbagai negara. Event dimana suporter utamanya adalah GR Entertainment, salah satu bisnis milik Gavin Maheswari. Justin yang tengah sibuk memperagakan brand Elen's Man di red carpet. P

  • PAID LOVE   TAKUT KEHILANGAN

    Sekarang Raline berada di kamarnya lagi bersama Gavin. Dengan sabar lelaki itu menunggu istrinya sadar. Memandangi wajah polos itu sekarang dalam keadaan pulas sekali. Sesekali Gavin mengusap wajahnya kasar. Emosinya mereda melihat istrinya baik-baik saja sekarang.

  • PAID LOVE   ONE NIGHT STAND

    Perawat membuka pintu yang bertuliskan nama Dr. Daniel Aksara. Laura mengangguk segan dan menebar senyum kepada perawat yang sudah membukakan pintu untuknya. Sikap urakan Laura masih kental, saat b

  • PAID LOVE   BENCI

    Keesokan harinya.Raline bersiap seperti biasa. Mengubah wajah cantiknya menjadi jelek, sebelum keluar dari rumah. Lalu mengen

  • PAID LOVE   SAHABAT KECIL

    Belum sempat Raline berterima kasih, Devin sudah berada di depan bersiap untuk turun dari bus. Tidak lama bus kembali melaju, Raline merasakan ada yang mengganjal di atas tempat duduknya. Raline me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status