Share

PAK BOS MAU CLBK
PAK BOS MAU CLBK
Author: Siez

1 - $200.000

Author: Siez
last update publish date: 2026-07-23 12:12:33

New York.

Rachel Vels tidak pernah merasa sekecil ini di dalam gedung Winston Tower. Lantai 60. Semua dindingnya kaca, semua orangnya memakai jas seharga uang kuliahnya setahun.

Dia dipanggil kesini bukan oleh Gerard, tapi oleh sekretaris ibunya Gerard.

"Ms. Rachel Vels?" Seorang wanita berambut cepak menyambutnya dingin. "Mrs. Winston sudah menunggu di dalam."

Jantung Rachel berdegup kencang. Selama 2 tahun pacaran dengan Gerard Winston, dia belum pernah sekalipun bertemu orang tuanya. Gerard selalu bilang, "Nanti, kalau aku sudah jadi Vice President, baru aku kenalkan kamu. Biar mereka tidak bisa meremehkanmu."

Dan hari ini, tanpa Gerard tahu, mereka memanggilnya duluan.

Pintu kayu raksasa itu terbuka.

Di dalam, bukan satu, tapi dua orang. Seorang pria tua berwibawa dengan jas hitam, Richard Winston, dan seorang wanita yang cantiknya seperti patung es, Tamara Winston. Ibunya Gerard. Matanya persis seperti Gerard, tapi tidak ada hangatnya sama sekali.

Rachel menunduk sopan. "Selamat siang, Mr. Winston, Mrs. Winston..."

"Duduk," potong Tamara. Bahkan tidak menyuruhnya duduk dengan kata silakan.

Rachel duduk di ujung sofa, kaku. Tas ransel lusuhnya dia peluk erat.

Tamara meletakkan sebuah map coklat tebal di meja marmer di depan Rachel, dengan bunyi brak yang keras.

"Kami tidak akan berbasa-basi, Rachel," kata Tamara, senyumnya tipis dan merendahkan. "Kami tahu kamu pacaran dengan anak kami, Gerard. Sudah dua tahun, ya?"

Rachel mengangguk pelan. "Iya, Tante..."

"Kami tahu semuanya tentang kamu," Richard menimpali, suaranya berat. "Mahasiswi beasiswa di NYU. Ibu bekerja sebagai cleaning service di Queens. Dan ayah..." Dia berhenti sejenak, menatap Rachel tajam. "Ayahmu Frank Vels. Pemabuk dan penjudi. Hutangnya di mana-mana. Minggu lalu bahkan digebuki oleh debt collector di bar Bronx, benar?"

Wajah Rachel langsung pucat pasi. Darahnya seakan berhenti mengalir. 'Bagaimana mereka bisa tahu?'

Tamara tertawa kecil, tawa yang kejam. "Lihat wajahmu. Kamu kaget? Sayang, kami adalah keluarga terkaya di New York. Tidak ada yang tidak bisa kami cari tahu."

Tamara mendorong map itu ke depan Rachel.

"Buka."

Dengan tangan gemetar, Rachel membuka map itu. Isinya foto-foto. Foto ayahnya yang mabuk tergeletak di jalan. Foto surat tagihan hutang ayahnya yang totalnya $87.000. Foto ibunya yang sedang mengepel lantai di gedung orang. Dan foto dia dan Gerard yang sedang berpelukan di kantin kampus, tertawa bahagia.

Air mata Rachel langsung menggenang.

"Rachel," kata Tamara, kini suaranya lebih dingin lagi. "Kamu gadis pintar. Kamu pasti tahu, kita ini tidak selevel. Winston tidak akan pernah bersanding dengan Vels. Gerard itu akan mewarisi semua ini. Dia akan menikah dengan wanita selevel kami, seperti Alysa Laurent, putri pemilik bank terbesar. Bukan..." Tamara melirik penampilan Rachel dari atas ke bawah, "...bukan gadis beasiswa dengan ayah pemabuk dan penjudi."

"Apa kamu mau Gerard ikut terseret?" Richard menambahkan. "Kamu mau anakku yang masa depannya cerah itu harus ikut membayar hutang ayahmu? Harus menanggung malu punya mertua pemabuk? Kamu mau Gerard jadi bahan tertawaan di kalangan high society karena istrinya adalah anak dari cleaning service?"

Setiap kata seperti pisau yang mengiris jantung Rachel.

"Tidak... aku tidak pernah..." Rachel terisak. "Aku cinta sama Gerard..."

"Cinta?" Tamara memotong. "Cinta tidak bisa bayar hutang $87.000 itu, sayang."

Tamara lalu mengeluarkan satu lembar cek dari tas Hermes-nya. Dia menuliskan angka dengan cepat dan meletakkannya di atas foto-foto itu.

$200.000

"Ini cukup untuk melunasi semua hutang ayahmu, dan sisa untuk ibumu berobat dan pindah dari apartemen kumuh itu," kata Tamara. "Syaratnya satu."

Rachel menatap cek itu dengan air mata bercucuran.

"Tinggalkan Gerard. Putuskan dia. Dengan cara sekejam mungkin biar dia benci kamu dan tidak mencari kamu lagi. Dan pergi dari New York. Terserah kamu mau ke mana, ke California, ke Texas, ke neraka pun aku tidak peduli. Yang penting jangan pernah dekati Gerard lagi. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."

Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar isak tangis Rachel yang tertahan.

Kalau dia tolak, ayahnya bisa mati dibunuh penagih hutang. Ibunya bisa dipecat. Gerard akan hancur kalau tahu kebusukan keluarganya.

Kalau dia terima, dia harus menghancurkan hati pria yang paling dia cintai di dunia ini dengan tangannya sendiri.

Tamara berdiri, merapikan mantel bulunya.

"Kamu punya waktu 24 jam. Setelah itu, penagih hutang itu akan datang lagi ke rumah ayahmu. Dan kali ini bukan cuma gebukan. Kamu pilih, Rachel. Cinta egoismu, atau nyawa keluargamu."

Tamara dan Richard meninggalkan Rachel sendirian di ruangan mewah itu, bersama map penuh aib dan cek yang bisa menyelamatkan keluarganya.

Rachel akhirnya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya di lantai 60 gedung tertinggi, merasa menjadi manusia paling kotor dan hina di New York.

Di luar jendela, salju pertama mulai turun. Dan di ponselnya, ada chat masuk dari Gerard.

Gerard: Sayang, kamu dimana? Aku sudah di kantin nungguin kamu. Kangen.

Rachel menatap chat itu, lalu menatap cek di tangannya.

"Aku harus apa, Gerard?" 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PAK BOS MAU CLBK   86 - Kembali Ke Kara Farm

    "Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Rachel juga tak tahu harus berbuat apa."Hmm ... lebih baik kita ganti nama Rachel saja. Mungkin dengan mengganti namanya, Gerard akan sulit mengingat." usul Pak Osborn."Ide Bagus.""Lalu, nama apa yang kamu suka, Rae?" tanya Vincent."Venetta?""Baiklah. Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Venetta atau Netta?"Rachel menganggukkan kepalanya.Bahkan sekarang, Pak Osborn sudah memerintahkan semua pegawainya untuk memanggil nama Netta saja kepada Rachel.*Keesokan harinya, jam tujuh pagi. Gerard sudah keluar dari rumah sakit. Rasa penasarannya akan Vincent sudah tak terbendung lagi. Bahkan semalaman, ia sulit tidur.Ia menumpang truk pickup petani yang kebetulan lewat, yang mau ke Millfield untuk menjual susu."Anak kota mau apa ke Millfield pagi-pagi begini?" tanya petani tua itu sambil menyetir."Mau ketemu seseorang, Pak" jawab Gerard singkat.D

  • PAK BOS MAU CLBK   85 - Dan Kalau Dia Kembali Lagi?

    Kara Farm"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat."Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae...""Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"Vincent menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa bohong lagi kepada Rachel."Oke... oke aku jujur..."Vincent menatap Rachel, lalu menatap Ibu Kara dan Pak Osborn."Tadi Gerard tanya aku, apa aku kenal dia. Dia curiga aku bohong. Terus aku bilang... aku bilang...""Apa, Vin? Bilang apa?" tanya Rachel dengan cemas."Aku bilang kalau aku sudah janji sama seseorang untuk tidak mengatakan apapun kepada dia. Tapi kalau kamu mau tahu yang sebenarnya tentang masa lalunya mak

  • PAK BOS MAU CLBK   84 - Gerard Cari Alasan

    "Tapi, kamu harus tetap ditemani oleh Elena. Takutnya ada masalah dan tak ada yang membantu kamu. Takutnya pingsan lagi dan tidak ada yang tahu, Ger." Tamara berkata itu sambil meremas tas Hermes-nya erat. Matanya tidak lepas dari wajah anaknya yang masih terlihat pucat itu.Elena langsung mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. Ia langsung meraih tangan Gerard yang terpasang infus."Iya, Tante. Aku temani Gerard di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sini juga tak apa-apa."Gerard menarik tangannya pelan. Tidak kasar, tapi tegas.Lalu pria itu berkata, dengan suara yang lebih tegas lagi, bahkan urat di lehernya sedikit menegang. "Aku butuh sendiri saja, Ma. Tenang saja, aku tak akan kemana-mana. Aku hanya butuh sendiri. Berikan aku waktu untuk istirahat sendirian."Ruangan IGD bed 3 yang hanya dibatasi tirai tipis itu langsung hening. Suara berisik dari bed sebelah jadi terdengar jelas.Tamara ragu. Alisnya mengernyit."Sendiri? Di rumah sakit kecil seperti ini? Sendiri ba

  • PAK BOS MAU CLBK   83 - Kebohongan

    Gerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas

  • PAK BOS MAU CLBK   82 - Apa Ingatanmu Sudah Pulih?

    "Tekanan darah cukup tinggi, 148 tadi. Stres tinggi, kurang istirahat, banyak pikiran, dan juga terlalu sering makan obat insomnia dan pain killer. Kombinasi itu membuat sistem sarafnya sensitif. Jika ada satu pemicu saja, bisa membuat Gerard kehilangan kesadaran. Pemicu itu bisa banyak: kelelahan, udara dingin, emosi, atau kelelahan mental. Sinkop vasovagal karena stres."Tamara langsung menatap Elena dengan tajam."Stres tinggi? Kurang istirahat? Terlalu sering makan obat insomnia? Elena, kamu kan tunangannya, kamu tidak jaga dia?"Elena tertunduk. Bahkan dia sendiri tak tahu apa saja obat yang sering dimakan oleh Gerard. Pria itu tak pernah memberitahukannya. Bahkan saat Elena ingin pindah ke apartemen Gerard saja, pria itu tak mau. Dia butuh waktu sendiri."Aku sudah suruh dia istirahat, Tante... tapi dia tidak mau..."Dr. Arasto menepuk bahu Elena."Bukan salah kamu, Elena. Ini akumulasi. Gerard ini memang sejak operasi selesai da

  • PAK BOS MAU CLBK   81 - Gerard Di Rumah Sakit

    Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status