LOGINApartemen petak di Bronx itu terasa lebih sempit daripada biasanya pada malam itu.
Bau apek dari dinding yang lembap bercampur dengan bau alkohol murahan yang menyengat dari ruang tamu. Di luar jendela yang kacanya retak, suara sirene polisi New York meraung-raung, menjadi musik latar yang akrab bagi warga Bronx. Namun, bagi Rachel Vels yang sedang duduk bersila di lantai kamarnya yang dingin, dunia di luar jendela itu seolah-olah telah berhenti berputar.
Di hadapannya, di atas lantai kayu yang sudah lapuk, tergeletak dua buah benda.
Benda pertama adalah selembar cek dari Chase Bank. Cek itu tampak sangat bersih, sangat putih, dan sangat kejam. Di sudut kanannya, tertulis angka dengan tinta hitam yang tegas: $200.000. Di bawahnya, ada tanda tangan yang anggun dan tajam: Tamara Winston. Dua ratus ribu dolar. Jumlah yang tidak pernah dilihat Rachel seumur hidupnya. Jumlah yang bisa melunasi semua utang judi ayahnya, membiayai operasi katarak ibunya, dan membawa mereka pindah dari apartemen yang dipenuhi kecoa ini. Dan bahkan, Rachel bisa bersekolah di tempat lain dengan fasilitas yang sangat baik. Bukan hanya itu saja, ia bisa memulai usaha untuk kedua orang tuanya.
Benda kedua adalah sebuah ponsel dengan layar yang sudah retak di ujungnya. Ponsel pemberian Gerard setahun yang lalu karena ponsel lama Rachel rusak. Layar ponsel itu menyala, menampilkan deretan pesan W******p yang belum terjawab. Pesan-pesan dari satu nama yang menjadi pusat seluruh dunianya selama dua tahun terakhir: Gerard Winston.
Gerard: Kamu di mana? Aku sudah dari tadi menunggu kamu di kantin. Aku membawakan sandwich tuna kesukaan kamu. Kamu bilang kamu lapar sehabis kelas Metodologi Penelitian, kan?
Gerard: Sayang? Kamu tidak membalas. Kamu baik-baik saja?
Gerard: Aku agak khawatir. Ayah kamu baik-baik saja? Tadi pagi kamu bilang debt collector datang lagi.
Rachel membaca pesan-pesan itu berulang kali. Setiap kata dari Gerard seperti sebuah pisau kecil yang mengiris jantungnya secara perlahan. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Ia tidak lagi menangis sesenggukan. Ia menangis dalam diam, dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya, dagunya, hingga jatuh ke atas cek seratus ribu dolar itu.
Ingatan siang tadi di lantai 60 Winston Tower masih sangat jelas, sejelas luka baru yang masih menganga.
Bagaimana Tamara Winston, dengan mantel bulu cerpelai dan kalung berliannya, melemparkan sebuah map cokelat ke hadapannya. Bagaimana Richard Winston, ayah Gerard, menatapnya seolah-olah ia adalah sampah yang tidak sengaja masuk ke dalam gedung mereka yang megah.
"Kami sudah menyelidiki semua tentang kamu, Rachel," kata Tamara siang tadi dengan senyum yang lebih dingin daripada es di Central Park.
Dan kalimat yang paling menghancurkan adalah kalimat terakhir Tamara sebelum ia pergi.
"Apa kamu mau Gerard ikut terbawa, Rachel? Apa kamu mau masa depan cerah anak saya hancur karena harus membayar utang ayah kamu yang pemabuk itu? Cinta kamu itu egois."
Kata-kata itu terus berputar-putar di kepala Rachel seperti kaset rusak.
Apakah cintanya egois?
Pintu depan apartemen yang terbuat dari triplek itu tiba-tiba didobrak dengan kasar dari luar. Bunyi debumannya membuat Rachel terlonjak kaget.
"RACHEL! MANA UANGNYA! MEREKA DATANG LAGI TADI! MEREKA BILANG BESOK KALAU AKU TIDAK MEMBAWA DUA PULUH RIBU DOLAR, MEREKA AKAN MEMOTONG DUA JARI TANGAN KIRI KU!"
Itu suara Frank Vels, ayah Rachel. Pria itu masuk dengan sempoyongan, tubuhnya limbung. Matanya merah padam, napasnya bau alkohol dan rokok murahan. Pelipis kirinya masih terdapat darah kering yang belum dibersihkan, luka akibat dipukuli tadi siang. Kemeja flanelnya robek di bagian lengan.
Melihat kondisi ayahnya seperti itu, Rachel tidak merasakan marah. Yang ia rasakan adalah rasa sakit yang luar biasa dan rasa bersalah yang mendalam. Seburuk apa pun ayahnya, pria itu tetaplah ayahnya. Pria yang dulu mengajarinya naik sepeda di taman kecil di Queens, pria yang dulu membacakan dongeng sebelum tidur, sebelum judi menghancurkan semuanya.
"Frank! Hentikan! Jangan bentak Rachel!"
Ibu Rachel, Maria Vels, berlari dari dapur kecil yang hanya berukuran dua kali dua meter. Wanita berusia lima puluh tahun itu tampak jauh lebih tua dari usianya. Rambutnya yang mulai beruban diikat asal-asalan, tangannya kasar dan pecah-pecah karena setiap hari harus mengepel dan menggosok lantai gedung-gedung mewah di Manhattan sebagai cleaning service. Wajahnya pucat karena kelelahan bekerja enam belas jam sehari.
"Rachel, maafkan ayahmu, Nak..." Ibu memeluk Rachel dari belakang, tubuh ibunya yang kurus gemetar. "Dia tidak bermaksud seperti itu..."
Melihat kedua orang tuanya, Rachel akhirnya mengerti. Ia tidak punya pilihan lain. Jika ia menolak cek itu, besok jari ayahnya akan dipotong. Lusa mungkin ibunya akan dipecat karena Tamara Winston pasti memiliki kuasa untuk melakukan itu. Dan Gerard? Gerard akan malu seumur hidupnya.
Lebih baik Gerard membencinya. Lebih baik Gerard menganggapnya sebagai wanita matre yang kejam. Kebencian jauh lebih mudah untuk dilupakan daripada cinta yang dipenuhi aib.
Rachel menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia menarik napas panjang, napas yang terasa seperti napas terakhirnya. Ia mengambil ponselnya yang layarnya retak itu.
Tangannya gemetar hebat. Ia harus menjadi seorang aktris terbaik malam ini. Ia harus menjadi Rachel Vels yang dibenci oleh Tamara Winston. Rachel yang matre, murahan, dan tidak tahu terima kasih.
Ia mulai mengetik. Setiap ketukan pada layar sentuh itu terasa seperti ia sedang menancapkan paku ke dalam hatinya sendiri.
Rachel: Ger.
Satu kata. Hanya tiga huruf. Namun, untuk mengetiknya, Rachel membutuhkan waktu hampir lima menit karena tangannya terus bergetar dan air matanya terus menetes ke layar ponsel.
Balasan dari Gerard masuk hampir seketika. Cepat, cemas, dan penuh cinta. Cinta yang sebentar lagi akan ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Gerard: Akhirnya kamu balas! Ya Tuhan, Rachel, aku khawatir sekali! Kamu di mana? Aku masih di kantin, lho. Sandwich tunanya sudah dingin, tapi tidak apa-apa, nanti aku belikan yang baru. Kamu sudah makan?
Membaca balasan itu, dada Rachel terasa sesak. Sandwich tuna. Gerard selalu membelikan sandwich tuna kesukaannya, padahal Gerard sendiri alergi berat terhadap tuna. Gerard selalu bilang, "Tidak apa-apa, Sayang. Melihat kamu makan dengan lahap saja aku sudah kenyang." Betapa tulusnya pria itu. Betapa bodohnya pria itu mencintai wanita seperti dirinya.
'Maafkan aku, Ger. Maafkan aku.'
Rachel: Kita harus bicara, Ger.
Gerard: Bicara apa? Kamu kenapa? Cara kamu mengetik aneh. Kamu sakit? Atau ada apa dengan ayah kamu? Cerita sama aku, Sayang.
Rachel: Kita putus, Ger.
"Ya sudah. Mau bagaimana lagi." Rachel juga tak tahu harus berbuat apa."Hmm ... lebih baik kita ganti nama Rachel saja. Mungkin dengan mengganti namanya, Gerard akan sulit mengingat." usul Pak Osborn."Ide Bagus.""Lalu, nama apa yang kamu suka, Rae?" tanya Vincent."Venetta?""Baiklah. Mulai sekarang, kami akan memanggilmu Venetta atau Netta?"Rachel menganggukkan kepalanya.Bahkan sekarang, Pak Osborn sudah memerintahkan semua pegawainya untuk memanggil nama Netta saja kepada Rachel.*Keesokan harinya, jam tujuh pagi. Gerard sudah keluar dari rumah sakit. Rasa penasarannya akan Vincent sudah tak terbendung lagi. Bahkan semalaman, ia sulit tidur.Ia menumpang truk pickup petani yang kebetulan lewat, yang mau ke Millfield untuk menjual susu."Anak kota mau apa ke Millfield pagi-pagi begini?" tanya petani tua itu sambil menyetir."Mau ketemu seseorang, Pak" jawab Gerard singkat.D
Kara Farm"Sebenarnya kamu bicara apa sama Gerard... sehingga dia bisa pingsan?" tanya Rachel yang terlihat penasaran sekaligus kesal kepada Vincent.Pertanyaan itu membuat Ibu Kara dan Pak Osborn langsung menatap Vincent juga.Vincent terdiam, menunduk, memegang cangkir tehnya erat."Aku... aku tidak bicara apa-apa yang berat, Rae...""Jangan bohong, Vin. Aku lihat kamu bicara dengan Gerard sebelum dia pingsan. Katakan sejujurnya!"Vincent menghela napas panjang. Ia tahu ia tidak bisa bohong lagi kepada Rachel."Oke... oke aku jujur..."Vincent menatap Rachel, lalu menatap Ibu Kara dan Pak Osborn."Tadi Gerard tanya aku, apa aku kenal dia. Dia curiga aku bohong. Terus aku bilang... aku bilang...""Apa, Vin? Bilang apa?" tanya Rachel dengan cemas."Aku bilang kalau aku sudah janji sama seseorang untuk tidak mengatakan apapun kepada dia. Tapi kalau kamu mau tahu yang sebenarnya tentang masa lalunya mak
"Tapi, kamu harus tetap ditemani oleh Elena. Takutnya ada masalah dan tak ada yang membantu kamu. Takutnya pingsan lagi dan tidak ada yang tahu, Ger." Tamara berkata itu sambil meremas tas Hermes-nya erat. Matanya tidak lepas dari wajah anaknya yang masih terlihat pucat itu.Elena langsung mengangguk cepat, hampir terlalu cepat. Ia langsung meraih tangan Gerard yang terpasang infus."Iya, Tante. Aku temani Gerard di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidur di sini juga tak apa-apa."Gerard menarik tangannya pelan. Tidak kasar, tapi tegas.Lalu pria itu berkata, dengan suara yang lebih tegas lagi, bahkan urat di lehernya sedikit menegang. "Aku butuh sendiri saja, Ma. Tenang saja, aku tak akan kemana-mana. Aku hanya butuh sendiri. Berikan aku waktu untuk istirahat sendirian."Ruangan IGD bed 3 yang hanya dibatasi tirai tipis itu langsung hening. Suara berisik dari bed sebelah jadi terdengar jelas.Tamara ragu. Alisnya mengernyit."Sendiri? Di rumah sakit kecil seperti ini? Sendiri ba
Gerard diam lama, menatap langit-langit IGD, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Kepalanya masih berdenyut, tapi ia tahan."Aku... aku tidak ingat apapun. Mungkin... aku hanya lelah dan kepanasan sehingga aku pingsan," Gerard berbohong.Suaranya dibuat datar, lelah. Ia menatap Tamara tanpa ekspresi. Terus terang saja, ia ingin menyelidikinya sendiri. Ia tak mau kalau nantinya Tamara maupun Elena ikut campur dalam pencarian masa lalunya. Jika ia jujur, maka mereka semua akan curiga. Tamara pasti akan mengunci semua akses, sama seperti yang Tamara lakukan selama ini.Tamara duduk di samping bed, memegang tangan Gerard erat. Tangannya dingin, cincin berlian besar di jarinya menekan kulit Gerard."Apakah kamu bertemu dengan orang yang berkata sesuatu kepadamu?" lanjut Tamara seperti menginterogasi anaknya saja. Nada suaranya pelan, tapi matanya tajam, menyelidik."Bertemu? Bertemu siapa, Ma?" tanya Gerard pura-pura bingung. Ia mengernyitkan dahi, memas
"Tekanan darah cukup tinggi, 148 tadi. Stres tinggi, kurang istirahat, banyak pikiran, dan juga terlalu sering makan obat insomnia dan pain killer. Kombinasi itu membuat sistem sarafnya sensitif. Jika ada satu pemicu saja, bisa membuat Gerard kehilangan kesadaran. Pemicu itu bisa banyak: kelelahan, udara dingin, emosi, atau kelelahan mental. Sinkop vasovagal karena stres."Tamara langsung menatap Elena dengan tajam."Stres tinggi? Kurang istirahat? Terlalu sering makan obat insomnia? Elena, kamu kan tunangannya, kamu tidak jaga dia?"Elena tertunduk. Bahkan dia sendiri tak tahu apa saja obat yang sering dimakan oleh Gerard. Pria itu tak pernah memberitahukannya. Bahkan saat Elena ingin pindah ke apartemen Gerard saja, pria itu tak mau. Dia butuh waktu sendiri."Aku sudah suruh dia istirahat, Tante... tapi dia tidak mau..."Dr. Arasto menepuk bahu Elena."Bukan salah kamu, Elena. Ini akumulasi. Gerard ini memang sejak operasi selesai da
Ngin... ngin... ngin...Sirine ambulans putih North Country Hospital meraung memecah jalan raya Route 7 yang sepi. Mobil-mobil pickup petani Vermont menepi memberi jalan. Di dalam ambulans, suasananya tegang dan dingin ber-AC.Gerard terbaring di tandu dengan selang oksigen di hidung, mata masih terpejam, wajah pucat. Di sampingnya, Elena duduk memegang tangan Gerard erat, coat bulu putihnya masih kotor lumpur Millfield di bagian bawah, tapi ia tidak peduli. Tangannya yang satu memegang ponsel, mencoba menelepon dengan tangan gemetar.Tim paramedis di depan fokus menyetir cepat."Tekanan darah 150/95, agak tinggi. Nadi 98. Saturasi 96. Stabil tapi sinkop," kata paramedis kepada partnernya.Elena mendengar itu langsung menelepon.Akhirnya Gerard sampai di rumah sakit bersama dengan Elena. Ambulans berhenti di depan IGD kecil North Country Hospital di Newport, rumah sakit yang bangunannya hanya dua lantai, jauh berbeda dengan Mount Sinai di Manhattan yang gedungnya 20 lantai.Pintu IGD







