LOGINPERSELISIHAN
Desi sepertinya hanya berpura-pura kurang enak badan karena setelah semuanya pergi dari rumah dan nampak di rumah sepi, Desi kembali berselancar di ponselnya. "Ay, aku mau ke rumah kamu. Pikiranku sedang pusing, kamu ada kan di rumah." Desi menghubungi Ayu sahabatnya yang jarak rumahnya dekat dengan rumahnya. Kalau berjalan kaki sekitar 5 menit. "Aku tidak kemana-mana Des, sini saja main karena kebetulan juga, suamiku sedang keluar kota dan anakku sedang dibawa oleh mertuaku jalan-jalan," jawab Ayu kepada Desi. Desi pun akhirnya mengganti bajunya, setelah dia menutup sambungan teleponnya. °°°°° Setiba di rumah Ayu, terlihat Desi bercerita semua masalah yang tengah menimpa dirinya. Dan Ayu terlihat memeluk sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yang sabar ya," Ayu mengelus pundak sahabatnya itu dengan lembut. Ayu pun menyarankan agar Desi dan Yudi berobat kepada dokter spesialis kandungan yang dulu pernah di datangi Ayu dan suaminya. Ayu berdalih dulu dia juga beserta suaminya lama tidak kunjung mendapatkan keturunan. Tapi setelah berobat ke dokter tersebut akhirnya mereka bisa hamil. Terlihat Desi matanya berbinar tatkala mendengar kabar tersebut. Desi pun meminta alamat praktek dokter tersebut kepada Ayu. "Semoga dengan berobat kepada dokter ini, kamu bisa hamil dan aku yakin itu," Ayu terdengar memberikan harapan kepada Desi. Setelah Desi merasa puas bercerita mengenai keluh kesahnya. Desi pun segera pamit dari rumah Ayu. Dia tidak mau kedatangannya di dahului oleh orang rumah karena orang rumah taunya dia sakit dan tidur di dalam kamar. °°°°° Malam pun tiba dan nampak Yudi bercerita kepada Desi. Kalau dia sudah mendapatkan rumah dan uang yang akan di beli buat rumahnya nanti masih tersisa. "Lumayan nanti uangnya kita beli perabotan untuk isi rumah, walau sementara hanya yang sederhana," ucap Yudi tersenyum bahagia. Sementara Desi hanya terdiam seakan sudah tidak bersemangat untuk membahas masalah rumah. Hal tersebut membuat hati Yudi dihinggapi rasa tanya kepada istrinya itu. "Kenapa kamu, Des?" Yudi menatap lekat. "Enggak apa-apa Mas, percuma kita memiliki rumah. Tapi tidak ada kehadiran anak," ucapnya. Sontak Yudi kesal dengan ucapan istrinya tersebut, karena begitu sering ucapan seperti itu datang dari bibir Desi. Yudi pikir Desi kurang sabar dan kurang bersyukur atas apa yang terjadi sekarang. "Selalu yang jadi masalah itu-itu saja, kenapa Des! Kita kan sudah berusaha, mungkin yang di atas belum berkehendak," Yudi terdengar meninggi ucapannya. Desi terkesiap dengan ucapan sang suami yang meninggi dengan suara keras dan Desi merasa kurang dihargai. "Aku ada referensi dokter terbaik. Aku ingin kita pergi periksa ke dokter tersebut. Jangan jadi alasan tidak ada uang karena baru saja kamu bilang uang masih tersisa dari pembelian rumah," Desi pun tidak kalah meninggi suaranya dari Yudi. "Oke, Des! Jika itu yang kamu inginkan," ucap Yudi sambil berlalu dari dalam kamar. Sepertinya Yudi kecewa oleh Desi karena ketika dia bercerita masalah rumah yang sudah dia beli. Sedikitpun tidak ada respon baik dari istrinya tersebut. Yudi berharap Desi akan bahagia setelah mendengar kabar kalau Yudi sudah mendapatkan rumah. Tapi nyatanya tidak sesuai ekspektasi, Desi malah membahas masalah anak kembali yang tak kunjung mereka miliki. °°°°° Yudi menyesap rokoknya di teras rumah. Sesekali dia membuang napas kasar. Ada perasaan lega di hati Yudi karena dia akhirnya bisa membuktikan kepada kedua orang tuanya Desi, kalau dia mampu membelikan rumah untuk anaknya, walau rumah sangat sederhana. Tapi setidaknya dengan demikian, dia juga Desi tidak akan lagi di pandang rendah oleh kedua orang tuanya Desi dan keluarga besar Desi. "Tinggal keturunan yang aku harapkan dari rumah tangga ini. Semoga besok ada hasil yang memuaskan, saat aku di periksa di dokter kandungan yang akan di tunjuk oleh Desi." batin Yudi. Tapi terlihat Yudi menghela napas panjang. Yudi seakan menyadari kalau selama ini permainan ranjangnya bersama Desi kurang bisa memuaskan. Terkadang ketika dia sudah sampai mencapai klimaks, tapi itu tidak di rasakan oleh Desi dan durasi hubungan suami istri pun sangatlah cepat. Tapi Yudi sebagai laki-laki tidak mau di pandang kurang kuat atau lemah oleh istri. Dia selalu berdalih mungkin dirinya cape jadi durasi hubungan pun sebentar. ••••• "Nak Yudi belum tidur," terdengar suara Bapak mertua dari arah belakang sambil membawa secangkir kopi panas yang lagi mengebul. Sontak Yudi terkesiap karena dia tengah melamun memikirkan nasibnya. Yudi dengan cepat mengarahkan pandangan matanya ke arah Bapak mertuanya dan tersenyum lembut. "Belum ngantuk Pak," jawabnya. "Membahas hal yang kemarin malam. Maafkan ucapan Ibu ya, kalau menyinggung hati Nak Yudi," terlihat Bapak dari Desi duduk di samping Yudi dan memulai obrolan mengenai masalah sang istri kemarin yang sudah menyinggung perasaan dirinya. "Soal itu tidak apa-apa Pak, Ibu tidak salah kok semua orang tua sama menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Yudi juga minta maaf kepada Bapak dan Ibu yang belum bisa membuat bahagia." ucapnya lirih. Yudi pun bercerita kalau dia sudah mendapatkan rumah yang letak posisinya tidak terlalu jauh dari kedua orang tuanya. Terlihat di sana ada senyum kemenangan dari bibir Yudi karena pada akhirnya dia sudah bisa membelikan rumah untuk Desi. Nampak raut muka dari Bapaknya Desi pun tersenyum lebar saat mendengar kabar berita tersebut. Dia berpikir akhirnya anaknya bisa di berikan rumah oleh suaminya. "Bapak bahagia sekali mendengar kabar ini," jawabnya tersenyum lebar. °°°° Sementara di balik jendela ada yang menguping obrolan antara Bapaknya Desi dan Yudi yaitu Ibu dari Desi. Karena keberadaan kamar dari kedua orang tuanya Desi bersebelahan dengan ruang teras depan. Dan pintu jendela kamar tersebut menghadap kursi dimana Yudi dan Bapak mertua tengah mengobrol. "Jadi Yudi dan Desi akan pindah dari rumah ini?" batin Ibunya Desi menghela napas secara perlahan. Meskipun sang Ibu cerewet dan nampak tidak peduli terhadap Desi. Namun tidak bisa di pungkiri kalau nanti kepergian Desi akan buat rumah sepi. Desi yang selalu rajin masak dan beres-beres rumah dan ketika nanti sudah tidak tinggal di sana lagi tidak ada yang bisa melakukan aktifitas itu semua. Nia pun setelah menikah nanti dengan Hendra tidak akan lagi tinggal di sana. Rasa sepi pun terasa hinggap menyelimuti di dalam diri. Bayangan rumah sepi dan keheningan kini seakan terpampang nyata di benaknya. Ocehan dan sindiran pedas yang dia ucapkan kepada sang anak dan menantunya seakan buat dia menyesali diri. "Tidak- Aku harus ikhlas menerima semua kenyataan ini. Bukannya aku yang ingin melihat anakku bahagia. Walau Desi tidak sekaya Nia nanti. Tapi Desi setidaknya sudah memiliki rumah walau mungkin rumah tersebut sangat sederhana jauh dari kata megah. Bersambung...MELAHIRKANMirna istri dari Yudi akhirnya melahirkan anak pertamanya buah cinta dari Yudi. Anak mereka berjenis kelamin laki-laki dan diberi nama Satria. Mirna dan juga Yudi begitu gembira karena bayi mereka lahir dengan selamat dan sehat. Satria sangat ganteng dan berkulit putih sama dengan Yudi. "Sayang terima kasih ya, kamu sudah memberikan aku anak yang gagah dan ganteng," Yudi mengecup lembut kening Mirna dengan penuh kelembutan.Nampak Mirna menatap Yudi dan matanya berkaca-kaca. Mirna sangat senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Yudi terhadap dirinya. Baginya perhatian yang diberikan oleh suaminya itu sangat tulus dan juga buat hatinya nyaman. "Beruntung kamu menikah dengan Mirna karena dia wanita subur dan tidak mandul seperti mantan kamu Desi," ucap Ibu dari Yudi. Nampak Mirna tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah tatkala mendengar ucapan dari ibu mertuanya itu. Mirna berpikir kalau ibu mertuanya itu tengah menjelekkan mantan dari Y
SEMUA TIDAK TERDUGA Setelah selesai urusan dengan dokter kandungan dan sementara waktu Mirna harus di rawat untuk beristirahat beberapa hari di rumah sakit. Yudi kemudian menghampiri Pak Hasan yang tengah duduk di luar. "Pak kita ke kantin," ajak Yudi kepada Pak Hasan sambil tersenyum ramah. Pak Hasan nampak terkesiap dengan suara dari Yudi, karena Pak Hasan tengah tidak fokus pikirannya sedang melamun. "Iya-iya," jawab Pak Hasan.Yudi pun sementara terlihat kembali duduk di pinggir Pak Hasan, kemudian Yudi bercerita kalau dia sudah menikah dan dia berucap syukur karena istrinya sekarang sedang hamil. Yudi seakan ingin membuktikan kepada mantan mertuanya kalau dirinya saat ini tengah berbahagia karena sang istri tengah hamil dan Yudi pun seakan ingin membuktikan kepada mantan Bapak mertuanya kalau dia bukanlah pria mandul yang dulu pernah hinggap dalam dirinya. Terlihat Pak Hasan seakan malu terhadap dirinya sendiri karena tidak bisa dipungkiri dia pun ketika dulu pernah menyind
PERTEMUAN DI RUMAH SAKIT Desi terlihat menangis sesungukkan tatkala melihat sang suami terbaring lemah tidak berdaya di rumah sakit. Terlihat Helmi sedang tertidur di ranjang dengan kondisi ada beberapa luka di bagian tubuhnya. Sementara Pak Hasan menatap lega terhadap Helmi karena keadaan sang menantu tidak seperti dia bayangkan. Kalau keadaan Helmi ternyata tidak parah namun hanya luka ringan saja. Tapi nampak terlihat Helmi merasa badannya sakit sekali karena sesekali dia meringis. "Mas mengapa bisa terjadi kecelakaan?" tanya Desi dengan berderai air mata. "Sudah Des, kamu jangan banyak tanya dulu kepada suamimu. Biarkan dia istirahat," Pak Hasan berusaha menenangkan hati sang anak. Nampak terlihat Helmi membuka matanya sedikit demi sedikit secara perlahan. Setelah matanya terbuka dengan sempurna Helmi pun nampak matanya berselancar ke ruangan sekitar. "Aku dimana," ucapnya dengan lirih. Terlihat Helmi akan bangun dari ranjang tersebut namun dengan cepat Pak Hasan mencoba me
KECELAKAAN Percekcokan terjadi antara kedua orang tuanya Desi. Nampak meraka sedang membicarakan Yudi yang kini istrinya sedang hamil.Pak Hasan seolah-olah menyalahkan Bu Sani yang waktu dulu menyuruh Desi cepat-cepat menceraikan Yudi. "Pak kenapa jadi nyalahin Ibu. Bukannya Bapak juga dulu menyuruh anak kita agar segera berpisah dari Yudi?" tegas Bu Sani terlihat kesal. Memang tidak bisa di pungkiri ketika dulu Pak Hasan seakan ikut andil dalam memisahkan Desi dan Yudi. Tapi di dalam lubuk hati yang paling dalam sebenarnya Pak Hasan tidak mau sang anak berpisah dengan Yudi karena bagaimanapun Yudi adalah menantu yang baik dan perhatian."Bukan nyalahin tapi Yudi sebenarnya lelaki setia dan sabar beda dengan Helmi, dia lelaki yang tidak setia. Sampai-sampai Helmi tega-teganya nyakitin hati anak kita karena dia selingkuh dengan sekertaris pribadinya." ucap Pak Hasan seakan mengeluarkan unek-uneknya yang dia pendam selama ini. DegSontak Bu Sani matanya terbelalak saat mendengar ap
PERTEMUAN DESI DAN YUDINampak Yudi dan Desi terlihat gugup tatkala mereka beradu pandang di sebuah super market. Desi dan juga Yudi terlihat salah tingkah karena setelah perceraian keduanya, ini pertemuan baru pertama kalinya.Mirna terlihat menatap ke arah Yudi yang tengah salah tingkah ketika bertemu pandang dengan sosok Desi. Mirna pun terlihat menghampiri Yudi, lalu menepuk halus pundak suaminya itu yang terlihat dihinggapi rasa gelisah tatkala bertemu Desi. "Mas, kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Mirna sambil melirik ke arah Desi."Iya, Mir, wanita ini mantan istri aku," jawab Yudi dengan perlahan.Desi nampak menatap lekat ke arah Mirna. Dadanya bergemuruh hebat tidak karuan dan dalam dirinya berpikir. Mungkinkah benar apa yang di katakan oleh temannya kemarin kalau dialah sesungguhnya yang mandul. Karena kini istri Yudi yang baru, tengah hamil dari pernikahan dengan Yudi. Desi nampak membuang napas kasar kemudian dia mengajak sang anak untuk segera pergi dari tempat ter
MANGGA MUDASementara Yudi bersama Mirna istri barunya sekarang sedang berbahagia, karena Mirna tengah hamil muda dan usia kandungannya sekitar satu bulan. Tentu saja Yudi sangat memanjakan sang istri, apapun kemauan istrinya pasti akan Yudi penuhi, apapun itu. Tapi Mirna tidak minta apapun dari suaminya dan ini membuat hati Yudi semakin bangga terhadap Mirna. Karena Mirna tidak menuntut yang lebih kepada suaminya tersebut."Hanya beli mangga muda saja? Selain itu kamu mau dibelikan apa Sayang," Yudi membelai rambut sang istri di tepi ranjang."Aku hanya ingin mangga muda saja Mas, tidak lebih dari itu." jawabnya lirih. Yudi terlihat mencubit gemas hidung Mirna yang mengakibatkan Mirna meringis manja kepada suaminya itu. "Maafkan Sayang," Yudi memeluk istrinya itu. "Beli mangga-nya ke super market saja, sekalian kita belanja bulanan," Mirna menatap Yudi. Terlihat Yudi menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Aku ngikut apapun kemauan kamu Sayang," Yudi kemudian sekilas menciu







