LOGIN
Bunyi mesin ATM yang menderu pelan di pojokan minimarket terdengar seperti lonceng kematian bagi Sari. Ia menahan napas saat angka-angka di layar buram itu muncul.
Rp30.150,-
Lutut Sari terasa lemas seketika. Perutnya yang sedari pagi hanya diisi gorengan dingin sisa semalam mendadak melilit perih. Ia segera menarik kartunya, seolah-olah jika ia menatap layar itu lebih lama, sisa saldonya akan menguap habis.
Air mata mulai menggenang, tapi ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan yang kasar. Percuma. Menangis tidak akan mengubah tiga puluh ribu menjadi tiga juta.
Sari berjalan gontai membelah terik matahari menuju kampus. Keringat dingin mulai merembes di antara sela-sela rambut.
Saat ia melangkah masuk ke ruang kelas yang riuh, getaran ponsel di saku almamaternya membuat jantungnya mencelos.
Sebuah pesan W******p dari nomor asisten pengelola kos.
“Mbak Sari, besok sore kamar 302 harus kosong kalau tunggakan 3 bulan belum lunas. Ini perintah langsung dari pemilik yang baru. Mohon kerja samanya.”
Pandangan Sari mengabur. Pemilik baru? 'Pemilik baru itu pasti tidak punya hati,' batinnya. Ia meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih.
Dunia seolah sedang berusaha mencekiknya perlahan, tanpa memberinya ruang untuk sekadar mengambil napas.
Tiba-tiba suasana kelas yang tadinya riuh oleh obrolan mahasiswa mendadak senyap, seolah-olah oksigen di ruangan itu baru saja ditarik keluar secara paksa.
Sari mendongak. Di ambang pintu, seorang pria berdiri dengan aura yang begitu mendominasi. Kemeja hitam yang membalut tubuh tegapnya tampak sangat mahal, dengan lengan yang digulung rapi hingga siku.
"Saya Arya. Saya dosen pengganti untuk mata kuliah ini," ucapnya singkat.
Suaranya berat dan rendah, bergema di setiap sudut ruangan yang kusam. Ia berjalan menuju meja dosen dengan langkah yang begitu tegas. Setiap dentuman sepatunya di atas lantai keramik seolah menginjak-injak sisa-sisa keberanian Sari.
Sari segera menunduk, mencoba bersembunyi di balik buku catatannya yang sudah penuh coretan angka. Namun, Sari merasakan perasaan aneh.
Ia tidak bisa mengabaikan sensasi aneh itu. Sensasi seperti sedang diawasi oleh pemangsa. Sari mencoba melihat. Setiap kali ia memberanikan diri melirik, ia selalu mendapati mata Pak Arya sedang tertuju padanya.
Mata Arya begitu tajam di balik kacamata beningnya. Bukan tatapan dosen yang menilai mahasiswanya, tapi tatapan yang dalam, gelap, dan sangat personal. Sari merasa telanjang karena tatapan itu.
Ia buru-buru merapatkan jaket almamaternya yang mulai udul di bagian ujung lengan, mencoba menutupi kemiskinan yang ia rasa terpampang nyata di bawah tatapan Arya.
Tiba-tiba, suara langkah Arya berhenti tepat di samping mejanya.
Aroma parfum maskulin yang sangat mahal. Campuran kayu cendana dan sedikit aroma mint langsung menyerbu indra penciuman Sari. Aroma yang begitu asing bagi hidungnya yang terbiasa dengan bau angkot.
Arya sedikit membungkuk. "Simpan ponselmu. Fokus, atau kamu saya anggap tidak hadir," bisiknya dingin.
Matanya sempat melirik layar ponsel Sari yang masih menyala, menampilkan pesan ancaman pengosongan kos itu. Wajah Sari memanas hebat. Ia segera menyambar ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas dengan tangan yang gemetar.
Sepanjang jam pelajaran, Sari tidak bisa menangkap satu kata pun. Perasaannya hancur. Kegelisahan tentang hari esok. Tentang di mana ia akan tidur. Bercampur dengan rasa terintimidasi oleh keberadaan Arya yang seolah tidak pernah melepaskan pandangan darinya.
Begitu bel berbunyi, Sari adalah orang pertama yang membereskan barang-barangnya. Ia berlari keluar kelas, tidak peduli pada tatapan bingung teman-temannya.
Pikirannya kalut. Ia harus mencari pinjaman, atau kerja serabutan, atau apa pun.
Sari berlari menembus parkiran yang mulai sepi dengan kepala tertunduk, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah, memburamkan pandangannya. Namun tiba-tiba.
BRAKK!
Bunyi patahan plastik yang keras menyentak Sari. Ia terjatuh, sikunya menghantam aspal yang kasar hingga perihnya menusuk tulang.
Di hadapannya, sebuah spion mobil sedan hitam mewah kini terkulai mengenaskan dengan kabel-kabel yang menjuntai.
Dunia seolah berhenti berputar. Sari mematung, menatap spion yang baru saja ia hancurkan. Ia tahu, harga benda itu mungkin lebih mahal dari seluruh harta yang ia punya.
Kaca mobil yang gelap itu turun perlahan. Dari balik kemudi, muncul wajah pria yang sejak tadi menghantui Sari.
Arya. Pria itu melepas kacamata hitamnya, menatap spionnya yang hancur, lalu beralih menatap Sari dengan seringai tipis yang sangat mematikan.
"Sari Amalia lagi..." ucap Arya dengan suara yang sangat tenang namun penuh ancaman. "Sepertinya, kamu punya banyak hutang padaku, Sari."
Sari merasa seluruh tenaganya menguap. Ia lemas di atas aspal, menatap Arya dengan tatapan kosong, menyadari bahwa hidupnya mungkin akan berhenti saat ini juga. Atau mungkin ada cara lain untuk menyelamatkan diri?
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi
"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be







