LOGINLangkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.
Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya.
"Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.
Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.
Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.
Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia menyandarkan punggung, melipat satu kakinya, dan menatap Sari dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Jadi," Arya membuka suara, memecah kesunyian yang mencekam. "Ada keperluan apa kamu sampai nekat mendatangi rumah dosenmu malam-malam begini? Apa kamu kesini untuk membayar uang ganti rugi spion saya?"
Sari menelan ludah. Tenggorokannya yang kering terasa semakin kering. Lidahnya mendadak kelu, seolah-olah semua kata yang sudah ia susun di perjalanan tadi menguap begitu saja.
"Pak... saya..." Sari menjeda, mencoba mencari sisa keberaniannya. "Saya ke sini bukan soal spion itu. Saya baru tahu dari Pak RT... kalau Bapak adalah pemilik baru kosan saya."
Satu alis Arya terangkat. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menikmati ketakutan mangsanya.
"Lalu?"
"Saya memohon keringanan waktu, Pak," Sari bicara dengan suara bergetar, nyaris berbisik. "Tolong jangan usir saya besok. Saya janji akan membayar tunggakan tiga bulan itu... saya akan bekerja keras."
Arya tertawa pelan. Bukan tawa ramah, melainkan tawa dingin yang meremehkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat Sari refleks mundur hingga punggungnya menabrak sandaran sofa.
"Tidak," jawab Arya singkat dan telak.
"Pak, saya mohon—"
"Dengar, Sari," Arya memotong dengan nada logis yang kejam. "Saya ini pengusaha. Secara logika, janjimu itu palsu. Kamu sendiri bahkan tidak tahu kapan kamu punya uang. Kamu mau cari kerja paruh waktu? Gaji pelayan kafe atau penjaga toko tidak akan cukup untuk menutupi tunggakanmu dan kerusakan spion saya. Itu hanya cukup untuk membuatmu tidak mati kelaparan."
Kata-kata Arya menghantam Sari tepat di ulu hati. Setiap kalimatnya adalah kenyataan pahit yang selama ini coba Sari sangkal.
Harapannya runtuh seketika. Ia merasa kecil, tidak berarti, dan benar-benar buntu.
Sari menunduk, air mata jatuh membasahi celana kainnya yang sudah usang. Dengan sisa harga diri yang nyaris habis, ia memberanikan diri menatap Arya kembali. Matanya sembab dan merah.
"Tolong saya, Pak... Tolong bantu saya kali ini saja," isak Sari, benar-benar memohon tanpa daya.
Arya menatap Sari cukup lama. Ia memperhatikan bagaimana bahu gadis itu terguncang, bagaimana helaian rambutnya yang berantakan membingkai wajah pucatnya. Ada kilat aneh di mata Arya, sesuatu yang lebih gelap dari sekadar rasa tidak suka.
"Saya akan menolongmu," ucap Arya tiba-tiba.
Sari mendongak dengan secercah harapan. "Benarkah, Pak?"
"Tapi bukan dengan keringanan waktu. Saya menawarkan sebuah pekerjaan," lanjut Arya. Matanya menelisik setiap sudut tubuh Sari. Dari wajah, leher, dada, dan terus turun ke bawah. Sari merasa seperti ditelanjangi hanya dengan tatapan itu.
Arya kembali bersandar, menatap Sari dengan mata yang menyipit. "Menjadi asisten pribadi saya. Kamu akan melakukan apa pun yang saya inginkan, kapan pun saya butuh, dan di mana pun saya mau."
Sari tertegun. "Apa pun?"
Arya mengangguk perlahan. Ia memperhatikan reaksi Sari dengan saksama sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih rendah dan intim. "Apa pun. Termasuk tugas-tugas personal. Menyiapkan baju saya, menemani saya makan, hingga... melayani kebutuhan seksual saya jika saya menginginkannya."
Udara di ruangan itu mendadak terasa membeku. Jantung Sari berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
Wajahnya memucat pasi. Ia mengerti sekarang. Pertolongan yang ditawarkan Arya bukan sebuah bantuan, melainkan sebuah transaksi jual beli yang akan membuat harga dirinya hancur.
Arya bangkit dari duduknya, berjalan mendekat hingga berdiri tepat di depan Sari. Ia membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengunci Sari di tengah-tengahnya. Aroma parfum maskulin yang tajam itu kembali mengepung Sari.
"Pilihannya ada di tanganmu, Sari," bisik Arya tepat di depan wajahnya. "Keluar dari rumah ini dan besok kamu tidur di jalanan tanpa masa depan... atau tetap di sini dan semua masalahmu selesai dalam semalam. Bagaimana?"
Sari menatap mata Arya yang gelap, merasakan napas pria itu menerpa kulitnya. Ia terjepit di antara kehancuran hidup atau menyerahkan jiwanya pada pria di depannya.
Di dalam rumah yang sunyi itu, Sari merasa dirinya baru saja mendatangi iblis yang menawarkan sebuah perjanjian dengannya.
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi
"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be







