LOGINLangkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.
Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.
Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.
Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.
Sari bangkit, merangkak perlahan menuju sudut ruangan tempat ia biasa menyimpan persediaan makanan.
Kosong.
Hanya ada satu bungkus mie instan yang plastiknya sudah terbuka dan isinya habis entah kapan. Ia beralih ke botol air mineral di atas meja kecilnya. Dengan harapan kecil, ia mengguncang botol itu. Hanya tersisa satu teguk air di dasar botol.
Sari meminumnya dengan rakus, membiarkan cairan itu membasahi tenggorokannya yang sudah kering kerontang. Namun, satu teguk tidak cukup untuk mengusir rasa haus yang membakar.
Sari kembali terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding tembok yang lembap. Rasa lapar, haus, letih, dan takut berbaur menjadi satu rasa sesak yang tak tertahankan di dadanya.
Air matanya kembali tumpah, kali ini lebih deras. Ia menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat di tengah kegelapan kamar yang tidak ia nyalakan lampunya.
"Tuhan... aku harus bagaimana?" bisiknya parau di sela isak tangis.
Tok! Tok! Tok!
Sari tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar sesenggukan. Dengan perasaan was-was, ia membuka pintu sedikit. Di sana berdiri Pak RT, pria paruh baya yang menjadi asisten pengelola kos.
"Mbak Sari, maaf mengganggu malam-malam," ucap pria itu dengan wajah tidak enak hati. "Saya baru saja ditelepon pemilik kos yang baru. Beliau tanya soal tunggakan Mbak Sari. Katanya kalau tidak ada kejelasan malam ini, besok pagi kuncinya harus diserahkan."
Dunia Sari serasa runtuh seketika.
"Pak... tolong, Pak. Saya janji minggu depan saya usahakan. Ayah saya sedang sakit di kampung, kiriman saya tersendat," mohon Sari dengan suara parau, nyaris bersimpuh di depan pria itu.
Pak RT menggeleng pelan. "Aduh, Mbak, saya cuma kaki tangan. Pemilik yang baru ini orangnya sangat disiplin. Saya tidak berani membantah. Dia bilang, aturan tetap aturan."
Sari menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Putus asa mulai menguasai akal sehatnya. "Pak, boleh saya tahu alamat pemilik kos ini? Biar saya sendiri yang memohon padanya. Saya tidak mau diusir ke jalanan, Pak. Saya mohon..."
Melihat wajah Sari yang pucat dan matanya yang sembab, Pak RT akhirnya luluh. Ia merobek selembar kertas kecil dan menuliskan sebuah alamat. "Ini alamat rumah pribadinya. Dia biasanya ada di sana malam-malam begini. Tapi hati-hati ya, Mbak, orangnya memang agak kaku."
Tanpa membuang waktu, Sari menyambar tasnya. Ia tidak peduli dengan perutnya yang melilit atau tenggorokannya yang kering. Ia harus berjuang. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia naik angkot terakhir menuju alamat yang tertera di kertas itu.
Langkah Sari terhenti di depan sebuah gerbang hitam yang tinggi dan kokoh. Di baliknya, berdiri sebuah rumah minimalis modern yang tampak sangat mewah dan maskulin.
Lampu-lampu taman yang hangat menyinari pilar-pilar beton yang gagah. Sari menelan ludah. Ia merasa sangat kecil di depan kemegahan ini.
Dengan tangan gemetar, Sari menekan bel di samping gerbang. Tidak lama kemudian, gerbang otomatis itu bergeser terbuka perlahan, mengeluarkan suara desis halus yang membuat jantung Sari berpacu gila-gilaan.
Sari berjalan menyusuri jalan setapak menuju pintu utama. Pintu kayu jati berukuran besar itu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Ia tidak lagi memakai kemeja rapi seperti di kampus, melainkan hanya mengenakan kaus polo hitam yang membentuk lekuk tubuh atletisnya dan celana santai.
Di tangannya, ia memegang sebuah gelas berisi cairan bening dengan es batu yang gemerincing.
Napas Sari tercekat. Matanya membelalak lebar seolah melihat hantu.
Pria itu adalah Arya.
Arya menurunkan gelasnya, menatap Sari dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sangat dalam dan mengintimidasi.
Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah seringai tipis yang terlihat sangat berbahaya namun menggoda di bawah cahaya lampu teras yang temaram.
"Kamu lagi, Sari?" ucap Arya dengan suara baritonnya yang rendah dan bergetar di udara malam. "Sepertinya kamu sangat suka berurusan dengan saya."
Sari mematung di tempatnya berdiri, merasa seolah seluruh oksigen di sekitarnya mendadak lenyap. Ia datang untuk melarikan diri dari satu masalah, namun justru berakhir di dalam genggaman pria yang paling ingin ia hindari.
Setiap langkah yang diambil Sari untuk menaiki anak tangga menuju lantai dua terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan.Lorong rumah mewah itu begitu sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya yang berpacu gila-gilaan, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.Kamar utama itu terletak di ujung lorong, sebuah pintu kayu jati besar yang tampak seperti gerbang menuju ruang kehancuran hidupnya.Sari tidak ingin melangkah lebih jauh, namun ia sadar bahwa ia tidak memiliki jalan untuk kembali. Di belakangnya hanya ada kemiskinan dan pengusiran, sementara di depan sana adalah takdir yang harus ia tebus.Dengan jemari yang gemetar hebat, Sari mendorong pintu jati besar itu. Suara engsel yang bergeser halus terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya.Begitu pintu terbuka, aroma sandalwood yang pekat dan maskulin langsung menyergap, menguasai seluruh rongga paru-parunya.Sari mematung. Di sana, di atas ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, Arya sudah menung
Arya tidak menunggu jawaban dari Sari. Pria itu berbalik dan menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah tenang namun berwibawa.Sari hanya bisa mematung di ruang tengah, menatap punggung tegap itu menghilang di balik pintu kamar utama. Kesunyian rumah itu kembali menghimpitnya, membuatnya merasa seperti partikel debu yang tersesat di istana kaca.Beberapa menit kemudian, Arya kembali turun. Di tangannya tersampir selembar kemeja putih polos yang tampak sangat kontras dengan kaus hitam yang ia kenakan. Ia melemparkan kemeja itu ke arah Sari."Bersihkan dirimu," perintah Arya, suaranya dingin tak tersentuh. "Kamar mandi tamu ada di sebelah sana. Pakai apa pun yang ada di dalamnya. Sabun, sampo, parfum, apa pun. Saya ingin kamu terlihat bersih, segar, dan wangi."Sari menangkap kemeja itu dengan tangan gemetar. Bahannya terasa sangat halus dan mahal di kulitnya yang kasar."Saya juga sudah memesankan makanan," lanjut Arya sembari melirik jam tangannya yang mewah. "Setelah mandi
"Tidak, Pak... saya tidak bisa. Saya bukan wanita seperti itu."Suara Sari pecah, nyaris tak terdengar di antara isak tangis yang menyesakkan dadanya. Ia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan mengerikan dari tawaran yang baru saja keluar dari mulut Arya.Melayani kebutuhan seksual? Pikiran itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal di parkiran tadi. Ia miskin, ia lapar, dan ia hampir diusir, tapi ia masih memiliki satu hal yang ia jaga setengah mati seumur hidup, kehormatannya.Arya tidak bergeming. Ia tidak tampak terkejut, apalagi merasa bersalah karena telah mengusulkan sesuatu yang merendahkan martabat seorang manusia. Alih-alih melunak melihat air mata Sari yang tumpah tak terbendung, pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang.Ia menatap Sari seolah gadis itu hanyalah sebuah objek eksperimen yang sedang ia amati reaksinya di bawah mikroskop. Tidak ada belas kasihan di mata gelap itu, hanya ada perhitungan logis yang dingin dan tak
Langkah kaki Sari terasa berat saat mengikuti punggung tegap Arya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu kayu besar itu tertutup dengan bunyi klik otomatis yang halus, Sari merasa seolah dunia luar baru saja terputus darinya.Rumah itu luas, namun terasa sangat sepi dan dingin. Minimalis, tanpa banyak hiasan, didominasi warna abu-abu gelap dan pencahayaan yang temaram.Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain. Tidak ada suara asisten rumah tangga, tidak ada suara televisi. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti hitung mundur nasibnya."Duduk," perintah Arya tanpa menoleh.Ia memandu Sari ke sebuah ruang tengah yang didominasi sofa kulit hitam besar. Arya duduk di kursi tunggalnya, sementara Sari memilih duduk di pinggiran sofa, menjaga jarak sejauh mungkin.Ia meremas tali tasnya hingga jari-jarinya memutih. Rasa lapar yang tadinya melilit seolah hilang, berganti dengan rasa mual akibat adrenalin yang terpompa cepat.Arya meletakkan gelasnya di atas meja kaca di depan mereka. Ia
Langkah kaki Sari terasa berat, seolah setiap jengkal aspal yang ia injak menempelkan beban berton-ton di pundaknya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang mulai remang, tidak memedulikan tatapan orang-orang pada siku tangannya yang masih memerah dengan sisa darah kering.Pikirannya kosong, hanya ada bayangan spion mobil yang patah dan wajah dingin Pak Arya yang terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.Begitu sampai di depan pintu kamar kos bernomor 302, Sari merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Kunci itu berputar dengan bunyi klik yang kering, menyambutnya dengan hawa pengap ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti penjara.Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang sprei-nya sudah mulai pudar.Perutnya berbunyi nyaring, melilit perih hingga membuat ulu hatinya terasa panas. Ia belum makan sejak pagi, dan gorengan dingin yang ia telan sebelum kelas tadi seolah tidak meninggalkan jejak apa pun di lambungnya.Sari bangkit, merangkak perlahan menuju su
Arya turun dari mobilnya. Suara pintu mobil yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim di telinga Sari.Dari posisi tersungkur di aspal, ia melihat sepasang sepatu pantofel hitam yang berkilat sempurna melangkah mendekat.Perlahan, bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mulai menutupi tubuh mungil Sari yang gemetar, merampas cahaya sore dan menggantinya dengan aura dingin yang menyesakkan.Sari masih terduduk lemas. Sikunya yang menghantam aspal terasa panas dan berdenyut, ada darah segar yang mulai merembes dari luka lecet di sana, bercampur dengan debu jalanan.Namun, rasa perih itu tidak sebanding dengan kengerian yang menjalar saat melihat Arya berdiri tepat di hadapannya.Arya tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri di sana, memasukkan satu tangan ke saku celana kainnya yang tampak sangat halus, sementara tangan lainnya memegang kacamata hitam. Matanya menyapu spion mobil yang tergantung mengenaskan, lalu turun menatap Sari yang tampak kacau."Ma-maaf, Pak... saya benar-be







