LOGIN“Rain, gimana?” tanya Cipta saat keduanya tengah berdiri melihat ke arah jendela. Tatapan tajam mereka tertuju pada Retno yang tengah melangkah terburu-buru menuju parkiran mobil di bawah sana. “Saya dengar tadi... dia mau ketemu seseorang di Rumah Makan Gadang, Hotel Mandala,” ucap Rain sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya terus mengunci pergerakan Retno yang terlihat menerima panggilan telepon dengan ekspresi serius sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. “Perlu kita ikuti?” tanya Cipta yang segera melirik jam di pergelangan tangannya. Ia tahu waktu makan siang adalah saat di mana kesepakatan-kesepakatan gelap sering kali terjadi. “Ayo,” ucap Rain singkat. Ia melirik ke arah Cipta dan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan rencana. Tanpa membuang waktu, keduanya melangkah pergi meninggalkan lantai empat dengan langkah lebar yang berwibawa. Sebelum benar-benar pergi, Cipta segera berganti pakaian santai yang ia bawa dari rumah. kaos oblong dan jeans serta
“Semua sudah rampung?” tanya Retno kepada tim interior yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Matanya menyisir setiap sudut ruangan kantor Cipta yang kini telah berubah drastis menjadi ruang konsultasi kesehatan yang nyaman khusus untuk Martha. “Semua sudah bisa ditempati hari ini juga, Bu,” ucap salah satu perwakilan tim interior sambil merapikan peralatan terakhirnya dengan cekatan. “Oke. Dan pastikan di ruangan Pak Cipta tidak ada yang kurang sedikit pun,” ucap Retno dengan nada tegas, memastikan segala detail sempurna demi kenyamanan adiknya di tengah situasi sulit ini. Namun, saat Retno membalikkan badan hendak menemui Rain dan Cipta di ruangan Martha, ponsel di saku blazernya bergetar hebat. Ia merogoh benda pipih itu dan mengerutkan kening saat melihat deretan angka yang tidak terdaftar di kontak ponselnya. “Um... siapa ini?” tanya Retno pelan pada dirinya sendiri. Perasaannya mendadak tidak enak. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel
“Rain? Cipta?” tanya Martha dengan suara parau saat melihat keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma lavender itu. “Ma...” Cipta menyapa ibu mertuanya dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia berusaha menekan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar dari sang ibu di atas sofa yang sama, menciptakan ruang kosong yang seolah menggambarkan jurang pemisah di antara mereka. Rain hanya terdiam, matanya menatap lekat jemari ibunya yang gemetar. “Kalian udah makan?” tanya Martha sambil melirik deretan makanan enak di atas meja. Hidangan itu sengaja disiapkan oleh Cipta sebelum ia harus mengikuti rapat penting di lantai lima bersama para petinggi kepolisian lainnya. “Udah, Ma...” sahut keduanya nyaris bersamaan. Jawaban singkat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Martha mengangguk-angguk pelan, lalu pandangannya mulai berkeliling ruangan seolah m
“Dia bisa ketawa seolah-olah dia nggak pernah menyakiti Gendis atau hampir mencelakai Bima. Apa dia benar-benar sakit, atau ini hanya perlindungan dirinya agar tidak masuk penjara?” ucap Cipta sambil melirik Rain sekilas.Rain tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagaimana Dokter Retno merespons tawa Martha dengan anggukan kecil yang empati, namun matanya tetap jeli mengobservasi.“Dalam psikologi, ada yang disebut represi, Cipta. Dia mengubur ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan hanya memunculkan yang indah-indah aja. Tapi kita harus pastikan apakah ini permanen atau cuma akting sesaat,” balas Rain tenang, meski hatinya pun ikut geram melihat manipulasi emosi di depan matanya.“Kamu sedikit banyak paham kondisi kayak gini, Rain,” ucap Cipta sambil melirik iparnya itu sekilas.Rain mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok ibunya di balik kaca. “Saya memang psikolog reproduksi, walau kedengarannya jauh, tapi kami para psikolog mempelajari bagaimana pasien berbicara,
Kembali ke suasana di kantor polisi yang mulai memanas. Cipta melangkah dengan tegas menyusuri lorong setelah keluar dari ruang rapat di lantai lima. Seragam kepolisiannya tampak rapi, namun wajahnya menunjukkan guratan kelelahan setelah berhadapan dengan para petinggi. Sambil berjalan menuju tangga, ia menempelkan ponsel ke telinga.“Halo, Gendis? Rain udah jalan ke sini?” tanya Cipta pagi itu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong sunyi.“Oh, Mas Cipta. Udah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi sampai atau malah udah di parkiran,” ucap Gendis dari seberang telepon. Di latar belakang, terdengar suara tawa kecil Bima yang sedang asyik bermain.“Oke, thanks. Sorry ganggu pagi-pagi. Salam kangen buat Bima ganteng dari uncle pakde, ya,” ucap Cipta sambil tersenyum tipis, sejenak melupakan ketegangan kasus Martha saat mendengar nama keponakannya.“Ahahaha... siap deh, Pakde Uncle!” sahut Gendis ceria sebelum mengakhiri percakapan tersebut.Cipta m
“Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar







