Home / Rumah Tangga / PELAN PELAN SAYANG / 178 - DIKEJAR SESEORANG?

Share

178 - DIKEJAR SESEORANG?

last update Last Updated: 2025-10-04 07:43:10

“Mas ini orang baik. Bisa saya lihat dari cara Mas bersikap. Dan ini bukti yang nggak bisa dibantah, Mas mau beli dagangan saya buat istri yang lagi ngidam, malam begini,” ucap pak tua itu sambil tersenyum hangat, tangannya sudah bersiap meraih kantong kertas.

“Hahaha... Bapak bisa aja. Itu karena bentuk sayang saya sama istri, Pak,” sahut Rain, tawanya kecil namun tulus.

“Paham. Jadi beli berapa nih?” tanya pak tua sambil mengusap keringat di dahinya.

“Semuanya, bisa Pak?” Rain menatap panci kukus yang masih mengepulkan uap hangat.

“Serius ini?” Pak tua itu terbelalak, matanya berbinar.

“Saya nggak becanda, Pak,” ucap Rain mantap.

“Gas nih!” sahut pak tua dengan semangat, segera membungkus semua kacang rebus dan jagung manis ke dalam kantong kertas, gerakannya cepat namun wajahnya penuh rasa syukur.

Tak lama setelah semua tersusun rapi di mobil Rain, ia mengulurkan uang dengan jumlah jauh melebihi harga belanjaannya. “Nih, Pak,” ucapnya pelan.

“Waduh, Mase... Ini bany
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAN PELAN SAYANG   568. ADA PEJABAT YANG INGIN MAIN-MAIN DENGAN KASUS HUKUM

    “Semua sudah rampung?” tanya Retno kepada tim interior yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Matanya menyisir setiap sudut ruangan kantor Cipta yang kini telah berubah drastis menjadi ruang konsultasi kesehatan yang nyaman khusus untuk Martha. ​“Semua sudah bisa ditempati hari ini juga, Bu,” ucap salah satu perwakilan tim interior sambil merapikan peralatan terakhirnya dengan cekatan. ​“Oke. Dan pastikan di ruangan Pak Cipta tidak ada yang kurang sedikit pun,” ucap Retno dengan nada tegas, memastikan segala detail sempurna demi kenyamanan adiknya di tengah situasi sulit ini. ​Namun, saat Retno membalikkan badan hendak menemui Rain dan Cipta di ruangan Martha, ponsel di saku blazernya bergetar hebat. Ia merogoh benda pipih itu dan mengerutkan kening saat melihat deretan angka yang tidak terdaftar di kontak ponselnya. ​“Um... siapa ini?” tanya Retno pelan pada dirinya sendiri. Perasaannya mendadak tidak enak. Dengan ragu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel

  • PELAN PELAN SAYANG   567. RAIN DAN CIPTA SEDANG BERHADAPAN DENGAN MARTHA.

    “Rain? Cipta?” tanya Martha dengan suara parau saat melihat keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan yang kini beraroma lavender itu. “Ma...” Cipta menyapa ibu mertuanya dengan nada ramah yang dipaksakan. Ia berusaha menekan rasa sesak di dadanya melihat wanita yang biasanya angkuh itu kini tampak begitu rapuh. Keduanya duduk dengan jarak yang cukup lebar dari sang ibu di atas sofa yang sama, menciptakan ruang kosong yang seolah menggambarkan jurang pemisah di antara mereka. Rain hanya terdiam, matanya menatap lekat jemari ibunya yang gemetar. “Kalian udah makan?” tanya Martha sambil melirik deretan makanan enak di atas meja. Hidangan itu sengaja disiapkan oleh Cipta sebelum ia harus mengikuti rapat penting di lantai lima bersama para petinggi kepolisian lainnya. “Udah, Ma...” sahut keduanya nyaris bersamaan. Jawaban singkat itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan. Martha mengangguk-angguk pelan, lalu pandangannya mulai berkeliling ruangan seolah m

  • PELAN PELAN SAYANG   566. RAIN DAN CIPTA MELIHAT SENDIRI

    “Dia bisa ketawa seolah-olah dia nggak pernah menyakiti Gendis atau hampir mencelakai Bima. Apa dia benar-benar sakit, atau ini hanya perlindungan dirinya agar tidak masuk penjara?” ucap Cipta sambil melirik Rain sekilas.Rain tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bagaimana Dokter Retno merespons tawa Martha dengan anggukan kecil yang empati, namun matanya tetap jeli mengobservasi.“Dalam psikologi, ada yang disebut represi, Cipta. Dia mengubur ingatan yang membuatnya merasa bersalah dan hanya memunculkan yang indah-indah aja. Tapi kita harus pastikan apakah ini permanen atau cuma akting sesaat,” balas Rain tenang, meski hatinya pun ikut geram melihat manipulasi emosi di depan matanya.“Kamu sedikit banyak paham kondisi kayak gini, Rain,” ucap Cipta sambil melirik iparnya itu sekilas.Rain mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari sosok ibunya di balik kaca. “Saya memang psikolog reproduksi, walau kedengarannya jauh, tapi kami para psikolog mempelajari bagaimana pasien berbicara,

  • PELAN PELAN SAYANG   565. MARTHA BOLEH LUPA. TAPI KITA SEMUA INGAT!

    Kembali ke suasana di kantor polisi yang mulai memanas. Cipta melangkah dengan tegas menyusuri lorong setelah keluar dari ruang rapat di lantai lima. Seragam kepolisiannya tampak rapi, namun wajahnya menunjukkan guratan kelelahan setelah berhadapan dengan para petinggi. Sambil berjalan menuju tangga, ia menempelkan ponsel ke telinga.“Halo, Gendis? Rain udah jalan ke sini?” tanya Cipta pagi itu. Suara sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menggema di sepanjang lorong sunyi.“Oh, Mas Cipta. Udah dari tadi, kok. Mungkin sebentar lagi sampai atau malah udah di parkiran,” ucap Gendis dari seberang telepon. Di latar belakang, terdengar suara tawa kecil Bima yang sedang asyik bermain.“Oke, thanks. Sorry ganggu pagi-pagi. Salam kangen buat Bima ganteng dari uncle pakde, ya,” ucap Cipta sambil tersenyum tipis, sejenak melupakan ketegangan kasus Martha saat mendengar nama keponakannya.“Ahahaha... siap deh, Pakde Uncle!” sahut Gendis ceria sebelum mengakhiri percakapan tersebut.Cipta m

  • PELAN PELAN SAYANG   564. TINGKAH ANEH MARTHA. GERAK GERIK RETNO.

    “Ya, Cipta. Gimana?” sahut Rain sambil mengunyah makanannya dengan tenang. “Rain, nanti ke kantor, kan?” tanya Cipta yang suaranya terdengar renyah, seolah sedang menikmati sarapan pagi yang hangat bersama Wanda. “Iya, ke sana. Sesuai pesan kamu semalam,” ucap Rain. Ia melirik Gendis yang duduk di sampingnya, mencoba mencari ketenangan di mata istrinya sebelum menghadapi kerumitan urusan ibunya kembali. “Oke. Soalnya Dokter Retno jam tujuh nanti mau ke sana. Kamu harus jadi wali Mama juga untuk persetujuan pengobatan beliau,” tutur Cipta. Suaranya kini sedikit merendah, menyadari betapa berat beban yang harus dipikul Rain untuk menghadapi kondisi psikis Martha. “Oh, oke,” balas Rain singkat. Ia mengangguk pelan, meski dalam hati ada sedikit rasa pahit yang tersisa setiap kali nama sang ibu disebut sebagai pasien. “Bima mana? Biasa... Wanda kangen nih,” ucap Cipta kembali ceria, mencoba mencairkan suasana. “Oh, ada dong. Video call aja,” sahut Rain. Ia segera mengusap layar

  • PELAN PELAN SAYANG   563. TELEPON DARI SIAPA?

    Suasana kamar yang tadinya penuh kecemasan berubah drastis saat matahari pagi mulai naik. Ketukan sopan dari luar pintu menjadi penanda hari baru telah dimulai. “Bu... Pak... Sarapan sudah siap...” ucap Yuni, asisten rumah tangga mereka, dengan nada ramah. “Iya, Yuni! Terima kasih ya!” sahut Gendis lantang agar suaranya terdengar sampai keluar. Mendengar Yuni sudah menjauh, Rain melirik ke arah Bima yang ternyata sudah bangun sepenuhnya. Mata bulat balita itu berbinar, sisa-sisa air mata semalam telah hilang digantikan oleh binar kejenakaan. “Sarapan dulu, Sayang. Saya juga mau olahraga sebentar dan... kayaknya ada yang sudah bangun tidur nih...” ucap Rain sambil melirik jahil, berpura-pura tidak melihat Bima yang sedang berusaha menarik perhatiannya dengan senyum lebar. Gendis yang baru saja selesai mengancingkan pakaiannya setelah memberikan ASI, ikut masuk ke dalam permainan suaminya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. “Um... masa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status