Home / Romansa / PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI / BAB 6 JANJI DI BAWAH BINTANG

Share

BAB 6 JANJI DI BAWAH BINTANG

Author: Seri E Gulo
last update Last Updated: 2025-11-01 22:16:23

Malam itu, setelah jamuan makan malam yang panjang dan melelahkan, Elara menolak ditemani oleh Dayang Clara, dengan alasan migrain yang parah. Dayang itu, meskipun curiga, terpaksa mundur.

​Elara menunggu di kegelapan kamar mandinya yang luas. Dia tahu Ariel akan masuk melalui pintu belakang untuk tugas terakhir: menyiapkan air mandi lavender dan memastikan tidak ada debu di wastafel marmer.

​Tepat saat Ariel masuk, Elara sudah menunggunya di dalam bayangan, gaun tidurnya menyatu dengan kegelapan.

​"Saya tahu Anda sedang diuji," bisik Elara, tanpa basa-basi. "Kelopak itu. Clara. Dia mencurigai sesuatu."

​Ariel langsung membungkuk. "Tuan Putri, Anda seharusnya tidak berada di sini. Jika Clara kembali—"

​"Tidak," potong Elara. Dia melangkah maju, tangannya meraih lengan seragam Ariel, sentuhan pertama yang benar-benar mereka lakukan di luar emosi dan di tengah bahaya.

​"Dengarkan saya, Ariel. Varen semakin agresif. Ayah semakin tegas. Dalam beberapa hari, saya akan terikat. Malam ini mungkin adalah saat terakhir kita memiliki keheningan yang bersih."

​Air mata tidak ada di mata Elara kali ini. Hanya ada tekad yang membara.

​"Saya ingin mengatakan ini kepada Anda, sebelum mereka mengambil kata-kata dari lidah saya dan napas dari paru-paru saya. Saya tidak mencintai Varen. Saya tidak ingin menikahinya."

​"Saya tahu, Tuan Putri," kata Ariel, suaranya hanya sedikit lebih keras dari embusan napas. Ia menatap ke lantai pualam.

​Elara melepaskan tangannya, tetapi dia tidak mundur. Dia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, hingga Ariel bisa merasakan hangat napasnya.

​"Lalu siapa yang saya cintai, Ariel? Siapa yang saya rindukan setiap kali saya melihat langit Astaria di malam hari, dan mengapa saya melihat Anda di bawah bintang-bintang itu?"

​Jantung Ariel berdegup kencang hingga ia merasa tulangnya akan remuk. Ini adalah pengakuan. Sebuah bom yang dijatuhkan dengan kelembutan.

​"Tuan Putri," ia berbisik kembali, mengangkat pandangannya untuk bertemu dengan mata Elara. Ada kebenaran yang harus diucapkan, bahkan jika itu berarti kematian. "Saya hanya seorang pelayan. Saya hanyalah bayangan. Tetapi jika saya diizinkan untuk melihat bintang-bintang itu bersama Anda, saya tidak akan meminta surga lagi."

​Itu adalah pengakuan yang setara, di mana dia mengakui status rendahnya tetapi menawarkan jiwanya.

​"Baik," kata Elara, tiba-tiba terdengar kuat. Dia memejamkan mata sejenak, menerima janji itu. "Anda adalah milik saya. Saya tidak tahu bagaimana, tetapi saya akan memastikan mereka tidak menyentuh Anda, dan mereka tidak mengambil saya."

​Dia berbalik, mengambil kelopak kering yang Ariel sembunyikan di tangannya, dan menciumnya.

​"Sekarang pergi, Ariel. Lakukan tugas Anda. Dan jangan pernah lupakan janji ini."

​Ariel membungkuk dalam-dalam sekali lagi. Ia kembali menyiapkan air mandi, tangannya gemetar. Setelah malam itu, tidak ada jalan kembali. Mereka berdua telah mengakui perasaan mereka, dan sekarang mereka harus menghadapi konsekuensi dari romansa terlarang ini di bawah pengawasan ketat Dayang Clara dan ancaman Pangeran Varen.

Bau Tanah dari Timur

​Pangeran Varen dengan cepat mengambil alih Ruang Perjamuan dan sayap politik istana Astaria. Ia bukan hanya seorang tunangan; ia adalah seorang penjajah yang halus. Setiap jamuan makan, setiap pertemuan, digunakan untuk menunjukkan dominasinya.

​Elara terpaksa menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan Raja untuk Varen. Ariel, sebagai bagian dari tim pelayan yang disiapkan secara khusus, harus berada di dekat meja kerajaan. Ini memberinya kesempatan langka untuk mengamati Varen dari jarak dekat.

​Varen adalah pembicara yang fasih. Ia berbicara tentang investasi, aliansi militer, dan persatuan. Namun, Ariel menyadari bahwa di balik semua kata-kata manis tentang "persatuan," Varen selalu mempromosikan wilayahnya sendiri, dan secara halus meremehkan produk dan hasil panen Astaria.

​"Astaria yang indah," kata Varen, mengangkat gelasnya, "Memiliki tanah yang kaya, tetapi hasil panennya kurang optimal. Kami di Varen memiliki teknologi pertanian yang superior, yang dapat kami 'pinjamkan' kepada Anda dengan imbalan bagian dari hasil panen."

​Raja Astaria, yang selalu berhati-hati, tampak sedikit cemas tetapi tidak berani menolak tawaran Varen secara langsung.

​Saat Ariel membersihkan remah-remah di dekat Varen, dia mendengar percakapan yang lebih pribadi antara Pangeran itu dengan seorang utusan kepercayaannya, yang datang bersamanya dari Varen.

​"Pastikan pengiriman bijih besi dari Tambang Utara Astaria ditunda dua minggu lagi," bisik Varen kepada utusannya. "Dengan harga yang saya tawarkan, mereka akan kelaparan, dan Raja akan terpaksa menerima pinjaman kita dengan syarat apa pun."

​Ariel membeku sejenak, sendok perak di tangannya berhenti bergerak. Ini bukan hanya politik; ini adalah rencana untuk melemahkan Astaria secara ekonomi sebelum pernikahan. Bijih besi dari Tambang Utara adalah sumber daya utama Astaria, dan penundaan pengiriman dapat menyebabkan kekacauan finansial.

​Malam itu, tugas Ariel di sayap Elara adalah merapikan kantor kecil Putri yang jarang digunakan. Di sana terdapat peta-peta tua kerajaan dan laporan-laporan ekonomi yang sudah lama diabaikan.

​Elara masuk. Dia mengenakan jubah beludru tebal, tampak lelah setelah berpura-pura tersenyum sepanjang malam.

​"Varen berbicara terlalu banyak tentang teknologi pertanian, Ariel," kata Elara, duduk di kursi berlengan. "Padahal Varen terkenal karena industri bijih besinya."

​Elara tidak menanyakan tentang Varen secara langsung, tetapi ia memberikan petunjuk. Dia tahu Varen menyembunyikan sesuatu.

​"Apakah Anda memperhatikan detail kecil apa pun, Ariel? Para bangsawan selalu meninggalkan petunjuk dalam remah-remah di meja mereka."

​Ariel memahami. Ini adalah penyelidikan rahasia, menggunakan posisinya sebagai pelayan yang "tak terlihat" untuk menyusup ke tempat yang tidak dapat dijangkau oleh Putri.

​"Tuan Putri," kata Ariel, berdiri di samping peta tua Astaria. "Saya mendengar percakapan tentang Bijih Besi di Tambang Utara. Ada rencana untuk menunda pengiriman bijih selama dua minggu, yang mungkin dapat memengaruhi keuangan kerajaan."

​Elara memejamkan mata, mencerna informasi itu. "Tambang Utara... itu area yang sangat strategis. Jika itu ditahan, Astaria akan goyah sebelum ia mengambil alih secara resmi."

​Dia kemudian menunjuk ke sebuah buku besar di rak. "Ambilkan saya buku ini, Ariel. Judulnya: 'Jalur Perdagangan Astaria Abad ke-17'."

​Ketika Ariel mengambil buku itu, Elara berbicara lagi, kali ini dengan mata tertuju pada peta di depannya.

​"Saya ingin Anda mencari tahu, jika Anda bisa, bagaimana Varen bisa menunda pengiriman itu. Apakah dia menyuap kapten kapal, atau apakah dia mengendalikan jalur pegunungan?"

​Ini adalah tugas mata-mata yang berbahaya. Melanggar batas-batas sosial adalah satu hal; mengganggu urusan politik Pangeran Varen dapat dihukum mati tanpa ampun.

​"Saya akan melakukannya, Tuan Putri," jawab Ariel tanpa ragu. Janji yang ia buat di bawah bintang-bintang kini beralih dari emosional menjadi tindakan berbahaya.

​Sebelum Ariel pergi, Elara menambahkan, "Satu hal lagi. Saat Anda pergi, pastikan Anda menaruh lilin putih di ambang jendela balkon. Itu akan menjadi penanda bahwa saya perlu berdiskusi dengan Anda, dan hanya Anda, di observatorium, malam ini. Saya tidak bisa menunggu."

​Kode rahasia itu kini telah berevolusi dari sekadar pemberitahuan menjadi panggilan mendesak. Malam itu, Ariel meninggalkan sayap Putri bukan dengan hati yang bersemangat, melainkan dengan jantung yang berdetak kencang karena menghadapi bahaya ganda: Dayang Clara dan Pangeran Varen. Astaria kini bergantung pada bayangan seorang anak yatim.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 104 Benturan di Garis Cakrawala

    ​Kehampaan itu tidak datang dengan suara ledakan. Ia datang dengan "penghapusan".​Di orbit planet Sonora, ribuan kapal dari berbagai dimensi berdiri dalam formasi geometris yang sempurna, dihubungkan oleh benang-benang cahaya perak yang bersumber dari kapal induk Ethereal Sovereign. Di pusat kapal itu, Kora sudah tidak lagi terlihat sebagai manusia; ia adalah pusaran energi murni, rambutnya yang seperti serat optik menjalar ke seluruh sistem kendali, menyatukan jutaan pikiran prajurit ke dalam satu kesadaran kolektif yang harmonis.​Lyran melayang di luar angkasa, tepat di depan garis terdepan armada. Ia tidak lagi membutuhkan oksigen atau perlindungan fisik; tubuhnya yang setengah transparan berdenyut dengan Frekuensi Asal. Di hadapannya, awan hitam para Arsitek Kesunyian mulai menyentuh tepi terluar Perisai Harmonik.​Benturan Pertama: Keheningan Melawan Keberadaan​Saat gelombang pertama Arsitek menghantam perisai, tidak ada api. Yang ada hanyalah distorsi ruang di mana cahaya bin

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 103 Perjamuan Para Penyintas Kael

    ​Inti Sonora kini berdenyut dengan irama yang stabil, namun Lyran berdiri di sana sebagai sosok yang asing. Lengan kirinya yang transparan seperti kaca membiarkan cahaya emas dari kristal di sekelilingnya menembus tubuhnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan kebingungan yang dingin. Kora, yang masih memeluknya, merasakan bahwa detak jantung Lyran kini lebih mirip dengan detak jam mekanis kuno daripada mahluk hidup. Seolah-olah kemanusiaannya sedang terkikis, digantikan oleh algoritma kosmik yang efisien namun hampa.​"Aethel," Lyran memanggil, suaranya kini terdengar seperti paduan suara dari ribuan bisikan. "Berapa lama sebelum Arsitek lainnya mencapai atmosfer kita?"​"Dalam estimasi linear: 48 jam Sonora," jawab Aethel melalui resonansi dinding kristal. "Namun, mereka tidak hanya datang untuk menghancurkan. Mereka datang untuk memulihkan 'Keheningan Dasar'. Kita tidak bisa menghadapi mereka sendirian, Lyran. Logika mereka melampaui kehancuran fisik; mereka menghapus konsep

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 102 Perang di Inti Sonora

    Langit Sonora yang biasanya penuh dengan harmoni kristal kini tampak seperti pemandangan di dalam mimpi buruk. Jaring-jaring hitam raksasa, The Silence Web, membentang dari cakrawala ke cakrawala, menembus atmosfer dan mengisap semua warna dari planet tersebut. Di bawah jaring itu, penduduk Sonora tidak lagi bisa mendengar satu sama lain; setiap suara yang mereka keluarkan langsung terserap oleh untaian bayangan tersebut.Lyran meluncur turun dari portal Limbus seperti meteor perak. Rambut putih panjangnya meninggalkan jejak cahaya di udara yang mulai membeku. Di belakangnya, Kora memegang erat pundak Lyran, menggunakan hubungan empati mereka untuk menjadi kompas moral bagi pemuda yang telah kehilangan ingatannya itu.Serangan Pertama: Membelah Langit"Aethel, identifikasi struktur jaring ini," perintah Lyran. Suaranya kini memiliki resonansi ganda, seolah-olah dua entitas berbicara secara bersamaan."Jaring ini adalah struktur non-materi yang berbasis pada algoritma 'Pembatalan Eksis

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 101 Perang Tanpa Nama

    ​Cahaya putih dari "Frekuensi Asal" perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang Limbus yang geometris. Lyran berdiri tegak, memegang bola energi murni yang berdenyut di tangan kanannya. Rambut putihnya kini memanjang hingga menyentuh lantai, bercahaya dengan intensitas yang menyakitkan mata.​Namun, saat ia menatap tangannya sendiri, tidak ada pengenalan. Saat ia menatap busur Gema Kael yang retak di sampingnya, benda itu tampak seperti rongsokan yang asing.​"Siapa... aku?" bisik Lyran. Suaranya terdengar hampa, seperti gema di dalam gua yang kosong.​Kora melangkah maju, wajahnya pucat pasi. Ia menyentuh tangan Lyran, mencoba mengirimkan aliran memori melalui empati frekuensi mereka. Namun, yang ia rasakan hanyalah sebuah padang pasir putih yang luas. The Archivist telah mengambil semuanya—setiap tawa masa kecil, wajah orang tua Lyran, dan alasan mengapa ia membenci suara pada awalnya.​Serangan Sang Arsitek: Kehampaan yang Mendekat​Dinding-dinding Limbus ti

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 100 Gema di Ruang Hampa

    ​Cahaya keemasan yang baru saja menyelimuti Sonora mulai meredup, digantikan oleh ketenangan yang tidak wajar. Lyran berdiri di tepi balkon Menara Gletser, jemarinya yang gemetar menyentuh rambut putihnya yang kini berkilau seperti serat optik. Di bawahnya, dunia tidak lagi berteriak dalam frekuensi yang kacau, namun kesunyian yang datang kali ini terasa berbeda—ini bukan kesunyian yang damai, melainkan kesunyian yang "lapar".​"Mereka sudah datang, bukan?" Lyran tidak berbicara dengan suara, melainkan mengirimkan getaran pikiran langsung ke arah Kora yang berdiri di sampingnya.​Kora mengangguk pelan. Tanpa modulator, wajahnya kini menjadi kanvas emosi yang murni. Ia menyentuh lengan Lyran, dan melalui kontak itu, sebuah visi mengalir: kegelapan yang menelan bintang-bintang di kejauhan, sebuah entitas yang tidak memiliki bentuk fisik, hanya kekosongan yang berjalan.​Sang Utusan Tanpa Suara​Tiba-tiba, langit di atas Sonora bergetar. Bukannya retakan dimensi berwarna ungu seperti yan

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 99 Kehendak Bebas

    ​Udara di puncak Menara Gletser terasa sangat tipis, hampir hampa. Di hadapan Lyran, konsol pemancar berdenyut dengan cahaya hitam yang lapar, menanti perintah untuk menghisap sisa-sisa jiwa Sonora demi proyek ambisius The Silent King. Di belakangnya, Kora berdiri dengan tombak gemetar, matanya menatap Lyran dengan campuran antara ketakutan dan harapan.​"Putuskan, Lyran," suara Sang Raja bergema, tenang namun menindas. "Jadilah penyelamat yang logis, atau jadilah pahlawan bodoh yang membiarkan multiverse robek."​Lyran menatap konsol itu, lalu menatap busur Gema Kael di tangannya. Ia teringat akan ajaran Sang Penenun di Titik Nol (Bab 98): bahwa semesta tidak butuh stabilitas yang dipaksakan, melainkan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.​"Aku memilih..." Lyran berbisik, suaranya hampir tak terdengar namun bergema di dalam frekuensi menara. "...untuk tidak memilih keduanya."​Inisialisasi Protokol "Eksistensi Terdistribusi"​Lyran tidak menekan tombol aktivasi untuk menghisap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status