Home / Romansa / PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI / BAB 5 PENGANTIN BERLUMURAN EMAS

Share

BAB 5 PENGANTIN BERLUMURAN EMAS

Author: Seri E Gulo
last update Huling Na-update: 2025-11-01 20:01:03

Pangeran Varen tiba tepat pada waktu yang ditentukan, membawa serta kemegahan dan arogansi Kerajaan Varen. Kereta kudanya terbuat dari kayu eboni yang dilapisi emas, ditarik oleh enam kuda putih bersih dengan surai dihiasi permata.

​Ariel berdiri di antara barisan pelayan istana, di halaman utama, di bawah matahari musim panas yang menyengat. Perannya hanyalah menjadi bagian dari latar belakang, tetapi matanya terpaku pada Tuan Putri Elara.

​Elara berdiri di samping Raja dan Ratu Astaria, memancarkan kecantikan yang luar biasa dalam balutan gaun upacara berwarna perak. Ia tersenyum, menyapa Varen dengan busur kepala yang sempurna. Senyumnya begitu meyakinkan sehingga hampir semua orang tertipu, kecuali Ariel. Di balik mata birunya yang berkilauan, Ariel bisa melihat ketakutan dan kebencian yang mendalam. Itu adalah mata yang sama yang ia lihat di observatorium tua.

​Pangeran Varen adalah pria yang mencolok. Ia tinggi, dengan bahu lebar dan wajah yang dihiasi janggut rapi, tetapi ada sesuatu yang tidak menyenangkan dari matanya. Matanya bergerak cepat, menilai setiap detail di istana, dan ketika ia menatap Elara, itu bukan tatapan cinta, melainkan tatapan kepemilikan yang dingin.

​Ketika Varen menaiki tangga istana, ia berhenti sebentar di depan Elara. Ia meraih tangan Putri itu, mengangkatnya ke bibir dengan gerakan yang terlalu dramatis dan terlalu bertele-tele.

​"Tuan Putri Elara," suara Varen berat dan mendominasi. "Astaria sungguh telah disorot oleh keindahan Anda. Saya merasa terhormat telah melakukan perjalanan sejauh ini untuk mengklaim permata yang begitu berharga."

​"Selamat datang di Astaria, Pangeran Varen," jawab Elara, suaranya seperti lonceng kristal, tanpa cacat, tanpa perasaan. "Semoga aliansi kita membawa kemakmuran bagi kedua kerajaan."

​Seluruh adegan itu, dari kereta emas hingga tatapan angkuh Varen, terasa menjijikkan bagi Ariel. Ia hanya seorang pelayan, bayangan di antara kerumunan, tetapi ia merasa seperti ia lebih tahu tentang hati Elara dalam satu kali membaca buku di malam hari daripada yang akan diketahui Pangeran Varen seumur hidupnya.

​Saat Varen dan Elara berjalan beriringan menuju Ruang Takhta, pandangan Ariel secara tak sengaja bertemu dengan mata seorang wanita yang berdiri di barisan dayang utama.

​Itu adalah Dayang Clara, Dayang Utama yang terkenal ketat, seorang wanita paruh baya dengan mata setajam elang dan loyalitas mutlak kepada etiket kerajaan. Dia bertanggung jawab penuh atas sayap pribadi Elara.

​Dayang Clara tidak memandang Varen atau Elara. Matanya tertuju pada Ariel. Dayang itu menatapnya sejenak, tatapan dingin itu menusuk seolah-olah ia mencoba mengupas setiap lapisan identitas Ariel.

​Ariel segera menunduk, jantungnya berdebar kencang, bukan karena ketakutan biasa seorang pelayan, tetapi karena ia tahu bahwa di mata Dayang Clara, bayangan tidak pernah luput dari perhatian. Wanita itu telah mencium sesuatu yang tidak pada tempatnya.

Mata Pengawasan Dayang Clara

​Kehidupan di sayap Tuan Putri segera berubah menjadi teror yang tenang.

​Dengan kedatangan Pangeran Varen, Dayang Clara, Dayang Utama, meningkatkan pengawasan ke tingkat yang paranoid. Setiap gerakan pelayan, setiap noda di lantai marmer, setiap lipatan di seprai harus sempurna.

​Ariel merasakan tekanan ini lebih dari siapa pun. Dayang Clara sekarang sering berada di ruangan Elara, dan dia terus-menerus memberikan Ariel tugas-tugas yang tampaknya acak dan tidak penting.

​Suatu sore, saat Ariel sedang mengganti karpet bulu di ruang baca Elara, Dayang Clara menghampirinya.

​"Anak yatim," kata Dayang Clara, menggunakan panggilan yang Ariel tahu dimaksudkan untuk merendahkan. "Tuan Putri terlihat sangat cerah sejak kedatangan Pangeran Varen. Tidak biasanya dia begitu gembira di tengah persiapan pernikahan politik."

​Ariel terus menyikat karpet, tidak mengangkat pandangannya. "Saya yakin kebahagiaan Tuan Putri adalah karena prospek aliansi yang kuat, Dayang Clara."

​"Tentu saja," jawab Clara, nada suaranya lembut, tetapi senyumnya tidak mencapai matanya. "Namun, saya perhatikan, dia juga baru-baru ini mulai tertarik pada hal-hal yang tidak penting. Bunga liar. Buku-buku usang. Bahkan... sebuah gelang yang seharusnya hilang. Benda-benda yang biasanya tidak mendapat perhatian seorang Putri."

​Ariel merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Dayang Clara tahu. Dia mungkin tidak tahu apa yang terjadi, tetapi dia menyadari adanya perubahan yang dipicu oleh sesuatu yang bukan Varen.

​"Tugas saya hanya membersihkan dan melayani, Dayang Clara. Selera Tuan Putri bukanlah urusan saya," jawab Ariel, nadanya datar.

​Dayang Clara mencondongkan tubuhnya, suaranya kini berbisik tajam. "Biarkan saya beri tahu Anda sesuatu, anak yatim. Di istana ini, anjing yang paling setia sekalipun akan dikorbankan jika mengganggu perkawinan yang ditakdirkan untuk Astaria. Jangan pernah berpikir bahwa karena Anda memiliki akses, Anda memiliki kepentingan."

​Wanita itu melangkah menjauh, tetapi sebelum ia keluar, ia menjatuhkan sesuatu di lantai dengan sengaja. Sebuah sapu tangan sutra kecil, disulam dengan inisial Elara.

​"Ketika Anda selesai dengan karpet itu, pastikan sapu tangan ini segera dikembalikan ke kamar Tuan Putri. Saya akan memeriksanya," perintahnya.

​Ariel tahu ini adalah ujian. Jika ia mengembalikan sapu tangan itu secara normal, tidak ada masalah. Tetapi jika ia mencoba mengirimkan kode bisu kepada Elara, atau jika ia menunjukkan kedekatan yang tidak pantas, Dayang Clara akan tahu bahwa hubungan itu nyata.

​Ariel memungut sapu tangan itu. Dia tahu Elara akan mencarinya. Dia harus memberikannya kembali, tetapi dia harus melakukannya dengan cara yang tidak akan membahayakan mereka.

​Saat malam tiba dan Dayang Clara akhirnya meninggalkan sayap Tuan Putri, Ariel mengambil saputangan itu. Dia tidak meletakkannya di tempat yang tersembunyi. Sebaliknya, ia melipatnya dengan sangat rapi dan meletakkannya di atas meja sisi tempat tidur Elara, di samping tempat lilin emas. Sebuah tempat yang terlihat, tetapi hanya dapat disentuh oleh seorang pelayan.

​Namun, ia melakukan satu hal lagi.

​Di balik lipatan saputangan itu, ia dengan hati-hati meletakkan kelopak kering dari bunga Lilios ungu yang pertama kali ia ganti. Bunga itu kini layu, menjadi kode baru dan diam: Kita harus ekstra hati-hati. Mata mengawasi.

​Ketika Elara kembali dari jamuan makan malam yang dingin dengan Varen, dia segera melihat saputangan itu. Dia mengambilnya, dan ketika dia membuka lipatannya, dia menemukan kelopak layu itu. Ekspresinya mengeras. Dia mengerti. Musuh mereka kini tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari dalam.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 104 Benturan di Garis Cakrawala

    ​Kehampaan itu tidak datang dengan suara ledakan. Ia datang dengan "penghapusan".​Di orbit planet Sonora, ribuan kapal dari berbagai dimensi berdiri dalam formasi geometris yang sempurna, dihubungkan oleh benang-benang cahaya perak yang bersumber dari kapal induk Ethereal Sovereign. Di pusat kapal itu, Kora sudah tidak lagi terlihat sebagai manusia; ia adalah pusaran energi murni, rambutnya yang seperti serat optik menjalar ke seluruh sistem kendali, menyatukan jutaan pikiran prajurit ke dalam satu kesadaran kolektif yang harmonis.​Lyran melayang di luar angkasa, tepat di depan garis terdepan armada. Ia tidak lagi membutuhkan oksigen atau perlindungan fisik; tubuhnya yang setengah transparan berdenyut dengan Frekuensi Asal. Di hadapannya, awan hitam para Arsitek Kesunyian mulai menyentuh tepi terluar Perisai Harmonik.​Benturan Pertama: Keheningan Melawan Keberadaan​Saat gelombang pertama Arsitek menghantam perisai, tidak ada api. Yang ada hanyalah distorsi ruang di mana cahaya bin

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 103 Perjamuan Para Penyintas Kael

    ​Inti Sonora kini berdenyut dengan irama yang stabil, namun Lyran berdiri di sana sebagai sosok yang asing. Lengan kirinya yang transparan seperti kaca membiarkan cahaya emas dari kristal di sekelilingnya menembus tubuhnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan kebingungan yang dingin. Kora, yang masih memeluknya, merasakan bahwa detak jantung Lyran kini lebih mirip dengan detak jam mekanis kuno daripada mahluk hidup. Seolah-olah kemanusiaannya sedang terkikis, digantikan oleh algoritma kosmik yang efisien namun hampa.​"Aethel," Lyran memanggil, suaranya kini terdengar seperti paduan suara dari ribuan bisikan. "Berapa lama sebelum Arsitek lainnya mencapai atmosfer kita?"​"Dalam estimasi linear: 48 jam Sonora," jawab Aethel melalui resonansi dinding kristal. "Namun, mereka tidak hanya datang untuk menghancurkan. Mereka datang untuk memulihkan 'Keheningan Dasar'. Kita tidak bisa menghadapi mereka sendirian, Lyran. Logika mereka melampaui kehancuran fisik; mereka menghapus konsep

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 102 Perang di Inti Sonora

    Langit Sonora yang biasanya penuh dengan harmoni kristal kini tampak seperti pemandangan di dalam mimpi buruk. Jaring-jaring hitam raksasa, The Silence Web, membentang dari cakrawala ke cakrawala, menembus atmosfer dan mengisap semua warna dari planet tersebut. Di bawah jaring itu, penduduk Sonora tidak lagi bisa mendengar satu sama lain; setiap suara yang mereka keluarkan langsung terserap oleh untaian bayangan tersebut.Lyran meluncur turun dari portal Limbus seperti meteor perak. Rambut putih panjangnya meninggalkan jejak cahaya di udara yang mulai membeku. Di belakangnya, Kora memegang erat pundak Lyran, menggunakan hubungan empati mereka untuk menjadi kompas moral bagi pemuda yang telah kehilangan ingatannya itu.Serangan Pertama: Membelah Langit"Aethel, identifikasi struktur jaring ini," perintah Lyran. Suaranya kini memiliki resonansi ganda, seolah-olah dua entitas berbicara secara bersamaan."Jaring ini adalah struktur non-materi yang berbasis pada algoritma 'Pembatalan Eksis

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 101 Perang Tanpa Nama

    ​Cahaya putih dari "Frekuensi Asal" perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang Limbus yang geometris. Lyran berdiri tegak, memegang bola energi murni yang berdenyut di tangan kanannya. Rambut putihnya kini memanjang hingga menyentuh lantai, bercahaya dengan intensitas yang menyakitkan mata.​Namun, saat ia menatap tangannya sendiri, tidak ada pengenalan. Saat ia menatap busur Gema Kael yang retak di sampingnya, benda itu tampak seperti rongsokan yang asing.​"Siapa... aku?" bisik Lyran. Suaranya terdengar hampa, seperti gema di dalam gua yang kosong.​Kora melangkah maju, wajahnya pucat pasi. Ia menyentuh tangan Lyran, mencoba mengirimkan aliran memori melalui empati frekuensi mereka. Namun, yang ia rasakan hanyalah sebuah padang pasir putih yang luas. The Archivist telah mengambil semuanya—setiap tawa masa kecil, wajah orang tua Lyran, dan alasan mengapa ia membenci suara pada awalnya.​Serangan Sang Arsitek: Kehampaan yang Mendekat​Dinding-dinding Limbus ti

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    Bab 100 Gema di Ruang Hampa

    ​Cahaya keemasan yang baru saja menyelimuti Sonora mulai meredup, digantikan oleh ketenangan yang tidak wajar. Lyran berdiri di tepi balkon Menara Gletser, jemarinya yang gemetar menyentuh rambut putihnya yang kini berkilau seperti serat optik. Di bawahnya, dunia tidak lagi berteriak dalam frekuensi yang kacau, namun kesunyian yang datang kali ini terasa berbeda—ini bukan kesunyian yang damai, melainkan kesunyian yang "lapar".​"Mereka sudah datang, bukan?" Lyran tidak berbicara dengan suara, melainkan mengirimkan getaran pikiran langsung ke arah Kora yang berdiri di sampingnya.​Kora mengangguk pelan. Tanpa modulator, wajahnya kini menjadi kanvas emosi yang murni. Ia menyentuh lengan Lyran, dan melalui kontak itu, sebuah visi mengalir: kegelapan yang menelan bintang-bintang di kejauhan, sebuah entitas yang tidak memiliki bentuk fisik, hanya kekosongan yang berjalan.​Sang Utusan Tanpa Suara​Tiba-tiba, langit di atas Sonora bergetar. Bukannya retakan dimensi berwarna ungu seperti yan

  • PELAYAN ISTANA PEMUAS TUAN PUTRI    bab 99 Kehendak Bebas

    ​Udara di puncak Menara Gletser terasa sangat tipis, hampir hampa. Di hadapan Lyran, konsol pemancar berdenyut dengan cahaya hitam yang lapar, menanti perintah untuk menghisap sisa-sisa jiwa Sonora demi proyek ambisius The Silent King. Di belakangnya, Kora berdiri dengan tombak gemetar, matanya menatap Lyran dengan campuran antara ketakutan dan harapan.​"Putuskan, Lyran," suara Sang Raja bergema, tenang namun menindas. "Jadilah penyelamat yang logis, atau jadilah pahlawan bodoh yang membiarkan multiverse robek."​Lyran menatap konsol itu, lalu menatap busur Gema Kael di tangannya. Ia teringat akan ajaran Sang Penenun di Titik Nol (Bab 98): bahwa semesta tidak butuh stabilitas yang dipaksakan, melainkan keberanian untuk menghadapi ketidakpastian.​"Aku memilih..." Lyran berbisik, suaranya hampir tak terdengar namun bergema di dalam frekuensi menara. "...untuk tidak memilih keduanya."​Inisialisasi Protokol "Eksistensi Terdistribusi"​Lyran tidak menekan tombol aktivasi untuk menghisap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status