Home / Mafia / PELAYAN TUAN ARTHUR / bab.06. Peraturan

Share

bab.06. Peraturan

Author: Venus
last update publish date: 2026-07-15 18:09:51
"so, ella..." Arthur memulai, namaku terdengar begitu pas saat ia ucapkan, aksen Italianya membuatnya terdengar jauh lebih indah. "Saya yakin kamu sudah pernah dibeli sebelumnya, kan?" tanyanya.

"P-pernah, sering." jawabku sambil berdehem, mencoba menutupi kegagapan yang selalu muncul setiap kali aku bicara dengannya.

"Yah, saya yakin kamu sudah pernah punya aturan sebelumnya, tapi kurasa aturannya tidak akan sama denganku," jelas Arthur.

Aku menatapnya dengan penuh antisipasi, mencoba mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    bab.12

    Sudah lima hari berlalu sejak terakhir kali aku berbicara dengan Arthur. Aku jarang melihatnya, kecuali saat sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap kali kami berpapasan, aku akan menundukkan kepala atau dia akan berjalan melewatiku begitu saja dan mengabaikanku. Suasananya sangat canggung, setidaknya itu yang kurasakan. Aku terus membersihkan rumahnya setiap hari, padahal rumah itu sudah sangat bersih, karena aku terus-menerus mengulang bagian yang sudah kubersihkan sebelumnya. Kurasa karena aku tidak punya banyak pekerjaan, dan aku tidak ingin bergelut dengan isi pikiranku sendiri. Aku rasa Arthur tidak tahu kalau aku tidak punya kegiatan apa pun untuk mengisi waktu luang, atau mungkin dia sebenarnya bersedia memberiku buku untuk dibaca atau sesuatu yang lain untuk dikerjakan. Meskipun mungkin aku salah; dia hanya menganggapku tidak lebih dari seorang pelacur yang tidak berharga. Terlepas dari semua itu, aku sudah bosan dengan kebosananku ini dan sangat ingin membaca buku,

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.11

    POV Arthur Kami sudah berada di ruang rapat selama satu jam dan belum membuahkan hasil apa pun. Aku sudah menyuruh orang-orang bodoh ini untuk melacak 'mafia'—atau sebutan payah untuk komplotan yang lebih mirip geng yang mencoba menipu kita—tapi tampaknya mereka gagal.Aku menggebrak meja kaca dengan kepalan tanganku, heran kenapa meja itu tidak pecah, lalu terkekeh sinis. "Sialan! Aku bahkan bisa menemukan mereka dengan mata tertutup. Tapi kalian tahu sendiri kalau aku sedang sibuk, makanya aku mempercayai kalian cazzi untuk menemukan mereka dan membawanya ke hadapanku, supaya aku bisa memenggal kepala mereka dengan tangan kosong!" desisku penuh amarah.Aku sempat mendengar suara napas tertahan yang cukup keras dari balik pintu. Namun, aku sudah terlalu murka untuk memedulikannya, dan karena tidak ada satu pun pria di hadapanku yang bereaksi, aku menganggap itu cuma perasaanku saja. Dange dan matteo mulai berbicara saling bersahutan, sementara miller duduk dengan sabar dan m

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.10

    "I-ini makanannya." Aku berbicara pelan seperti biasanya sambil meletakkan dua piring pancake ke atas meja, berhati-hati agar tidak ada yang jatuh ke lantai. Sulit sekali rasanya karena gugup dan tanganku terus-terusan gemetar. Aku mendapat anggukan tanda terima kasih dari dante dan dua orang lainnya, tapi arthur hanya menatapku seolah-olah menyuruhku pergi. Aku pun bergegas pergi, takut akan konsekuensi yang mungkin kuterima, aku tahu belum genap dua puluh empat jam tinggal bersamanya, aku harus tetap berhati-hati. "Ini enak sekali. Terima kasih, ella," ucap dante setelah menelan suapan pancake dengan lelehan madu di atasnya. Aku tersenyum simpul padanya saat matteo menggumamkan sesuatu yang senada, tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena mulutnya penuh makanan. Miller baru saja mengedipkan mata padaku, dan aku merasa wajahku memerah. Aku langsung tersadar kembali saat Arthur berucap, "Tinggalkan kami sekarang." Suaranya terdengar yang membuatku cemas akan apa

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.09

    Keesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang lelah, akibat insomnia dan mimpi buruk yang ku derita sejak usia sepuluh tahun.Aku mengatur alarm jam tujuh pagi, karena harus menyiapkan sarapan jam sembilan, aku memaksakan diri untuk bangun, beranjak dari tempat tidur dan membuka gorden. Aku mengerjap beberapa kali buat nyesuain mata dengan cahaya terang dari balik gorden tipis.Saat aku balik badan mau ke kamar mandi, aku melihat ada sesuatu di atas sofa kecil samping pintu. aku mendekat, menyadari ada sebuah pakaian pelayan hitam yang sangat pendek,dengan celemek putih berenda, stoking jaring, dan sepasang heels lengkap dengan secarik catatan kecil di atasnya. Aku mengambil catatan itu;"Pakai ini. Aku yakin ini akan terlihat bagus untukmu, gattino."Aku mengernyitkan alis dan meletakkan catatan itu.Aku benar-benar tidak percaya harus memakai ini. Kuharap, setelah melihatku memakainya, dia akan berubah pikiran dan mengizinkanku memakai sesuatu yang lebih nyaman.Dengan perasaan k

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    bab.08 kamar terbaik

    Aku menatapnya seolah bertanya apakah aku boleh masuk atau tidak, dan dia menganggukkan kepalanya menyuruhku masuk.Aku mengikuti isyaratnya dan disambut oleh sebuah ruangan yang sangat luas.Ini mungkin kamar tidur terbaik yang pernah aku tempati.Begitu masuk, ada dua jendela besar yang menghadap ke taman belakang dengan tirai tipis transparan agar sinar matahari bisa masuk, tapi ada juga tirai beludru putih yang tersingkap dan diikat dengan tali emas.Aku melangkah lebih jauh ke dalam kamar dan melirik ke sebelah kiri, di sana ada tempat tidur king size yang dilapisi sprei dan selimut bermotif putih-emas dengan bantal yang senada.Tempat tidur itu memiliki tiang kayu di setiap sudutnya untuk menopang kelambu' di atas tempat tidur tersebut. Di sisi kanan ruangan ada dua pintu putih besar, aku asumsikan itu pintu menuju lemari pakaian, dan di sebelahnya ada meja rias berwarna emas yang kosong.Cantik sekali.Lagi, aku menoleh ke arah tempat tidur dan melihat sebuah pintu, mirip d

  • PELAYAN TUAN ARTHUR    Bab.07. roomtour

    "Apa kamu cuma mau berdiri di situ sambil memperlihatkan wajah bodohmu semalaman, atau kamu mau masuk?" tanya Arthur dari dalam rumah.Aku terlalu sibuk mengagumi bagian dalam rumah itu sampai tidak sadar kalau dia sedang bicara padaku. Begitu melewati pintu besar itu, tepat di depannya terdapat tangga marmer dengan dua sisi yang menuju ke balkon di lantai atas.Dari sini, terlihat ada beberapa pintu di belakang balkon tersebut yang terhubung ke bagian mansion yang tidak terlihat dari tempatku berdiri.Aku berdiri di atas karpet bermotif, dan di setiap ujung tangga terdapat pot tanaman besar berisi sejenis pohon palem kecil.Pegangan tangannya sebagian besar terbuat dari marmer dengan pinggiran berwarna emas. Lebih jauh ke sisi kanan tangga, ada pintu putih lain yang menuju ke ruangan terang benderang, dan di sisi sebelah kiri juga terdapat pintu serupa.Di balik pintu tempatku berdiri, ada meja kopi dan sofa lengkap dengan satu sofa tambahan di sampingnya.Secara keseluruhan, sejauh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status