LOGINKeesokan paginya aku bangun dengan tubuh yang lelah, akibat insomnia dan mimpi buruk yang ku derita sejak usia sepuluh tahun.Aku mengatur alarm jam tujuh pagi, karena harus menyiapkan sarapan jam sembilan, aku memaksakan diri untuk bangun, beranjak dari tempat tidur dan membuka gorden. Aku mengerjap beberapa kali buat nyesuain mata dengan cahaya terang dari balik gorden tipis.Saat aku balik badan mau ke kamar mandi, aku melihat ada sesuatu di atas sofa kecil samping pintu. aku mendekat, menyadari ada sebuah pakaian pelayan hitam yang sangat pendek,dengan celemek putih berenda, stoking jaring, dan sepasang heels lengkap dengan secarik catatan kecil di atasnya. Aku mengambil catatan itu;"Pakai ini. Aku yakin ini akan terlihat bagus untukmu, gattino."Aku mengernyitkan alis dan meletakkan catatan itu.Aku benar-benar tidak percaya harus memakai ini. Kuharap, setelah melihatku memakainya, dia akan berubah pikiran dan mengizinkanku memakai sesuatu yang lebih nyaman.Dengan perasaan k
Aku menatapnya seolah bertanya apakah aku boleh masuk atau tidak, dan dia menganggukkan kepalanya menyuruhku masuk.Aku mengikuti isyaratnya dan disambut oleh sebuah ruangan yang sangat luas.Ini mungkin kamar tidur terbaik yang pernah aku tempati.Begitu masuk, ada dua jendela besar yang menghadap ke taman belakang dengan tirai tipis transparan agar sinar matahari bisa masuk, tapi ada juga tirai beludru putih yang tersingkap dan diikat dengan tali emas.Aku melangkah lebih jauh ke dalam kamar dan melirik ke sebelah kiri, di sana ada tempat tidur king size yang dilapisi sprei dan selimut bermotif putih-emas dengan bantal yang senada.Tempat tidur itu memiliki tiang kayu di setiap sudutnya untuk menopang kelambu' di atas tempat tidur tersebut. Di sisi kanan ruangan ada dua pintu putih besar, aku asumsikan itu pintu menuju lemari pakaian, dan di sebelahnya ada meja rias berwarna emas yang kosong.Cantik sekali.Lagi, aku menoleh ke arah tempat tidur dan melihat sebuah pintu, mirip d
"Apa kamu cuma mau berdiri di situ sambil memperlihatkan wajah bodohmu semalaman, atau kamu mau masuk?" tanya Arthur dari dalam rumah.Aku terlalu sibuk mengagumi bagian dalam rumah itu sampai tidak sadar kalau dia sedang bicara padaku. Begitu melewati pintu besar itu, tepat di depannya terdapat tangga marmer dengan dua sisi yang menuju ke balkon di lantai atas.Dari sini, terlihat ada beberapa pintu di belakang balkon tersebut yang terhubung ke bagian mansion yang tidak terlihat dari tempatku berdiri.Aku berdiri di atas karpet bermotif, dan di setiap ujung tangga terdapat pot tanaman besar berisi sejenis pohon palem kecil.Pegangan tangannya sebagian besar terbuat dari marmer dengan pinggiran berwarna emas. Lebih jauh ke sisi kanan tangga, ada pintu putih lain yang menuju ke ruangan terang benderang, dan di sisi sebelah kiri juga terdapat pintu serupa.Di balik pintu tempatku berdiri, ada meja kopi dan sofa lengkap dengan satu sofa tambahan di sampingnya.Secara keseluruhan, sejauh
"so, ella..." Arthur memulai, namaku terdengar begitu pas saat ia ucapkan, aksen Italianya membuatnya terdengar jauh lebih indah. "Saya yakin kamu sudah pernah dibeli sebelumnya, kan?" tanyanya. "P-pernah, sering." jawabku sambil berdehem, mencoba menutupi kegagapan yang selalu muncul setiap kali aku bicara dengannya. "Yah, saya yakin kamu sudah pernah punya aturan sebelumnya, tapi kurasa aturannya tidak akan sama denganku," jelas Arthur. Aku menatapnya dengan penuh antisipasi, mencoba mempertahankan kontak mata dengannya tapi entah bagaimana selalu terputus setiap lima detik—dia membuatku terlalu gugup. "Pertama-tama, saya tidak cuma menginginkan rasa hormat, saya menuntut rasa hormat—itu wajib." dia mulai bergeser di kursinya dan berbalik agar bisa menghadapku dengan lebih baik, membuatku sedikit mundur di kursiku. Melihat gerakanku, dia menyeringai dan tampak seolah ingin mengomentarinya, tapi dia jelas menahan diri saat melanjutkan, "Kamu akan melakukan apa pun yang kukat
"Tuan Denaro, senang sekali Anda bisa datang!" seru Alexander dengan antusias saat kami memasuki kantornya. Arthur menganggukkan kepalanya ke arah Alexander, jauh lebih tenang dibandingkan pembawaan Alexander. "Dan saya... cukup terkejut melihat Anda memilih Ella di sini. Faktanya, dia baru saja dipasarkan lagi hari ini," kata Alexander sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Arthur yang duduk di depan mejanya. "Ya, saya rasa dia pilihan yang bagus," ucap Arthur datar, sambil menjabat tangan Alexander dengan mantap. "Bagus sekali, kalau begitu mari kita mulai kontraknya, ya? Toby, kamu boleh keluar," ucap Alexander tenang. "Anu, sebenarnya Tuan, ada yang ingin saya sampaikan..." ucap Toby gugup. "Baiklah, ada apa?" tanya Alexander, terdengar tidak tertarik sambil berdiri saat Toby memberinya isyarat untuk menjauh sedikit dari meja tempat Arthur dan aku berada. Kedua pria itu melangkah ke kiri, mendekat ke arahku, dan aku pun mencuri dengar bisikan mereka. "Ella
Aku mengerjap beberapa kali, memastikan apakah mataku tidak salah lihat. Pria ini—yang awalnya kukira adalah 'tamu spesial'—memang lumayan menarik. Oke, lupakan kata lumayan, dia benar-benar sangat tampan. Dia berjalan masuk dengan percaya diri, diikuti oleh beberapa pria lain di belakangnya—mereka kelihatan seperti bawahannya atau setidaknya orang-orang yang sangat segan kepadanya. Pria itu mengenakan setelan jas bisnis hitam, dengan kemeja putih di dalamnya serta dasi hitam yang serasi. Rambut gelapnya ditata agak berantakan, kontras dengan pakaiannya yang rapi, meski tetap terlihat kalau rambut itu ditata dengan niat. Tidak terlalu pendek, karena ada seuntai rambut tebalnya yang jatuh begitu saja di dahi, tepat di atas alisnya. Pria itu menoleh ke samping untuk menyapa seseorang, memberikan jabat tangan yang mantap tanpa ekspresi wajah sedikit pun—dari sudut ini, dia masih terlihat sangat tampan walaupun jaraknya agak jauh. Tingginya setidaknya 180-an, mungkin lebih—sekali







