แชร์

BAB 130 PERCAYA

ผู้เขียน: sugi ria
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-22 21:03:39

Malam kian larut. Vante yang tadinya tertidur, kini sudah terjaga. Pemuda tersebut kembali mengutak atik ponselnya. Hanya benda itu yang bisa dia gunakan untuk menyelidiki kejadian tadi siang.

Laptop kesayangannya ada di rumah. Dia tidak mau ambil resiko dengan menyuruh orang mengambilkannya.

"Mereka pasti sudah menangkapnya. Masalahnya mereka salah tangkap atau tidak," gumam Vante sambil terus bekerja.

"Orang ini, kira-kira yang menyuruh siapa?" Lanjut Vante masih dipenuhi keheranan.

Semua ma
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 135 LEDAKAN

    "Tunggu dulu, Lin. Kamu akhir-akhir ini aneh. Kamu menghindariku?"Zen menahan tangan Valin di tengah tangga. Valin yang terkejut, nyaris jatuh berguling menuruni tangga ketika ia terserimpet kakinya yang lain.Untungnya Zen sigap menahan pinggangnya hingga wanita itu selamat dari hal buruk. "Kamu tidak apa-apa?" Zen menatap netra hazel Valin yang sesaat panik."Lepas, aku baik-baik saja." Perempuan itu melepaskan diri dari jeratan Zen. Sang suami jelas kebingungan. Dia belakangan ini sangat sibuk. Beberapa kelompok terus membuat onar. Mengganggu pengiriman, mengacaukan distribusi organ vital yang harus di antar ke sejumlah rumah sakit tepat waktu.Selain itu beberapa teror juga menyerang Zen. Walau serangan datang dari berbagai sisi, pria itu tetap tegak berdiri tanpa goyah sedikitpun. Instruksinya mengalir jelas dan lancar, membasmi para perusuh yang sejatinya hanya mengecoh fokusnya.Zen sadar ada hal besar yang sedang direncanakan oleh kelompok tertentu. Insting Zen mengacu pada

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 134 TIDAK ADA YANG GRATIS

    Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey meninggal karenamu. Kau penyebab dia meninggal!" Teriak Adrian, wajahnya memerah dengan amarah menggelegak naik sampai ke ubun-ubun.Zen hanya menyeringai. "Jangan konyol. Dia tidak akan mati semudah itu." Adrian kembali berteriak. Zen benar-benar tidak berhati. "Aku sendiri yang menguburkan mayatnya. Aku sendiri yang menerima laporan tes DNA-nya, dia Audrey, adikku! Zen kau harus bertanggungkawab!""Bagaimana caranya? Apa kau ingin membunuhku juga? Silakan kalau begitu."Zen merentangkan tangan, siap menerima apapun yang Adrian lakukan padanya. Bahkan jika Adrian ingin menghabisinya, Zen tidak masalah.Kenapa Zen berani menantang Adrian, sebab pria itu tidak akan bisa menembakkan sebutir peluru

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 133 TAWARAN VANTE

    "Cinta?"Kata itu spontan terucap dari bibir Zen. Keningnya berlipat dalam, sedang matanya menyipit. Seolah kata cinta adalah sebuah rumus rumit yang harus dia pecahkan. "Kamu mencintainya?"Zen mengedikkan bahu tanpa sadar. Dan Sylus seketika mendorong napasnya kasar."Kau tidak ingin kehilangannya?"Suami Valin mengangguk."Kenapa?"Zen terdiam. Pertanyaan itu dia tidak tahu jawabannya. Lebih tepatnya tak mengerti. Pasalnya selama ini Valin hanya dia anggap sebagai pelampiasan, pemuas nafsu berbalut janji pernikahan.Namun semakin ke sini, dia tidak mau kehilangan Valin. Dia ingin Valin selalu ada di sisinya. "Apa kamu hanya menganggapnya sebagai teman tidur saja? Tidak lebih.""Aku, aku tidak mau yang lain. Aku hanya mau dia. Lebih baik tidak, jika bukan dia." Zen menjawab lirih.Awalnya ragu, tapi kemudian memang itulah yang ada di otaknya."Kamu mulai jatuh cinta padanya."Zen sejenak terkejut. Apa dia seperti itu."Mungkin kamu tidak sadar. Tapi tindakanmu, sikapmu menunjukkan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 132 KELELAHAN EKSTRIM

    "Cerai katamu?!"Valin meringis dengan mata memandang horor pada Zen. Paras lelaki itu berubah mengerikan, seperti iblis dari neraka. Sorot matanya merah penuh amarah. "Iya, aku mau cerai darimu!""Di dalam mimpimu!" Zen menggertakkan gigi.Berani sekali Valin berniat minta cerai darinya. Tertutup oleh emosi, Zen kehilangan akal sehatnya."Sylus, jaga dia. Pastikan dia baik-baik saja."Sylus mengangguk, dia biarkan saja saat Zen menarik Valin keluar dari kamar Vante. Setelah pintu ditutup, Sylus menghela napas. Lalu dia berujar, "Mau sampai kapan pura-pura tidur?"....Di tempat lain ada Valin yang menjerit histeris ketika Zen melemparnya ke ranjang di kamar pribadinya di sektor satu."Mau apa?" Valin ketakutan ketika Zen melucuti pakaiannya sendiri. Tak perlu waktu lama tubuh indah lelaki itu terpampang jelas di depan mata."Kamu ingin minta cerai dariku. Bermimpilah, karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pernikahan kita akan berlangsung selamanya.""Aku tidak cinta pad

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 131 CERAI

    "Percaya? Kau berusaha menghabisi Vante, apa hakmu minta aku percaya padamu!"Valin kian mengeratkan genggaman pada senjata di tangannya. Tubuh Valin gemetar begitu menyadari apa yang dia pegang. Benda itu, benda itu yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal dengan tragis. Sylus menyadari reaksi Valin. Pria itu mendekati Zen. Satu kode dari Sylus, Zen langsung memahaminya."Aku tidak pernah berniat mencelakai Vante. Atau mengambil alih hakmu di EH. Jangan keterlaluan menuduh, Lin. Uangku banyak, dibandingkan saham EH, itu kecil sekali.""Sombong!""Tentu saja. Jadi untuk apa aku menghabisi Vante pakai Effronde. Aku bisa menembaknya langsung jika aku ingin menghabisinya."Dor!Valin menjerit histeris. Dia jatuh terduduk di lantai. Senjatanya terlepas ketika dia pilih menggunakan tangan untuk menutup telinganya. Ketakutan itu, trauma itu. Valin benar-benar tenggelam di dalamnya.Perlu beberapa detik bagi Valin untuk menguasai diri. Ketika dia mendongak dia mendapati Zen balik menodo

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 130 PERCAYA

    Malam kian larut. Vante yang tadinya tertidur, kini sudah terjaga. Pemuda tersebut kembali mengutak atik ponselnya. Hanya benda itu yang bisa dia gunakan untuk menyelidiki kejadian tadi siang.Laptop kesayangannya ada di rumah. Dia tidak mau ambil resiko dengan menyuruh orang mengambilkannya. "Mereka pasti sudah menangkapnya. Masalahnya mereka salah tangkap atau tidak," gumam Vante sambil terus bekerja."Orang ini, kira-kira yang menyuruh siapa?" Lanjut Vante masih dipenuhi keheranan.Semua masih baik-baik saja. Sampai Vante merasakan dadanya nyeri. Untuk kemudian terasa panas seperti terbakar."Kak," panggilnya pada Valin.Namun sang kakak tidak bangun. Entah saking lelapnya atau saking lelahnya. Wajah Vante mulai pucat, dengan keringat dingin bercucuran. Satu kejadian yang akan berakibat fatal. Dadanya sesak, Vante perlahan kesulitan bernapas."Kak Valin!" Serunya seraya melempar bantal.Kali ini Valin terbangun. Gelagapan, terkejut untuk kemudian berubah jadi kecemasan tingkat tin

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status