Mag-log inMereka bergerak perlahan. Sunyi, tanpa suara, tanpa jejak yang kentara. Hanya kode yang bicara saat mereka berkomunikasi.Mark memimpin, dia bergerak ke depan rumah. Shane dan Caleb masing-masing menyebar ke sisi kiri dan kanan.Ketika Mark mengintip ke dalam melalui celah dinding. Dia dapati sekelompok orang sedang minum di dalam sana.Mereka bukan orang susah. Dengan daging, wine dan berbagai hidangan lezat. Cukup aneh untuk mereka yang hidup terpencil. Jauh dari keramaian apalagi pusat kota.Ketika Mark mengamati lagi, dia tidak mendapati Zen di sana. Tapi bisikan penuh antusiasme muncul dari Shane."Aku menemukannya. Dia di sini!"Mark dan yang lain segera mendobrak pintu. Menerjang masuk hingga mereka yang ada di dalam sana terkejut. Hanya untuk sesaat. Detik setelahnya hujan tembakan berlaku.Mark tersenyum lebar mendapati info dari Miro tidak meleset."Laporan tambahan untuk bosmu," kata Mark pada Caleb setelah menumbangkan separuh lawan mereka."Perintahnya jelas. Habisi merek
Kian dan Valin sama-sama berhenti ketika mereka bertemu di lift. "Mau ke tempat Vante?""Mau cek up ke tempat Sissy."Kian hanya ber-ooo ria. Dia sepertinya bingung harus bersikap bagaimana di depan Valin."Jody mana?""Ngambek," balas Kian tanpa ragu."Jangan pernah menyebutku di depannya. Jika kau melakukannya, itu sama saja dengan membandingkan kami berdua. Perempuan manapun tidak akan suka."Kian memandang Valin yang sedang mengunyah almond. Benda yang kerap dia berikan hari itu. Pria itu lantas teringat percakapannya dengan Xavier dan Adrian.Di mana dua pria itu juga menyarankan hal sama. Kecuali mereka mulai duluan, jangan pernah membawa nama Valin dalam obrolan mereka.Bisa dipastikan jika para perempuan itu akan merasa hanya dijadikan pengganti."Jadikan dia satu-satunya," saran Adrian."Jauhkan nama Valin dari pendengaran istri kita," Xavier turut memberi nasihat."Aku sudah berusaha meyakinkannya. Tapi dia tidak percaya.""Kalau kamu sungguh-sungguh. Dia akan merasakannya.
"Jadi dia beneran perempuan?"Ivone mengangguk. Lantas menceritakan bagaimana dia merawat Jody hari itu."Gak ada TG bisa datang bulan. Dia wanita tulen. Dia hanya menyamar," Ivone menjelaskan. Padahal harusnya Valin tahu, dia juga dokter.Valin kemudian teringat cerita Kian. Dia menyebut Jody adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh seseorang. Belakangan dia tahu kalau orang itu adalah Sebastian Kiehl.Namun pada akhirnya Kiehl mengurungkan niatnya setelah melihat rupa Valin. Jika Kiehl ingin tetap menghabisi Valin. Dia pasti mengirim orang lain untuk meneruskan misi setelah Jody mundur."Jadi dia beneran move on?" Valin memandang Ivone dan Alvin yang duduk di depannya. Pertanyaan Alvin membuat Valin merasa aneh. Ada rasa kehilangan juga tidak rela dalam hatinya.Selain Devan, mungkin Kian adalah sosok lain yang punya tempat istimewa di hati Valin. Peran Kian sangat besar di awal pernikahannya dengan Zen.Sebelum Zen bisa masuk di hatinya. Aslinya Kian sudah lebih dulu memikatnya.
"Jody, tunggu dulu."Jody menepis tangan Kian yang menahan lengannya. Mereka sudah berada di lobi. Beberapa staf yang melihat Jody dengan rambut panjangnya langsung berbisik penasaran.Penampilan sosok itu berubah. Apa yang sebenarnya terjadi. Mereka jelas bertanya-tanya. Pasalnya setahu mereka Jody itu laki-laki."Apa lagi?""Kamu marah?""Menurutmu?" Jody balik bertanya dengan tangan terlipat dada.Mau Kian itu apa sebenarnya. Kalau mau beneran move on kenapa juga harus minta izin pada Valin. Dia kalau disuruh bersaing dengan Valin ya jelas kalah.Tanpa banyak aksi, pesona Valin sudah menjerat banyak lelaki sebelumnya. Jody bukannya tidak tahu kalau Xavier menyukai Valin sebelum dengan Rosalie.Bahkan CEO Hepburn Grup dan Daniel Heather juga menaruh hati pada perempuan itu. Jody yakin masih pria yang diam-diam memiliki kekaguman tersendiri pada Valin. Meski gelarnya sudah nyonya Archlight.Jody tidak menampik jika Valin memang menarik. Cantik, cerdas dengan sikap ramah yang akan mem
"Sangat serius."Jawaban yakin dari Kian membuat semua orang menahan napas."Ian, jangan main-main kamu. Jangan rusak dirimu. Sorry, Dy. Tapi kami tidak akan izinkan kalian bersama. Kalian masih bisa disembuhkan."Mark berkata dengan wajah tegang. Sarat kecemasan. Pun dengan Shane."Tolong pertimbangkan lagi. Kamu masih bisa kembali normal," tambah Shane."Jadi kalian pikir aku ini belok. Suka sama laki-laki?" Kian mengambil kesimpulan dari perkataan sang teman barusan. "Kalau tidak tersesat lalu apa namanya. Dia itu laki-laki. Dan kami baru saja melihatmu menciumnya."Jody langsung mengeplak lengan Kian. "Apa kubilang. Aku sudah bilang tidak mau. Tapi kamu maksa. Ketahuan kan?""Jadi benar dia memaksamu. Jody katakan saja, kami akan membelamu," tutur Valin. Dia berharap Jody melakukan ini karena tekanan dari Kian. Bukan karena keinginan Jody sendiri."Saya memang tidak mau jadi pelarian, Dokter. Tapi dia selalu memaksa.""Kamu keterlaluan, Kian," maki Valin tanpa pikir panjang."Tun
"Ini aneh sekali. Berapa lama kita mencarinya. Tapi belum ada hasilnya."Kata Bryan melalui sambungan video call. Di depannya ada Vante, Azlan dan Vano."Menurutku ada yang terjadi padanya. Jika dia hidup, dia sudah menemukan jalan pulang. Setidaknya dia akan mengirim kode pada kita," sahut Azlan.Yang lain mengangguk setuju."Dugaanku, dia hilang ingatan," Vante melemparkan dugaan lebih mengerikan dari kematian.Jika Zen hilang ingatan semua akan buntu. Pria itu bakal menghilang seperti debu ditiup angin. Tidak ada jejak. "Tapi ularnya hemotoksin, bisanya akan langsung menghabisi korbannya," sanggah Bryan."Neurotoksin juga langsung membunuh korbannya. Efeknya akan berbeda untuk tiap individu. Bisa saja karena tahan tubuh Zen luar biasa. Siapa tahu dia hanya kehilangan ingatan, tidak sampai mati," terang Azlan.Keempatnya terdiam untuk sesaat. "Tapi kita tak boleh putus asa," ujar Vante setelah keheningan yang menyiksa."Tentu saja. Kita akan temukan dia bagaimanapun caranya," sahu
"Ah elah, baru mau juga hidup damai. Sudah disuruh balik lagi ke rumah lama. Zen, aku berhak menentukan jalanku sendiri!""Kau mau jalan sendiri, mau lari, mau tinggal di mana, itu bukan urusanku! Tapi Valin, dia istriku. Dia harus patuh padaku.""Patriarki!" Maki Vante tanpa ragu."Apa kamu bilan
"Tidak, aku tidak punya rencana apapun. Jangan salah paham!" Vier buru-buru mengklarifikasi dugaan yang baru saja Zen lontarkan."Jangan bohong! Kau menargetkan Rosalie karena dia salah satu dari kami!" Zen menyemburkan apa yang dia pikirkan."Aku sama sekali tidak kenal, bahkan tahu namanya. Aku
"Aku hanya dinas seminggu, dan kau sudah kabur dengan bocah bau tengik itu."Vante melotot disebut bocah bau tengik oleh Zen. Sedangkan Valin memilih melanjutkan makan. Tidak peduli Zen mengomel seperti emak-emak kehilangan tupperware. "Ssstt, aku mau makan jangan berisik."Vante menjatuhkan rahan
Ketika hasilnya diserahkan pada Zen, Sylus begitu santai. Seolah hasil tes DNA Valin dan Vante bukanlah sesuatu yang mengejutkan untuknya. Pun dengan Shane. Pria itu juga tetap berwajah datar.Ekspresi Zen berubah kelam saat dia membaca hasilnya. "Dan kalian tidak memberitahuku?" Tanyanya kesal sa







