LOGINSuasana meja makan pagi itu cukup menegangkan. Setidaknya bagi Valin. Sementara si empunya rumah tampak tenang sambil menikmati sarapan hasil karya Valin.Gadis itu tampak bingung. Dia duduk di samping Zen, tapi sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Kamu akan pingsan jika tidak makan!" Desis Zen penuh ancaman."Aku bisa makan nanti."Lirikan tajam Zen membuat Valin tidak berkutik. Tangan Valin baru akan menyentuh sendok. Ketika suara lain membuat Valin menarik kembali tangannya."Papa, dia siapa? Kenapa dia ada di rumah kita?"Valin memandang pada si bocah yang baru menyebut papa pada Zen."Papa? Siapa papamu? Papamu sudah mati!" Zen menjawab tanpa hati. Kalimatnya tajam setajam belati, dan si anak langsung menangis mendengarnya.Valin tentu tak enak hati. Bagaimana bisa dia masuk dalam rumah tangga orang lain. Salahnya kemarin tidak bertanya lebih dulu soal status Zen.Ditambah lagi, kemarin dia yang meminta pernikahan pada Zen. Valin meringis ngilu. Sekarang kehadirannya bak ora
"Ujian pertama, orang itu benar-benar setres! Bagaimana jika kucing itu tiba-tiba menggigitku. Sepertinya aku besok harus minta vaksin rabies. Siapa tahu si Molly belum divaksin. Arrghhh!"Valin kembali menjerit ketika Molly mendadak muncul di sekitar kakinya. Menggesekkan kepala dengan ekor bergoyang ceria."He! Kamu masuk dari mana?" Valin bertanya mengingat dia sudah menutup pintu.Molly hanya mengeong sebagai jawaban seolah paham pertanyaan Valin."Molly, aku tanya. Kamu mau ngapain ke sini? Aku mau mandi. Mau tidur, capek aku. Besok harus kerja lagi."Molly mengeong sambil mengusap wajahnya dengan kaki depannya."Alah sudahlah, kamu mana paham perkataannku."Valin memulai touring kamarnya yang berada di lantai dua. Di mana dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pelataran The Dream yang ternyata cukup luas. "The Dream, tuanmu punya mimpi apa. Lolos dari semua jerat hukum? Atau bisa sukses dalam tiap misinya."Valin terus mengoceh dengan Molly secara ajaib menimpali. Tentu saja
"Mohon tanda tangan di sini, Nona."Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan.Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pria itu sesekali memandang Vante yang berada di brankar. Benar-benar situasi yang menguntungkan Zen."Tuan, boleh saya bertanya? Kenapa Tuan yang menghandle perawatan adik saya. Apa tuan itu sangat berkuasa?"Kian menarik sudut bibirnya. Berkuasa? Lumayan juga. "Iya, begitulah."Valin mengerti keengganan Kian untuk menjawab. Pastinya Kian punya batas tertentu dalam menjawab pertanyaan mengenai sosok Zen. Sudah pasti identitas pria itu tidak boleh terbongkar."Jika Nona setuju, Nona bisa tanda tangan. Setelah ini saya akan antar Nona pulang."Valin terdiam. Dia ragu. Beberapa saat dia hanya mematung. Sampai dia melihat bayangan Vante tersenyum di benaknya. Benar, dia ingin melihat sa
"Saya tidak mau tidur dengan Anda! Saya bukan perempuan murahan!"Valin spontan menolak kontrak dari Zen. Apa Zen pikir dia serendah itu."Tidak masalah, aku bisa menyuruh Kian mengeluarkan Vante dari sektor satu sekarang."Tubuh Valin terhuyung. Dia lupa kalau Zen menyandera Vante. "Sebenarnya apa mau, Tuan."Air mata mulai menitik di pipi. Dadanya sesak, tubuhnya lelah, dan otaknya mendadak buntu."Simple, aku mau seseorang yang bisa menolongku secara keseluruhan. Dalam duniaku ada banyak jebakan. Salah satunya afrodisiak.""Jadi itu hanya untuk keadaan darurat?" Valin bisa sedikit bernapas lega. "Bisa dibilang seperti itu. Tapi ada banyak kondisi yang memungkinkan hal tersebut terjadi.""Bukankah mudah bagi kalian untuk menemukan perempuan untuk melampiaskannya." Valin bertanya dengan sangat hati-hati.Takut menyinggung Zen yang mode senggol bacok."Itu bukan urusanmu. Intinya, kamu mau atau tidak?" Sekali lagi Zen tidak memberi ruang bagi Valin untuk menolak atau bernegosiasi. J
"Kamu kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku.""Aku ingin kasih kejutan ke kamu sama Vante. Oh iya, kabar Vante bagaimana? Sekarang aku punya uang, aku bisa bantu kamu bayarin operasinya Vante."Disinggung soal Vante, paras Valin meredup sesaat. "Ada yang salah? Lin, kasih tahu aku bagaimana kabar Vante?""Vier, Vante baik-baik saja. Dia akan dioperasi dalam dua hari. Kamu jangan cemas."Yang dipanggil Vier tertegun. Dia bisa menangkap gurat kesedihan dibalik ekspresi bahagia yang Valin paksakan. Ada apa sebenarnya."Benarkah? Kamu dapat pinjaman dari mana untuk biaya operasi Vante. Aku akan bantu lunasi hutangmu. Proyekku sukses, uangku banyak sekarang.""Tidak perlu, Vier. Pihak rumah sakit berbaik hati membantuku. Semua biaya operasi dan perawatan Vante ditanggung rumah sakit."Dahi Vier berkerut. Dia bukan orang yang mudah ditipu. Dan Valin bukan orang yang pandai berbohong. Gadis di hadapannya terlalu baik, karena itu dia selalu ingin menjaganya.Di balik dunia gelap yang Vie
Valin terdiam, netra hazelnya dengan tekun menyimak kata demi kata yang tertulis dalam kontrak yang baru saja diberikan Zen.Sedang pria itu tidak mengganggu sama sekali. Zen hanya diam sambil mengawasi Valin. Entah kenapa sosok di depannya jadi begitu menarik untuk diperhatikan."Saya masih bisa bekerja seperti biasa?" Valin memastikan."Tentu saja. Kamu akan dipanggill saat aku membutuhkan. Tapi aku adalah prioritasmu. Jika aku memanggimu, kau harus siap setiap saat."Valin menelan ludah. Itu artinya sama saja dengan hidup Valin berada dalam genggaman Zen."Kamu bisa mempertimbangkan, tapi hidup Vante bukan sebuah pertimbangan."Demi mendengar nama Vante disebut, Valin dengan cepat menorehkan tanda tangannya. Benar, apalagi yang Valin tunggu, hidup Vante berada di tangannya.Zen menarik sudut bibirnya. "Kamu bisa kembali bekerja. Tapi nanti kamu tidak perlu kembali ke sini.""Maksud, Tuan?"Zen melengkungkan bibir. Satu tindakan yang membuat Valin merinding. "Ingat, dengan menandat







