Se connecter"Bagaimana hasil pemeriksaannya?"Kian menyerbu masuk ruangan Sylus begitu dia mendapat kabar kalau Zen sudah berhasil ditemukan dan dibawa pulang.Di tempat itu sudah ada Mark, Shane dan Nicky. Serta Arthur yang tiba sesaat sebelum Kian datang."Yang kena saraf semua," Sylus mengambil kesimpulan."Apa masih bisa sembuh? Berapa lama dia sampai pulih?" Shane yang bertanya kali ini."Aku harus konsultasi dengan banyak ahli untuk proses penyembuhan Zen," Sylus menjelaskan secara terperinci keadaan Zen.Benar saja, masalahnya tidak sesederhana yang terlihat. Ada banyak hal yang dilalui Zen untuk mencapai kata sembuh."Kenapa tidak coba pakai cusgevy. Salah satu formulanya kan bisa memperbaiki sel yang rusak. Mempercepat penbentukan tabung saraf," saran dari Arthur membuat Sylus tertegun.Dia terdiam sesaat, seolah sedang mempertimbangkan ide dari Arthur."Akan kudiskusikan dulu dengan penemunya. Untuk kondisi Zen apa bisa dilakukan terapi menggunakan cusgevy volume dua.""Bilang saja istr
Shane dan yang lainnya lemas begitu sampai di fasilitas. Begitu berat perjuangan mereka untuk bisa pulang. Zen hilang ingatan dan lumpuh. Tubuhnya juga kekurangan nutrisi parah.Mereka harus berjuang ekstra keras untuk bisa naik ke heli yang menjemput mereka. Medan yang sama sekali tidak bersahabat, membuat heli hanya bisa terbang rendah, tanpa bisa mendarat.Untungnya Zen tidak banyak ulah di perjalanan. Hingga meski sulit mereka bisa kembali dengan selamat. Setidaknya demikian."Caleb, hubungkan aku dengan Luis atau Om Max sekalian. Aku pikir perlu serum penyembuh mereka."Caleb yang baru terhubung dengan Arthur setelah meneguk satu cup kopi mengangguk. Tempat itu harus digeledah ulang. Gerombolan anak buah Kiehl harus dibasmi sampai ke akarnya. Tidak boleh ada yang tersisa.Di dalam sana suasana sangat tegang. Sylus bahkan sampai gemetar saat melihat keadaan Zen untuk pertama kali.Dia nyaris menitikkan air mata. Zen kurus, tidak terawat. Andai dia ditemukan lebih cepat. Mungkin ke
Mereka bergerak perlahan. Sunyi, tanpa suara, tanpa jejak yang kentara. Hanya kode yang bicara saat mereka berkomunikasi.Mark memimpin, dia bergerak ke depan rumah. Shane dan Caleb masing-masing menyebar ke sisi kiri dan kanan.Ketika Mark mengintip ke dalam melalui celah dinding. Dia dapati sekelompok orang sedang minum di dalam sana.Mereka bukan orang susah. Dengan daging, wine dan berbagai hidangan lezat. Cukup aneh untuk mereka yang hidup terpencil. Jauh dari keramaian apalagi pusat kota.Ketika Mark mengamati lagi, dia tidak mendapati Zen di sana. Tapi bisikan penuh antusiasme muncul dari Shane."Aku menemukannya. Dia di sini!"Mark dan yang lain segera mendobrak pintu. Menerjang masuk hingga mereka yang ada di dalam sana terkejut. Hanya untuk sesaat. Detik setelahnya hujan tembakan berlaku.Mark tersenyum lebar mendapati info dari Miro tidak meleset."Laporan tambahan untuk bosmu," kata Mark pada Caleb setelah menumbangkan separuh lawan mereka."Perintahnya jelas. Habisi merek
Kian dan Valin sama-sama berhenti ketika mereka bertemu di lift. "Mau ke tempat Vante?""Mau cek up ke tempat Sissy."Kian hanya ber-ooo ria. Dia sepertinya bingung harus bersikap bagaimana di depan Valin."Jody mana?""Ngambek," balas Kian tanpa ragu."Jangan pernah menyebutku di depannya. Jika kau melakukannya, itu sama saja dengan membandingkan kami berdua. Perempuan manapun tidak akan suka."Kian memandang Valin yang sedang mengunyah almond. Benda yang kerap dia berikan hari itu. Pria itu lantas teringat percakapannya dengan Xavier dan Adrian.Di mana dua pria itu juga menyarankan hal sama. Kecuali mereka mulai duluan, jangan pernah membawa nama Valin dalam obrolan mereka.Bisa dipastikan jika para perempuan itu akan merasa hanya dijadikan pengganti."Jadikan dia satu-satunya," saran Adrian."Jauhkan nama Valin dari pendengaran istri kita," Xavier turut memberi nasihat."Aku sudah berusaha meyakinkannya. Tapi dia tidak percaya.""Kalau kamu sungguh-sungguh. Dia akan merasakannya.
"Jadi dia beneran perempuan?"Ivone mengangguk. Lantas menceritakan bagaimana dia merawat Jody hari itu."Gak ada TG bisa datang bulan. Dia wanita tulen. Dia hanya menyamar," Ivone menjelaskan. Padahal harusnya Valin tahu, dia juga dokter.Valin kemudian teringat cerita Kian. Dia menyebut Jody adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh seseorang. Belakangan dia tahu kalau orang itu adalah Sebastian Kiehl.Namun pada akhirnya Kiehl mengurungkan niatnya setelah melihat rupa Valin. Jika Kiehl ingin tetap menghabisi Valin. Dia pasti mengirim orang lain untuk meneruskan misi setelah Jody mundur."Jadi dia beneran move on?" Valin memandang Ivone dan Alvin yang duduk di depannya. Pertanyaan Alvin membuat Valin merasa aneh. Ada rasa kehilangan juga tidak rela dalam hatinya.Selain Devan, mungkin Kian adalah sosok lain yang punya tempat istimewa di hati Valin. Peran Kian sangat besar di awal pernikahannya dengan Zen.Sebelum Zen bisa masuk di hatinya. Aslinya Kian sudah lebih dulu memikatnya.
"Jody, tunggu dulu."Jody menepis tangan Kian yang menahan lengannya. Mereka sudah berada di lobi. Beberapa staf yang melihat Jody dengan rambut panjangnya langsung berbisik penasaran.Penampilan sosok itu berubah. Apa yang sebenarnya terjadi. Mereka jelas bertanya-tanya. Pasalnya setahu mereka Jody itu laki-laki."Apa lagi?""Kamu marah?""Menurutmu?" Jody balik bertanya dengan tangan terlipat dada.Mau Kian itu apa sebenarnya. Kalau mau beneran move on kenapa juga harus minta izin pada Valin. Dia kalau disuruh bersaing dengan Valin ya jelas kalah.Tanpa banyak aksi, pesona Valin sudah menjerat banyak lelaki sebelumnya. Jody bukannya tidak tahu kalau Xavier menyukai Valin sebelum dengan Rosalie.Bahkan CEO Hepburn Grup dan Daniel Heather juga menaruh hati pada perempuan itu. Jody yakin masih pria yang diam-diam memiliki kekaguman tersendiri pada Valin. Meski gelarnya sudah nyonya Archlight.Jody tidak menampik jika Valin memang menarik. Cantik, cerdas dengan sikap ramah yang akan mem
Jantung Valin serasa berhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan. Keringat mendadak muncul di dahi. Dia syok, panik juga takut di waktu bersamaan. Bisa dilihat jika paras Valin perlahan kehilangan ronanya.Di hadapannya berdiri Razen Archlight, suaminya. Lelaki yang coba dia hindari dua bulan ini. P
Jari Zen langsung terarah pada Lucio. Pria itu sedang mendekati Valin yang tengah memilih buah."Zen, dia Lucio Costra!" Pekik Adrian saat menyadari siapa pria itu.Netra biru Adrian memicing tajam. Sejak kapan istri baru Daniel menarik perhatian pemimpin sayap kiri."Bagaimana?" Adrian yang sejak
Ketika Valin mengangkat kepala. Sepucuk senjata api terarah padanya. Namun bukan itu yang membuat Valin tercengang mendekati syok. Sosok yang tengah mengancam nyawanya yang membuat Valin membeku.Dia kehilangan kata hingga bunyi ranting yang terinjak mengembalikan kesadaran Valin. "Audrey Hepburn,
"Sebab kita punya perisai. Itu mereka."Vante menunjuk ke arah Claire yang langsung berteriak nyaring begitu melihat Vante. Bayi itu sepertinya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Vante."Apa tidak terlalu beresiko. Keluar ke tempat umum begini?" Daniel mendekati Valin setelah Claire diambil al







