ログイン"Lin, kamu kenapa?" Wajah Alvin berubah panik. Apalagi setelah itu Valin muntah darah. Semua orang histeris melihatnya. Alvin buru-buru menggendong Valin yang tidak sadarkan diri ke sofa. Tidak ada brankar kosong tersisa. Pasien bahkan memenuhi lorong IGD. Menunggu kondisi lebih stabil untuk dipindahkan ke bangsal atau dipulangkan."Lin, ada apa denganmu?" Tanya Alvin kebingungan.Dia baru akan memeriksa ketika dua orang mendekat. "Hei, kalian siapa? Itu apa?" Alvin coba mencegah keduanya saat ingin menyuntik Valin.Tidak ada jawaban, hanya tatapan tajam penuh peringatan yang membuat Alvin mundur teratur. Dia bergidik ngeri waktu melihat senjata api terselip di pinggang keduanya."Ini Effronde. Laporkan pada tuan Lestrange."Sosok yang tak lain adalah Teddy memberi perintah. Pria satu lagi langsung merespon.Di ujung sana, Sylus seketika menggebrak meja. Dia kecolongan lagi. "Suruh Vante dan Bryan mencari tahu pelakunya. Aku akan siksa mereka dengan olivander terbaruku."Bunga olea
"Kau sudah bisa pakai celana sendiri. Jangan memaksaku!""Siapa bilang? Lihat, aku masih kesulitan menunduk. Sakit, Michele. Ayo, aku gak mau rugi bayar kamu!"Michele melirik judes pada Mark. Sosok yang membuatnya stres seminggu ini. Ada saja ulah Mark untuk membuatnya blingsatan, marah juga memaki tanpa henti.Hal paling menyebalkan adalah ketika dia harus membantu Mark memakai celana. Bisa dibayangkan seperti apa salah tingkahnya Michele."Kenapa kamu aneh begitu. Bukannya kamu sudah biasa melihat punya pacarmu."No komen! Michele pilih fokus pada tugasnya yang sungguh menyiksa. Dia diam saja sampai Mark komplit memakai pakaiannya.Percayalah, butuh usaha ekstra kuat bagi Michele untuk menyelesaikannya. Dan itu terjadi berkali-kali. Michele mungkin sebentar lagi akan meledak.Gadis itu membuka laptop dengan kasar, memeriksa lamaran kerja yang dia kirim ke banyak perusahaan.Sudah seminggu, tapi tak satupun merespon. Michele menghela napas. Dia tidak kekurangan uang, Mark membayar g
"Dia suamimu bukan?"Valin nyaris tersedak, sebelum akhirnya mampu menguasai diri. Tentu saja, dokter Keith tahu hubungan dirinya dan Zen. Tinggal menunggu waktu hingga Alvin mengetahui faktanya."Kian Egan, cuma pion untuk mengalihkan perhatian. Kenapa? Kamu takut orang akan menggunjingkan soal kamu dan Zen.""Tidak juga. Aku hanya belum siap go publik.""Padahal kalau kamu buka statusmu, tidak akan ada yang berani padamu. Zen pemilik rumah sakit, siapa yang punya nyali menyinggungnya.""Masalahnya tidak semua orang tahu siapa Zen. Mereka hanya tahu kalau Zen pasien biasa."Alvin menggaruk kepalanya. Benar juga. Posisi Zen saat ini hanya diketahui oleh petinggi rumah sakit. Juga beberapa orang tertentu. Ayahnya saja baru tahu kemarin saat Zen dilarikan ke sektor satu. Melihat kepanikan Kian, dokter Keith jadi bertanya-tanya siapa Zen sebenarnya. Hingga dia mendengar dari percakapan Kian dan Sylus yang kebetulan lewat di depannya. Keduanya menyebut Zen pemilik rumah sakit. "Benar ju
"Aku akan memeriksanya.""Bagaimana lukamu?""Sudah lumayan. Tapi ini benar-benar sakit. Lucio, akan kupatahkan tulang rusuknya satu persatu."Kata Mark dengan gigi bergeletuk menahan emosi. Lucio, nama itu benar-benar membuat darahnya mendidih karena amarah.Tak berapa lama bel unit Michele berdentang. Perempuan yang tengah memasak di dapur itu melongokkan kepala. "Bukalah, asistenku datang membawa keperluanku.""Kau berencana tinggal di tempatku?"Mark mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Michele."Lalu, apa kau sudi pindah ke tempatku? Percayalah tempatku seratus kali lebih baik dari ini," cibiran terasa sekali dalam kalimat Mark."Tidak mau!" Michele menolak, dia pilih membukakan pintu. Menerima satu koper juga sebuah laptop yang Michele tahu harganya mahal.Dia sesaat tertegun melihat koper pakaian Mark."Berapa lama kau akan tinggal di sini. Ingat, aku hanya cuti dua hari.""Kau berhenti dari pekerjaanmu."Michele melotot. "Aku tidak pernah mengundurkan diri. Bagaimana bi
Tengah malam ketika asisten Mark menjemput Valin ke Excellent Hospital. Wanita itu langsung melesat ke kamar Vante yang berada di lantai yang sama dengan Zen."Bagaimana keadaannya?" Valin mencecar Sylus yang ada di kamar Vante."Tidak parah. Hanya luka di kepala. Jahit empat. Dadanya memar kena kemudi. Kakinya sempat terjepit, untung hanya lecet. Tidak sampai patah tulang. Sekarang dia tidur. Jangan diganggu dulu."Tubuh Valin melemas. Dia pandangi wajah Vante yang pucat. Ada perban di kepala juga di tungkainya. Hatinya pedih melihat banyak orang di sekitaranya terluka. Dari ringan sampai super parah seperti Zen."Pelakunya?""Sedang diurus oleh asisten Mark dan Shane. Tapi aku pikir, ini tidak mudah.""Maksudmu?""Ada yang secara sembunyi-sembunyi mengatur orang untuk membuat onar. Lalu melukai, membuat rusuh, targetnya adalah kita. Kamu terutama."Valin tidak merasa takut meski dirinya adalah sasaran utama. Dia hanya tidak mau orang-orang terdekatnya terluka."Siapa dia?""Kamu t
"Jadi, apa kamu masih mencintainya?"Audrey mengedikkan bahu. Dia memang tidak tahu apa yang dia rasakan pada Yuan. Dia bingung, atau lebih tepatnya takut. Dia takut Yuan akan membencinya karena sikap buruknya sejak mereka putus. Berapa pria yang telah menikmati tubuhnya. Tak terhitung.Karena itu Audrey malu dan segan jika berdampingan dengan Yuan. Pria itu terlalu baik untuknya."Aku tidak pantas untuknya," kata Audrey penuh kesedihan.Michele memeluk Audrey. Keduanya sama-sama malang soal percintaan. Michele dicampakkan Mark, sedang Audrey pilih meninggalkan Yuan kala itu."Kenapa nasib kita begini?" Michele meluahkan perasaannya."Aku tidak tahu. Mungkin karena aku jahat. Tidak seperti Valin yang dikejar banyak pria.""Siapa Valin?" Michele merasa aneh mendengar Audrey minder pada perempuan lain."Istri Zen. Kakakku dulu sempat suka padanya. Sebelum alih haluan pada temannya.""Zen? Pria yang hampir jadi suamimu?"Audrey mengangguk. Sedang Michele seketika menutup mulut. Audrey p
Zen baru saja keluar dari sebuah sebuah ruangan meeting ketika satu pukulan menghantamnya. Mark langsung menahan sang pelaku yang tidak lain adalah Adrian.Zen sendiri hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sakit? Hanya pukulan Adrian tidak akan membuatnya tumbang."Kau pembunuh! Audrey menin
"Cerai katamu?!"Valin meringis dengan mata memandang horor pada Zen. Paras lelaki itu berubah mengerikan, seperti iblis dari neraka. Sorot matanya merah penuh amarah. "Iya, aku mau cerai darimu!""Di dalam mimpimu!" Zen menggertakkan gigi.Berani sekali Valin berniat minta cerai darinya. Tertutup
"Percaya? Kau berusaha menghabisi Vante, apa hakmu minta aku percaya padamu!"Valin kian mengeratkan genggaman pada senjata di tangannya. Tubuh Valin gemetar begitu menyadari apa yang dia pegang. Benda itu, benda itu yang telah membuat ayah dan ibunya meninggal dengan tragis. Sylus menyadari reaks
"Tunggu dulu, Lin. Kamu akhir-akhir ini aneh. Kamu menghindariku?"Zen menahan tangan Valin di tengah tangga. Valin yang terkejut, nyaris jatuh berguling menuruni tangga ketika ia terserimpet kakinya yang lain.Untungnya Zen sigap menahan pinggangnya hingga wanita itu selamat dari hal buruk. "Kamu