MasukDevan! Lelaki itu mendadak muncul di depan Valin. Sudah berapa lama Valin tidak melihat atau bertemu sang mantan. Dia berjumpa Devan saat insiden Tessa ingin melukainya. Dan berakhir dengan Alvin jadi korban.Kini Devan tampak lebih dewasa dibanding dulu. Sosok yang telah lama Valin singkirkan dari hidupnya. Sejak pengkhianatan juga kejadian Vante, Valin benar-benar putus hubungan dengan Devan."Silakan, ini tempat umum."Devan jadi kikuk mendengar balasan Valin. Literally, tempat ini bisa disebut punya Valin sebab perempuan di depannya salah satu pemilik Excellent Hospital.Status yang sempat membuat Devan syok dan jadi bahan tertawaan satu rumah sakit. Pasalnya mereka tahu kisah cinta Valin dan Devan. Mereka menyebut Devan bodoh. Membuang berlian demi batu kali tanpa nilai. "Bagaimana kabarmu?" Devan bertanya tanpa menutupi binar kekagumannya pada Valin.Devan akui Valin sejak dulu cantik. Dan sekarang makin tak tertandingi pesonanya. Dengan status nyonya Archlight sekaligus salah
"Kian mana?"Vante melirik sang kakak ketika nama Kian terucap dari bibirnya."Kamu curiga padaku?""Tidak juga. Akan aneh jika setelah sekian lama Kakak baru melirik dia," sindir Vante.Valin manyun mendengar balasan sang adik. Padahal dia hanya ingin bertanya soal mereka yang kemarin membuat masalah, sudah beres atau belum.Keduanya baru saja keluar dari ruangan Andreas. Pria itu telah sadar dari koma yang dia derita sejak kecelakaan dengan Beck hari itu.Satu kabar gembira di tengah kedukaan yang masih menimpa. Zen masih belum ditemukan hingga hari ini. Walau begitu mereka tetap optimis. Zen baik-baik saja di luar sana.Harapan yang hingga detik ini membuat Valin mampu bertahan. Dalam kondisi hamil yang seringkali menyeretnya dalam kepayahan.Bayinya justru berulah di usia kandungan yang lumayan. Tidak seperti kebanyakan perempuan hamil lainnya."Aku tidak akan berpaling. Kalau iya, aku sudah melakukannya dari dulu."Vante angkat tangan. Tak ingin membuat tensi kakaknya naik. Merek
Langit sudah berubah gelap saat Carry membuka mata. Ketika dia melihat sekitarnya, dia rupanya berada di sebuah kamar. Bukan di ruang kerja Bryan."Ini di mana?" Gumamnya seraya menggeliat. Dia meringis. Tubuhnya terasa remuk redam. Pinggangnya seperti mau patah. Dan area pribadinya perih tak terkira.Bryan, lelaki itu benar-benar .... Ingin memaki tapi faktanya Carry sangat menikmati percintaan mereka tadi. Ingin memuji nyatanya tubuhnya seperti dicabik-cabik."Impoten apanya. Bohong! Ular kadutnya saja setinggi orangnya. Siapa yang menciptakan gosip tanpa bukti itu. Memangnya mereka sudah pernah berurusan dengan benda purba milik Bryan. Senggol sedikit langsung respon."Astaga! Carry pilih kembali rebahan. Rasanya malas untuk bangun. Perempuan itu naikkan kembali selimut guna menutupi kemeja yang ia kenakan."Pasti punya orang gila itu," gerutu Carry.Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu. Bryan benar-benar seksi. Tubuhnya penuh pilihan otot kekar. Jika pemiliknya menegang, ben
"Sudah kubilang pergi sana! Kenapa juga kamu masih ada di sini?!"Amarah Jody kembali meledak. Dia baru saja bangun tidur. Pulas dan lama, tanpa gangguan seperti keinginannya.Dia bahkan tak tahu kapan langit berubah gelap. Satu yang pasti, saat dia keluar kamar dia dapati Kian menjadikan ruang tengahnya sebagai kantor dadakan.Laptop, berkas juga sejumlah map bertebaran di meja dan karpet. Bagaimana Jody tidak langsung meradang."Aku kan punya tugas untuk merawatmu," balas Kian kalem."Siapa juga yang minta?" Hardik Jody tajam."Rasa bersalahku.""A-apa?" Jody menganga mendengar jawaban Kian.Jody mengerjap cepat guna mendapati wajah super tampan Kian dalam bingkai kaca mata. Gila! Sejak kapan lelaki di depannya jadi rupawan level dewa begini."Aku yang sudah bikin kamu luka parah. Karena kebodohanku. Jadi, izinkan aku merawatmu sampai sembuh. Oke?""Gak, gak perlu. Aku bisa, eh mau apa?"Jody menepis tangan yang ingin melepas outernya. Setelah Jody tanpa sadar didudukkan di sofa."O
Ruangan seketika heboh. Athena melemas dalam pelukan Arthur. Sedang pria itu seperti kehilangan nyawa."Tolong, bawa dia kembali. Selamatkan anakku. Aku mohon." Tangis Athena luruh, lirih sebab dia kehabisan tenaga. Tali pusat dipotong. Dengan Valin lekas melepas tali pusat yang melilit leher si bayi. "Satu lilitan, pantas tidak terlihat waktu di USG.""Dokter, pasien pendarahan." Seorang staf memberi tahu Paula."Lin, urus bayinya. Aku tangani ibunya."Apa?" Valin nyaris protes. Tapi dalam situasi genting seperti ini, tak ada gunanya protes. Yang ada situasi akan tambah runyam.Athena perlu menstabilkan emosinya atau semua akan kacau. Valin berpaling, dia tempelkan bayi kecil itu di dadanya yang terbuka.Dia peluk penuh kasih bayi mungil tadi. "Sayang, bangunlah. Papa dan mamamu menunggu. Mereka telah menanti lama kedatanganmu. Bangun ya."Bisik Valin. Entah kenapa yang dia lakukan seperti mengalir begitu saja. Seolah bayi dalam dekapannya punya ikatan dengan dirinya.Di tengah usa
"Bukaan enam."Valin terhenyak. Bukaan enam? Dia ternganga mendapati Athena bisa langsung ke bukaan enam tanpa rasa sakit yang berarti.Otaknya seketika melayang ke ucapan Sissy, istri Shane yang seorang obgyn. "Suaminya pandai buat jalan."Saat itu Valin tidak ngeh maksud ucapan Sissy. Sampai sang dokter yang dulu sering makan bareng di kantin itu berbisik di telinganya, barulah dia paham."Aku keluar kalau begitu."Valin buru-buru undur diri. Dia tahu ini bukan ranahnya. Tapi Luis segera menahannya."Mau ke mana?""Kalian yang tangani kan?""Mana bisa begitu. Arthur akan ngamuk kalau kami para laki yang menangani persalinan Athena. Seja awal dia sudah order, semua harus perempuan," sambar Luis cepat."Karena dia lahiran di luar prediksi, sejujurnya kami tidak siap. Dan seperti yang kamu lihat, kita kekurangan staf perempuan. Jadi, kamu tinggal. Bantu kami."Paula si dokter kandungan turut bicara."Ta-tapi?""Sudah pernah membantu persalinan sebelumnya?""Sudah, sekali.""Good, itu c
Semua orang terkejut, pasien VIP sektor satu. Sebagian tahu betapa eksklusifnya sektor satu. Tempat di mana para elite dan kalangan tingkat atas dirawat. Perawatan kelas wahid dengan dokter, metode pengobatan, obat-obatan berkualitas tinggi tersedia di sektor satu.Sektor satu bahkan terhubung den
"Kamu kapan pulang? Kenapa tidak kasih tahu aku.""Aku ingin kasih kejutan ke kamu sama Vante. Oh iya, kabar Vante bagaimana? Sekarang aku punya uang, aku bisa bantu kamu bayarin operasinya Vante."Disinggung soal Vante, paras Valin meredup sesaat. "Ada yang salah? Lin, kasih tahu aku bagaimana ka
Suasana meja makan pagi itu cukup menegangkan. Setidaknya bagi Valin. Sementara si empunya rumah tampak tenang sambil menikmati sarapan hasil karya Valin.Gadis itu tampak bingung. Dia duduk di samping Zen, tapi sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Kamu akan pingsan jika tidak makan!" Desis Ze
"Mohon tanda tangan di sini, Nona." Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan. Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama







