Beranda / Mafia / PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA / BAB 5 TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN

Share

BAB 5 TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN

Penulis: sugi ria
last update Tanggal publikasi: 2025-12-19 19:25:39

"Kenapa dia?"

Kian Egan, asisten Zen memandang keluar jendela kantor mereka yang megah. Sementara yang ditanya sibuk dengan laptopnya. Sesekali Zen menggeliat. Lukanya benar-benar mengganggu.

Bukan sakit, hanya Valin dengan galak mengingatkan kalau Zen harus menjaga pergerakannya. Jika tidak jahitan lukanya bisa terbuka lagi.

"Cuma dia yang berani padaku. Orang lain akan sujud padaku, tapi dia tidak."

"Jangan bilang kamu menyukainya. Kamu tahu Zen, itu berbahaya."

Sudut bibir Zen tertarik. Valin memang berbeda. Namun alasan utama Zen ingin Valin jadi dokter pribadinya adalah karena kemampuannya.

Valin cepat, tepat dan akurat. Keputusannya saat mengambil tindakan, mencerminkan betapa matangnya pengetahuannya soal dunia medis.

"Bukankah tempat paling bahaya adalah tempat paling aman di dunia."

Kian memutar bola matanya jengah. "Dia ada di bawah," Kian melapor setelah mengangkat telepon di meja Zen.

Zen lekas bergerak ke sisi kiri di mana puluhan monitor terpasang di dinding. Dari sana dia melihat Valin berdiri di lobi kantornya.

"Dia mau apa?" Kian bertanya penuh keheranan.

"Ada yang memberitahunya kalau aku pemilik tempat itu."

"Ingin menemuinya?" Kian bertanya penuh rasa penasaran.

"Tidak, dia sebentar lagi akan pergi. Sebagai dokter baru dia akan melakukan banyak operasi. Dia yang bekerja, orang lain yang dapat nama."

"Kamu tahu itu, dan kamu diam saja? Ini tidak benar Zen!" Kian protes pada keputusan Zen.

Dahi Zen berkerut, sepertinya dia sedang berpikir. Pada akhirnya Zen hanya mengedikkan bahu, acuh. Zen kembali ke sikapnya yang dingin dan datar.

Dari ekor matanya, dia melihat Valin meninggalkan kantornya. "Apa kubilang?" Batinnya puas mendapati tebakannya benar.

"Kali ini siapa pasiennya," lanjut Zen penasaran. Jarinya bergerak menerobos sistem rumah sakit. Mudah sekali dia melakukannya, hingga dia dapatkan apa yang dia mau.

Zen terdiam dengan jemari mengusap dagunya. "Carson Morreti, beraninya dia muncul di sana."

"Ada apa?" Kian mendapati ada yang tidak beres dengan ekspresi sang tuan.

"Carson Moretti, Valin akan mengoperasinya. Jemput dia setelah operasi selesai. Kita akan lakukan perhitungan dengannya."

Kian undur diri begitu perintah Zen meluncur.

Sedang di rumah sakit. Setengah jam kemudian. Ada Valin yang menggerutu begitu mulai operasi. "Aku suka uangnya. Tapi aku benci pada keteledoran mereka. Mereka benar-benar tidak pantas jadi dokter."

"Dokter, arteri pulmonari robek," lapor salah satu rekan Valin.

Gadis itu menghela napas. Tangannya bergerak cepat menjepit pembuluh darah yang menghubungkan bilik kanan jantung dan paru-paru. Bagian itu terus mengucurkan darah. Sampai Valin selesai menjahit robekannya.

Valin bergerak hati-hati tapi cepat dan tepat. Dalam waktu satu setengah jam, operasi selesai. Ini tergolong cepat mengingat ring jantung dipasang di tiga titik.

Ditambah Valin harus mengurusi arteri pulmonari yang robek. Kakak Valin baru keluar ruangan ketika empat orang berpakaian hitam mendorong keluar brankar pasien yang baru dioperasi Valin.

"Tunggu, kalian mau bawa dia ke mana? Kalian tahu kalau dia perlu rawat inap tiga hari."

Valin teringat sosok Zen yang auranya lebih kurang sama dengan orang di hadapannya. Hanya saja aura Zen lebih kuat. Menekan orang sampai level maksimum.

"Dokter jangan ikut campur. Tugas dokter adalah menyelamatkan pasien. Selebihnya bukan urusan dokter."

Valin ingin mendebat tapi melihat senjata di pinggang para pria tadi. Dia pilih mundur ketika jantungnya berdebar tidak karuan.

Selepas pasiennya dibawa pergi, ponsel Valin berdering. Wajah perempuan itu berubah pucat. Dia langsung berlari ke tempat Vante berada.

Sang adik terbaring di brankar dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Tubuh Vante terhubung dengan berbagai alat untuk memantau organ vital pemuda itu.

"Devan, ada apa dengannya?"

Valin bertanya dengan wajah panik. Vante memang pasien Devan yang seorang nefrolog, atau dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi.

"Keadaannya memburuk. Kita perlu transplantasi dalam dua hari."

Jawaban Devan seperti vonis hukuman mati untuk Valin. "Dua hari? Di mana aku bisa dapatkan donornya?" Valin nyaris menangis.

Devan seketika merasa bersalah melihat Valin dan Vante. Di sudut hati kecilnya dia masih punya nurani.

"Devan, tolong prioritaskan Vante, dia lebih perlu ginjal itu dibanding ibunya Tessa."

Devan terdiam. Dia tahu, sangat tahu akan hal itu. Pria itu baru akan buka suara ketika Tessa muncul mengacaukan segalanya.

"Enak saja. Ibuku sudah bayar. Kau tidak punya uang, tidak bisa operasi."

Ekspresi Valin berubah emosi. "Nona Tessa, Anda juga seorang dokter. Harusnya Nona tahu kalau nyawa pasien adalah yang utama. Dilihat dari urgensinya, Vante lebih memerlukan ginjal ini dibanding ibu Anda. Saya mohon, berikan kesempatan pada Vante."

Tessa berdecih. "Tidak ada kesempatan. Kalian miskin, biarkan saja dia mati."

"Tessa!" Hardik Devan.

"Kau membentakku? Ingat siapa yang membuatmu berada di posisimu sekarang!" Tessa tak mau kalah.

Tessa lalu menoleh pada Valin setelah Devan tidak berkutik. Kehilangan posisinya saat ini, Devan tentu tidak mau.

Melihat respon Devan membuat Valin merasa miris. Semua berakhir karena jabatan. Sungguh menyedihkan.

"Dan kau! Meski semua orang memuji kemampuanmu. Tapi kau bukan siapa-siapa dibanding aku. Aku akan dapatkan yang aku mau. Baik posisi maupun orang yang kusuka."

Dagu Tessa terangkat tinggi, sombong karena dia bisa mengalahkan Valin. Dokter baru yang membuat telinganya panas. Pujian tak henti tertuju pada Valin, dan dia tidak menyukainya.

"Kamu sama sekali tidak pantas jadi seorang dokter." Valin menghapus paksa air mata di pipi.

Otaknya sibuk mencari cara untuk menyelamatkan Vante. Sementara matanya tak beralih dari tempat Vante dirawat. Adiknya harus selamat, bagaimanapun caranya.

Di tengah keputusasaan Valin. Mendadak dia teringat seseorang.

"Aku jadi dokter karena papaku mau. Aslinya aku tidak suka. Darah, obat semua membuatku mual." Tessa masih mengoceh.

"Kalau begitu kenapa tidak berikan kesempatan pada orang lain yang mau berjuang demi pasien!" Valin membalas tajam ucapan Tessa.

"Valin sudah! Jangan mendebatnya!" Devan menahan Valin yang ingin menerjang Tessa.

Tessa tentu saja cemburu melihat sikap Devan pada Valin. "Mau berlagak jadi pahlawan. Bela saja dia. Dan kamu akan tahu akibatnya."

Valin melepaskan diri dari Devan. Gadis itu menepis kasar tangan Devan.

"Valin," kata Devan. Hatinya terasa sakit.

"Jangan mendekati orang yang membosankan sepertiku. Bukannya kamu sudah punya mainan yang menarik, yang bisa temani kamu tiap waktu. Bahkan sampai ke ranjang."

Devan tercekat. Valin tahu. Gadis di hadapannya kini menatap dingin padanya. "Valin, bukan begitu maksudku ...."

Satu tamparan membuat Valin bergeming. Pun dengan Devan. "Dasar tidak tahu diri. Biarkan adiknya mati. Jangan pernah menolongnya!"

Devan yang ingin membantu Valin diseret pergi oleh Tessa.

"Dokter, Anda tidak apa-apa?" Maria mendekat.

Valin menggeleng, sebelum menitikkan air mata. "Aku harus selamatkan Vante. Tidak peduli bayarannya."

Tangan Valin dengan cepat meraih ponsel miliknya. Lalu menghubungi nomor yang baru kemarin dia dapatkan. Agaknya dia tidak punya pilihan lain.

"Halo, apa tawaran itu masih berlaku?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 314 MOMEN LANGKA

    Dua bulan kemudian. "Kamu ikut papamu dulu ya. Lihat bunga." Yang diajak bicara mengedip sambil tersenyum. Menampilkan gusinya yang masih belum bergigi. Ompong tapi justru sangat manis untuk bayi. "Kamu nanti bikin dia insecure," seloroh Zen yang kemampuan berjalannya sudah pulih. Tidak seperti ingatannya yang masih stuck, tak bertambah. "Niatku kan baik. Aku tidak bermaksud mengintimidasinya." Valin merapikan tampilannya. Dia baru saja menyusui sang putri. "Terserahlah. Ayo, Re, kita jalan-jalan dulu. Aku hubungi kalau dia nangis." "Paling pol dia bakal tidur lagi," kata Valin sambil membuka pintu mobil. Zen menggendong Rea menjauh dari Valin. Pria yang mengenakan kemeja putih itu benar-benar menjelma jadi hot daddy. Matang, tampan dan mempesona. Dalam gendongan lengan kekar Zen, Rea tertawa-tawa sambil melihat keadaan sekitarnya. Sementara Valin, perempuan bergaun hitam itu berbalik setelah melihat Zen menghilang di balik pintu. Tubuh Valin tampak ramping. Tapi aset kembar d

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 313 BELUM AVAILABLE

    "Sudah sembuh?"Yang ditanya hanya menunjuk bekas luka seperti selulit tapi versi lebih parah di lehernya."Dijadwalkan untuk bedah estetik, biar mulus lagi." Balas Kian lelaki yang beberapa kali melirik ke arah Rea. Bayi cantik yang masih lelap dalam tidurnya."Dapat kloningannya?""Nope! She's is mine," sambar Zen tegas. Dia tahu ke arah mana pembicaraan Kian.Dulu Zen mungkin tak terlalu peduli pada eksistensi Kian. Tapi kini dia sadar kalau lelaki di depannya masih punya sesuatu yang disembunyikan dengan apik.Perasaan Kian belum sepenuhnya lepas dari Valin. Dengan ingatan lama, Zen tidak bisa melihatnya. Namun ketika dia amnesia. Saat dia menilai sikap Kian dari sudut yang berbeda. Dia menemukannya. Dia bisa menyadarinya."Aku akan menikah."Itu bukan pemberitahuan itu klaim. Kian seolah ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Valin. Padahal yang sebenarnya tidak ada yang tahu."Jangan menyakiti perasaan orang.""Kali ini tidak. Dia setuju menikah denganku."Zen menarik su

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 312 ZIVAYA AMAREA ARCHLIGHT, MY RE

    Kian. Nama itu memunculkan sensasi aneh di dada Zen. Dia diberitahu kalau pria itu tangan kanannya. Orang kepercayaannya. Namun sekarang ada alarm yang berbunyi kencang di kepalanya.Seolah dia bisa meraba kalau ada sesuatu yang tidak beres soal nama itu. Atau dia cemburu pada Kian."Apa dia salah satu dari mereka yang menyukaimu. Mereka bilang kamu punya banyak penggemar rahasia."Zen mengajukan pertanyaan setelah semua orang pergi. Di sana tinggal dia dan Valin."Kayak dia enggak saja. Yang mengejarmu juga tidak sedikit. Cuma yang agak gila satu. Untungnya sudah diikat sama Yuan."Valin membalas sambil menggendong putrinya setelah selesai menyusu. Perempuan sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan meski pelan. Hanya saja Valin masih merasa lemas. Jadinya dia belum banyak bergerak. Kecuali ke kamar mandi.Lagi-lagi Zen dibuat menganga. Apa Valin sejak dulu seseksi itu. Kalau iya, pantas dirinya cinta mati pada sang istri. Siapa juga yang rela berbagi jika Valin memenarik itu.Bersamaan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 311 VERSI PEREMPUAN DALAM KEMASAN SACHET

    "Untung semua aman."Perkataan Sylus nyaris seperti gerutuan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Zen. Nekad sekali orang itu. Nasib baik tak ada saraf atau otot yang robek saat pria itu memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.Yang dimarahi hanya nyengir lebar. Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang cemas juga takut.Ditambah dia mengamuk saat Valin dioperasi. Siapa yang tidak makin ngeri waktu melihat atau bertemu Zen."Kan sudah kubilang. Aku bisa.""Buktikan kalau begitu. Tapi memang kamu seharusnya bisa jalan. Orang habis caesar itu pulihnya lama. Gak kayak orang lahiran normal. Dia perlu bantuan buat ngurus anak kalian.""Kata siapa?" Zen menyanggupi tantangan Sylus. Dia perlahan berdiri. Perlu beberapa kali percobaan sampai dia akhirnya bisa melakukannya. Dua staf tampak berjaga di sisi kiri dan kanan Zen. "Kata mereka. Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya.""Otewe kalau begitu." Zen meringis ketika merasakan seluruh ototnya meregang karena tin

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 310 MANTAN GADIS

    "Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 309 BISTURI

    Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 42 URUSAN RANJANG

    Valin menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan begitu sampai rumah. Dua hari libur nyata membuat tubuhnya keenakan. Hingga ketika diajak bergulat kembali dengan ke-hectic-an khas UGD, tubuhnya langsung protes. Lelah dan lemas.Wanita itu masuk ke kamar, setelah menerima pesan dari sang adik. Pemuda

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 45 SI LEMPENG

    Audrey kembali memandang Valin, setelah sempat terpaku pada Ivone."Dia kekasih Kian?" Ulang Audrey."Iya, Nona. Pacarnya tuan Kian Egan, tangan kanan pemilik rumah sakit. Razen Archlight itu siapa?"Audrey tidak menjawab. Dia dan Valin saling beradu pandang. Sama-sama memindai. Untung tangan Valin

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 44 SALAH PAHAM

    "Zen, ada sabotase untuk pengiriman ke Masiko."Laporan dari Mark hanya ditanggapi senyum tipis oleh Zen. Pria itu baru kembali ke ruang kerjanya setelah membersihkan diri untuk kedua kalinya.Permainannya dengan Valin berlangsung lumayan lama. Jika saja Valin tidak mengeluh lapar, Zen mungkin belu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 40 TELAH BERAKHIR

    Valin ingin mengamuk. Apa Zen hanya menganggap dirinya sebagai alat pembayaran untuk apa yang sudah dia lakukan bagi Vante. Kalau begitu, artinya Valin tidak lebih dari sebuah barang. Barang yang bisa diperlakukan sesuka hati oleh pemiliknya. Dalam hal ini Zen. Apa tubuhnya hanyalah alat untuk men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status