LOGIN"Kenapa dia?"
Kian Egan, asisten Zen memandang keluar jendela kantor mereka yang megah. Sementara yang ditanya sibuk dengan laptopnya. Sesekali Zen menggeliat. Lukanya benar-benar mengganggu. Bukan sakit, hanya Valin dengan galak mengingatkan kalau Zen harus menjaga pergerakannya. Jika tidak jahitan lukanya bisa terbuka lagi. "Cuma dia yang berani padaku. Orang lain akan sujud padaku, tapi dia tidak." "Jangan bilang kamu menyukainya. Kamu tahu Zen, itu berbahaya." Sudut bibir Zen tertarik. Valin memang berbeda. Namun alasan utama Zen ingin Valin jadi dokter pribadinya adalah karena kemampuannya. Valin cepat, tepat dan akurat. Keputusannya saat mengambil tindakan, mencerminkan betapa matangnya pengetahuannya soal dunia medis. "Bukankah tempat paling bahaya adalah tempat paling aman di dunia." Kian memutar bola matanya jengah. "Dia ada di bawah," Kian melapor setelah mengangkat telepon di meja Zen. Zen lekas bergerak ke sisi kiri di mana puluhan monitor terpasang di dinding. Dari sana dia melihat Valin berdiri di lobi kantornya. "Dia mau apa?" Kian bertanya penuh keheranan. "Ada yang memberitahunya kalau aku pemilik tempat itu." "Ingin menemuinya?" Kian bertanya penuh rasa penasaran. "Tidak, dia sebentar lagi akan pergi. Sebagai dokter baru dia akan melakukan banyak operasi. Dia yang bekerja, orang lain yang dapat nama." "Kamu tahu itu, dan kamu diam saja? Ini tidak benar Zen!" Kian protes pada keputusan Zen. Dahi Zen berkerut, sepertinya dia sedang berpikir. Pada akhirnya Zen hanya mengedikkan bahu, acuh. Zen kembali ke sikapnya yang dingin dan datar. Dari ekor matanya, dia melihat Valin meninggalkan kantornya. "Apa kubilang?" Batinnya puas mendapati tebakannya benar. "Kali ini siapa pasiennya," lanjut Zen penasaran. Jarinya bergerak menerobos sistem rumah sakit. Mudah sekali dia melakukannya, hingga dia dapatkan apa yang dia mau. Zen terdiam dengan jemari mengusap dagunya. "Carson Morreti, beraninya dia muncul di sana." "Ada apa?" Kian mendapati ada yang tidak beres dengan ekspresi sang tuan. "Carson Moretti, Valin akan mengoperasinya. Jemput dia setelah operasi selesai. Kita akan lakukan perhitungan dengannya." Kian undur diri begitu perintah Zen meluncur. Sedang di rumah sakit. Setengah jam kemudian. Ada Valin yang menggerutu begitu mulai operasi. "Aku suka uangnya. Tapi aku benci pada keteledoran mereka. Mereka benar-benar tidak pantas jadi dokter." "Dokter, arteri pulmonari robek," lapor salah satu rekan Valin. Gadis itu menghela napas. Tangannya bergerak cepat menjepit pembuluh darah yang menghubungkan bilik kanan jantung dan paru-paru. Bagian itu terus mengucurkan darah. Sampai Valin selesai menjahit robekannya. Valin bergerak hati-hati tapi cepat dan tepat. Dalam waktu satu setengah jam, operasi selesai. Ini tergolong cepat mengingat ring jantung dipasang di tiga titik. Ditambah Valin harus mengurusi arteri pulmonari yang robek. Kakak Valin baru keluar ruangan ketika empat orang berpakaian hitam mendorong keluar brankar pasien yang baru dioperasi Valin. "Tunggu, kalian mau bawa dia ke mana? Kalian tahu kalau dia perlu rawat inap tiga hari." Valin teringat sosok Zen yang auranya lebih kurang sama dengan orang di hadapannya. Hanya saja aura Zen lebih kuat. Menekan orang sampai level maksimum. "Dokter jangan ikut campur. Tugas dokter adalah menyelamatkan pasien. Selebihnya bukan urusan dokter." Valin ingin mendebat tapi melihat senjata di pinggang para pria tadi. Dia pilih mundur ketika jantungnya berdebar tidak karuan. Selepas pasiennya dibawa pergi, ponsel Valin berdering. Wajah perempuan itu berubah pucat. Dia langsung berlari ke tempat Vante berada. Sang adik terbaring di brankar dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Tubuh Vante terhubung dengan berbagai alat untuk memantau organ vital pemuda itu. "Devan, ada apa dengannya?" Valin bertanya dengan wajah panik. Vante memang pasien Devan yang seorang nefrolog, atau dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi. "Keadaannya memburuk. Kita perlu transplantasi dalam dua hari." Jawaban Devan seperti vonis hukuman mati untuk Valin. "Dua hari? Di mana aku bisa dapatkan donornya?" Valin nyaris menangis. Devan seketika merasa bersalah melihat Valin dan Vante. Di sudut hati kecilnya dia masih punya nurani. "Devan, tolong prioritaskan Vante, dia lebih perlu ginjal itu dibanding ibunya Tessa." Devan terdiam. Dia tahu, sangat tahu akan hal itu. Pria itu baru akan buka suara ketika Tessa muncul mengacaukan segalanya. "Enak saja. Ibuku sudah bayar. Kau tidak punya uang, tidak bisa operasi." Ekspresi Valin berubah emosi. "Nona Tessa, Anda juga seorang dokter. Harusnya Nona tahu kalau nyawa pasien adalah yang utama. Dilihat dari urgensinya, Vante lebih memerlukan ginjal ini dibanding ibu Anda. Saya mohon, berikan kesempatan pada Vante." Tessa berdecih. "Tidak ada kesempatan. Kalian miskin, biarkan saja dia mati." "Tessa!" Hardik Devan. "Kau membentakku? Ingat siapa yang membuatmu berada di posisimu sekarang!" Tessa tak mau kalah. Tessa lalu menoleh pada Valin setelah Devan tidak berkutik. Kehilangan posisinya saat ini, Devan tentu tidak mau. Melihat respon Devan membuat Valin merasa miris. Semua berakhir karena jabatan. Sungguh menyedihkan. "Dan kau! Meski semua orang memuji kemampuanmu. Tapi kau bukan siapa-siapa dibanding aku. Aku akan dapatkan yang aku mau. Baik posisi maupun orang yang kusuka." Dagu Tessa terangkat tinggi, sombong karena dia bisa mengalahkan Valin. Dokter baru yang membuat telinganya panas. Pujian tak henti tertuju pada Valin, dan dia tidak menyukainya. "Kamu sama sekali tidak pantas jadi seorang dokter." Valin menghapus paksa air mata di pipi. Otaknya sibuk mencari cara untuk menyelamatkan Vante. Sementara matanya tak beralih dari tempat Vante dirawat. Adiknya harus selamat, bagaimanapun caranya. Di tengah keputusasaan Valin. Mendadak dia teringat seseorang. "Aku jadi dokter karena papaku mau. Aslinya aku tidak suka. Darah, obat semua membuatku mual." Tessa masih mengoceh. "Kalau begitu kenapa tidak berikan kesempatan pada orang lain yang mau berjuang demi pasien!" Valin membalas tajam ucapan Tessa. "Valin sudah! Jangan mendebatnya!" Devan menahan Valin yang ingin menerjang Tessa. Tessa tentu saja cemburu melihat sikap Devan pada Valin. "Mau berlagak jadi pahlawan. Bela saja dia. Dan kamu akan tahu akibatnya." Valin melepaskan diri dari Devan. Gadis itu menepis kasar tangan Devan. "Valin," kata Devan. Hatinya terasa sakit. "Jangan mendekati orang yang membosankan sepertiku. Bukannya kamu sudah punya mainan yang menarik, yang bisa temani kamu tiap waktu. Bahkan sampai ke ranjang." Devan tercekat. Valin tahu. Gadis di hadapannya kini menatap dingin padanya. "Valin, bukan begitu maksudku ...." Satu tamparan membuat Valin bergeming. Pun dengan Devan. "Dasar tidak tahu diri. Biarkan adiknya mati. Jangan pernah menolongnya!" Devan yang ingin membantu Valin diseret pergi oleh Tessa. "Dokter, Anda tidak apa-apa?" Maria mendekat. Valin menggeleng, sebelum menitikkan air mata. "Aku harus selamatkan Vante. Tidak peduli bayarannya." Tangan Valin dengan cepat meraih ponsel miliknya. Lalu menghubungi nomor yang baru kemarin dia dapatkan. Agaknya dia tidak punya pilihan lain. "Halo, apa tawaran itu masih berlaku?"Sementara itu di luar ruangan Vante. Valin berontak dalam pelukan Zen. Dia meronta ingin melepaskan diri. Tapi rengkuhan Zen terlalu kuat untuk dia lawan. "Lepaskan aku! Aku ingin melihat Vante!""Tidak!" Tegas Zen tanpa kompromi."Tuan, dia adik saya. Saya ingin bersamanya.""Nanti!" Satu kata yang membuat Valin bertambah liar. Zen sempat terkejut dengan perubahan kekuatan Valin. Tapi itu tidak lama, sesaat kemudian Valin menangis dalam dekapan Zen.Yang meski kuat tapi tetap menyisakan kelembutan bagi Valin."Dengarkan aku! Tidak bisakah kamu menjaga emosi Vante. Dia sangat memerlukan itu untuk pemulihannya.""Jangan jadi kakak yang bodoh. Apa kamu tidak bisa sedikit menurunkan egomu. Tunggu sampai dia sembuh, setelah itu kamu bisa bertemu dengannya."Perkataan Zen membuat Valin kembali menitikkan air mata."Jangan menangis. Jangan cengeng. Kamu yang lemah membuat Vante merasa bersalah!"Kalimat Zen begitu tajam, pedas tapi menyuguhkan sebuah fakta yang tidak mampu disangkal keben
Semua orang menoleh ke arah pintu. Di mana Kian berdiri dengan tangan masuk ke dalam saku. Tatapannya sama mengancamnya dengan sang tuan.Mike mundur ke belakang sang mama. Sementara Madison tubuhnya gemetar. Kian dan Zen sama sadisnya. Madison tidak pernah mendapat sikap ramah dari dua orang itu.Jika tidak ingat tujuannya menempel pada Zen demi sang putra. Madisonpasti sudah menjauh, sejauh mungkin dari Zen atau Kian."Apa tadi dia bilang?" Kian bertanya pada Valin."Ibu dari anak tuan Zen," balas Valin kalem.Madison membelalakkan mata. Dia tidak menyangka kalau Valin adalah tipe pengadu. "Benar kau bilang begitu?" Tembak Kian setengah mencibir."Be-benar begitu. Janjinya seperti itu," jawab Madison terbata."Tapi tuan Zen tidak pernah menyebut Mike anaknya atau bakal jadi anaknya. So, lebih baik kau mundur, jangan pernah muncul di sini. Apalagi membuat kekacauan seperti ini.""Dia kemarin melakukannya, dan Zen tidak marah." Sela Madison tidak terima.Kian melipat tangan di depan
Langkah Zen terhenti demi mendengar pertanyaan Valin. Kakak Vante masih berdiri dengan tubuh tegang dan napas memburu. Perdebatannya dengan Zen barusan. Seluruh pendapat Zen yang baru saja dia dengar, cukup untuk menunjukkan kalau Zen bukanlah orang yang murah hati. Apalagi punya belas kasih.Kejam adalah sifat yang sejak awal Valin temukan dalam diri Zen. Selain itu dominan, tidak sudi dibantah adalah karakter yang harus Valin hadapi.Sebagian besar argumen Zen memang benar. Valin tidak menyangkal akan hal itu. Hanya saja, dia tidak percaya. Ada manusia sekonsisten Zen yang sama sekali tidak tersentuh hatinya.Hati pria itu dingin, bahkan mungkin beku. Valin tidak apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup Zen. Hanya saja sikap Zen membuat dada Valin sesak.Dan kini rasa sesak itu berubah jadi debar tak terlukiskan. Ketika Zen berjalan mendekatinya. Valin sontak menahan napas kala aroma mahal Zen kembali melingkupi dirinya.Tatapan pria itu tajam, tapi ada sesuatu yang sulit Valin jela
Lima jam berlalu. Langit di luar kamar Vante sudah berubah pekat. Valin menghela napas berkali-kali. Perasaannya tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi pada adiknya.Valin berulang kali melihat ke arah pintu. Berharap ada sesiapa saja yang melintas. Dia ingin bertanya soal operasi Vante. Tapi kamar Vante dan lorong di depan tempat itu sama sunyinya.Kegelisahan Valin kian memuncak. Dia sungguh takut. Takut jika dia kehilangan sang adik. "Ayah, Ibu, jangan bawa Vante pulang. Aku perlu dia untuk bertahan di dunia ini."Doanya dengan telapak tangan saling terkait. Mata hazelnya terpejam dengan tubuh menghadap langit malam.Tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Valin menoleh, dia lekas menyambut tubuh Vante yang masih tidak sadarkan diri."Vante," sebutnya dengan air mata berlinang."Maaf, Nyonya. Ada sedikit masalah dengan operasi Tuan Vante. Tapi kami berhasil mengatasinya. Dia akan sadar besok pagi. Jadi Nyonya bisa pulang untuk istirahat. Kami akan mengawasinya. In
Valin seketika menoleh begitu mendengar kalimat tadi. Matanya memicing curiga, sebelum menyadari kalau orang yang barusan bicara adalah Zen."Tuan, Anda ada di sini?" Tanya Valin coba menguasai diri. Dia gugup, takut juga kesal. Teringat kejadian tadi pagi. Dia lupa melihat Zen di lobi waktu dia baru datang untuk bekerja."Terserah padaku mau pergi ke mana. Sana keluar!"Zen langsung mengusir Valin begitu lift terbuka. Mereka berada di jembatan penghubung dengan gedung sektor satu.Tanpa membalas, Valin bergegas keluar dari sana. Pintu gedung sektor satu seketika terbuka begitu Valin memindai kartu pengenalnya.Hanya mereka yang punya akses yang bisa masuk ke tempat itu. Begitu Valin masuk ke sektor satu, Zen segera menghubungi Kian."Batalkan rencana operasi Cyntia Whitmore."Hanya sebaris kalimat yang terucap, Zen kembali mematikan ponselnya. Pria itu lanjut naik lift, lalu keluar di sebuah lorong yang terhubung dengan kamar Vante.Dari balik dinding kaca, Zen bisa melihat Valin mem
Valin hampir terlambat pergi ke rumah sakit. Untungnya ada taksol yang bersedia menjemputnya. Meski dia harus berlari ke gerbang komplek yang lumayan jauh.Ditambah lagi ulah Madison dan Mike yang coba mencegahnya pergi. Andai tidak ada Molly, Valin mungkin benar-benar akan terlambat. Molly kembali mencakar Madison, membuat wanita itu lari tunggang langgang dengan mulut mengucapkan sumpah serapah tiada henti.Gadis itu ambruk setelah melakukan scan menggunakan kartu tanda pengenalnya. Dia berharap masih punya waktu untuk mengambil sarapan. Kalau tidak, dia akan tumbang betulan.Satu yang Valin sesali adalah dia tidak bisa mampir ke tempat Vante. "Dasar pembunuh, punya rumah saking elite-nya. Sampai taksol gak bisa masuk."Valin menggerutu soal rumah Zen, juga soal biaya yang harus dia keluarkan jika tiap hari musti naik taksol.Belum lagi dia tadi sempat melihat Zen bicara dengan Kian di lobi rumah sakit. Rasa kesal Valin membumbung tinggi.Zen yang tampil rapi, berbanding terbalik







