Map
Home / Mafia / PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA / BAB 6 PASIEN VIP SEKTOR SATU

Share

BAB 6 PASIEN VIP SEKTOR SATU

Author: sugi ria
last update publish date: 2026-01-07 19:53:16

Zen menyeringai melihat wajah ketakutan pria di hadapannya. Carson Morreti, pria itu baru membuka mata, bebas dari anastesi, lepas dari maut. Namun yang menyambut dirinya waktu sadar adalah tatapan dingin dan keji seorang Razen Archlight.

Carson Morreti mendadak menggigil. Dia berhasil lolos dari kematian, tapi yang menunggunya di dunia nyata sama seperti malaikat pencabut nyawa.

Zen adalah visual tepat untuk seorang Grim Reaper. Senyumnya tampak sempurna untuk wajahnya, tapi efeknya lebih mematikan dari botulinum.

Racun paling berbahaya saat ini. Peringkat pertama diikuti ricin, sianida, arsenik dan tetrodotoxin.

"Tuan Archlight," sebut Carson terbata.

Parasnya yang masih pucat, kian tak bermaya. Bagaimana bisa Zen bisa menemukannya, bahkan membuatnya jadi tahanan.

"Kau membuatku kehabisan waktu," ujar Zen berat. Tiap kata sarat amarah. Zen memang marah.

"Maaf, maafkan saya. Saya bermaksud menghalangi Tuan," kata Carson dengan keringat dingin mulai muncul.

"Kau melakukannya. Kau tahu kalau aku tidak suka diganggu. Aku menginginkan tempat itu, jadi apapun yang terjadi, tempat itu harus berada dalam genggamanku!"

"Sa-saya hanya menjalankan perintah," potong Carson cepat.

Zen berjalan mendekati Carson, tatapan pria itu sama sekali tidak beralih dari Carson.

"Siapa yang berani menentangku?"

Ini hanya pancingan, sejatinya Zen sudah tahu jawabannya.

"Langton," sebut Carson setelah beberapa waktu diam.

Sudut bibir Zen tertarik. Dugaannya benar, mereka adalah duri yang ingin Zen singkirkan, tapi lumayan sulit.

"Tuan, tolong. Jangan apa-apakan saya. Dokter itu sudah susah payah menyelamatkan saya."

Zen menyeringai, "Itu terserah padaku, asal kau tahu dokter itu adalah orangku. Hidup dan matimu ada di tanganku. Karena aku sedang tidak senang hari ini, aku jadi ingin membunuh orang."

Carson langsung turun dari ranjang. Dia merangkak ke arah Zen yang telah siap dengan senjatanya.

"Saya mohon, Tuan. Jangan bunuh saya! Saya mohon!" Carson nyaris menangis. Dia pernah dengar Zen kejam. Tapi dia tak menduga kalau Zen juga tidak punya perasaan sama sekali.

"Aku ingin menghabisimu, kau bisa apa?" Pelatuk sudah ditarik, tinggal dilepaskan.

Wajah Carson sudah sepucat mayat. Dia tidak ingin mati, tapi lelaki di hadapannya bahkan tak meliriknya.

Saat peluru hampir diledakkan, ponsel Zen berdering. Ekspresinya seketika berubah gelap. Namun begitu melihat siapa yang menghubunginya, senyum tipis lelaki itu terbit. Carson bahkan tidak percaya, Zen bisa tersenyum.

Belum sempat Zen bersuara, suara penuh ke-urgensi-an dari ujung sana membuat Zen bergeming.

"Halo, apa tawaran itu masih berlaku?"

Lengkung bibir Zen makin kentara. "Tentu saja. Bagaimana, kamu setuju?"

"Saya setuju, tapi dia harus naik meja operasi dalam dua hari."

"Tidak masalah. Temui aku di rumah setengah jam lagi."

Panggilan diputus dengan Zen langsung menghubungi Kian.

"Jemput Vante, pindahkan dia ke sektor satu. Layanan VIP."

Ada binar kepuasan di paras Zen, "Sebentar lagi kau akan tunduk padaku."

Pria itu lantas menoleh ke arah Carson. "Kau beruntung hari ini. Awasi dia!"

Dua kata terakhir membuat anak buah Zen mengangguk hormat. Lelaki tersebut melangkah keluar dari sana meninggalkan Carson yang telah merekam nama Vante.

Sementara itu di rumah sakit. Valin langsung mendekap ponselnya, kemudian beranjak ke sisi sang adik.

"Vante, kamu akan selamat. Kakak janji," ucapnya dengan air mata berlinang.

"Selamat kau bilang? Siapa yang akan menolongnya? Di rumah sakit ini tidak ada yang bisa dan mau mengoperasinya."

Tessa kembali lagi rupanya. Perempuan itu mencemooh Valin dengan tangan terlipat di dada. Kesombongan dan penghinaan terlihat jelas di wajahnya.

"Dia akan selamat, kau akan lihat itu!" Balas Valin tidak mau kalah.

Detik setelahnya gadis tersebut meringis ketika Tessa menjambak rambutnya.

"Masih mau berebut denganku! Devan dan dokter lainnya tidak akan mau menolong adikmu yang penyakitan itu!"

"Ibumu juga penyakitan! Mereka sama-sama sakit. Arrghh!"

Tamparan kedua Valin dapatkan. Tessa dengan menggebu-gebu mendorong Valin ke dinding. Kemudian menahannya di sana. Tessa sungguh benci melihat bagaimana Valin tetap cantik meski pipinya memerah dan rambut berantakan.

"Kau tahu dengan tindakanmu ini, kau bisa dilaporkan pada polisi. Kau menganiaya seorang dokter di rumah sakit, di hadapan pasien."

Tawa Tessa menggema, beradu dengan alat pemantau organ vital di tubuh Vante.

"Polisi? Mereka tidak akan berani menyentuhku. Semua orang juga tahu ayahku adalah direktur rumah sakit ini. Siapa yang sudi mendengar ocehanmu!"

"Di atas direktur ada pemilik rumah sakit. Apa kau yakin dia tidak akan memecat ayahmu setelah tahu kelakuannya."

Rahang Tessa mengatup rapat. Tanda amarahnya mencapai batas. "Asal kamu tahu, pemilik rumah sakit sangat percaya pada ayahku. Aduanmu hanya akan dianggap angin lalu olehnya!"

"Kita belum mencobanya, bagaimana jika aku menemui pemilik rumah sakit?" Tantang Valin.

Tessa menggeram, "Coba saja. Tapi sebelum itu terjadi. Kau akan disibukkan dengan urusan pemakaman adikmu tersayang."

Valin dilempar ke dinding. Perempuan itu menjerit ketika bahunya membentur tembok. Nyeri menjalar sampai ke pergelangan tangan.

Namun hal itu bukan apa-apa dibanding ketakutan yang seketika mencuat naik. Saat Tessa tersenyum jahat sambil memegang masker oksigen Vante.

"Jangan lakukan itu!"

Tessa sungguh puas melihat kepanikan Valin. "Memohonlah kalau begitu. Atau adikmu benar-benar akan mati!"

"Tolong, jangan lakukan itu, aku mohon," kata Valin dengan tubuh jatuh berlutut di lantai. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia tidak punya pilihan selain memohon.

Beberapa perawat dan dokter yang berada di sekitar situ hanya bisa diam melihat sikap Tessa yang sewenang-wenang. Mereka ingin membantu, tapi tatapan penuh ancaman dari Tessa memudarkan niat mereka.

"Lebih keras! Aku tidak dengar!"

Valin sesenggukan. Dia menatap nanar pada raga sang adik. Satu-satunya saudara yang dia miliki. Hidupnya adalah Vante. Kalau Vante pergi dia juga tidak mau bertahan di dunia ini.

"Memohonlah, atau aku akan menghabisi dia!" Raung Tessa tidak sabar.

"Tessa, apa yang kamu lakukan!"

Devan datang lagi, dia ingin membantu Valin berdiri, tapi gadis itu menepis tangan Devan. Bisa dibayangkan bagaimana emosinya Tessa.

"Kau kembali untuk membantunya?!" Bentak Tessa tidak terima.

"Tessa, ini salah!" Devan cob memperingatkan.

"Diam!" Teriak Tessa. Dia mendengus marah, sementara tangannya siap melepas masker oksigen Vante.

"Jangan!" Jerit Valin setengah putus asa.

"Sambutlah kematian adikmu!"

Tawa Tessa kembali terdengar. Tapi sebelum Tessa sukses melucuti masker oksigen Vante. Suara tembakan membuat semua orang merunduk ketakutan.

"Siapa berani menyentuh pasien VIP sektor satu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 314 MOMEN LANGKA

    Dua bulan kemudian. "Kamu ikut papamu dulu ya. Lihat bunga." Yang diajak bicara mengedip sambil tersenyum. Menampilkan gusinya yang masih belum bergigi. Ompong tapi justru sangat manis untuk bayi. "Kamu nanti bikin dia insecure," seloroh Zen yang kemampuan berjalannya sudah pulih. Tidak seperti ingatannya yang masih stuck, tak bertambah. "Niatku kan baik. Aku tidak bermaksud mengintimidasinya." Valin merapikan tampilannya. Dia baru saja menyusui sang putri. "Terserahlah. Ayo, Re, kita jalan-jalan dulu. Aku hubungi kalau dia nangis." "Paling pol dia bakal tidur lagi," kata Valin sambil membuka pintu mobil. Zen menggendong Rea menjauh dari Valin. Pria yang mengenakan kemeja putih itu benar-benar menjelma jadi hot daddy. Matang, tampan dan mempesona. Dalam gendongan lengan kekar Zen, Rea tertawa-tawa sambil melihat keadaan sekitarnya. Sementara Valin, perempuan bergaun hitam itu berbalik setelah melihat Zen menghilang di balik pintu. Tubuh Valin tampak ramping. Tapi aset kembar d

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 313 BELUM AVAILABLE

    "Sudah sembuh?"Yang ditanya hanya menunjuk bekas luka seperti selulit tapi versi lebih parah di lehernya."Dijadwalkan untuk bedah estetik, biar mulus lagi." Balas Kian lelaki yang beberapa kali melirik ke arah Rea. Bayi cantik yang masih lelap dalam tidurnya."Dapat kloningannya?""Nope! She's is mine," sambar Zen tegas. Dia tahu ke arah mana pembicaraan Kian.Dulu Zen mungkin tak terlalu peduli pada eksistensi Kian. Tapi kini dia sadar kalau lelaki di depannya masih punya sesuatu yang disembunyikan dengan apik.Perasaan Kian belum sepenuhnya lepas dari Valin. Dengan ingatan lama, Zen tidak bisa melihatnya. Namun ketika dia amnesia. Saat dia menilai sikap Kian dari sudut yang berbeda. Dia menemukannya. Dia bisa menyadarinya."Aku akan menikah."Itu bukan pemberitahuan itu klaim. Kian seolah ingin membuktikan kalau dia sudah move on dari Valin. Padahal yang sebenarnya tidak ada yang tahu."Jangan menyakiti perasaan orang.""Kali ini tidak. Dia setuju menikah denganku."Zen menarik su

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 312 ZIVAYA AMAREA ARCHLIGHT, MY RE

    Kian. Nama itu memunculkan sensasi aneh di dada Zen. Dia diberitahu kalau pria itu tangan kanannya. Orang kepercayaannya. Namun sekarang ada alarm yang berbunyi kencang di kepalanya.Seolah dia bisa meraba kalau ada sesuatu yang tidak beres soal nama itu. Atau dia cemburu pada Kian."Apa dia salah satu dari mereka yang menyukaimu. Mereka bilang kamu punya banyak penggemar rahasia."Zen mengajukan pertanyaan setelah semua orang pergi. Di sana tinggal dia dan Valin."Kayak dia enggak saja. Yang mengejarmu juga tidak sedikit. Cuma yang agak gila satu. Untungnya sudah diikat sama Yuan."Valin membalas sambil menggendong putrinya setelah selesai menyusu. Perempuan sudah bisa duduk, sudah bisa berjalan meski pelan. Hanya saja Valin masih merasa lemas. Jadinya dia belum banyak bergerak. Kecuali ke kamar mandi.Lagi-lagi Zen dibuat menganga. Apa Valin sejak dulu seseksi itu. Kalau iya, pantas dirinya cinta mati pada sang istri. Siapa juga yang rela berbagi jika Valin memenarik itu.Bersamaan

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 311 VERSI PEREMPUAN DALAM KEMASAN SACHET

    "Untung semua aman."Perkataan Sylus nyaris seperti gerutuan. Dia benar-benar tak habis pikir dengan Zen. Nekad sekali orang itu. Nasib baik tak ada saraf atau otot yang robek saat pria itu memaksakan diri berjalan tanpa bantuan.Yang dimarahi hanya nyengir lebar. Tanpa dosa, tanpa merasa bersalah telah membuat semua orang cemas juga takut.Ditambah dia mengamuk saat Valin dioperasi. Siapa yang tidak makin ngeri waktu melihat atau bertemu Zen."Kan sudah kubilang. Aku bisa.""Buktikan kalau begitu. Tapi memang kamu seharusnya bisa jalan. Orang habis caesar itu pulihnya lama. Gak kayak orang lahiran normal. Dia perlu bantuan buat ngurus anak kalian.""Kata siapa?" Zen menyanggupi tantangan Sylus. Dia perlahan berdiri. Perlu beberapa kali percobaan sampai dia akhirnya bisa melakukannya. Dua staf tampak berjaga di sisi kiri dan kanan Zen. "Kata mereka. Aku tidak tahu, aku belum pernah mengalaminya.""Otewe kalau begitu." Zen meringis ketika merasakan seluruh ototnya meregang karena tin

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 310 MANTAN GADIS

    "Jangan lihat mereka. Pandang saja aku," bisik Zen ketika sayatan pertama Paula lakukan.Tidak ada perih yang terasa. Dokter anastesi melakukan tugasnya dengan baik. Satu-satunya lelaki selain Sylus yang akhirnya diizinkan masuk. Mereka kehabisan waktu, hingga Zen tak punya pilihan selain mengizinkan dokter anastesi pria membantu persalinan Valin.Ruangan itu kemudian hanya diisi oleh suara alat bedah yang bekerja. Bisturi atau pisau bedah/scalpel. Lalu gunting metzenbaum, gunting mayo, pinset, retraktor berurutan digunakan.Hingga ketika bisturi atau scalpel alias pisau bedah kembali digunakan. Banjir langsung terjadi di bawah sana.Ketuban Valin berhasil dirobek. Beberapa klem arteri digunakan untuk mengontrol aliran darah selama fase operasi. Paula dan Sissy sesaat bertatapan. Sebelum dengan perlahan mereka mendapatkannya.Semua orang menahan napas. Ketika tangis kencang memenuhi ruangan itu. Sissy bahkan sampai berkaca-kaca ketika dia menangani bayi cantik bermata biru tersebut.

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 309 BISTURI

    Detik berlalu berubah jadi menit. Menit menjelma jadi jam. Selama itu Zen terus mendampingi Valin yang sedang berusaha menahan kesakitan guna melahirkan anak mereka.Hampir enam jam proses itu berlangsung. Dengan pembukaan tujuh sebagai hasilnya. "Tidak ada masalah bukan?" Sylus kembali bertanya."Tidak ada. Tiap proses melahirkan memang berbeda. Tak semua sama. Sissy bilang, tidak ada masalah waktu pemeriksaan terakhir. Dia sudah mengirimkan hasilnya padaku.""Bahkan USG-nya sampai paling detail. Valin ingat Tristan terlilit tali pusat meski cuma satu lilitan.""Lalu apa masalahnya?" Sylus tampak bingung."Tidak ada. Hanya belum waktunya. Lagi pula kondisi Valin dan bayinya terpantau masih aman. Air ketubannya masih cukup. Masih bagus untuk melindungi bayinya.""Sudah bagus dia lahir sekarang. HPL-nya sudah lewat empat hari. Sissy bilang kasih waktu seminggu. Kalau bayinya belum juga lahir. Terpaksa harus di-SC."Sylus menghela napas. "Sayang sekali Sissy sedang menangani kasus ibu

  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 158 MAKIN MENIPIS

    Ketika Valin mengangkat kepala. Sepucuk senjata api terarah padanya. Namun bukan itu yang membuat Valin tercengang mendekati syok. Sosok yang tengah mengancam nyawanya yang membuat Valin membeku.Dia kehilangan kata hingga bunyi ranting yang terinjak mengembalikan kesadaran Valin. "Audrey Hepburn,

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 152 BENARKAH INI KAMU?

    "Sebab kita punya perisai. Itu mereka."Vante menunjuk ke arah Claire yang langsung berteriak nyaring begitu melihat Vante. Bayi itu sepertinya senang sekali bisa bertemu lagi dengan Vante."Apa tidak terlalu beresiko. Keluar ke tempat umum begini?" Daniel mendekati Valin setelah Claire diambil al

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA    BAB 149 BERSENANG SENANG

    "Dia papanya Claire?"Vante menganga melihat Daniel Heather menggendong Claire. Suatu pagi, dua hari setelah Vante menginap di rumah Valin.Warga desa tidak ada yang protes dengan kehadiran Vante di rumah Valin. Lantaran rupa keduanya yang memang sangat mirip. Beberapa orang bahkan menyebut Vante d

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • PENGHANGAT RANJANG SANG MAFIA   BAB 139 DIA GILA

    "Bagaimana keadaannya?""Dia gila!"Semua orang menghela napas mendengar jawaban Adrian atas pertanyaan Kian."Serius Valin sudah meninggal?" Nick bertanya dengan ekspresi tidak percaya."Dia ditemukan terjepit di bawah badan mobil. Raganya tidak hancur saja sudah bagus." Bryan yang menjawab."Tapi

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status