MasukZen menyeringai melihat wajah ketakutan pria di hadapannya. Carson Morreti, pria itu baru membuka mata, bebas dari anastesi, lepas dari maut. Namun yang menyambut dirinya waktu sadar adalah tatapan dingin dan keji seorang Razen Archlight.
Carson Morreti mendadak menggigil. Dia berhasil lolos dari kematian, tapi yang menunggunya di dunia nyata sama seperti malaikat pencabut nyawa. Zen adalah visual tepat untuk seorang Grim Reaper. Senyumnya tampak sempurna untuk wajahnya, tapi efeknya lebih mematikan dari botulinum. Racun paling berbahaya saat ini. Peringkat pertama diikuti ricin, sianida, arsenik dan tetrodotoxin. "Tuan Archlight," sebut Carson terbata. Parasnya yang masih pucat, kian tak bermaya. Bagaimana bisa Zen bisa menemukannya, bahkan membuatnya jadi tahanan. "Kau membuatku kehabisan waktu," ujar Zen berat. Tiap kata sarat amarah. Zen memang marah. "Maaf, maafkan saya. Saya bermaksud menghalangi Tuan," kata Carson dengan keringat dingin mulai muncul. "Kau melakukannya. Kau tahu kalau aku tidak suka diganggu. Aku menginginkan tempat itu, jadi apapun yang terjadi, tempat itu harus berada dalam genggamanku!" "Sa-saya hanya menjalankan perintah," potong Carson cepat. Zen berjalan mendekati Carson, tatapan pria itu sama sekali tidak beralih dari Carson. "Siapa yang berani menentangku?" Ini hanya pancingan, sejatinya Zen sudah tahu jawabannya. "Langton," sebut Carson setelah beberapa waktu diam. Sudut bibir Zen tertarik. Dugaannya benar, mereka adalah duri yang ingin Zen singkirkan, tapi lumayan sulit. "Tuan, tolong. Jangan apa-apakan saya. Dokter itu sudah susah payah menyelamatkan saya." Zen menyeringai, "Itu terserah padaku, asal kau tahu dokter itu adalah orangku. Hidup dan matimu ada di tanganku. Karena aku sedang tidak senang hari ini, aku jadi ingin membunuh orang." Carson langsung turun dari ranjang. Dia merangkak ke arah Zen yang telah siap dengan senjatanya. "Saya mohon, Tuan. Jangan bunuh saya! Saya mohon!" Carson nyaris menangis. Dia pernah dengar Zen kejam. Tapi dia tak menduga kalau Zen juga tidak punya perasaan sama sekali. "Aku ingin menghabisimu, kau bisa apa?" Pelatuk sudah ditarik, tinggal dilepaskan. Wajah Carson sudah sepucat mayat. Dia tidak ingin mati, tapi lelaki di hadapannya bahkan tak meliriknya. Saat peluru hampir diledakkan, ponsel Zen berdering. Ekspresinya seketika berubah gelap. Namun begitu melihat siapa yang menghubunginya, senyum tipis lelaki itu terbit. Carson bahkan tidak percaya, Zen bisa tersenyum. Belum sempat Zen bersuara, suara penuh ke-urgensi-an dari ujung sana membuat Zen bergeming. "Halo, apa tawaran itu masih berlaku?" Lengkung bibir Zen makin kentara. "Tentu saja. Bagaimana, kamu setuju?" "Saya setuju, tapi dia harus naik meja operasi dalam dua hari." "Tidak masalah. Temui aku di rumah setengah jam lagi." Panggilan diputus dengan Zen langsung menghubungi Kian. "Jemput Vante, pindahkan dia ke sektor satu. Layanan VIP." Ada binar kepuasan di paras Zen, "Sebentar lagi kau akan tunduk padaku." Pria itu lantas menoleh ke arah Carson. "Kau beruntung hari ini. Awasi dia!" Dua kata terakhir membuat anak buah Zen mengangguk hormat. Lelaki tersebut melangkah keluar dari sana meninggalkan Carson yang telah merekam nama Vante. Sementara itu di rumah sakit. Valin langsung mendekap ponselnya, kemudian beranjak ke sisi sang adik. "Vante, kamu akan selamat. Kakak janji," ucapnya dengan air mata berlinang. "Selamat kau bilang? Siapa yang akan menolongnya? Di rumah sakit ini tidak ada yang bisa dan mau mengoperasinya." Tessa kembali lagi rupanya. Perempuan itu mencemooh Valin dengan tangan terlipat di dada. Kesombongan dan penghinaan terlihat jelas di wajahnya. "Dia akan selamat, kau akan lihat itu!" Balas Valin tidak mau kalah. Detik setelahnya gadis tersebut meringis ketika Tessa menjambak rambutnya. "Masih mau berebut denganku! Devan dan dokter lainnya tidak akan mau menolong adikmu yang penyakitan itu!" "Ibumu juga penyakitan! Mereka sama-sama sakit. Arrghh!" Tamparan kedua Valin dapatkan. Tessa dengan menggebu-gebu mendorong Valin ke dinding. Kemudian menahannya di sana. Tessa sungguh benci melihat bagaimana Valin tetap cantik meski pipinya memerah dan rambut berantakan. "Kau tahu dengan tindakanmu ini, kau bisa dilaporkan pada polisi. Kau menganiaya seorang dokter di rumah sakit, di hadapan pasien." Tawa Tessa menggema, beradu dengan alat pemantau organ vital di tubuh Vante. "Polisi? Mereka tidak akan berani menyentuhku. Semua orang juga tahu ayahku adalah direktur rumah sakit ini. Siapa yang sudi mendengar ocehanmu!" "Di atas direktur ada pemilik rumah sakit. Apa kau yakin dia tidak akan memecat ayahmu setelah tahu kelakuannya." Rahang Tessa mengatup rapat. Tanda amarahnya mencapai batas. "Asal kamu tahu, pemilik rumah sakit sangat percaya pada ayahku. Aduanmu hanya akan dianggap angin lalu olehnya!" "Kita belum mencobanya, bagaimana jika aku menemui pemilik rumah sakit?" Tantang Valin. Tessa menggeram, "Coba saja. Tapi sebelum itu terjadi. Kau akan disibukkan dengan urusan pemakaman adikmu tersayang." Valin dilempar ke dinding. Perempuan itu menjerit ketika bahunya membentur tembok. Nyeri menjalar sampai ke pergelangan tangan. Namun hal itu bukan apa-apa dibanding ketakutan yang seketika mencuat naik. Saat Tessa tersenyum jahat sambil memegang masker oksigen Vante. "Jangan lakukan itu!" Tessa sungguh puas melihat kepanikan Valin. "Memohonlah kalau begitu. Atau adikmu benar-benar akan mati!" "Tolong, jangan lakukan itu, aku mohon," kata Valin dengan tubuh jatuh berlutut di lantai. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia tidak punya pilihan selain memohon. Beberapa perawat dan dokter yang berada di sekitar situ hanya bisa diam melihat sikap Tessa yang sewenang-wenang. Mereka ingin membantu, tapi tatapan penuh ancaman dari Tessa memudarkan niat mereka. "Lebih keras! Aku tidak dengar!" Valin sesenggukan. Dia menatap nanar pada raga sang adik. Satu-satunya saudara yang dia miliki. Hidupnya adalah Vante. Kalau Vante pergi dia juga tidak mau bertahan di dunia ini. "Memohonlah, atau aku akan menghabisi dia!" Raung Tessa tidak sabar. "Tessa, apa yang kamu lakukan!" Devan datang lagi, dia ingin membantu Valin berdiri, tapi gadis itu menepis tangan Devan. Bisa dibayangkan bagaimana emosinya Tessa. "Kau kembali untuk membantunya?!" Bentak Tessa tidak terima. "Tessa, ini salah!" Devan cob memperingatkan. "Diam!" Teriak Tessa. Dia mendengus marah, sementara tangannya siap melepas masker oksigen Vante. "Jangan!" Jerit Valin setengah putus asa. "Sambutlah kematian adikmu!" Tawa Tessa kembali terdengar. Tapi sebelum Tessa sukses melucuti masker oksigen Vante. Suara tembakan membuat semua orang merunduk ketakutan. "Siapa berani menyentuh pasien VIP sektor satu?""Apa yang bisa kamu berikan padanya?"Pertanyaan itu membuat Xavier mendongak. Benteng terakhir untuk mendapatkan Rosalie ada di hadapannya. Kian Egan, wali Rosalie. Sosok yang gadis itu panggil om. Lelaki yang sejauh ini belum bisa Xavier kalahkan presensinya dalam hati Rosalie."Semua. Seperti aku telah mengambil miliknya yang paling berharga karena kebodohanku. Aku akan balik memberikan segala yang kupunya untuknya.""Bahkan nyawa sekalipun?" Pangkas Kian cepat.Sebagai orang yang pernah patah hati. Dia tahu rasanya. Sebagai lelaki yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia paham betul situasinya. Karena itu, jika Rosalie benar-benar ingin bersama Xavier. Dia akan mengizinkannya. Keputusan ini Kian ambil setelah bergulat lama dengan benaknya sendiri.Bagaimanapun juga, Kian tidak bisa menjaga Rosalie selamanya. Kian sadar akan hal itu. "Jika tuan Egan ingin nyawaku sekalipun. Aku tidak keberatan."Sudut bibir Egan tertarik. "Cinta memang gila," komennya sebelum meneguk wine di ge
"Aneh-aneh saja," gerutu Valin ketika si pelayan baru dipecat saat itu juga. Wanita tersebut menggelengkan kepala. Baru kali ini Valin menyadari kalau dia tidak mau ada perempuan lain menyentuh suaminya. Apalagi sampai Zen tergoda. Dia tak bisa membayangkan Zen tidur dengan sperempuan selain dirinya. Dia tidak sanggup.Saat Valin sibuk dengan kemelut di benaknya sendiri. Mendadak satu pelukan datang dari arah belakang. Valin terkejut sebelum kelegaan memenuhi dadanya."Kamu mengagetkanku.""Sama seperti orang gila tadi. Bisa-bisanya dia masuk ke kamar kita. Lalu coba menggodaku.""Serius kamu tidak tergoda. Dia seksi lo.""Lebih seksi kamu," bisik Zen dengan suara serak."Bohong," sangkal Valin."Aku serius, sayang. Diam saja kamu sudah membuatku tidak waras." Zen mulai menjelajah leher Valin. Dia hirup aroma sang istri kuat-kuat. Zen seolah ingin menghilangkan jejak wanita tadi di tubuhnya."Valin," bisik Zen. Pria itu mulai mencium sang istri. Ciuman yang intens juga lembut."Ka
"Apa kamu tahu kenapa Mark memutuskanmu dulu?"Michele menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sang teman. Dia sedang bersama Audrey. Mencoba menghibur diri setelah rutinitas kerja yang lumayan berat.Atau alasan lain, adalah untuk menghindari Mark. Terutama setelah kejadian mabuk kemarin. Michele benar-benar kehilangan muka. Saat dia bangun dalam keadaan setengah telanjang di sisi Mark. Di kamar pria itu.Bagaimana dia sampai ke sana. Michele sama sekali tidak mengerti. Yang dia ingat adalah dia hampir menghabiskan semua koleksi minuman Mark yang super mahal."Dia merasa tidak pantas untukmu."Michele berdecih. "Tidak pantas lalu menggunakan alasan kalau dia gay untuk mencampakkanku. Keterlaluan." Michele meneguk habis cairan dari gelas kecil di depannya. Bersama Audrey, bisa dipastikan jika minuman yang mereka konsumsi mengandung alkohol."Lalu apa dia benar-benar gay?" Michele tersedak mendengar pertanyaan penuh godaan dari Audrey. Ingatannya kembali ke malam itu. Dia mungkin
Arthur dan Zen diusik. Maka bisa dibayangkan bagaimana kecepatan keduanya menangkap biang keroknya. Dua jam kemudian, seorang pria didorong dengan kasar oleh Mark. Di samping Mark ada asisten Arthur. Pria yang sama kompetennya dengan sang tuan."Serius adikmu sama asistennya Zack?" Bisik Zen setengah mengejek. Sedikit keluar dari topik. Entah kenapa pria itu mendadak kepo soal adik Arthur.Arthur mendengkus. Antara tidak rela dan tidak terima. "Regina mentok sama dia. Daripada dia berakhir seperti Audrey, mending aku turuti saja. Setidaknya, Sandro bukan pria brengsek."Circle pertemanan kalangan elit seringnya berputar di situ-situ saja. Meski tidak dekat, mereka akan tahu cerita atau kabar dari anggota lain.Termasuk kisah Audrey. Beritanya sudah menyebar ke semua keluarga konglomerat yang ada di kota ini. Cerita yang kadang masih menyeret nama Zen. "Dia yang memberi perintah?" Arthur bertanya sambil memandang sosok yang kini ketakutan.Fokus mereka kembali pada si tersangka. Fig
Jack Harold menggebrak meja. "Apa kamu bilang, Kiev ditangkap?""Benar, menurut laporan diringkus di kota Ishifan."Jack mengepalkan tangan. Bagaimana bisa Kiev tertangkap. Dia sudah memperingatkan pria itu untuk menjaga diri. Jangan sampai keberadaannya diendus musuh atau aparat keamanan.Aparat keamanan mungkin dia masih bisa melobi. Tapi musuh, dia tidak akan mampu menolong."Hubungkan aku dengan Alan Rickman."Jack harus bertindak. Lucio mustahil bisa diselamatkan. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Jika tidak apa yang dia dan Lucio usahakan selama ini, akan hilang begitu saja."Tuan, Tuan Rickman bilang tidak bisa membantu kali ini. Departemen pertahanan ikut campur soal penangkapan Kiev."Asisten Lucio memejamkan mata. Jika demikian artinya keluarga Inzaghi ikut andil di dalamnya. Melawan mereka, sangat tidak mungkin."Cari terus celah untuk mengeluarkan Kiev. Jika dia berhasil dipaksa bicara, kita semua akan celaka."Tangan kanan Jack mengangguk pah
Satu tembakan melesat membuat lelaki yang nyaris menindih Michele tumbang. Darah menyembur dari kepala yang dilubangi Mark. Michele histeris. Namun sebelum dia menelaah apa yang tengah terjadi. Lesatan peluru lain menyusul. Dalam hitungan detik, Michele sudah berada di tengah kubangan cairan berwarna merah.Amis, bau karat dengan teror khas seketika merebak. Di antara itu semua, Mark berdiri tegak dengan mata biru menyala penuh amarah."Ada yang mau bicara?" Mark berjalan menuju Michele yang meringkuk di pojok ruang tamu. Tangan gadis itu berada di telinga. Wajahnya juga pucat, ketakutan level akut.Pria itu perlahan merengkuh Michele dalam pelukannya. Dia pakaikan jasnya, guna menutupi tubuh Michele yang bagian bahunya terekspose."Katakan!"Bentakan Mark membuat tiga lelaki yang masih hidup tapi terluka itu berjengit kaget. Aura Mark membuat mereka menggigil. "Dia punya hutang.""Pacarnya yang sudah mati yang punya hutang!"Potong Mark dengan sorot mata tajam. Dia dekap Michele y
"Ujian pertama, orang itu benar-benar setres! Bagaimana jika kucing itu tiba-tiba menggigitku. Sepertinya aku besok harus minta vaksin rabies. Siapa tahu si Molly belum divaksin. Arrghhh!"Valin kembali menjerit ketika Molly mendadak muncul di sekitar kakinya. Menggesekkan kepala dengan ekor bergoy
Valin hampir terlambat pergi ke rumah sakit. Untungnya ada taksol yang bersedia menjemputnya. Meski dia harus berlari ke gerbang komplek yang lumayan jauh.Ditambah lagi ulah Madison dan Mike yang coba mencegahnya pergi. Andai tidak ada Molly, Valin mungkin benar-benar akan terlambat. Molly kembal
Lima jam berlalu. Langit di luar kamar Vante sudah berubah pekat. Valin menghela napas berkali-kali. Perasaannya tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi pada adiknya.Valin berulang kali melihat ke arah pintu. Berharap ada sesiapa saja yang melintas. Dia ingin bertanya soal operas
Valin seketika menoleh begitu mendengar kalimat tadi. Matanya memicing curiga, sebelum menyadari kalau orang yang barusan bicara adalah Zen."Tuan, Anda ada di sini?" Tanya Valin coba menguasai diri. Dia gugup, takut juga kesal. Teringat kejadian tadi pagi. Dia lupa melihat Zen di lobi waktu dia ba







