LOGINLima jam berlalu. Langit di luar kamar Vante sudah berubah pekat. Valin menghela napas berkali-kali. Perasaannya tidak tenang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk terjadi pada adiknya.Valin berulang kali melihat ke arah pintu. Berharap ada sesiapa saja yang melintas. Dia ingin bertanya soal operasi Vante. Tapi kamar Vante dan lorong di depan tempat itu sama sunyinya.Kegelisahan Valin kian memuncak. Dia sungguh takut. Takut jika dia kehilangan sang adik. "Ayah, Ibu, jangan bawa Vante pulang. Aku perlu dia untuk bertahan di dunia ini."Doanya dengan telapak tangan saling terkait. Mata hazelnya terpejam dengan tubuh menghadap langit malam.Tak berapa lama pintu ruangan terbuka. Valin menoleh, dia lekas menyambut tubuh Vante yang masih tidak sadarkan diri."Vante," sebutnya dengan air mata berlinang."Maaf, Nyonya. Ada sedikit masalah dengan operasi Tuan Vante. Tapi kami berhasil mengatasinya. Dia akan sadar besok pagi. Jadi Nyonya bisa pulang untuk istirahat. Kami akan mengawasinya. In
Valin seketika menoleh begitu mendengar kalimat tadi. Matanya memicing curiga, sebelum menyadari kalau orang yang barusan bicara adalah Zen."Tuan, Anda ada di sini?" Tanya Valin coba menguasai diri. Dia gugup, takut juga kesal. Teringat kejadian tadi pagi. Dia lupa melihat Zen di lobi waktu dia baru datang untuk bekerja."Terserah padaku mau pergi ke mana. Sana keluar!"Zen langsung mengusir Valin begitu lift terbuka. Mereka berada di jembatan penghubung dengan gedung sektor satu.Tanpa membalas, Valin bergegas keluar dari sana. Pintu gedung sektor satu seketika terbuka begitu Valin memindai kartu pengenalnya.Hanya mereka yang punya akses yang bisa masuk ke tempat itu. Begitu Valin masuk ke sektor satu, Zen segera menghubungi Kian."Batalkan rencana operasi Cyntia Whitmore."Hanya sebaris kalimat yang terucap, Zen kembali mematikan ponselnya. Pria itu lanjut naik lift, lalu keluar di sebuah lorong yang terhubung dengan kamar Vante.Dari balik dinding kaca, Zen bisa melihat Valin mem
Valin hampir terlambat pergi ke rumah sakit. Untungnya ada taksol yang bersedia menjemputnya. Meski dia harus berlari ke gerbang komplek yang lumayan jauh.Ditambah lagi ulah Madison dan Mike yang coba mencegahnya pergi. Andai tidak ada Molly, Valin mungkin benar-benar akan terlambat. Molly kembali mencakar Madison, membuat wanita itu lari tunggang langgang dengan mulut mengucapkan sumpah serapah tiada henti.Gadis itu ambruk setelah melakukan scan menggunakan kartu tanda pengenalnya. Dia berharap masih punya waktu untuk mengambil sarapan. Kalau tidak, dia akan tumbang betulan.Satu yang Valin sesali adalah dia tidak bisa mampir ke tempat Vante. "Dasar pembunuh, punya rumah saking elite-nya. Sampai taksol gak bisa masuk."Valin menggerutu soal rumah Zen, juga soal biaya yang harus dia keluarkan jika tiap hari musti naik taksol.Belum lagi dia tadi sempat melihat Zen bicara dengan Kian di lobi rumah sakit. Rasa kesal Valin membumbung tinggi.Zen yang tampil rapi, berbanding terbalik
Suasana meja makan pagi itu cukup menegangkan. Setidaknya bagi Valin. Sementara si empunya rumah tampak tenang sambil menikmati sarapan hasil karya Valin.Gadis itu tampak bingung. Dia duduk di samping Zen, tapi sama sekali tidak menyentuh makanannya. "Kamu akan pingsan jika tidak makan!" Desis Zen penuh ancaman."Aku bisa makan nanti."Lirikan tajam Zen membuat Valin tidak berkutik. Tangan Valin baru akan menyentuh sendok. Ketika suara lain membuat Valin menarik kembali tangannya."Papa, dia siapa? Kenapa dia ada di rumah kita?"Valin memandang pada si bocah yang baru menyebut papa pada Zen."Papa? Siapa papamu? Papamu sudah mati!" Zen menjawab tanpa hati. Kalimatnya tajam setajam belati, dan si anak langsung menangis mendengarnya.Valin tentu tak enak hati. Bagaimana bisa dia masuk dalam rumah tangga orang lain. Salahnya kemarin tidak bertanya lebih dulu soal status Zen.Ditambah lagi, kemarin dia yang meminta pernikahan pada Zen. Valin meringis ngilu. Sekarang kehadirannya bak ora
"Ujian pertama, orang itu benar-benar setres! Bagaimana jika kucing itu tiba-tiba menggigitku. Sepertinya aku besok harus minta vaksin rabies. Siapa tahu si Molly belum divaksin. Arrghhh!"Valin kembali menjerit ketika Molly mendadak muncul di sekitar kakinya. Menggesekkan kepala dengan ekor bergoyang ceria."He! Kamu masuk dari mana?" Valin bertanya mengingat dia sudah menutup pintu.Molly hanya mengeong sebagai jawaban seolah paham pertanyaan Valin."Molly, aku tanya. Kamu mau ngapain ke sini? Aku mau mandi. Mau tidur, capek aku. Besok harus kerja lagi."Molly mengeong sambil mengusap wajahnya dengan kaki depannya."Alah sudahlah, kamu mana paham perkataannku."Valin memulai touring kamarnya yang berada di lantai dua. Di mana dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat pelataran The Dream yang ternyata cukup luas. "The Dream, tuanmu punya mimpi apa. Lolos dari semua jerat hukum? Atau bisa sukses dalam tiap misinya."Valin terus mengoceh dengan Molly secara ajaib menimpali. Tentu saja
"Mohon tanda tangan di sini, Nona."Kian menyerahkan satu berkas pada Valin. Gadis itu menerimanya dengan ragu. Valin langsung tercekat melihat kop berkas surat yang akan dia tanda tangani. Formulir pendaftaran pernikahan.Jadi Zen serius dengan niatnya. Kian sendiri hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pria itu sesekali memandang Vante yang berada di brankar. Benar-benar situasi yang menguntungkan Zen."Tuan, boleh saya bertanya? Kenapa Tuan yang menghandle perawatan adik saya. Apa tuan itu sangat berkuasa?"Kian menarik sudut bibirnya. Berkuasa? Lumayan juga. "Iya, begitulah."Valin mengerti keengganan Kian untuk menjawab. Pastinya Kian punya batas tertentu dalam menjawab pertanyaan mengenai sosok Zen. Sudah pasti identitas pria itu tidak boleh terbongkar."Jika Nona setuju, Nona bisa tanda tangan. Setelah ini saya akan antar Nona pulang."Valin terdiam. Dia ragu. Beberapa saat dia hanya mematung. Sampai dia melihat bayangan Vante tersenyum di benaknya. Benar, dia ingin melihat sa