LOGIN"Ada tamu rupanya."Suara Hans membuatku seketika salah tingkah.Jelas aku sangat kaget dengan kedatangannya yang tak terduga ini meski sebelumnya dia juga sering muncul di rumah ini tanpa merasa perlu untuk mengabariku.Aku bangkit dari sofa, sementara Andien masih memandangi pria yang memakai stelan rapi itu dengan tatapan penuh tanda tanya."Iya, Hans. Ini Andien, sahabatku.""Oh jadi dia Andien yang sering kamu ceritakan itu?"Hans tersenyum tipis.Lalu, tanpa merasa ada yang aneh, pria itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di sampingku.Tangannya bahkan dengan santai mendarat di pundakku.Aku langsung menegang."Hans..."Aku menatapnya dengan sorot mata memperingatkan.Namun bukannya mengerti, dia malah tersenyum."Kenapa, Sayang?"Aku hampir tersedak mendengar panggilan itu.Aku melirik Andien.Sahabatku sedang menatap kami berdua dengan mata membulat."Sayang?"Aku ingin sekali menginjak kaki Hans.Tapi tentu saja tidak mungkin kulakukan di depan Andien."Eh... maksudnya..."
"Penawaran apa Hans?"Aku masih memandangnya dengan penuh rasa penasaran.Hans tidak langsung menjawab. Pria itu justru kembali menyendok bubur ayamnya dengan santai, seolah sengaja membiarkanku menunggu.Aku mengernyit."Kalau cuma mau bikin aku penasaran, nggak usah bicara."Hans terkekeh."Aku serius.""Lalu?""Bagaimana kalau kamu kuliah lagi?"Tanganku yang semula hendak merapikan beberapa daun bunga di hadapan kami mendadak berhenti.Aku menatap Hans seolah baru saja salah mendengar."Kuliah?"Hans mengangguk."Dulu kamu belum menyelesaikan kuliahmu, kan?"Aku terdiam.Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba membawa ingatanku kembali pada masa lalu.Dulu aku memang pernah kuliah tapi semua harus berhenti di tengah jalan karena pernikahan dan kehamilanku yang saat itu tak mudah."Apa nggak mau menjadi sarjana sejarah?"Hans terdengar sangat ringan saat bertanya."Saat di Kairo lalu minat kamu kulihat begitu besar pada sejarah. Sayang sekali kalau kamu tak melanjutkan kuliahmu."Hans k
"So will you marry me May?" Kali ini Hans terlihat begitu serius. Aku menjadi kehilangan minat untuk melanjutkan kegiatanku. Aku berhenti sejenak untuk memusatkan perhatian ke arahnya. "Jawabannya masih sama seperti sebelumnya Hans, aku masih belum bisa membuka hati." Hans menarik nafas dalam. "Jadi itu artinya kamu belum bisa memaafkan aku." Hans menjatuhkan kedua pundaknya. Gesturnya terlihat luruh. "Hans ...," ucapku lirih. Hati ini menjadi berdenyut gelisah kala melihatnya seperti orang yang putus asa. Kala aku memandangnya lekat pada sosoknya yang sedang berjongkok di dekatku, hanya sekian detik senyuman Hans kemudian malah terunggah. Aku mengernyit bingung mendapati perubahan sikapnya. "Kurasa usahaku untuk hari ini cukup," cetus Hans ringan seraya berdiri dari jongkoknya. Mataku mengikuti gerakannya hingga kepalaku agak terdongak. Aku menjadi ikut bangkit. "Usaha apa?" "Usaha untuk menaklukkan hatimu." Sontak aku mendengkus kesal. "Kamu semakin
"Maya, tolong terimalah lamaranku."Aku terdiam.Tatapan Hans masih tertuju kepadaku. Ada kesungguhan yang begitu nyata di sana, membuat dadaku kembali terasa sesak.Namun kali ini bukan karena ketakutan.Melainkan karena aku tidak tahu harus memberikan jawaban apa.Di satu sisi, aku ingin percaya bahwa perasaan Hans benar-benar tulus. Aku ingin percaya bahwa lelaki yang berdiri di hadapanku sekarang bukan lagi orang yang sama seperti dulu.Namun di sisi lain, masa lalu terus menarikku kembali.Aku menundukkan kepala."Hans...""Ya?""Maaf aku belum bisa."Senyum di wajahnya perlahan menghilang."Aku tahu kamu pasti menjawab seperti ini."Dia mengedikkan kedua pundaknya."Dan aku tahu apa alasannya."Aku langsung mengerutkan kening memandang ke arahnya yang kembali fokus menyetir."Alasannya pasti karena dokter itu, kan?"Hans menjawab dengan sekenanya.Aku bisa melihat rahangnya mengeras, seolah berusaha menahan sesuatu yang terasa berat di dalam hatinya."Tapi kamu nggak usah khawat
“Sejak kapan Maya menjadi calon istrimu?”Pertanyaan Salman membuat tubuhku seketika menegang.Aku menatap Hans.Pria itu masih berdiri beberapa meter di hadapanku dengan sorot mata yang sulit kubaca. Namun satu hal yang bisa kurasakan dengan jelas adalah kemarahannya.Kemarahannya bukan hanya karena aku diculik.Ada sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.“Sejak kapan itu bukan urusanmu?” balas Hans dingin.Salman terkekeh.“Jangan mengalihkan pembicaraan, Hans.”“Aku tidak datang untuk berbicara denganmu.”Tatapan Hans beralih kepadaku.“Maya, kemari.”Aku refleks ingin melangkah.Namun Salman bergerak lebih cepat.Dalam sekejap, lengannya meraih tubuhku lalu menarikku ke dalam pelukannya.“Tidak.”Aku membeku.“Lepaskan aku!”Aku berusaha melepaskan diri, tetapi pelukannya justru semakin erat.“Salman!”Hans langsung melangkah maju.“Lepaskan Maya.”Nada suaranya terdengar begitu tenang.Justru ketenangan itulah yang membuatku semakin takut.“Aku tidak mau.”Salman menjawab tanpa s
Maya POVLangkahku terasa jauh lebih ringan pagi itu.Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku berjalan keluar dari kawasan perumahan tanpa ditemani siapa pun. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahku, membuatku mengembuskan napas panjang.Rasanya menyenangkan.Bebas.Aku terus berjalan hingga tiba di jalan raya, lalu mengangkat tangan memanggil sebuah taksi."Ke Jalan Melati, Pak.""Baik, Bu."Mobil melaju membelah jalanan kota.Sepanjang perjalanan, pikiranku melayang ke kontrakan kecil yang pernah kutinggali.Masih ada beberapa pakaian.Album foto Dita.Beberapa buku.Dan sebuah kotak kecil berisi kenangan yang belum sempat kubawa.Aku hanya ingin mengambil semuanya, lalu kembali sebelum Hans mengetahui aku keluar rumah.Mungkin...Dia bahkan tidak akan sadar.Sekitar tiga puluh menit kemudian...Taksi berhenti tepat di depan gang menuju kontrakanku."Terima kasih, Pak."Aku membayar ongkos lalu turun.Baru beberapa langkah aku berjalan...Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepa
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se
"Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania
Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny







