Compartir

52. Gadis Manja

last update Fecha de publicación: 2026-05-09 10:03:37

"Siapa wanita yang dimaksud Bella?" tanya ibu yang kini mulai menjadi penasaran.

Aku melirik pada ibu yang terlihat sangat serius sekarang.

Sedikit ragu untuk mengungkapkannya pada ibu, tapi aku juga tak sanggup untuk membohongi ibu.

"Jadi karena wanita itu kamu tadi siang menolak makan siang di rumah? Pasti dia sosok yang istimewa, bahkan kedekatan kamu sama wanita itu membuat Bella sampai cemburu kayak gitu."

Aku berusaha untuk menyantap makan malamku dengan tenang. Sebisa mungkin aku ingin m
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    52. Gadis Manja

    "Siapa wanita yang dimaksud Bella?" tanya ibu yang kini mulai menjadi penasaran.Aku melirik pada ibu yang terlihat sangat serius sekarang.Sedikit ragu untuk mengungkapkannya pada ibu, tapi aku juga tak sanggup untuk membohongi ibu."Jadi karena wanita itu kamu tadi siang menolak makan siang di rumah? Pasti dia sosok yang istimewa, bahkan kedekatan kamu sama wanita itu membuat Bella sampai cemburu kayak gitu."Aku berusaha untuk menyantap makan malamku dengan tenang. Sebisa mungkin aku ingin menyembunyikan keberadaan Maya dari ibu dan tak mengungkapkan apapun."Bu, tumben ini acarnya kok kurang asam gini ya, apa tadi cukupnya kurang ya?"Aku mencoba mengalihkan pembicaraan."Jar, kamu belum menjawab pertanyaan ibu lho."Ibu sekarang malah memindaiku lebih lekat sembari dengan menyendokkan nasi ke dalam mulutnya.Jelas ibu sangat menunggu jawabanku."Siapa perempuan itu? Kalau kamu serius kamu secepatnya kenalkan sama ibu."Aku langsung terdiam. Perlahan aku mulai meletakkan sendok ya

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    51. Makan Malam Dalam Rajukan

    Meski masih dipenuhi rasa ingin tahu, aku memilih mengabaikan rasa penasaranku dan fokus untuk bisa segera sampai di rumah ibu.Seperti biasa ibu menyambut kepulanganku dengan ekspresi beliau yang penuh rasa bahagia.Segera kucium punggung tangannya dengan takzim sebelum aku masuk dan melepas sepatu yang aku pakai."Kamu sholat dulu, Jar, habis itu kita makan bareng, ibu masak agak banyak malam ini karena nanti akan ada seseorang yang mampir mau makan bareng kita."Aku mengernyit penasaran."Siapa ya Bu?"Aku mulai mengikuti langkah ibuku ketika beliau menuju meja makan.Ternyata di meja itu telah terhidang banyak makanan. Ada sambel teri, terong balado, bali ikan bandeng yang selalu menjadi favoritku, juga tak lupa semangkok kecil acar timun dan wortel."Ibu, masak semua ini sendiri?""Dibantu sama Bulek Marni tadi," jawab ibu datar sembari tangannya fokus menata piring-piring di atas meja.Walau usia ibu lebih dari 60 tahun tapi gerakan beliau masih lincah dan sehat. Barangkali kare

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    50. Menghabiskan Waktu Bersama

    "Mas Fajar?" Panggilan itu segera membuatku menoleh. Segera kulihat wajah Bella di sana, adik dari temanku Rizal yang selama ini terkesan selalu ingin menarik perhatianku."Bella," sebutku gamang pada sosok yang selalu menampakkan senyum lebarnya ketika di hadapanku."Lagi belanja Mas?""Iya," jawabku singkat namun tanggapanku yang sekedarnya malah kian menyulut kegenitannya.Sampai akhirnya kulihat Maya mulai berjalan ke arahku sambil membawa sebotol merica bubuk untuk dimasukkan ke dalam troli belanja yang sejak tadi aku dorong.Kehadiran Maya sontak menerbitkan ekspresi kaget di wajah Bella.Gadis ekspresif itu langsung menyergap Maya dengan sorot mata tidak suka.Terlebih saat aku melemparkan senyuman lembut pada sosok anggun yang kini sudah berdiri di dekatku."Sudah? Habis ini cari apalagi?" tanyaku penuh perhatian."Beras, terus sayuran buat masak nanti malam," jawab Maya singkat."Dia siapa Mas?"Kehadiran Maya segera memancing tanya buat Bella."Dia teman lama aku," jawabku

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    49. Bahagia Bersama

    POV Fajar["Bagaimana Jar, bisa kan kamu nanti makan siang di rumah?"]["Kamu mau dimasakin apa nanti?"]Nada bicara ibu sudah terdengar sangat antusias.Hati ini menjadi dilema. Rasanya aku akan sangat bersalah jika tak memenuhi keinginan ibu yang terasa sudah begitu merindukan aku, karena mengingat sudah 2 hari ini aku tak pulang.Jika kemarin malam aku berada di rumah sakit tapi tadi malam aku menemani Maya yang sedang demam.["Eh ... kebetulan banget Bu, aku udah janji sama teman, jadi aku nggak bisa makan siang di rumah nanti. Tapi Insya Allah nanti malam aku akan usahakan buat pulang biar bisa makan malam sama Ibu di rumah."]Dengan terpaksa aku kembali mengunggah kebohongan. Aku lebih memilih untuk memenuhi janjiku pada Maya meski hati kecilku merutuki kebohongan yang aku lontarkan.Aku menghembuskan napas pelan, lalu kembali mendekatkan ponsel ke telinga.[“Gimana kalau nanti siang aku pesankan makanan? Ngomong-ngomong Ibu mau makan apa?"] tawarku demi meredakan rasa bersalahk

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    48. Sulit Memutuskan

    POV Fajar Aku sempat mengira Maya akan meminta sesuatu yang sulit atau bahkan aneh. Tapi ketika jawabannya keluar dari bibirnya, justru sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana untuk seseorang seperti dia. "Nasi Padang... di dekat sekolah kita dulu." Aku terdiam sesaat. Lalu tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Tempat itu. Tempat penuh kenangan. Tempat di mana dulu kami sering berdebat soal lauk mana yang paling enak, di mana Maya selalu mencuri sambal di piringku dan berpura-pura tidak bersalah. "Masih inget tempatnya?" tanyaku pelan. Maya mengangguk, matanya berbinar. "Aku pengen ke sana lagi." "Ya udah," jawabku mantap. "Nanti siang aku ajak kamu ke sana." Entah kenapa, hanya dengan mengatakan itu saja sudah membuat dadaku terasa hangat. Seolah aku sedang memperbaiki sesuatu yang dulu pernah hancur. Sungguh aku selalu ingin mengembalikan senyumnya seperti dulu. Senyum indah yang selalu mampu memberikan semangat untukku. "Beneran? Apa kamu nggak sibuk, Jar?"

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    47. Pagi Bersama Maya

    "Aku takut Jar, aku takut ...."Maya kian mengeratkan dekapannya. Kulitnya yang sehalus sutera mendistraksi tubuhku.Kain tipis yang membungkus tubuhnya hanya menambah sensasi menggetarkan untukku.Selama ini aku berusaha menjaga diri dan apa yang terjadi sekarang kuanggap sebagai godaan terhebat apalagi datang dari sosok yang selama ini selalu memenuhi isi pikiran nyaris menjadi obsesi yang sulit dilawan.Tubuhku seketika menegang. Namun ketika aku mendapati kedua mata Maya yang kembali terpejam disertai dengan badannya yang terlihat menggigil semua distraksi itu seketika menguap, berubah menjadi kecemasan yang pekat."May, aku akan ambilkan obat dulu, kamu demam."Dengan cepat aku mengambil tasku di ruang depan dan segera kukeluarkan satu tablet paracetamol.Kuraih segelas air putih yang tersedia di atas nakas. Setelah itu dengan hati-hati aku kembali merengkuh tubuh ringkihnya dan kuminta Maya untuk membuka matanya sebentar agar aku bisa meminumkan paracetamol itu.Maya meminum oba

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status