LOGIN"Maya?!"Aku spontan menoleh.Nafasku seketika tertahan saat melihat sosok pria tinggi berambut coklat yang berdiri beberapa meter di depanku."Hans?"Pria itu menatapku dengan ekspresi tak percaya.Aku sendiri hampir tidak yakin dengan apa yang kulihat.Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.Hans berjalan mendekat sambil terus memandangi lapak sederhana milikku.Meja lipat kecil.Spanduk seadanya.Dan beberapa wadah rice bowl yang tersusun rapi."Aku tidak salah lihat, kan?" tanyanya pelan.Aku berusaha tersenyum."Ternyata kamu ada di Indonesia."Hans masih tampak syok."Aku memang sedang mengurus beberapa urusan bisnis di sini," jawab Hans masih saja dengan sorot matanya yang tampak terkaget-kaget melihatku.Tatapannya kembali beralih ke lapak jualanku.Lalu kepadaku.Dan kembali lagi ke lapak itu.Seolah dia masih berusaha mencerna apa yang sedang dilihatnya."Kamu... berjualan di sini?"Aku mengangguk."Iya."Kening Hans berkerut."Tapi kenapa?"Aku menghela napas pelan.
Maya POVPonselku kembali bergetar di atas kasur.Nama Fajar muncul di layar.Untuk kesekian kalinya hari ini.Aku menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya membiarkannya kembali berhenti sendiri.Hatiku terasa sesak.Sejak meninggalkan rumah Bu Halimah dua hari lalu, Fajar terus menghubungiku tanpa henti.Telepon.Pesan.Bahkan beberapa kali panggilan video.Namun aku belum siap menghadapi semua itu.Aku hanya ingin menenangkan diri.Mencoba berdiri dengan kakiku sendiri.Ponselku kembali berbunyi.Kali ini sebuah pesan masuk.[Kamu di mana?][Tolong kasih tahu aku.][Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. May, tolong balas pesanku.]Aku menggigit bibir. Kubaca pesannya dengan perasaan tak menentu.Rasa bersalah mulai menggerogoti.Pada akhirnya aku membalas singkat.[Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.]Tak sampai satu menit kemudian telepon kembali masuk.Aku menghela napas panjang.Aku memutuskan mengangkatnya agar Fajar bisa berhenti mengkhawatirkan aku.["Halo."]Ter
"Sudah cukup!"Suara Bu Halimah terdengar lantang memecah keributan.Wanita paruh baya itu segera berdiri di antara aku dan perempuan yang baru saja menamparku."Raisa, jaga bicaramu!" tegurnya tegas.Aku mengerjap bingung.Raisa?Bu Halimah mendekat sedikit kepadaku lalu berbisik pelan."Itu Raisa, istrinya Rizal."Aku membeku, meski perempuan yang memakai outfit mewah di sekujur tubuhnya itu sempat menegaskan tentang status Rizal sebagai suaminya, tapi penjelasan dari Bu Halimah segera menyentak kegelisahanku.Pantas saja dia datang dengan kemarahan seperti itu.Namun aku tetap tidak mengerti.Kenapa dia bisa semarah ini sampai membuatnya nekat mempermalukanku di depan banyak orang?Kalau cuma mendengar suaminya terus menyebutku dalam igauan tidurnya, rasanya alasan itu kurang begitu logis.Raisa mendengus kasar."Bu Halimah jangan ikut campur!""Aku justru harus ikut campur karena kamu sedang membuat fitnah.""Fitnah?" Raisa tertawa sinis. "Suami saya setiap malam menyebut nama per
Maya POVSuara azan Subuh masih belum terdengar.Malam berada di penghujungnya ketika aku masih bersimpuh di atas sajadah.Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan."Ya Allah... lindungilah Dita di mana pun dia berada. Jika memang dia masih hidup, pertemukanlah kami secepatnya."Suaraku lirih.Nyaris seperti bisikan.Aku mengangkat kedua tangan lebih tinggi."Dan jika semua ini adalah ujian, tolong kuatkan aku menjalaninya."Tangisku pecah lagi.Sudah beberapa hari ini aku terbiasa bangun sebelum fajar.Salat tahajud menjadi tempatku mencurahkan semua rasa takut yang selama ini kusimpan sendiri.Saat aku menundukkan kepala, tiba-tiba terdengar suara langkah pelan dari arah pintu.Aku menoleh.Fajar berdiri di sana.Pria itu mengenakan kaus rumah sederhana dengan rambut yang masih sedikit berantakan.Entah sejak kapan dia berdiri memperhatikanku.Aku buru-buru mengusap air mata."Ada apa, Jar?" tanyaku menjadi penasaran dengan keberadaannya di depan kamarku sepagi ini.Fajar menggeleng.Tat
Maya POV"Jar, anakku masih belum aku temukan."Suaraku terdengar pecah.Meski Salman dan Angga sudah tertangkap, kenyataannya Dita masih belum ada di hadapanku.Itulah yang membuat dadaku tetap terasa sesak.Fajar mengusap puncak kepalaku perlahan."Polisi sudah menangkap mereka, May. Sekarang mereka tidak punya banyak pilihan selain bicara.""Tapi kalau mereka tetap diam?""Aku akan cari Dita sampai ketemu."Aku mengangkat wajah.Tatapan Fajar begitu tegas.Tidak ada keraguan sedikit pun di sana."Aku janji."Entah kenapa, hanya dua kata sederhana itu saja sudah cukup membuatku sedikit lebih tenang.Tak lama kemudian polisi mulai meminta keterangan dari semua orang yang berada di lokasi.Aku menjawab pertanyaan demi pertanyaan sambil berusaha mengendalikan emosiku.Setelah semuanya selesai, kami akhirnya keluar dari apartemen mewah yang sejak awal terasa seperti neraka itu.Udara malam langsung menyambut wajahku.Aku menarik napas panjang.Namun baru beberapa langkah menuju area par
Maya POVAku menatap Angga dengan penuh murka.Rasa takut yang tadi memenuhi dadaku perlahan berubah menjadi kemarahan yang membakar."Kurang ajar kamu, Mas!"Suaraku menggema di koridor apartemen."Kamu bohong lagi! Kamu bilang Dita ada di sini!"Angga hanya menyeringai.Senyum licik yang selama ini sangat kubenci."Kalau aku nggak bohong, apa kamu mau ikut?"Aku benar-benar ingin menampar wajahnya saat itu juga."Kamu menjual aku, lagi?" tanyaku dengan suara bergetar."Kamu memang bukan manusia!"Angga mengangkat bahu seolah semua itu bukan masalah besar."Kamu terlalu berlebihan.""Berlebihan?"Air mataku hampir jatuh."Kamu menculik anakmu sendiri, lalu menjadikan aku umpan untuk orang lain!"Angga justru tertawa kecil.Sementara itu Salman melangkah mendekat.Berbeda dengan dulu, kini pria itu berbicara menggunakan bahasa Indonesia yang cukup lancar."Kamu masih secantik yang aku ingat."Tatapannya membuat bulu kudukku meremang.Aku langsung mundur.Namun sebelum sempat melangkah







