Share

77. Rencana Fajar

Author: Mastuti Rheny
last update publish date: 2026-06-06 19:24:44

Maya POV

Demi mengurangi sedikit gelisahku aku terpaksa menghubungi Fajar, meski saat ini aku tahu dia masih sibuk di rumah sakit.

Aku merasa bersalah telah mengganggunya. Tapi aku tak bisa terlalu lama menyimpan berita tentang Dita ini sendirian.

Jantungku terus berdebar setiap kali membayangkan satu kemungkinan yang beberapa waktu terakhir ini hanya hadir dalam mimpi.

Dita.

Putriku.

Anakku yang sudah begitu lama tidak bisa kupeluk.

Akhirnya di sore hari aku duduk gelisah di ruang keluarga rum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
Maya..jangan diulangi kwbodohanmu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    143. Perdebatan Tengah Malam

    Maya POV"Telepon dari siapa, Hans?"Pertanyaanku membuat pria itu terdiam sejenak. Matanya masih tertuju pada layar ponsel yang menyala di atas meja makan. Ada perubahan kecil pada raut wajahnya yang sejak tadi berusaha dia sembunyikan.Namun, alih-alih menjawab, Hans justru mengambil ponsel itu dan menekan sesuatu di layarnya.Panggilan tersebut ditolak.Aku mengerjapkan mata."Kenapa tidak diangkat?"Hans meletakkan ponselnya kembali, kemudian mengangkat wajah dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan."Nothing important."Aku mengernyit."Kalau memang tidak penting, kenapa wajahmu tiba-tiba berubah seperti itu?"Hans terkekeh pelan. Dia kemudian mengambil gelas berisi minuman dan menyesapnya sebelum kembali menatapku."Jangan biarkan urusan pekerjaan merusak makan malam kita, May. Malam ini adalah hari istimewamu."Aku mengembuskan napas."Tapi kalau memang ada sesuatu yang harus kamu urus, tidak apa-apa. Aku bisa makan sendiri."Hans menggeleng."No way. Aku sudah menghabiskan

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    142. Kejutan Ultah

    Maya POV"Maya, tunggu dulu ...."Cekalan tangan Hans membuatku terpaksa menghentikan langkah. Aku menoleh dengan alis sedikit bertaut, masih menyimpan kekesalan atas sikapnya yang selalu saja berhasil membuatku kehilangan kendali."Apa lagi?"Hans tersenyum tipis. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Dia terlihat seperti sedang menahan sesuatu yang sejak tadi ingin disampaikan."Kenapa kamu buru-buru sekali? Aku bahkan belum selesai bicara.""Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.""Benarkah?"Aku mengembuskan napas panjang. "Hans, jangan mulai lagi dengan rayuan-rayuanmu. Aku sudah cukup pusing menghadapi sikapmu."Alih-alih tersinggung, pria itu justru terkekeh."Baiklah. Kalau begitu, izinkan aku mengatakan sesuatu yang sebenarnya sudah ingin kusampaikan sejak tadi."Aku menatapnya dengan sedikit curiga."Apa?"Hans melepaskan cekalan tangannya, kemudian memasukkan sebelah tangan ke saku celana. Senyumnya semakin mengembang."Happy birthday, May

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    141. Godaan Hans

    Maya POV "Kamu mau bicara soal apa?" tanyaku jengah.Fajar malah menatapku lekat sebelum kemudian dia melirik ke arah dalam rumah."Jadi selama ini kamu tinggal di rumah mewah ini, May?"Aku berdecih tipis.Tapi aku malah tak tahu harus menanggapi seperti apa kalimat Fajar itu."Apa pria itu memperlakukan kamu dengan baik?"Fajar kembali menelisikku.Aku termangu kelu sembari menarik nafas panjang."Apa kamu sekarang sedang berpikir jika aku sudah menjadi simpanan seorang pria kaya?"Fajar hanya terdiam dengan sorot matanya yang serasa tajam memyergapku."Kalau aku katakan hubunganku dengan Hans saat ini hanya sebatas sahabat apa kamu akan percaya?""Yang aku yakini tak pernah ada hubungan persahabatan murni antara pria dan wanita, dan pastinya perasaan lelaki itu ke kamu tak akan pernah seperti itu."Aku membalas tatapan Fajar dengan lebih intens, dan aku masih berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan Fajar untuk masuk ke dalam rumah."Aku dengar sekarang Anisa sedang hamil, kena

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    140. Berita Tentang Anisa

    Maya POV“Apa kabar?”Aku sontak menoleh ke arah suara yang menyapa kami. Senyum di bibirku seketika memudar ketika mendapati sosok Rizal berdiri tak jauh dari meja tempat aku dan Andien duduk.“Rizal?” sapaku dengan suara sedikit tercekat. Jelas aku kaget dengan pertemuan tak terduga ini. Kalau boleh memilih aku tak ingin lagi berjumpa dengan orang-orang dari masa laluku, terlebih para pria yang pernah membeli dan menyentuhku dulu, dan Rizal adalah salah satunya.Dia tersenyum santai. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.“Nggak nyangka banget aku bisa ketemu kamu di tempat ini.""Kamu lagi santai sama temen kamu?"Rizal melirik ke arah Andien dan mengangguk sebagai sebuah isyarat sapaan.Andien yang tak sepenuhnya tahu siapa Rizal membalasnya dengan segaris senyuman.“Boleh gabung?” tanyanya.“Tentu,” sahut Andien ramah. Andien mempersilakan begitu saja, dan aku tak bisa menampik.Rizal kemudian menarik kursi dan duduk bersama kami. Aku tak tahu apa yang harus dik

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    139. Stigma Dari Masa Lalu

    Maya POV“Ide apa?”Hans tersenyum tipis, lalu menatapku lekat-lekat.“Kamu menikah saja denganku. Kalau kamu sudah menjadi istriku, Fajar pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekatimu.”Aku nyaris tersedak mendengar jawabannya.“Kamu pikir menikah itu sesederhana mengganti status di KTP?”“Tidak.” Senyumnya memudar. “Justru karena pernikahan bukan perkara sederhana, aku ingin menjalaninya denganmu.”Aku terdiam. Meski mengatakannya dengan nada santai, aku tahu Hans serius. Lelaki itu selalu begitu. Dia bisa menyampaikan perasaannya seolah sedang bercanda, tetapi sorot matanya tak pernah menyembunyikan kesungguhan.“Aku serius, Maya.”“Aku tahu. Itulah masalahnya.”Hans mengernyit. “Kenapa?”Aku menghela napas panjang. “Karena aku belum bisa menerima perasaanmu.”“Apa kamu masih belum percaya kepadaku?”Aku menunduk. Bukan semata-mata karena tidak percaya, tetapi karena masih ada kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang di antara kami. Ditambah lagi, pengalaman pernikahanku dengan M

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    138. Menjauhi Fajar

    Maya POV"Maya!"Aku dan Fajar sontak menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat Hans berjalan mendekat dengan langkah mantap. Namun, begitu pandangannya beralih kepada Fajar, raut wajahnya seketika berubah dingin."Kamu sudah dari tadi keluarnya?" tanyanya kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada lelaki di sampingku.Aku segera mengangkat bingkisan di tanganku."Iya," jawabku sewajar mungkin meski sekarang aku sudah mulai resah saat melihat tatapan Hans yang begitu menelisik pada Fajar.Sementara balasan sorot mata Fajar menjadi kian menajam."Ada apa?" Hans kembali bertanya."Tidak ada apa-apa. Fajar hanya memberikan oleh-oleh karena kebetulan baru pulang dari Yogyakarta."Aku menunjukkan kotak pia yang diberikan Fajar tadi. Aku berharap penjelasan sederhana itu cukup untuk menghilangkan kecurigaan Hans.Sayangnya, tatapan lelaki itu masih terasa tajam."Oh, begitu." Hans mengangguk tipis. "Saya kira ada urusan lain yang membuat seorang dokter rela meluangkan waktu untuk da

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    38. Dukungan Andien

    Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    6. Memperpanjang Waktu

    "Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    5. Rahasia Hans

    Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny

  • PEREMPUAN BERKALANG NODA    4. Dalam Kuasa Pria Dominan

    ["Siapa ini?"] tanyaku lugas saat kudengar suara wanita asing ketika aku menghubungi ponsel suamiku.Tapi sebelum aku mendengar penjelasan apapun dari perempuan itu segera kudengar suara Mas Angga dari seberang sana.["Kamu kenapa nelpon aku? Apa Om Hans nggak sama kamu?"]Saat mendengar nada bicar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status