LOGINMaya POV "Kamu mau bicara soal apa?" tanyaku jengah.Fajar malah menatapku lekat sebelum kemudian dia melirik ke arah dalam rumah."Jadi selama ini kamu tinggal di rumah mewah ini, May?"Aku berdecih tipis.Tapi aku malah tak tahu harus menanggapi seperti apa kalimat Fajar itu."Apa pria itu memperlakukan kamu dengan baik?"Fajar kembali menelisikku.Aku termangu kelu sembari menarik nafas panjang."Apa kamu sekarang sedang berpikir jika aku sudah menjadi simpanan seorang pria kaya?"Fajar hanya terdiam dengan sorot matanya yang serasa tajam memyergapku."Kalau aku katakan hubunganku dengan Hans saat ini hanya sebatas sahabat apa kamu akan percaya?""Yang aku yakini tak pernah ada hubungan persahabatan murni antara pria dan wanita, dan pastinya perasaan lelaki itu ke kamu tak akan pernah seperti itu."Aku membalas tatapan Fajar dengan lebih intens, dan aku masih berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan Fajar untuk masuk ke dalam rumah."Aku dengar sekarang Anisa sedang hamil, kena
Maya POV“Apa kabar?”Aku sontak menoleh ke arah suara yang menyapa kami. Senyum di bibirku seketika memudar ketika mendapati sosok Rizal berdiri tak jauh dari meja tempat aku dan Andien duduk.“Rizal?” sapaku dengan suara sedikit tercekat. Jelas aku kaget dengan pertemuan tak terduga ini. Kalau boleh memilih aku tak ingin lagi berjumpa dengan orang-orang dari masa laluku, terlebih para pria yang pernah membeli dan menyentuhku dulu, dan Rizal adalah salah satunya.Dia tersenyum santai. Aku tak tahu apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.“Nggak nyangka banget aku bisa ketemu kamu di tempat ini.""Kamu lagi santai sama temen kamu?"Rizal melirik ke arah Andien dan mengangguk sebagai sebuah isyarat sapaan.Andien yang tak sepenuhnya tahu siapa Rizal membalasnya dengan segaris senyuman.“Boleh gabung?” tanyanya.“Tentu,” sahut Andien ramah. Andien mempersilakan begitu saja, dan aku tak bisa menampik.Rizal kemudian menarik kursi dan duduk bersama kami. Aku tak tahu apa yang harus dik
Maya POV“Ide apa?”Hans tersenyum tipis, lalu menatapku lekat-lekat.“Kamu menikah saja denganku. Kalau kamu sudah menjadi istriku, Fajar pasti akan berpikir dua kali sebelum mendekatimu.”Aku nyaris tersedak mendengar jawabannya.“Kamu pikir menikah itu sesederhana mengganti status di KTP?”“Tidak.” Senyumnya memudar. “Justru karena pernikahan bukan perkara sederhana, aku ingin menjalaninya denganmu.”Aku terdiam. Meski mengatakannya dengan nada santai, aku tahu Hans serius. Lelaki itu selalu begitu. Dia bisa menyampaikan perasaannya seolah sedang bercanda, tetapi sorot matanya tak pernah menyembunyikan kesungguhan.“Aku serius, Maya.”“Aku tahu. Itulah masalahnya.”Hans mengernyit. “Kenapa?”Aku menghela napas panjang. “Karena aku belum bisa menerima perasaanmu.”“Apa kamu masih belum percaya kepadaku?”Aku menunduk. Bukan semata-mata karena tidak percaya, tetapi karena masih ada kekecewaan yang belum sepenuhnya hilang di antara kami. Ditambah lagi, pengalaman pernikahanku dengan M
Maya POV"Maya!"Aku dan Fajar sontak menoleh ke arah suara yang memanggilku. Kulihat Hans berjalan mendekat dengan langkah mantap. Namun, begitu pandangannya beralih kepada Fajar, raut wajahnya seketika berubah dingin."Kamu sudah dari tadi keluarnya?" tanyanya kepadaku, tetapi matanya tetap tertuju pada lelaki di sampingku.Aku segera mengangkat bingkisan di tanganku."Iya," jawabku sewajar mungkin meski sekarang aku sudah mulai resah saat melihat tatapan Hans yang begitu menelisik pada Fajar.Sementara balasan sorot mata Fajar menjadi kian menajam."Ada apa?" Hans kembali bertanya."Tidak ada apa-apa. Fajar hanya memberikan oleh-oleh karena kebetulan baru pulang dari Yogyakarta."Aku menunjukkan kotak pia yang diberikan Fajar tadi. Aku berharap penjelasan sederhana itu cukup untuk menghilangkan kecurigaan Hans.Sayangnya, tatapan lelaki itu masih terasa tajam."Oh, begitu." Hans mengangguk tipis. "Saya kira ada urusan lain yang membuat seorang dokter rela meluangkan waktu untuk da
Maya POVAku menatap Fajar dengan sungguh-sungguh. Inilah kesempatan yang kutunggu untuk membuatnya memahami bahwa pernikahannya dengan Anisa bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sesuka hati."Aku ingin kamu membuka hati untuk Anisa, Jar. Dia istrimu. Dia mencintaimu dan ingin mendapatkan cinta yang sama darimu."Fajar menghela napas panjang."Aku sudah berusaha, May. Tapi, aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri.""Maksudmu?""Aku selalu membandingkan Anisa denganmu. Saat dia memperhatikanku, aku teringat caramu memperlakukanku dulu. Bahkan ketika kami bersama, pikiranku sering kembali kepadamu."Aku menggeleng tak percaya."Jar, berhenti membicarakan hal seperti itu.""Aku hanya ingin jujur. Aku merasa tersiksa menjalani pernikahan ini. Kadang-kadang aku menyesal telah mengambil keputusan untuk menikahi Anisa."Fajar terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan."Aku tahu dia perempuan baik. Tapi, aku tidak bisa memberikan cinta yang seharusnya dia dapatkan."Aku menggeleng gundah. Je
Maya POV"Mbak maukah kamu menemui Mas Fajar?"Aku terdiam mendengar permintaan Anisa. Perempuan berhijab itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, seolah aku adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya."Aku ingin Mbak menemui Mas Fajar. Tolong bicara dengannya dari hati ke hati. Yakinkan dia agar mau membuka hatinya untukku."Aku menghela napas panjang."Anisa, aku dan Fajar sudah tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku juga tidak ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Bagaimana kalau pertemuan kami justru menimbulkan salah paham?""Aku tidak akan menyalahkan Mbak.""Tapi, kamu harus mengerti bahwa perasaan Fajar bukan tanggung jawabku."Anisa menunduk. Air matanya mulai berjatuhan."Aku tahu, Mbak. Tapi, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku selalu mencoba memahami dia, tetapi ternyata hatinya masih tertinggal pada perempuan lain."Suaranya bergetar."Bayangkan bagaimana perasaanku ketika suamiku sendiri mengakui bahwa dia masih mencintai perempuan yang pernah menjad
Aku melenggang dengan langkah ringan saat keluar dari ruang pemeriksaan.Berkat dukungan Fajar yang selalu mendampingiku aku mampu memberikan keterangan dengan lancar.Fajar selalu meyakinkan aku jika Benny tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum begitu saja karena kesalahannya terpampang nyata le
Saat aku menoleh ke arah pintu kulihat Andien, sahabatku sejak lama telah berdiri di ambang pintu.Sorot matanya lugas, segera menerbitkan tanya di hati."Wa'alaikumsalam, masuk Ndien," balasku seraya menyambut kedatangannya dengan seuntai senyuman. "Maaf, aku baru datang sekarang," ucap Andien se
"Cukup kamu tahu kalau aku dan papamu dulu pernah saling kenal."Jawaban tegas Hans tetap tak bisa membungkamku. Rasa penasaranku tetap saja membuncah."Jika kamu mengenal papaku, kenapa kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Kamu sudah membuatku seperti seorang pelacur."Aku mengunggah keberania
Kupandangi foto itu dengan hati memendam gundah sekaligus rasa penasaran.Gambar di layar itu memampang terlalu lugas sebuah keakraban. Pelukan erat mereka semakin menegaskan tentang interaksi yang terunggah hangat. Ditambah dengan senyuman lebar keduanya kian memancing rasa ingin tahuku, sebenarny







