Home / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Sekarang Kau Tahu

Share

Sekarang Kau Tahu

last update publish date: 2026-03-14 13:30:14
Elena masih berdiri di depan jendela.

Kain lap ada di tangannya. Permukaan kaca sudah bersih, namun ia tetap menggerakkan kain itu perlahan—gerakan yang sama, berulang, seolah pekerjaannya belum selesai.

Pantulan dirinya samar di kaca.

Di luar, lampu taman menyala pucat di antara semak-semak yang baru dipangkas. Angin malam mulai turun, menggerakkan daun cemara dengan suara lembut.

Di dalam ruangan—

terlalu sunyi.

Langkah kaki tadi berhenti setelah pintu tertutup.

Elena tidak menol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Cerita yang Mulai Retak

    Malam berlalu di sisi ranjang Elena. Adriano tidak beranjak dari kursinya. Kantong darah telah kosong sejak beberapa jam lalu. Selang transfusi diganti. Infus masih menetes melalui punggung tangan Elena. Cahaya monitor bergerak di dinding, bergantian dengan bayangan tipis dari tirai. Sesekali mata Adriano jatuh pada angka di layar. Lebih sering berhenti pada wajah Elena. Tangannya berada di atas sandaran kursi. Tidak menyentuh perempuan itu. Ketika cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai, seorang suster datang membawa catatan medis. Ia memeriksa infus. Mengecek monitor. Mencatat sesuatu. Adriano mengangkat kepala. “Masih belum ada tanda-tanda dia akan sadar?” Suster melihat Elena sebelum menjawab. “Belum, Signore.” Ujung penanya bergerak di atas kertas. “Tapi kondisinya jauh lebih baik dari semalam. Tekanan darahnya mulai stabil.” Adriano mengangguk. “Perhatikan dia.” “Baik.” Adriano berdiri. Jas yang dikenakannya sejak semalam telah kehilan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Perintah Tak Lagi Berarti

    Ketukan terdengar dari luar kamar. Tiga kali. “Signore, dokter sudah datang.” Adriano masih berada di lantai. Tubuh Elena terbaring di lengannya. Kepalanya bersandar pada lekuk siku, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu. “Masuk.” Pintu terbuka. Seorang dokter masuk bersama dua perawat. Tas medis dibawa salah satunya. Perawat lain sudah mengenakan sarung tangan sebelum mencapai ranjang. Dokter langsung berlutut. Dua jarinya menekan sisi leher Elena. Ia menunggu. Kemudian mendekatkan punggung tangan ke bawah hidung perempuan itu. “Napasnya lemah.” Tatapannya turun pada luka di bahu, lengan, dan betis. “Berapa lama sejak terluka?” “Lebih dari satu jam.” Dokter mengangkat wajah. “Pindahkan ke ranjang.” Adriano bangkit. Lengannya menopang tubuh Elena dengan hati-hati. Rambut perempuan itu bergeser melewati dadanya ketika ia mengangkatnya. Darah menempel pada kemeja Adriano. Ia tidak melihatnya. Elena dibaringkan di atas ranjang. Perawat segera memasang infus. Jarum

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Di Ujung Kekuasaan

    Adriano masih berdiri di depan lemari. Dua jepit rambut merah berada di kedua tangannya. Yang kiri bersih. Yang kanan masih menyisakan tanah di sela lekukannya. Ibu jarinya mengusap permukaan yang satu, kemudian berpindah ke permukaan yang lain. Lekukan kecil di ujung. Lengkungan pengait. Goresan tipis dekat bagian dalam. Sama. Ia membalik keduanya. Tetap sama. Napasnya keluar pelan. Ingatan datang tanpa diminta. Elena saat pertama kali berdiri di hadapannya. Tatapan perempuan itu yang tetap bertahan meski tubuhnya gemetar. Tangan yang pernah ia tahan ketika mencoba menjauh. Bibir yang pernah ia cium karena ia menganggap kedekatan itu berada dalam kendalinya. Malam-malam yang tidak pernah ia pertanyakan. Tangis yang ia abaikan. Suara yang meminta berhenti. Tamparan. Ikat pinggang yang terlepas dari pinggangnya. Tubuh Elena yang tadi tergeletak di antara tiga ekor anjing. Adriano menutup mata. Dadanya mengembang. Tertahan. Kemudian turun. Satu benda telah ia

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu yang Tidak Bisa Dijelaskan

    Baru beberapa langkah Adriano melewati ambang pintu, suara Valerius terdengar dari belakang. “Dia tidak pernah mencintaimu, Adriano.” Langkah Adriano berhenti. Elena ikut terhenti di sampingnya. Berat tubuhnya hampir seluruhnya bertumpu pada lengan pria itu. Valerius masih berada di kursi rodanya. “Berapa lama lagi kau akan sadar?” Adriano menatap lurus ke depan. “Aku tidak sedang mencari hal seperti itu.” “Kalau bukan itu yang kau cari, apa?” Tidak ada jawaban. Tatapan Valerius turun pada darah yang menetes dari kaki Elena. “Dia hanya memanfaatkan kebaikanmu.” Jemari Adriano mengencang di lengan Elena. “Dan kau masih membawanya masuk ke rumah ini.” Adriano menoleh. “Bukan urusanmu.” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Semua yang masuk ke rumah ini adalah urusanku.” Rahang Adriano mengeras. Ia tidak menjawab. Tangannya menarik Elena kembali berjalan. Jejak merah tertinggal di atas marmer. Elias masih berdiri di dekat rak buku. Tatapannya turun pada noda pertama.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Dibawanya Kembali

    Kaki Adriano turun ke marmer halaman. Pintu sedan tertutup di belakangnya. Gonggongan terdengar dari arah pagar. Adriano menoleh. Suara itu datang lagi. Tiga ekor anjing bergerak di antara semak dan pagar. Salah satunya menarik sesuatu di tanah. Adriano berjalan mendekat. Cahaya lampu sedan menyapu rerumputan. Tubuh Elena terlihat di bawah mereka. Mantelnya koyak. Blusnya robek pada bahu dan lengan. Darah merembes dari kulit yang penuh bekas gigitan. Satu tangannya melindungi kepala, sementara tangan lainnya mencengkeram rumput. "Berhenti." Gonggongan terputus. Dua anjing mengangkat kepala. Satu mundur. Yang paling dekat dengan Elena masih menggigit lengannya. Adriano maju. Tinju kanannya menghantam sisi kepala anjing itu. Buk. Hewan tersebut mengerang dan melepaskan gigitan sesaat. Rahangnya kembali mengatup. Adriano mencengkeram moncongnya. "Lepaskan." Jemarinya menekan kedua sisi rahang. Anjing itu meronta. Adriano membuka mulutnya dengan paksa. Gigitan akh

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Kembali

    Jemari Elena telah mencapai puncak pagar. Satu telapak mencengkeram jeruji paling atas. Kaki kirinya terangkat, mencari batang besi untuk pijakan. Suara rantai bergeser dari balik semak. Elena menoleh. Tiga ekor anjing menerobos keluar dari kegelapan. "Guk!" "Guk!" "Guk!" Tubuh mereka merendah sebelum melesat. Elena menarik tubuhnya lebih tinggi. Kaki kirinya berhasil menginjak besi. Kaki kanan menyusul. Jarak ke sisi luar pagar tinggal satu gerakan. Anjing pertama melompat. Rahangnya mengatup pada betis Elena. Tubuhnya tersentak. Kaki yang tadi mencari pijakan terlepas. Anjing kedua menerkam ujung mantelnya. Kain tertarik ke belakang. Elena mencengkeram puncak pagar dengan kedua tangan. Gigitan di kakinya semakin kuat. Mantel tertarik sampai jahitannya menegang. Sreeet. Kain robek. Pegangannya terlepas. Tubuh Elena jatuh. Bruk! Punggungnya menghantam tanah. Udara keluar dari paru-parunya. Belum sempat bangkit, bayangan hitam sudah mengelilinginya. Elena m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Dia Titik Lemahmu

    Ruang kerja Valerius Moretti selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain di rumah itu. Bukan karena udara. Karena cara pria tua itu mengatur ruang. Segalanya teratur. Terukur. Tanpa sesuatu yang tidak memiliki fungsi. Rak buku berdiri rapi di sepanjang dinding. Meja kayu besar berada d

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tanpa Jalan Keluar

    Adriano sudah berjalan di depan. Ia tidak menunggu. Langkahnya panjang dan terukur, seolah rumah itu telah menghafal ritmenya. Sepatu kulitnya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer, namun setiap tapak terasa seperti penanda wilayah. Elena ragu sepersekian detik. Lalu ia menyusul.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kalimat yang Mengikat Nyawa

    Interior mansion Moretti tidak menyambut. Ia menelan. Langit-langit tinggi membuat langkah kaki Elena terdengar terlalu kecil. Lantai marmer dingin memantulkan bayangan mereka seperti air yang tak mau terusik. Tidak ada lukisan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada bunga. Hanya ruang luas, suny

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Pengorbanan Berubah Menjadi Milik

    Interior mobil itu terasa seperti dunia lain. Bukan karena kemewahannya, melainkan karena sunyinya—sunyi yang tidak memberi ruang bagi suara untuk hidup. Jok kulit hitam menelan tubuh Elena saat ia duduk. Pintu tertutup rapat di belakangnya, memutus debu, teriakan, dan panti yang baru saja ia ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status