MasukDemi melunasi utang yang dimiliki sang ayah, Ambarsari Putri terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya untuk menikah dengan seorang pria tua bangka. Namun, pengunduran dirinya itu ditolak oleh Alvaro Hadinata, majikannya yang merupakan pewaris sekaligus presiden direktur Hadinata Group yang ternama. Alasannya adalah ... karena putra tunggal duda tampan itu tidak bersedia berpisah dengan Ambar! Yang gilanya lagi, demi menghalangi kepergian Ambar, pria itu malah melamarnya dan mengajukan sebuah pernikahan kontrak!? "Aku akan lunasi utangmu, juga menikahimu. Yang jelas, kamu tidak boleh pergi dan harus tetap tinggal di sini!" Apa pilihan Ambar? Akankah dia menerima tawaran Alvaro? Kalau ya, apakah pernikahan yang berawal dari perjanjian ini bisa berujung tidak terpisahkan? Ikuti terus cerita ini!
Lihat lebih banyak"Mas ... jangan keluar di dalam, nanti aku bisa hamil!" tukas Laila sambil mendesah karena hampir sampai ke puncak kenikmatan bersama Dimas.
"Kamu ... ah ..." Dimas seperti sudah tak mendengarkan apa yang diminta oleh Laila, bahkan ia mengeluarkan cairan sp*manya di dalam rahim Laila. Pria itu pun luluh lantah di atas tubuh Laila.
"Ya elah, Mas. Kenapa dikeluarkan di dalam. Bagaimana kalau aku hamil?" protes Laila dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
Pria itu menaikkan wajahnya dan menatap wajah cantik Laila yang sudah basah dengan keringat. Ia menatap lembut kepada wanita itu.
"Ya ... kalau kamu hamil gak apa dong. Kamu kan istri aku. Kita ini sudah menikah loh. Kita tuh halal banget," bujuk Dimas.
Pria itu pun turun dari tubuh indah Laila dan terlentang, di sebelahnya seolah puas dengan apa yang baru ia lakukan dengan Laila.
"Mas ..." Lalia memiringkan tubuhnya lalu memeluk erat Dimas yang berada di sebelahnya itu.
"Mas .. aku mau tanya dong"
"Apa itu, Sayang?" Dimas mencium lembut puncak kepala Laila.
"Kalau dibandingkan nih ... Antara aku sama Mbak Hesti, siapa yang paling memberikan kepuasaan saat melayani Mas?" tanya Laila genit. Wanita itu memainkan jarinya di atas dada kekar Dimas, membuat tubuh pria itu merinding karena perbuatan dari Laila.
"Kamu lah, Sayangku, cantikku. Hesti itu kalau di ranjang sudah seperti batang pohon. Sangat kaku. Begitu saja. Dia tak bisa memuaskan aku dan tak bisa mengeksplor apa yang seharusnya dilakukan agar kegiatan di ranjang itu menyenangkan." balas Dimas begitu merendahkan Hesti, istrinya sendiri. Wanita yang memulai segalanya dari nol bersama dengan Dimas dan juga merupakan wanita yang sangat mendukung Dimas hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ya ...bisa dikatakan Dimas bisa sesukses ini juga berkat bantuan dari Hesti. Mereka berdua berjuang dari nol hingga sekarang memiliki jabatan di perusahaan dan juga memiliki aset berharga saat ini.
"Hihi ..." Laila terkekeh geli. Ia merasa menang atas istri pertama dari Dimas yang terlihat sangat berkuasa itu. Setidaknya, di mata Dimas, Laila lebih baik daripada Hesti di atas ranjang untuk memuaskan hasrat Dimas. Artinya, ia berhasil membuat Dimas bertekuk lutut di hadapannya dan Dimas akan menuruti apapun yang Laila inginkan.
"Kamu memang the best deh kalau melayani mas, dari atas sampai bawah. Mas tuh sampai ketagihan banget loh sama kamu. Pinter banget istri mas ini. Pinter masak, pinter dandan terus pinter di ranjang lagi." Dimas terus memuji Laila dan menciumi pipi Laila dengan mesra.
"Ih ... geli dong, Mas."
"Duh ... kamu buat mas turn on terus deh, Sayang."
"Ih... jangan dulu. Aku masih capek dong. Masa digempur terus sih, Mas."
"Hehe ... habisnya kamu membuat Mas seperti ini. Jadinya harus tanggung jawab dong sama Mas."
"Nanti dulu, Ah. Laila capek. Hmm ... kita bicara dulu saja ya."
"Bicara apa, Sayang?"
"Mas ..." panggil Laila yang manja.
"Kenapa, Sayang?"
"Kapan Mas akan beritahu Mbak Hesti kalau Mas itu sebenarnya sudah nikah siri dengan aku?" tanya Laila manja sekaligus merajuk manja kepada Dimas.
"Nanti ya, Sayang."
Mood Dimas jadi berubah tegang kalau membicarakan Hesti atau pun rencana cerainya dengan sang istri pertama. Resiko terlalu besar.
"Aku sudah bertahan satu bulan loh, Mas di sini. Aku sebal sekali diperkenalkan sebagai adik sepupu dari mas loh oleh ibu. Mas juga tidak menyanggahnya sama sekali. Aku kan istri sahnya mas Dimas juga. Masa aku harus sembunyi-sembunyi begitu sih? Mau mesra-mesraan sama Mas Dimas saja harus tunggu Mbak Hesti pergi. Duh gak bebas banget. Gak tahan aku tuh." gerutu Laila.
"Sabar ya, Sayang. Orang sabar disayang Tuhan." Dimas mencoba menenangkan istri yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.
"Sabar terus aku ini sih. Lama-lama pantat bisa lebar kalau disuruh sabar, Mas." cebik Laila karena sang suami tidak juga mengatakan kepada istri pertamanya kalau mereka itu sudah menikah secara siri.
"Hehe ... kamu bisa saja sih humornya. Mas tambah gemas deh sama kamu." goda Dimas.
"Mas ... "
"Hum ... kenapa istriku yang cantik dan menggoda ini?" tanya Dimas.
"Mas itu lebih cinta aku atau sama Mbak Hesti sih?" Laila seolah meminta kepastian dari Dimas. Sebuah afirmasi kepada dirinya sendiri atas jawaban dari Dimas, suaminya yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.
"Tentu sama kamu, Sayang. Kamu segalanya loh buat, Mas. Bisa mati mas tuh kalau kamu gak ada. Gak bisa makan, gak bisa tidur ... gak bisa segalanya deh kalau kamu gak ada. Mas ketergantungan banget sama kamu," rayu Dimas agar Laila tidak marah kepadanya.
"Kalau begitu, belikan aku rumah baru dong, Mas. Biar kita tuh bisa santai kalau mau mesra-mesraan. Gak seperti ini terus. Masa sembunyi-sembunyi terus di hadapan mba Hesti," bujuk Laila.
"Sabar ya, Sayang." Hanya kata sabar saja yang bisa diucapkan oleh Dimas. Dia sendiri bingung kalau disuruh beli rumah baru. Memangnya membeli rumah bisa semudah dan semurah bicara saja? Tentu saja Dimas harus mengumpulkan uang yang banyak untuk memenuhi kemauan dari Laila.
"Ih ... Mas tuh suruh aku sabar terus. Bosan aku tuh untuk sabar." protes Laila.
"Ya mas harus bagaimana lagi? Beli rumah kan gak semudah dan semurah itu, Cintaku. Uangnya mas kamu ini belum terlalu banyak untuk membeli rumah baru buat kita berdua."
"Ih ... sebal sekali sih. Mas tidak mengerti rasanya menjadi kedua dan sembunyi-sembunyi di depan Mbak Hesti sih."
"Mas minta maaf ya, Sayang. Benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Tapi, Mas janji akan cari jalan secepatnya agar kamu nyaman hidup bersama dengan Mas."
"Ok. Kalau belum bisa beli rumah lagi, minimal kita mengontrak rumahlah supaya aku bisa menjadi nyonyadi rumah sendiri. Aku malas berada di rumah ini."
"Kontrak rumah?"
"Iya ... lebih baik kontrak dulu supaya bisa mandiri, jangan terus sama Mbak Hesti." rengek Laila.
Dimas terdiam. Mengontrak rumah juga bukan perkara mudah. Apalagi uangnya kini juga dipegang oleh Hesti. Tak terlalu bebas untuk mengeluarkan uang begitu banyak dari tabungan.
"Mas ... koq diam saja sih. Mas mendengarkan aku bicara gak sih?"
Bab 61 Meminta Maaf ‘Mata yang biasanya bercahaya itu hari ini meredup’ batin Alvaro. ‘Aku harus bisa mengembalikan keceriaan Ambar lagi. Tapi bagaimana caranya?’ Alvaro masih terus menatap Ambar, meski saat ini gadis itu sudah beranjak meninggalkan ruang makan. Setelah punggung Ambar tak nampak lagi dari tempat Alvaro berjongkok, lelaki itu mulai mengurai pelukannya. Lalu dia mengajak Afreen duduk kembali di kursi. “Afreen sayang yuk dihabiskan sarapannya. Susunya juga ya biar cepat besar seperti papa,” bujuk Alvaro. “Tapi papa temanin Afreen sarapan, ya,” rajuk Afreen. “Iya Papa temani.” Alvaro pun memberi isyarat kepada salah satu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan sarapan buat dirinya. Ketika Alvaro tengah menikmati sarapan sambil mendengar celotehan Afreen, Ambar masuk kembali ke ruang makan. Melihat mama tiri kesayangannya itu Afreen spontan berkata, “Ayo, Mama sarapan juga bareng Papa.” Ambar menatap Afreen sambil melirik Alvaro. Dia tampak enggan duduk seme
Bab 60 Memperbaiki Kesalahan Alvaro menuruni tangga dari lantai dua rumahnya sambil memegangi pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut nyeri akibat kurang tidur semalam. Semua karena isi kepalanya yang terlalu riuh. ‘Kenapa? Kenapa semalam dia bisa lepas kendali? Kenapa juga dia merasa tidak rela disebut bajin**n oleh Ambar? Memangnya apa bedanya Ambar dengan orang lain?’ Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi benak Alvaro hingga dia menjadi sulit tidur karena kesulitan mencari jawabannya. Baru saja sampai di tangga terbawah, telinga Alvaro yang tajam mendengar gelak tawa dari arah ruang makan. Lelaki itu mempercepat langkahnya menuju ruangan tersebut. “Afreen nggak mau minum susu. Afreen maunya minum teh atau kopi seperti Mama.” “Nggak boleh, Sayang. Afreen masih kecil nggak boleh minum kopi. Kalau minum teh boleh, tapi nanti siang pulang sekolah. Sekarang sarapannya minum susu dulu, ya. Biar Afreen sehat dan tambah pinter,” jawab sebuah suara wanita yang dikenali oleh A
Bab 59 Kekesalan Alvaro “Kamu benar-benar tega! Aku tidak menyangka ternyata kamu seorang bajin**n! Kemana perginya Tuan Alvaro yang terhormat itu? Aku menyesal sudah setuju menikah dengan bajin**n seperti kamu!” Jeritan Ambar membuat Alvaro tersentak. Tepat pada saat bersamaan bibirnya berhasil menyentuh pipi Ambar yang mulai basah oleh air mata. Alvaro pun membeku. Perlahan-lahan Alvaro menutup mata. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia melakukannya berulang kali dalam usahanya meredam emosi. Setelah deru napasnya yang memburu berubah menjadi lebih tenang, Alvaro mengangkat tubuhnya yang tadi menind*h Ambar. Lantas dia menjauh dari Ambar dan memilih duduk di pinggir kasur. Karena Alvaro sudah tidak lagi mengungkungnya, Ambar segera beringsut menjauh. Sebenarnya bisa saja Ambar beranjak keluar dari kamar, tetapi dia masih syok. Jadi ketika mencobanya kaki Ambar terlalu lemah sehingga dia tidak sanggup berdiri. Akhirnya gadis itu memilih duduk di uju
Bab 58 Memaksakan Kehendak“Kamu benar-benar tidak bisa kuampuni lagi. Kamu harus diberi pelajaran sekarang juga!” Alvaro merengkuh tubuh Ambar agar tetap berdiri lalu tangannya mulai menarik Ambar. Dengan sedikit kasar Alvaro mencekal lengan Ambar dan menyeretnya menuju ujung ruang kerjanya. Di sudut ruangan itu terdapat pintu penghubung menuju kamar tempat Alvaro beristirahat kalau dia sedang malas naik ke kamarnya di lantai dua. Ambar kaget mendapat perlakuan seperti itu dari Alvaro. Selama dia bekerja sebagai baby sitter Afreen, Ambar belum pernah melihat Alvaro berbuat kasar. Mantan majikannya itu memang sering marah, tapi tidak pernah sampai menggunakan tangannya untuk menghukum seseorang. Itu sebabnya saat ini Ambar sangat ketakutan. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cekalan tangan Alvaro. Namun tidak berhasil. Bagaimana mungkin kekuatannya sebagai seorang wanita bisa menandingi ketangguhan seorang lelaki? Apalagi lelaki yang sudah gelap mata sepert
“Aku tidak terima alasan seperti itu!” “Terus mau kamu bagaimana?” tantang Ambar. Sambil berdiri tegak di depan Alvaro, mata Ambar menatap tajam lelaki yang baru beberapa bulan menikahinya itu. “Aku akan meminta hakku agar kamu selalu ingat kewajibanmu,” ucap Alvaro dengan tegas. Ambar menatap Alvar
Bab 55 Kemarahan Alvaro Alvaro melirik jam dinding dan mendecih sinis, “Hampir pukul sembilan dan dia baru pulang? Aku harus berbuat sesuatu agar dia tidak berbuat seenaknya lagi seperti malam ini! Bagaimana pun juga dia punya hak dan kewajiban kepadaku! Tunggu saja aku akan memperjelas hal itu se
Bab 54 Ketakutan Ambar ‘Mana mungkin aku bilang kepadamu kalau yang mengirim pesan adalah suamiku,’ batin Ambar sambil melirik Ken yang tengah menatapnya.Mata Ambar kembali memandang ponselnya dan sekali lagi menelusuri pesan W******p dari Alvaro yang berbunyi, “Ingatlah statusmu sebagai seorang i
Bab 50. Alvaro Marah“Khusus untuk laporan yang satu ini kamu bisa bertanya langsung kepada saya. Dan sebaiknya kamu tidak mengatakan kepada siapa pun tentang perintah saya untuk membuat laporan ini,” tegas Pak Salman. Ambar mengerjapkan kelopak matanya mendengar kata-kata Pak Salman. Dia menatap he












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak