LOGINSamudera masuk ke apartemen mewah Motion13 yang letaknya tidak jauh dari gedung agensi. Disana, kedua belas membernya sudah menunggu dan duduk melingkar di atas karpet mahal di ruang tengah.
“Wah, akhirnya leader kita balik juga,” Harsa berseru heboh, mengangkat slice pizza di tangannya. “Gimana, Bang? Bokap lo ngasih bonus apa buat kemenangan tadi? Saham tambahan? Atau mobil sport baru?”
Samudera tidak menjawab. Dia melepaskan jaketnya dan melemparnya dengan asal. Samudera mengambil posisi duduk di tengah, bersandar pada sofa.
“Gue harus ngomong,” suara Samudera memecah keheningan. Wajahnya nampak lebih serius kali ini, bahkan serratus kali lebih serius daripada speech di panggung setelah mendapatkan daesang beberapa jam yang lalu.
Jauzan, sang main vocal sekaligus salah satu member tertua dibawah Samudera, mengerutkan kening. “Kenapa, Sam? Muka lo kayak habis lihat hantu, pucet banget. Bokap lo bilang apa? Saham perusahaan turun? Atau ada masalah sama sponsor?”
Jauzan bertanya banyak, namun dijawab Samudera dengan gelengan pelan. Ia menatap satu persatu wajah kedua belas saudara seperjuangannya. Ada Sekala yang sibuk dengan botol minumnya, Junian yang masih mengatur napas, hingga si bungsu Danendra yang menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
“Kalian inget nggak dulu pas kita mau debut? Pas gue bilang gue hampir nggak bisa debut karena harus masuk sekolah bisnis?” Samudera memulai dengan suaranya yang berat. “Gue bikin perjanjian sama Papa. Gue bilang, kasih gue waktu sampai umur tiga puluh tahun untuk menguasai panggung dan membawa grup kita ke puncak. Kalau gue berhasil, gue bakal ikutin apa pun kemauan dia setelah itu. Dan sekarang... gue hampir tiga puluh tahun.”
“Emang kenapa?” pertanyaan Daksa lolos begitu saja.
Samudera menarik napas panjang, menunduk dalam. "Bokap minta gue bayar janji itu sekarang. Gue... gue disuruh nikah. Bulan depan."
Keheningan yang terjadi setelah Samudera berbicara bukanlah keheningan yang dia bayangkan. Harsa dan Daksa saling lirik. Zian, sang produser utama justru menghela napas panjang, seolah beban yang selama ini dia simpan akhirnya terungkap.
“Kalian kenapa diem aja?” Samudera mendongak, menatap mereka satu persatu dengan bingung. “Gue baru aja bilang kalau gue bakalan nikah bulan depan, di tengah puncak karir kita! Kalian bisa kebayang kan kalau fans bakalan ngamuk, saham bakalan anjlok, karir kalian juga bisa terancam! Kenapa kalian nggak maki-maki gue?”
Mahesa berdehem pelan, ia menggeser posisi duduk. “Bang… lo beneran nggak tahu?”
“Tahu apa?” tanya Samudera balik, dia benar-benar kebingungan.
Verrel yang biasanya diam, angka bicara dengan aksen amerikanya yang khas. “Kita semua udah tahu soal itu sejak hari pertama kita tanda tangan kontrak debut, Bang.”
Samudera semakin mengerutkan kening. “Maksud lo?”
“Anjir, jadi lo beneran gak tahu, Bang?” Daksa tertawa pendek, meski terdengar agak canggung. “Gue pikir lo selama ini pura-pura amnesia atau gimana. Karena lo gak pernah bahas ini sama sekali.”
“Tunggu, tunggu. Apa yang lo semua tahu tapi gue nggak tahu?” Samudera mulai merasa ada yang tidak beres.
Wira menghela napas. Membuka salah satu dokumen yang dia simpan dengan rapi di ponselnya. Dokumen perjanjian kontrak debut mereka sepuluh tahun yang lalu.
Wira memberikannya kepada Samudera. “Baca, Bang,” kata Wira singkat.
Samudera menerimanya. Matanya membelalak melihat poin 14. B yang isinya adalah:
“Pihak Pertama (Agensi) berhak mengatur narasi publik terkait status pernikahan Leader Motion13 (Samudera Adikara Wicaksana) yang dijadwalkan pada tahun ke-10 atau usia 30 tahun, sebagai bagian dari penyerahan asset keluarga Wicaksana, Seluruh Pihak Kedua (Member Motion13) sepakat menyetujui dan memahami risiko perubahan citra grup akibat hal tersebut.”
“Kalian… kalian tahu soal ini dari awal?” Samudera meletakkan handphone Wira dengan lesu, masih tidak percaya. “Dan kalian tanda tangan?”
“Ya iyalah, bego,” Jauzan menyahut santai. “Kita semua waktu itu mau debut. Dan kita tahu lo itu anaknya bos, yang punya gedung. Kita pikir itu cuma perjanjian formalitas yang nggak bakalan beneran kejadian. Tapi ya, kita semua udah tahu dan siap kalau lo bakal jadi ‘Tumbal Proyek’ perusahaan keluarga lo di umur tiga puluh tahun.”
“Kenapa nggak ada yang bilang ke gue?” Samudera mulai mengacak rambut emosi.
“Kita pikir lo yang bikin aturannya sendiri, Bang!” Mahesa menyambar cepat. “Kita pikir lo emang pengen nikah muda biar bisa pensiun kapan aja terus jadi CEO! Makanya kita nggak pernah bahas ini. Kita cuma kayak, ‘Oh, Bang Sam mah bebas, dia yang punya gedung’.”
“Gue beneran nggak tahu…” bisik Samudera. “Gue pikir itu cuma obrolan waktu gue sujud mohon-mohon di depan bokap sama nyokap demi bisa debut. Ternyata dia jadiin itu klausul bisnis buat kalian juga.”
Yosua dengan wajah teduhnya, menepuk bahu Samudera. “Udahlah, Sam. Kita nggak marah. Kita udah siap dari lama kalau lo bener-bener mau nikah. Lagian, kalau dipikir secara logis, langkah lo ini bagus juga buat keberlangsungan tim.”
Yosua memandang membernya satu persatu. “Kita semua disini manusia, suatu saat kita juga bakalan nikah. Setidaknya, kita bisa mulai meredam kemarahan fans dan membawa mereka ke realita kalau idolnya juga perlu berumah tangga.”
“Jadi…” Dion memecah keheningan. “Siapa ceweknya, Bang? Bokap lo jodohin lo sama siapa?”
“Anak gubernur, Bang? Atau anak menteri?” tanya Junian.
“Atau anak pemilik stasiun TV?” sambar Sekala, antusias.
Samudera memejamkan mata. Bayangan wanita dengan aroma parfum sandalwood dan terkadang berganti dengan aroma vanilla itu kembali muncul. “Bukan.”
Nada bicara Samudera sedikit lebih pelan, helaan napasnya terdengar berat namun penuh arti. “Dia… Seraphine Swarna Kirana.”
Seketika, suasana apartemen itu berubah. Bukan lagi tegang karena masalah kontrak, melainkan sesuatu yang lebih canggung,
Junian langsung tersedak air minumnya. Wira menaikkan alisnya tinggi-tinggi, sementara Daksa dan Harsa saling berpandangan penuh arti.
“Hah?” Jauzan memastikan. “Seraphine? Seraphine yang itu? Pemilik Seraphine Aesthetic yang tahun lalu kolaborasi sama kita?”
Samudera mengangguk pelan. “Iya. Dia. Anak Handoko Kirana, direktur utama Kirana Group.”
“Anjir lah…” Mahesa berbisik heboh, pria paling tinggi di grup itu menatap Samudera dengan kagum. “Lo serius, Bang? Seraphine?”
Samudera hanya mengangguk lemah, tidak berani menatap mata teman-temannya.
Harsa tiba-tiba tertawa kecil, suara tawa yang membuat telinga Samudera memerah. "Wah... gila. Pak Ardhaka bener-bener pinter milih target."
“Kenapa? Ada yang salah sama dia?” Samudera menatap mereka curiga.
Yosua berdehem, mencoba menetralkan suasana. “Nggak ada yang salah sama dia. Dia… hebat. Mandiri. Cantik banget. Pinter. Tapi lo inget nggak pas kita syuting di Paris tahun lalu?”
“Inget,” jawab Samudera pendek.
“Inget nggak pas Danendra nggak sengaja numpahin kopi ke lantai?” tanya Yosua membuat mereka semua kembali ke momen itu tahun lalu. “Dia nggak mau kita bersihin sendiri, tapi langsung manggil timnya pakai suara tegas dan tatapan matanya yang… dingin banget sampai asistennya gemeteran?”
“Dia itu Ice Queen, Bang. Berwibawa banget, tapi auranya ngeri,” sambung Sekala.
“Makanya dia cocok sama Bang Sam,” Mahesa kembali menimpali dengan heboh membuat Samudera mendelik.
Mahesa menepuk bahu Samudera. “Dia itu sejajar levelnya sama lo, Bang. Lo butuh cewek setegas dan segalak dia buat marahin lo kalau lo salah. Selama ini lo ngatur dan marahin kita, sekarang giliran dia yang ngatur dan ngarahin hidup lo biar lebih tertata,”
Mahesa menatap sungguh-sungguh ke mata Samudera dengan senyuman manisnya. “Kita semua tahu, selama ini selera lo setinggi langit dan gue yakin cuma dia yang bakalan bisa bikin lo jinak.”
“Gue nggak jinak,” protes Samudera, meski suaranya melemah. Membuat Daksa dan Sekala tertawa bersamaan namun langsung ditoyor oleh Harsa.
“Tapi masalahnya…” Danendra menyela, wajahnya masih cemas. “Kak Seraphine itu kan… gimana ya… dia beda banget sama dunia kita. Dia kelihatan pinter, mandiri, dan kayaknya nggak bakal mau kalau cuma dijadiin alat bisnis. Kenapa dia setuju nikah sama Bang Sam?”
Pertanyaan si bungsu itu menghantam telak, membuat abang-abangnya kompak menutup mulut tak bersuara. “Itu yang mau gue cari tahu besok,” kata Samudera. “Gue bakal ketemu dia buat makan malam.”
Ruangan kembali hening setelah kalimat itu keluar dari mulut Samudera.
Ia memperhatikan mereka satu persatu. Dua belas orang yang mengorbankan masa muda dan tumbuh bersamanya demi sebuah mimpi yang berusaha diwujudkan sama-sama. Dua belas orang yang pernah latihan sampai muntah, pernah menangis di ruang tengah asrama jelek mereka dulu karena komentar jahat netizen, pernah saling maki-maki di belakang panggung karena kelelahan.
Ternyata mereka semua sudah tahu. Dari awal.
Dan dia… justru yang paling tidak tahu.
“Bang,” Zian yang sedari tadi lebih banyak diam akhirnya angkat suara. “Lo jangan mikir sendirian terus. Selama ini lo yang selalu jadi tameng kita. Sekali-kali biarin kita yang berdiri di belakang lo.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup bikin dada Samudera terasa sesak.
Ia mengangguk pelan. “Gue nggak takut nikahnya,” gumamnya jujur. “Gue takut kalau ini ngerusak apa yang kita bangun.”
“Kalau cuma berita nikah doang bisa ngerusak kita,” jawab Jauzan santai sambil menggigit pizza, “berarti kita emang lemah dari awal.”
Hening sesaat.
Samudera menghela napas, kembali memandang membernya satu persatu. “Lo semua beneran gapapa kalau gue nikah?” Samudera memastikan lagi. “Grup kita gimana?”
Jauzan merangkul Samudera. “Yaelah, Sam. Kan tadi udah dijelasin sama Yosua. Kita nggak masalah, kita udah siap-siap dari lama. Kita ini Motion13. Fans kita udah pada dewasa. Lagian, dapet istri kayak Seraphine? Itu malah naikin nilai grup kita. Kita bakalan jadi grup pertama yang leadernya nikah sama salah satu wanita paling berpengaruh di negara ini. Lo tenang aja, kita bakalan dukung lo habis-habisan.”
Dan justru itu yang membuat semuanya terasa seperti permainan berisiko tinggi.
Karena perempuan yang akan ia temui besok bukan tipe yang bisa diajak main-main. Seraphine bukan idol yang bisa diatur manajemen. Dia pemilik kerajaan sendiri.
“Eh Bang,” Danendra mendekat sedikit, suaranya lebih pelan. “Lo… suka sama dia?”
Semua langsung berhenti bergerak.
Samudera mendelik. “Lo kepo banget sih.”
“Tanya aja,” Danendra nyengir polos. “Kan lo tadi ngomongnya beda.”
Samudera terdiam.
Ia teringat tatapan tajam itu di Paris. Cara Seraphine berdiri tanpa perlu meninggikan suara untuk membuat satu ruangan diam. Aroma parfum sandalwood yang samar tapi melekat di ingatannya lebih lama dari yang seharusnya.
“Gue cuma penasaran,” jawabnya akhirnya. “Kenapa dia mau.”
“Wah,” Daksa bersiul pelan. “Kalau udah penasaran sama cewek, bahaya tuh.”
“Lo diem,” Samudera melempar bantal ke arahnya.
Tawa kembali pecah, memecah ketegangan yang sempat menggantung.
Samudera hanya bisa tersenyum tipis. “Yaudah, makan lagi pizza-nya,” Samudera mencoba mengalihkan pembicaraan dan berhasil. Mahesa sudah mengambil botol alkohol dan menuangkannya ke dalam gelas sloki.
Samudera tertawa bersama mereka. Meskipun pikirannya sudah terbang ke makan malam besok.
Itu adalah awal dari permainan paling berbahaya yang akan Samudera jalani. Dan entah kenapa, dia tidak sabar untuk menang di dalamnya.
***
Hiii let's meet with our member Motion131. Samudera Adikara Wicaksana (Scoups Seventeen)
2. Jauzan Shaka Aradhana (Jeonghan Seventeen) 3. Yosua Caleb Pramudya (Joshua Seventeen) 4. Junian Chandra Dirgantara (Jun Seventeen) 5. Harsa Nayaka Bakti (Hoshi Seventeen) 6. Wira Satya Madhava (Wonwoo Seventeen) 7. Zian Arkana Maestro (Woozi Seventeen) 8. Dion Kenzie Abimanyu (The8 Seventeen) 9. Mahesa Galendra Putra (Mingyu Seventeen) 10. Daksa Ar-Rayi (DK Seventeen) 11. Sekala Damar Mukti (Seungkwan Seventeen) 12. Verrel Cassian Joseph (Vernon Seventeen) 13. Danendra Rizky Pratama (Dino Seventeen)Tanpa memberikan kesempatan bagi Seraphine untuk menawar, Samudera tiba-tiba menarik tubuhnya menjauh, melepaskan penyatuan mereka dengan satu tarikan panjang yang menghasilkan bunyi 'plop' basah di udara."Ahhh... Sam, dingin..." keluh Seraphine secara naluriah saat kekosongan mendadak menyergap intinya. Cairan benih suaminya yang melimpah ruah seketika merembes keluar, membasahi sprei yang sudah sangat berantakan.Samudera tidak menjawab. Dengan gerakan cepat dan dominan, Samudera meraih pergelangan kaki Seraphine, lalu menarik tubuh wanita itu mendekat ke tepi ranjang."Astaga, Sam! Kamu mau ngapain?” pekik Seraphine panik, tangannya meraba-raba sprei mencoba mencari pegangan.Samudera hanya tersenyum. “Rasain aja, Sayang. Jangan banyak tanya,” balas Samudera dengan nada mutlak. Ia memposisikan pinggul Seraphine tepat di ujung kasur, membuat kaki jenjang istrinya menggantung bebas.Lalu, dalam satu gerakan yang menunjukkan betapa besar tenaga pria itu, Samudera mengangkat kedua kak
Bunyi tamparan kulit mulai terdengar nyaring di kamar itu seiring dengan pergerakan Seraphine yang semakin cepat. Suara kecipak cairan penyatuan mereka terdengar sangat basah dan jorok, menambah kesan liar dalam pergumulan malam itu. "Ahhh! Sam... ahhh! Gesekannya... mhh, dalem banget... akhh!" Seraphine mulai kehilangan kendalinya sendiri. Ia berniat menyiksa suaminya, tapi sensasi kejantanan Samudera yang menembus ke inti terdalamnya setiap kali ia menghempaskan pinggul ke bawah justru membuat dirinya sendiri kalang kabut. "Terus, Sayang... nghhh, ya Tuhan, rapet banget... hisap terus punya aku!" Samudera mengerang keras, kedua tangannya kini tak lagi bisa diam. Ia melepaskan cengkeramannya pada sprei dan langsung meraup kedua payudara Seraphine yang sedang memantul. Pria itu meremasnya kasar, memelintir ujungnya yang sudah mengeras, memberikan stimulasi ganda yang membuat Seraphine nyaris menjerit. "AAAHHH! Sam... jangan diremas keras-keras... ahhh! Mhh, gila... rasanya... akhhh!
"Kamu mau di atas, Sayang? Sini, pimpin permainan suami kamu malam ini."Tawaran itu menggantung di udara. Seraphine menoleh, menatap lurus ke arah kejantanan Samudera yang berdiri tegak, tebal, dan berkilat basah oleh cairannya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya memang terasa remuk, tulang-tulangnya seolah luruh, namun ego seorang CEO yang selalu ingin memegang kendali diam-diam mulai terpancing.Samudera menantangnya. Suaminya yang arogan dan mendominasi itu berani menantangnya di atas ranjang.Mata Seraphine yang semula sayu kini menajam, memancarkan kilat kompetitif yang berpadu dengan gairah yang kembali menyala. Bibirnya yang sedikit bengkak menyunggingkan senyum miring yang teramat seksi."Kamu nantangin aku, Sam?" suara Seraphine terdengar serak, parau, namun sarat akan provokasi.Samudera tertawa rendah, membiarkan kedua tangannya bersandar santai di atas kasur. Ia memamerkan tubuh atletisnya yang berkilat oleh keringat, menatap istrinya dengan sorot memuja sekali
Beberapa menit berlalu, namun Samudera masih enggan menyingkirkan tubuhnya dari atas Seraphine. Kejantatannya yang masih berada di dalam perlahan-lahan mulai melunak, namun belum sepenuhnya mengecil. Pria itu menyandarkan kepalanya di ceruk leher Seraphine, menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan aroma keringat dan gairah yang khas. Seraphine terkulai lemas di atas kasur yang berantakan. Sprei mahal yang semula rapi kini telah kusut masai di beberapa bagian akibat cengkeraman tangannya. Dadanya masih naik turun secara ekstrem, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Mata sayunya menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang masih setengah kosong. "Kamu... bener-bener... brutal, Sam..." bisik Seraphine akhirnya dengan suara yang teramat serak, nyaris kehilangan suaranya akibat terlalu banyak menjerit tadi. Samudera terkekeh rendah. Suara tawa maskulinnya bergetar di leher Seraphine, memberikan sensasi geli yang membuat wanita itu sedikit merinding. Ia men
"AAAHHH! S-SAMUDERA!" Jeritan Seraphine pecah seketika, menggema di seluruh penjuru kamar mewah bernuansa temaram itu. Kedua matanya membelalak lebar, pupilnya melebar sempurna saat merasakan hujaman masif yang dilepaskan Samudera tanpa ragu sedikit pun. Tubuh mungilnya terdorong ke atas, punggungnya melengkung indah dari atas kasur seiring dengan rasa penuh yang teramat sangat, merenggangkan dinding-dinding intimnya yang semula begitu rapat dan sempit. "Nghhh... aaah... S-Sam... k-kamu... terlalu dalam... hnggh..." Seraphine terengah-engah, tangannya yang gemetar langsung mencengkeram erat bahu kokoh Samudera. Kuku-kukunya yang terawat rapi menancap di kulit pria itu, mencari pegangan di tengah badai sensasi yang tiba-tiba melanda seluruh saraf tubuhnya. Samudera tidak langsung bergerak. Pria itu mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menegang keras. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam melalui hidung demi menahan diri agar ti
Tanpa mengulur waktu, Samudera langsung memajukan wajahnya, membenamkan mulut dan hidungnya sepenuhnya di liang sensitivitas Seraphine. "AAAHHH!" Seraphine berteriak histeris, tangannya langsung mencengkeram sprei tempat tidur hingga kukunya nyaris merobek kain mahal tersebut. Pria itu menjilat dengan sapuan lebar dari bawah ke atas, memutari area klitoris yang menegang, lalu menusukkan lidahnya dalam-dalam ke dalam liang yang sempit dan panas tersebut, menghisap cairan keintiman yang keluar dari sana dengan suara sesapan yang sangat intim dan kotor di keheningan kamar. Sementara mulutnya sibuk memanjakan area bawah, kedua tangan besar Samudera bergerak kembali ke atas, meremas, meraup, dan mencengkeram kedua payudara Seraphine dengan kasar, memberikan stimulasi ganda yang benar-benar menghancurkan seluruh sisa kewarasan Seraphine. "Sam... ohhh, mhh, gila... ahhh! Kamu... kamu ngapain... mhh, geli banget, Samh! Please, stop... ahh, aku bisa gila..." Seraphine terus mendesah parau,
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Pagi itu, Jakarta seolah menahan napas. Pernikahan power couple antara leader Motion13 dan CEO Seraphine Aesthetics yang sudah diumumkan sejak bulan lalu, hari ini adalah puncaknya.Pemberkatan.Ballroom Hotel The Langham pagi itu telah disulap menjadi altar suci yang memadukan kemewahan dan elegan
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di







